<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Injeksi Likuiditas Rp118 Triliun ke Perbankan   </title><description>BI berusaha menjaga agar likuiditas perbankan tetap longgar</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/14/320/2471198/bi-injeksi-likuiditas-rp118-triliun-ke-perbankan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/09/14/320/2471198/bi-injeksi-likuiditas-rp118-triliun-ke-perbankan"/><item><title>BI Injeksi Likuiditas Rp118 Triliun ke Perbankan   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/14/320/2471198/bi-injeksi-likuiditas-rp118-triliun-ke-perbankan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/09/14/320/2471198/bi-injeksi-likuiditas-rp118-triliun-ke-perbankan</guid><pubDate>Selasa 14 September 2021 15:53 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/14/320/2471198/bi-injeksi-likuiditas-rp118-triliun-ke-perbankan-k0le32ta1a.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/14/320/2471198/bi-injeksi-likuiditas-rp118-triliun-ke-perbankan-k0le32ta1a.jpg</image><title>Bank Indonesia (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA -  Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan BI berusaha menjaga agar likuiditas perbankan tetap longgar. BI pun tetap menambah likuiditas atau melakukan quantitative easing (QE) di perbankan.
&quot;Hingga 31 Agustus 2021, BI sudah melakukan injeksi likuiditas di perbankan sebesar Rp118,4 triliun. Kebijakan QE ini melanjutkan injeksi likuiditas tahun 2020 yang mencapai Rp726,57 triliun,&quot; ungkap Destry dalam Raker dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (14/9/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;BI Sebut Ekonomi Indonesia Kembali Bergeliat meski Ada Varian Delta
Hal ini berarti jumlah injeksi likuiditas oleh BI sejak tahun 2020 hingga 31 Agustus 2021 mencapai Rp844,92 triliun atau setara 5,3% PDB.
Injeksi liikuiditas tersebut mendukung likuiditas perekonomian yang tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1), yang hingga Juli 2021 tumbuh 14,9% year on year (yoy). Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) tercatat tumbuh 8,9% yoy.
Baca Juga:&amp;nbsp;Harga Jual Uang Koin Rp1.000 Kelapa Sawit Bukan Rp100 Juta, Cek 4 Faktanya
&quot;Selain itu, kondisi likuiditas perbankan yang longgar terlihat pada rasio Alat Likuid Terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yaitu 32,51% dan pertumbuhan DPK sebesar 10,43% yoy,&quot; pungkas Destry.</description><content:encoded>JAKARTA -  Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan BI berusaha menjaga agar likuiditas perbankan tetap longgar. BI pun tetap menambah likuiditas atau melakukan quantitative easing (QE) di perbankan.
&quot;Hingga 31 Agustus 2021, BI sudah melakukan injeksi likuiditas di perbankan sebesar Rp118,4 triliun. Kebijakan QE ini melanjutkan injeksi likuiditas tahun 2020 yang mencapai Rp726,57 triliun,&quot; ungkap Destry dalam Raker dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (14/9/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;BI Sebut Ekonomi Indonesia Kembali Bergeliat meski Ada Varian Delta
Hal ini berarti jumlah injeksi likuiditas oleh BI sejak tahun 2020 hingga 31 Agustus 2021 mencapai Rp844,92 triliun atau setara 5,3% PDB.
Injeksi liikuiditas tersebut mendukung likuiditas perekonomian yang tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1), yang hingga Juli 2021 tumbuh 14,9% year on year (yoy). Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) tercatat tumbuh 8,9% yoy.
Baca Juga:&amp;nbsp;Harga Jual Uang Koin Rp1.000 Kelapa Sawit Bukan Rp100 Juta, Cek 4 Faktanya
&quot;Selain itu, kondisi likuiditas perbankan yang longgar terlihat pada rasio Alat Likuid Terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yaitu 32,51% dan pertumbuhan DPK sebesar 10,43% yoy,&quot; pungkas Destry.</content:encoded></item></channel></rss>
