<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sektor Properti Bangkit, Milenial Mulai Berburu Rumah</title><description>Sektor properti kembali bangkit di tengah pandemi. Hal tersebut  tercermin dari kinerja keuangan beberapa perusahaan properti yang  positif.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/30/470/2479032/sektor-properti-bangkit-milenial-mulai-berburu-rumah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/09/30/470/2479032/sektor-properti-bangkit-milenial-mulai-berburu-rumah"/><item><title>Sektor Properti Bangkit, Milenial Mulai Berburu Rumah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/09/30/470/2479032/sektor-properti-bangkit-milenial-mulai-berburu-rumah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/09/30/470/2479032/sektor-properti-bangkit-milenial-mulai-berburu-rumah</guid><pubDate>Kamis 30 September 2021 06:44 WIB</pubDate><dc:creator>Ahmad Hudayanto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/09/30/470/2479032/sektor-properti-bangkit-milenial-mulai-berburu-rumah-qAGrgDlDPW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sektor properti mulai pulih (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/09/30/470/2479032/sektor-properti-bangkit-milenial-mulai-berburu-rumah-qAGrgDlDPW.jpg</image><title>Sektor properti mulai pulih (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Sektor properti kembali bangkit di tengah pandemi. Hal tersebut tercermin dari kinerja keuangan beberapa perusahaan properti yang positif di pertengahan tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sepanjang kuartal II-2021 sektor properti mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,82%. Sementara kontribusi sektor properti terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di periode ini mencapai 7,07%.
Baca Juga: 4 Cara Atasi Tabung Gas Bocor, Ingat Jangan Panik
 
Penjualan properti masih didominasi oleh penjualan rumah tapak baru yang banyak menjadi incaran para milenial yang ingin memiliki rumah pertamanya. Selain itu, adanya stimulus pajak berupa insentif diskon Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk rumah tapak baru sebesar 100% yang turut mendorong permintaan pembelian rumah di masyarakat menengah.
Pemerintah sendiri sudah menyediakan program rumah subsidi, subsidi uang muka, hingga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk membantu masyarakat, khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) mengakui, bahwa potensi pembiayaan perumahan sangatlah besar, apalagi saat ini kaum milenial sudah mulai berpikir untuk memiliki huniannya sendiri.
Baca Juga: 6 Rumah Termahal di Dunia, Nomor 1 Harganya Rp41,9 Triliun 
 
Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Herry Trisaputra Zuna mengungkapkan, kalangan milenial kini menjadi mayoritas segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang memanfaatkan subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Menurutnya, lebih dari 70% segmen MBR yang memanfaatkan FLPP adalah generasi milenial. Sedangkan 11% dimanfaatkan oleh generasi Z.
&amp;ldquo;Pemanfatan FLPP lebih banyak milenial baik itu diperkotaan maupun di luar kota, yang rumah susun maupun rumah tapak. Jadi memang dominasinya oleh generasi tersebut,&quot; ujar Herry, Kamis (30/9/2021).
Herry juga menyatakan, sebaran realisasi KPR bersubsidi dari tahun 2015 hingga 2020 mayoritas ada di Jawa Barat yakni mencapai 445,50 ribu unit. Kemudian disusul oleh Banten dengan 118,82 ribu unit. &amp;ldquo;Jakarta tidak masuk karena yang disubsidi orientasinya masih lebih ke landed, yang vertikalnya masih belum banyak. Ini tantangan yang harus kita jawab,&amp;rdquo; ujar Herry.Untuk menjawab tantangan tersebut Kementerian PUPR terus  memfasilitasi penyediaan rumah bagi masyarakat baik dari sisi supply  maupun demand. Dari sisi suplai, Herry mengungkapkan, Perumnas telah  membuat desain rumah tapak yang sesuai dengan selera kaum milenial.
Sementara dari sisi demand bagaimana para milenial ini dapat  difasilitasi untuk menjadi anggota BP Tapera. Sedangkan saat ini, banyak  milenial yang bekerja di sektor informal.
&amp;ldquo;Di dalam prosesnya kita berkeinginan fasilitas bagi mereka bisa  diperoleh seawal mungkin walaupun harus menjadi anggota satu tahun  terlebih dahulu. Selain itu milenial di segmen MBR juga bisa  memanfaatkan FLPP dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan  (BP2BT) di tahun depan,&amp;rdquo; papar dia.
Sementara itu, Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera)  terus berupaya untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memiliki  rumah. Salah satu kemudahan tersebut adalah syarat pembiayaan perumahan  BP Tapera yang masa kepesertaannya paling singkat selama 12 bulan.
