<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengejutkan! Dirut Krakatau Steel Sebut Baja Impor Kadang Tak Sesuai SNI</title><description>Pengusaha meminta pemerintah melindungi industri baja nasional dari serbuan impor.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/22/320/2475191/mengejutkan-dirut-krakatau-steel-sebut-baja-impor-kadang-tak-sesuai-sni</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/09/22/320/2475191/mengejutkan-dirut-krakatau-steel-sebut-baja-impor-kadang-tak-sesuai-sni"/><item><title>Mengejutkan! Dirut Krakatau Steel Sebut Baja Impor Kadang Tak Sesuai SNI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/22/320/2475191/mengejutkan-dirut-krakatau-steel-sebut-baja-impor-kadang-tak-sesuai-sni</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/09/22/320/2475191/mengejutkan-dirut-krakatau-steel-sebut-baja-impor-kadang-tak-sesuai-sni</guid><pubDate>Rabu 22 September 2021 13:36 WIB</pubDate><dc:creator>Oktiani Endarwati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/22/320/2475191/mengejutkan-dirut-krakatau-steel-sebut-baja-impor-kadang-tak-sesuai-sni-PFPVbO3ct1.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Impor baja tak sesuai SNI (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/22/320/2475191/mengejutkan-dirut-krakatau-steel-sebut-baja-impor-kadang-tak-sesuai-sni-PFPVbO3ct1.jpeg</image><title>Impor baja tak sesuai SNI (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pengusaha meminta pemerintah melindungi industri baja nasional dari serbuan impor. Dampak dari banjirnya baja impor akan merugikan industri dalam negeri dan menurunkan penerimaan negara dari sektor pajak.
&quot;Alasan impor pasti bisa dicari dengan segala macam cara. Dan yang kita minta adalah bersaing secara adil karena yang diimpor kadang tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI),&quot; ujar Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim dalam Market Review IDX Channel, Rabu (22/9/2021).
Baca Juga: India Batalkan Pengenaan Bea Masuk Produk Baja RI
 
Silmy mengatakan, ada kepentingan trader dan kepentingan industri dalam industri baja dalam negeri. Namun terkadang trade menggunakan cara yang kurang tepat dalam mengimpor. Misalnya, melakukan pengalihan HS Code.
&quot;HS Code adalah satu penanda produk untuk dikenakan bea masuk yang mana ini kadang dimainkan. Bea masuknya diganti dengan yang bea masuknya nol. Yang begini harus diberantas, bersaing secara fair adalah yang harus dijamin dalam kelangsungan usaha di Indonesia,&quot; ungkapnya.
Baca Juga: Krakatau Steel Dituding Selundupkan Baja dari China, Negara Rugi Rp10 Triliun
 
Menurut dia, impor pasti ada tetapi harus mengikuti cara yang baik. Impor juga harus pada produk yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri serta memenuhi peraturan dan standar yang ada.&quot;Kita bangun ekosistem industri dari hulu sampai hilir. Ini harus  dijaga supaya sinkron. Kalau hilirnya dikasih impor, hulunya pasti kena  karena produknya tidak jalan. Kemudian dengan impor harga dumping,  artinya merusak struktur harga. Pada akhirnya bisnis itu tidak optimal  karena harus menghadapi harga dumping,&quot; tuturnya.
Silmy menuturkan, baja impor bisa murah karena mereka disubsidi oleh  negara. Sementara industri dalam negeri tidak sehingga tidak adil.
&quot;Kalau harga yang lebih murah pasti standarnya dikurangi. Ini yang  tidak boleh masuk. Apalagi sampai menipu HS Code. Ini yang lagi saya  usulkan ke pemerintah dikenakan bea masuk anti dumping. Kita harus  membangun produk-produk Indonesia agar bisa ekspor ke luar negeri,&quot;  tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pengusaha meminta pemerintah melindungi industri baja nasional dari serbuan impor. Dampak dari banjirnya baja impor akan merugikan industri dalam negeri dan menurunkan penerimaan negara dari sektor pajak.
&quot;Alasan impor pasti bisa dicari dengan segala macam cara. Dan yang kita minta adalah bersaing secara adil karena yang diimpor kadang tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI),&quot; ujar Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim dalam Market Review IDX Channel, Rabu (22/9/2021).
Baca Juga: India Batalkan Pengenaan Bea Masuk Produk Baja RI
 
Silmy mengatakan, ada kepentingan trader dan kepentingan industri dalam industri baja dalam negeri. Namun terkadang trade menggunakan cara yang kurang tepat dalam mengimpor. Misalnya, melakukan pengalihan HS Code.
&quot;HS Code adalah satu penanda produk untuk dikenakan bea masuk yang mana ini kadang dimainkan. Bea masuknya diganti dengan yang bea masuknya nol. Yang begini harus diberantas, bersaing secara fair adalah yang harus dijamin dalam kelangsungan usaha di Indonesia,&quot; ungkapnya.
Baca Juga: Krakatau Steel Dituding Selundupkan Baja dari China, Negara Rugi Rp10 Triliun
 
Menurut dia, impor pasti ada tetapi harus mengikuti cara yang baik. Impor juga harus pada produk yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri serta memenuhi peraturan dan standar yang ada.&quot;Kita bangun ekosistem industri dari hulu sampai hilir. Ini harus  dijaga supaya sinkron. Kalau hilirnya dikasih impor, hulunya pasti kena  karena produknya tidak jalan. Kemudian dengan impor harga dumping,  artinya merusak struktur harga. Pada akhirnya bisnis itu tidak optimal  karena harus menghadapi harga dumping,&quot; tuturnya.
Silmy menuturkan, baja impor bisa murah karena mereka disubsidi oleh  negara. Sementara industri dalam negeri tidak sehingga tidak adil.
&quot;Kalau harga yang lebih murah pasti standarnya dikurangi. Ini yang  tidak boleh masuk. Apalagi sampai menipu HS Code. Ini yang lagi saya  usulkan ke pemerintah dikenakan bea masuk anti dumping. Kita harus  membangun produk-produk Indonesia agar bisa ekspor ke luar negeri,&quot;  tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
