<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jadi Aset Nasional, Minyak Sawit Bisa Bersaing di Pasar Global</title><description>Kelapa sawit disarankan menjadi bagian dari aset nasional karena menjadi salah satu penopang utama perekonomian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/22/320/2475285/jadi-aset-nasional-minyak-sawit-bisa-bersaing-di-pasar-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/09/22/320/2475285/jadi-aset-nasional-minyak-sawit-bisa-bersaing-di-pasar-global"/><item><title>Jadi Aset Nasional, Minyak Sawit Bisa Bersaing di Pasar Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/22/320/2475285/jadi-aset-nasional-minyak-sawit-bisa-bersaing-di-pasar-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/09/22/320/2475285/jadi-aset-nasional-minyak-sawit-bisa-bersaing-di-pasar-global</guid><pubDate>Rabu 22 September 2021 16:01 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Neraca</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/22/320/2475285/jadi-aset-nasional-minyak-sawit-bisa-bersaing-di-pasar-global-a3n99LvGIW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kelapa Sawit jadi aset nasional (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/22/320/2475285/jadi-aset-nasional-minyak-sawit-bisa-bersaing-di-pasar-global-a3n99LvGIW.jpg</image><title>Kelapa Sawit jadi aset nasional (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Kelapa sawit disarankan menjadi bagian dari aset nasional karena menjadi salah satu penopang utama perekonomian. Bahkan, komoditas sawit bisa membawa Indonesia menjadi penguasa perdagangan minyak nabati di pasar internasional.
Perkebunan sawit adalah keunggulan komparatif Indonesia yang sebenarnya sudah berhasil menjadi keunggulan kompetitif. Perannnya dalam pembangunan nasional sangat strategis.
Baca Juga: Harga CPO dan Kakao Naik, Kemendag Tetapkan Tarif Bea Keluar
 
&amp;ldquo;Agar sawit bisa bersaing di pasar global dengan minyak nabati lain, seluruh masyarakat harus kompetitif dan memastikan sawit menjadi bagian dari aset nasional. Jangan sampai nanti diklaim menjadi milik negara lain. Jadi, pastikan masyarakat harus ikut menjaga kelangsungan budidaya komoditas sawit Indonesia,&amp;rdquo; ujar Akademisi IPB Rachmat Pambudy dilansir dari Harian Neraca, Rabu (22/9/2021).
Rachmat mengatakan, setiap industri memiliki risiko terhadap lingkungan, seperti pabrik tekstil dan jenis usaha lain. Namun dengan memenuhi prinsip sustainable development, maka risiko itu dapat dikurangi dan dampak positifnya lebih besar bagi masyarakat. Pengawasan pemerintah dan konsumen, paparnya, telah membawa industri sawit terus melakukan perbaikan. Sejak tahun 2001, perusahaan kelapa sawit sudah didorong untuk menerapkan prinsip Millenium Development Goals (MDGs) yang dilanjutkan menjadi Sustainable Development Goals (SDGs).
Baca Juga: Ekspor Minyak Sawit Naik 716.000 Ton Jadi 2,4 Juta Ton
 
Pelaku industri sawit juga telah diwajibkan mengikuti Perpres Nomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO).&amp;rdquo;Ada kebutuhan kepastian dari konsumen internasional, bahwa semua perusahaan harus memberikan perlindungan kepada lingkungan, penduduk dan satwa liar. Perusahaan sawit nasional sudah berkomitmen dan terus berupaya memenuhi harapan konsumen ini,&amp;rdquo; paparnya.
Lebih lanjut, Rachmat Pambudy menjelaskan, tidak mudah membangun bisnis sawit. Selain komitmen menjaga keseimbangan lingkungan, tanaman sawit juga harus dijaga agar proses pertumbuhannya baik dan bisa memberikan hasil panen maksimal.
Oleh karena itu, menurut Rachmat Pambudy, perusahaan sawit nasional yang menjalankan prinsip SDGs sudah seharusnya diapresiasi, bukan kampanye hitam.Disampaikannya, Malaysia dan Indonesia harus bersatu menghargai diri  sendiri dan saling menghargai, sehingga dunia pun akan ikut menghargai  Indonesia. Petani dan perusahaan harus bekerja bersama. Dia menjelaskan  saat ini jumlah penduduk dunia terus bertambah, sehingga kebutuhan  minyak nabati juga ikut meningkat. Untuk itu dibutuhkan komoditas yang  bisa memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia.
Rachmat menyebutkan sawit adalah komoditas penghasil minyak nabati  yang proses produksinya lebih efisien, dari sisi penggunaan lahan,  produktivitas dan dampak ke lingkungan, jika dibandingkan komoditas  penghasil minyak nabati lain.
Sementara Pendiri dan CEO Nusantara Sawit Sejahtera (NSS), Teguh  Patriawan mengatakan, sebagai perusahaan nasional yang bergerak di  bisnis kelapa sawit pihaknya terus berupaya menerapkan prinsip  pembangunan berkelanjutan (SDGs). Langkah ini dilakukan bukan hanya  karena tuntutan konsumen.
Namun, kelangsungan dan masa depan perusahaan juga sangat ditentukan  oleh kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat dan keadilan yang  diterima oleh para tenaga kerja di perusahaan. Saat ini, NSS menyerap  sekitar 2.700 orang karyawan.
Dia mengatakan, Nusantara Sawit Sejahtera saat ini sedang melakukan  penanaman kebun sawit rakyat (plasma) di sekitar kebun perusahaan.  Plasma dilakukan dengan menggunakan bibit unggul dan merekomendasikan  penggunaan pupuk berimbang, tidak berlebihan untuk konservasi tanah.
&amp;rdquo;NSS mengelola limbah pabrik, sehingga bisa digunakan lagi ke tanaman  untuk menjadi pupuk. Kami selalu coba menghemat dengan cara-cara yang  betul dan memperhatikan kelestarian lingkungan,&amp;rdquo; terangnya.
Selain sudah terbukti menopang perekonomian nasional, Teguh  mengatakan prospek industri kelapa sawit juga masih sangat menjanjikan.  Menyusul diversifikasi penggunaan minyak sawit besar-besaran, tidak  hanya untuk bahan pangan, tetapi juga untuk bahan bakar biodiesel.</description><content:encoded>JAKARTA - Kelapa sawit disarankan menjadi bagian dari aset nasional karena menjadi salah satu penopang utama perekonomian. Bahkan, komoditas sawit bisa membawa Indonesia menjadi penguasa perdagangan minyak nabati di pasar internasional.
Perkebunan sawit adalah keunggulan komparatif Indonesia yang sebenarnya sudah berhasil menjadi keunggulan kompetitif. Perannnya dalam pembangunan nasional sangat strategis.
Baca Juga: Harga CPO dan Kakao Naik, Kemendag Tetapkan Tarif Bea Keluar
 