Dengan kata lain, masyarakat sudah bisa memiliki rumah dengan menabung  selama setahun di BP Tapera. Kemudahan ini ditawarkan oleh BP Tapera dengan mempertimbangkan para  pekerja informal yang sering kali kesulitan mendapatkan pinjaman KPR  karena tidak memiliki pendapatan tetap.
&quot;Kalau rutin menabung selama 12  bulan, berturut-turut, mereka eligible untuk mendapatkan pembiayaan.  Kita menjembatani anak-anak milenial dengan pekerjaan informal dengan  perbankan melalui menabung. Harapannya dengan menabung, bank bisa  melihat kemampuan membayar teman-teman milenial,&quot; jelas Ketua Komisioner  BP Tapera, Adi Setianto di diskusi yang sama.
Lebih jauh, Adi menambahkan, besaran tabungan yang harus disetor oleh  peserta ke BP Tapera juga tidak terlalu besar. Untuk mereka yang  memiliki pendapatan tetap, besarannya adalah 2,5% beban pekerja dan 0,5%  beban pemberi kerja. Sementara, besaran untuk pekerja mandiri seperti  sektor informal adalah sebesar 3%.
&quot;Iurannya murah kok, 3%. Kalau gaji 3  juta, ya cukup Rp90 ribu sebulan. Melalui tabungan gotong royong, kita  bisa membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah agar memiliki rumah,&quot;  ucapnya.Setiap masyarakat bisa memiliki rumah melalui berbagai kemudahan yang   ditawarkan BP Tapera. Milenial dan anak muda bisa dengan mudah mulai   mencicil rumah pertamanya melalui BP Tapera.
Sedangkan dari sisi pembiayaan perumahan, Bank Tabungan Negara (BTN)   pun saat ini tengah gencar menawarkan berbagai kemudahan bagi milenial   untuk memiliki rumah impiannya. Salah satunya adalah kemudahan akses  via  digital melalui Bank BTN.
Menurut BTN, saat ini perseroan memiliki   layanan digital terintegrasi untuk para masyarakat, terutama milenial   yang tengah mencari rumah. Layanan digital ini dapat memenuhi berbagai   kebutuhan masyarakat terkait pembelian dan penjualan properti, salah   satunya adalah aplikasi Smart Residence.
&quot;Aplikasi Smart Residence ini ditujukan untuk para milenial yang   mencari perumahan-perumahan di high rise building. Semua transaksi dan   biaya yang terkait rumah tersebut bisa dilakukan melalui aplikasi ini,&quot;   tambah Direktur Consumer &amp;amp; Commercial Lending Bank BTN, Hirwandi   Gafar.
Selain itu, Bank BTN juga menyediakan situs BTNProperti.co.id yang   bekerja sama dengan developer untuk menyediakan akses perumahan di   seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, masyarakat juga bisa mencari   rumah-rumah aset BTN dengan harga yang terjangkau melalui situs   rumahmurahbtn.co.id. Kanal-kanal ini diharapkan bisa menarik minat   milenial untuk memiliki rumah.
Kemudahan tersebut juga didukung dengan pembiayaan terjangkau Bank   BTN. Salah satunya adalah program KPR Gaeesss! for Millennials yang   ditujukan untuk anak-anak muda. Dengan program ini, selama 2 tahun   pertama milenial cukup membayar bunga kredit saja. Di samping itu, Bank   BTN juga menawarkan KPR subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Adapun   program yang ditawarkan antara lain adalah, KPR FLPP, KPR BP2BT, dan  KPR  TAPERA.
Minat masyarakat untuk membeli properti masih tinggi, baik untuk   investasi maupun sebagai dihuni sendiri. Berdasarkan jenisnya, rumah   tapak menjadi properti yang paling banyak dicari oleh pengunjung situs   penyedia jasa jual beli rumah, Lamudi.co.id. Berdasarkan data yang   dikumpulkan oleh platform Lamudi, selama 2020 sebanyak 92,01% pengunjung   Lamudi mencari properti rumah. Sementara di 2021 pengunjung yang   mencari rumah mencapai 83,70%.
Sedangkan jumlah pengunjung yang mencari apartemen di 2020 sebanyak   5,59% dan 6,93% di 2021. Untuk komersial 2,39% di 2020 dan 9,37% di   2021. &amp;ldquo;Jika berdasarkan lokasi, dari Juni 2020 sampai 2021 kita melihat   Bogor, Jakarta Selatan, Bekasi masih menjadi top three lokasi yang   dicari calon pembeli,&amp;rdquo; ungkap Commercial Director Lamudi, Yoga   Priyautama
Dirinya juga mengungkapkan, bahwa sebesar 73,8% masyarakat lebih   memilih membeli rumah secara kredit. Hanya 26,2% yang membeli secara   tunai. Selain itu, pilihan pembayaran KPR dengan down payment (DP)   10-15% menjadi yang paling banyak dipilih pengunjung situsnya. Meski   demikian, Yoga melihat saat ini mulai banyak masyarakat yang   memanfaatkan DP 0%.