&amp;ldquo;Agar sawit bisa bersaing di pasar global dengan minyak nabati lain, seluruh masyarakat harus kompetitif dan memastikan sawit menjadi bagian dari aset nasional. Jangan sampai nanti diklaim menjadi milik negara lain. Jadi, pastikan masyarakat harus ikut menjaga kelangsungan budidaya komoditas sawit Indonesia,&amp;rdquo; ujar Akademisi IPB Rachmat Pambudy dilansir dari Harian Neraca, Rabu (22/9/2021).
Rachmat mengatakan, setiap industri memiliki risiko terhadap lingkungan, seperti pabrik tekstil dan jenis usaha lain. Namun dengan memenuhi prinsip sustainable development, maka risiko itu dapat dikurangi dan dampak positifnya lebih besar bagi masyarakat. Pengawasan pemerintah dan konsumen, paparnya, telah membawa industri sawit terus melakukan perbaikan. Sejak tahun 2001, perusahaan kelapa sawit sudah didorong untuk menerapkan prinsip Millenium Development Goals (MDGs) yang dilanjutkan menjadi Sustainable Development Goals (SDGs).
Baca Juga: Ekspor Minyak Sawit Naik 716.000 Ton Jadi 2,4 Juta Ton
 
Pelaku industri sawit juga telah diwajibkan mengikuti Perpres Nomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO).&amp;rdquo;Ada kebutuhan kepastian dari konsumen internasional, bahwa semua perusahaan harus memberikan perlindungan kepada lingkungan, penduduk dan satwa liar. Perusahaan sawit nasional sudah berkomitmen dan terus berupaya memenuhi harapan konsumen ini,&amp;rdquo; paparnya.
Lebih lanjut, Rachmat Pambudy menjelaskan, tidak mudah membangun bisnis sawit. Selain komitmen menjaga keseimbangan lingkungan, tanaman sawit juga harus dijaga agar proses pertumbuhannya baik dan bisa memberikan hasil panen maksimal.
Oleh karena itu, menurut Rachmat Pambudy, perusahaan sawit nasional yang menjalankan prinsip SDGs sudah seharusnya diapresiasi, bukan kampanye hitam.Disampaikannya, Malaysia dan Indonesia harus bersatu menghargai diri  sendiri dan saling menghargai, sehingga dunia pun akan ikut menghargai  Indonesia. Petani dan perusahaan harus bekerja bersama. Dia menjelaskan  saat ini jumlah penduduk dunia terus bertambah, sehingga kebutuhan  minyak nabati juga ikut meningkat. Untuk itu dibutuhkan komoditas yang  bisa memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia.
Rachmat menyebutkan sawit adalah komoditas penghasil minyak nabati  yang proses produksinya lebih efisien, dari sisi penggunaan lahan,  produktivitas dan dampak ke lingkungan, jika dibandingkan komoditas  penghasil minyak nabati lain.
Sementara Pendiri dan CEO Nusantara Sawit Sejahtera (NSS), Teguh  Patriawan mengatakan, sebagai perusahaan nasional yang bergerak di  bisnis kelapa sawit pihaknya terus berupaya menerapkan prinsip  pembangunan berkelanjutan (SDGs). Langkah ini dilakukan bukan hanya  karena tuntutan konsumen.
Namun, kelangsungan dan masa depan perusahaan juga sangat ditentukan  oleh kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat dan keadilan yang  diterima oleh para tenaga kerja di perusahaan. Saat ini, NSS menyerap  sekitar 2.700 orang karyawan.
Dia mengatakan, Nusantara Sawit Sejahtera saat ini sedang melakukan  penanaman kebun sawit rakyat (plasma) di sekitar kebun perusahaan.  Plasma dilakukan dengan menggunakan bibit unggul dan merekomendasikan  penggunaan pupuk berimbang, tidak berlebihan untuk konservasi tanah.
&amp;rdquo;NSS mengelola limbah pabrik, sehingga bisa digunakan lagi ke tanaman  untuk menjadi pupuk. Kami selalu coba menghemat dengan cara-cara yang  betul dan memperhatikan kelestarian lingkungan,&amp;rdquo; terangnya.
Selain sudah terbukti menopang perekonomian nasional, Teguh  mengatakan prospek industri kelapa sawit juga masih sangat menjanjikan.  Menyusul diversifikasi penggunaan minyak sawit besar-besaran, tidak  hanya untuk bahan pangan, tetapi juga untuk bahan bakar biodiesel.</content:encoded></item></channel></rss>