&amp;ldquo;Perpanjangan stimulus pajak juga sangat membantu. Kita melihat   adanya kenaikan dari sisi transaksi properti setelah adanya stimulus   tersebut,&amp;rdquo; tutup Yoga.</description><content:encoded>JAKARTA - Sektor properti kembali bangkit di tengah pandemi. Hal tersebut tercermin dari kinerja keuangan beberapa perusahaan properti yang positif di pertengahan tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sepanjang kuartal II-2021 sektor properti mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,82%. Sementara kontribusi sektor properti terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di periode ini mencapai 7,07%.
Baca Juga: 4 Cara Atasi Tabung Gas Bocor, Ingat Jangan Panik
 
Penjualan properti masih didominasi oleh penjualan rumah tapak baru yang banyak menjadi incaran para milenial yang ingin memiliki rumah pertamanya. Selain itu, adanya stimulus pajak berupa insentif diskon Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk rumah tapak baru sebesar 100% yang turut mendorong permintaan pembelian rumah di masyarakat menengah.
Pemerintah sendiri sudah menyediakan program rumah subsidi, subsidi uang muka, hingga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk membantu masyarakat, khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) mengakui, bahwa potensi pembiayaan perumahan sangatlah besar, apalagi saat ini kaum milenial sudah mulai berpikir untuk memiliki huniannya sendiri.
Baca Juga: 6 Rumah Termahal di Dunia, Nomor 1 Harganya Rp41,9 Triliun 
 
Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Herry Trisaputra Zuna mengungkapkan, kalangan milenial kini menjadi mayoritas segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang memanfaatkan subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Menurutnya, lebih dari 70% segmen MBR yang memanfaatkan FLPP adalah generasi milenial. Sedangkan 11% dimanfaatkan oleh generasi Z.
&amp;ldquo;Pemanfatan FLPP lebih banyak milenial baik itu diperkotaan maupun di luar kota, yang rumah susun maupun rumah tapak. Jadi memang dominasinya oleh generasi tersebut,&quot; ujar Herry, Kamis (30/9/2021).
Herry juga menyatakan, sebaran realisasi KPR bersubsidi dari tahun 2015 hingga 2020 mayoritas ada di Jawa Barat yakni mencapai 445,50 ribu unit. Kemudian disusul oleh Banten dengan 118,82 ribu unit. &amp;ldquo;Jakarta tidak masuk karena yang disubsidi orientasinya masih lebih ke landed, yang vertikalnya masih belum banyak. Ini tantangan yang harus kita jawab,&amp;rdquo; ujar Herry.Untuk menjawab tantangan tersebut Kementerian PUPR terus  memfasilitasi penyediaan rumah bagi masyarakat baik dari sisi supply  maupun demand. Dari sisi suplai, Herry mengungkapkan, Perumnas telah  membuat desain rumah tapak yang sesuai dengan selera kaum milenial.
Sementara dari sisi demand bagaimana para milenial ini dapat  difasilitasi untuk menjadi anggota BP Tapera. Sedangkan saat ini, banyak  milenial yang bekerja di sektor informal.
&amp;ldquo;Di dalam prosesnya kita berkeinginan fasilitas bagi mereka bisa  diperoleh seawal mungkin walaupun harus menjadi anggota satu tahun  terlebih dahulu. Selain itu milenial di segmen MBR juga bisa  memanfaatkan FLPP dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan  (BP2BT) di tahun depan,&amp;rdquo; papar dia.
Sementara itu, Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera)  terus berupaya untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memiliki  rumah. Salah satu kemudahan tersebut adalah syarat pembiayaan perumahan  BP Tapera yang masa kepesertaannya paling singkat selama 12 bulan.
Dengan kata lain, masyarakat sudah bisa memiliki rumah dengan menabung  selama setahun di BP Tapera. Kemudahan ini ditawarkan oleh BP Tapera dengan mempertimbangkan para  pekerja informal yang sering kali kesulitan mendapatkan pinjaman KPR  karena tidak memiliki pendapatan tetap.
&quot;Kalau rutin menabung selama 12  bulan, berturut-turut, mereka eligible untuk mendapatkan pembiayaan.  Kita menjembatani anak-anak milenial dengan pekerjaan informal dengan  perbankan melalui menabung. Harapannya dengan menabung, bank bisa  melihat kemampuan membayar teman-teman milenial,&quot; jelas Ketua Komisioner  BP Tapera, Adi Setianto di diskusi yang sama.
Lebih jauh, Adi menambahkan, besaran tabungan yang harus disetor oleh  peserta ke BP Tapera juga tidak terlalu besar. Untuk mereka yang  memiliki pendapatan tetap, besarannya adalah 2,5% beban pekerja dan 0,5%  beban pemberi kerja. Sementara, besaran untuk pekerja mandiri seperti  sektor informal adalah sebesar 3%.
&quot;Iurannya murah kok, 3%. Kalau gaji 3  juta, ya cukup Rp90 ribu sebulan. Melalui tabungan gotong royong, kita  bisa membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah agar memiliki rumah,&quot;  ucapnya.Setiap masyarakat bisa memiliki rumah melalui berbagai kemudahan yang   ditawarkan BP Tapera. Milenial dan anak muda bisa dengan mudah mulai   mencicil rumah pertamanya melalui BP Tapera.
Sedangkan dari sisi pembiayaan perumahan, Bank Tabungan Negara (BTN)   pun saat ini tengah gencar menawarkan berbagai kemudahan bagi milenial   untuk memiliki rumah impiannya. Salah satunya adalah kemudahan akses  via  digital melalui Bank BTN.
Menurut BTN, saat ini perseroan memiliki   layanan digital terintegrasi untuk para masyarakat, terutama milenial   yang tengah mencari rumah. Layanan digital ini dapat memenuhi berbagai   kebutuhan masyarakat terkait pembelian dan penjualan properti, salah   satunya adalah aplikasi Smart Residence.
&quot;Aplikasi Smart Residence ini ditujukan untuk para milenial yang   mencari perumahan-perumahan di high rise building. Semua transaksi dan   biaya yang terkait rumah tersebut bisa dilakukan melalui aplikasi ini,&quot;   tambah Direktur Consumer &amp;amp; Commercial Lending Bank BTN, Hirwandi   Gafar.
Selain itu, Bank BTN juga menyediakan situs BTNProperti.co.id yang   bekerja sama dengan developer untuk menyediakan akses perumahan di   seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, masyarakat juga bisa mencari   rumah-rumah aset BTN dengan harga yang terjangkau melalui situs   rumahmurahbtn.co.id. Kanal-kanal ini diharapkan bisa menarik minat   milenial untuk memiliki rumah.
Kemudahan tersebut juga didukung dengan pembiayaan terjangkau Bank   BTN. Salah satunya adalah program KPR Gaeesss! for Millennials yang   ditujukan untuk anak-anak muda. Dengan program ini, selama 2 tahun   pertama milenial cukup membayar bunga kredit saja. Di samping itu, Bank   BTN juga menawarkan KPR subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Adapun   program yang ditawarkan antara lain adalah, KPR FLPP, KPR BP2BT, dan  KPR  TAPERA.
Minat masyarakat untuk membeli properti masih tinggi, baik untuk   investasi maupun sebagai dihuni sendiri. Berdasarkan jenisnya, rumah   tapak menjadi properti yang paling banyak dicari oleh pengunjung situs   penyedia jasa jual beli rumah, Lamudi.co.id. Berdasarkan data yang   dikumpulkan oleh platform Lamudi, selama 2020 sebanyak 92,01% pengunjung   Lamudi mencari properti rumah. Sementara di 2021 pengunjung yang   mencari rumah mencapai 83,70%.
Sedangkan jumlah pengunjung yang mencari apartemen di 2020 sebanyak   5,59% dan 6,93% di 2021. Untuk komersial 2,39% di 2020 dan 9,37% di   2021. &amp;ldquo;Jika berdasarkan lokasi, dari Juni 2020 sampai 2021 kita melihat   Bogor, Jakarta Selatan, Bekasi masih menjadi top three lokasi yang   dicari calon pembeli,&amp;rdquo; ungkap Commercial Director Lamudi, Yoga   Priyautama
Dirinya juga mengungkapkan, bahwa sebesar 73,8% masyarakat lebih   memilih membeli rumah secara kredit. Hanya 26,2% yang membeli secara   tunai. Selain itu, pilihan pembayaran KPR dengan down payment (DP)   10-15% menjadi yang paling banyak dipilih pengunjung situsnya. Meski   demikian, Yoga melihat saat ini mulai banyak masyarakat yang   memanfaatkan DP 0%.
&amp;ldquo;Perpanjangan stimulus pajak juga sangat membantu. Kita melihat   adanya kenaikan dari sisi transaksi properti setelah adanya stimulus   tersebut,&amp;rdquo; tutup Yoga.</content:encoded></item></channel></rss>
