<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RUPTL 2021-2030, Porsi Pembangkit Listrik EBT 51,6%</title><description>Kementerian ESDM menerbitkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/05/320/2481533/ruptl-2021-2030-porsi-pembangkit-listrik-ebt-51-6</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/10/05/320/2481533/ruptl-2021-2030-porsi-pembangkit-listrik-ebt-51-6"/><item><title>RUPTL 2021-2030, Porsi Pembangkit Listrik EBT 51,6%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/05/320/2481533/ruptl-2021-2030-porsi-pembangkit-listrik-ebt-51-6</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/10/05/320/2481533/ruptl-2021-2030-porsi-pembangkit-listrik-ebt-51-6</guid><pubDate>Selasa 05 Oktober 2021 13:28 WIB</pubDate><dc:creator>Oktiani Endarwati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/05/320/2481533/ruptl-2021-2030-porsi-pembangkit-listrik-ebt-51-6-MNzLF7pqpd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Porsi energi terbarukan dalam RUPTL diperbanyak (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/05/320/2481533/ruptl-2021-2030-porsi-pembangkit-listrik-ebt-51-6-MNzLF7pqpd.jpg</image><title>Porsi energi terbarukan dalam RUPTL diperbanyak (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian ESDM menerbitkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030. RUPTL tersebut memperbesar porsi pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, arah kebijakan energi nasional ke depan, yaitu transisi dari energi fosil menjadi energi baru terbarukan sebagai energi yang lebih bersih, minim emisi dan ramah lingkungan.
Baca Juga: Transisi Energi, EBT dan Proyek 35.000 MW Perlu Dihitung dengan Cermat 
 
Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia pada Paris Agreement, yaitu penurunan emisi gas rumah kaca sesuai dengan Nationally Determined Contributions/NDC pada tahun 2030 sebesar 29% dari Business as Usual (BaU) dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan dukungan Internasional.
&quot;RUPTL PLN 2021-2030 saat ini merupakan RUPTL lebih hijau karena porsi penambahan pembangkit EBT sebesar 51,6%, lebih besar dibandingkan penambahan pembangkit fosil sebesar 48,4%,&quot; ujarnya pada Webinar Diseminasi RUPTL PT PLN (Persero) 2021-2030, Selasa (5/10/2021).
Baca Juga: Transisi Energi Butuh Rp81,5 Triliun, Sri Mulyani Minta Tolong Swasta
 
Arifin melanjutkan, tuntutan untuk industri menggunakan energi yang hijau dan penyediaan listrik dari sumber energi yang rendah karbon menjadi tantangan tersendiri dalam penyediaan energi di Indonesia. Pertumbuhan perekonomian yang terdampak pandemi Covid-19 juga berdampak pada pertumbuhan listrik yang menyebabkan beberapa sistem besar seperti sistem kelistrikan Jawa-Bali dan sistem Sumatera berpotensi over supply.
&quot;Oleh karena itu pertumbuhan listrik pada RUPTL sebelumnya sudah tidak sesuai, untuk itu pada RUPTL PLN 2021-2030 diproyeksikan hanya tumbuh rata-rata sekitar 4,9%, dari yang sebelumnya 6,4%,&quot; ungkapnya.Dia menuturkan, program 35.000 MW juga berjalan terus dan dalam dua  tahun ke depan akan masuk sekitar 14.700 MW yang sebagian besar dari  PLTU Batubara. Selain itu, data per akhir Juni 2021, Rasio Elektrifikasi  rata-rata nasional telah mencapai 99,37%. Namun masih terdapat beberapa  provinsi yang masih perlu perhatian khusus yaitu Provinsi Nusa Tenggara  Timur, Maluku, dan Papua.
Tantangan-tantangan tersebut menjadi pertimbangan dalam penyusunan  RUPTL PLN 2021-2030. Dari serangkaian diskusi yang cukup panjang antara  Pemerintah dan PT PLN (Persero) serta memperhatikan masukan dari  Kementerian dan Lembaga terkait, maka telah berhasil dirumuskan RUPTL  PLN 2021-2030 yang disahkan melalui Keputusan Menteri ESDM nomor  188.K/HK.02/MEM.L/2021 tanggal 28 September 2021.
&quot;Dengan memperhatikan kondisi PLN, RUPTL PLN 2021-2030 dapat menjawab semua permasalahan di sektor ketenagalistrikan,&quot; paparnya.
Arifin menjelaskan, dalam rangka mencapai target penambahan  pembangkit sebesar 40,6 GW selama 10 tahun ke depan dan mempertimbangkan  keterbatasan kemampuan investasi PLN, pemerintah memutuskan bahwa RUPTL  ini membuka peran IPP lebih besar termasuk dalam pengembangan  pembangkit berbasis EBT.
&quot;Dalam RUPTL ini tidak ada lagi rencana PLTU baru kecuali yang sudah  committed dan konstruksi, hal ini juga membuka ruang yang cukup besar  untuk pengembangan EBT menggantikan rencana PLTU dalam RUPTL  sebelumnya,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kementerian ESDM menerbitkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030. RUPTL tersebut memperbesar porsi pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, arah kebijakan energi nasional ke depan, yaitu transisi dari energi fosil menjadi energi baru terbarukan sebagai energi yang lebih bersih, minim emisi dan ramah lingkungan.
Baca Juga: Transisi Energi, EBT dan Proyek 35.000 MW Perlu Dihitung dengan Cermat 
 
Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia pada Paris Agreement, yaitu penurunan emisi gas rumah kaca sesuai dengan Nationally Determined Contributions/NDC pada tahun 2030 sebesar 29% dari Business as Usual (BaU) dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan dukungan Internasional.
&quot;RUPTL PLN 2021-2030 saat ini merupakan RUPTL lebih hijau karena porsi penambahan pembangkit EBT sebesar 51,6%, lebih besar dibandingkan penambahan pembangkit fosil sebesar 48,4%,&quot; ujarnya pada Webinar Diseminasi RUPTL PT PLN (Persero) 2021-2030, Selasa (5/10/2021).
Baca Juga: Transisi Energi Butuh Rp81,5 Triliun, Sri Mulyani Minta Tolong Swasta
 
Arifin melanjutkan, tuntutan untuk industri menggunakan energi yang hijau dan penyediaan listrik dari sumber energi yang rendah karbon menjadi tantangan tersendiri dalam penyediaan energi di Indonesia. Pertumbuhan perekonomian yang terdampak pandemi Covid-19 juga berdampak pada pertumbuhan listrik yang menyebabkan beberapa sistem besar seperti sistem kelistrikan Jawa-Bali dan sistem Sumatera berpotensi over supply.
&quot;Oleh karena itu pertumbuhan listrik pada RUPTL sebelumnya sudah tidak sesuai, untuk itu pada RUPTL PLN 2021-2030 diproyeksikan hanya tumbuh rata-rata sekitar 4,9%, dari yang sebelumnya 6,4%,&quot; ungkapnya.Dia menuturkan, program 35.000 MW juga berjalan terus dan dalam dua  tahun ke depan akan masuk sekitar 14.700 MW yang sebagian besar dari  PLTU Batubara. Selain itu, data per akhir Juni 2021, Rasio Elektrifikasi  rata-rata nasional telah mencapai 99,37%. Namun masih terdapat beberapa  provinsi yang masih perlu perhatian khusus yaitu Provinsi Nusa Tenggara  Timur, Maluku, dan Papua.
Tantangan-tantangan tersebut menjadi pertimbangan dalam penyusunan  RUPTL PLN 2021-2030. Dari serangkaian diskusi yang cukup panjang antara  Pemerintah dan PT PLN (Persero) serta memperhatikan masukan dari  Kementerian dan Lembaga terkait, maka telah berhasil dirumuskan RUPTL  PLN 2021-2030 yang disahkan melalui Keputusan Menteri ESDM nomor  188.K/HK.02/MEM.L/2021 tanggal 28 September 2021.
&quot;Dengan memperhatikan kondisi PLN, RUPTL PLN 2021-2030 dapat menjawab semua permasalahan di sektor ketenagalistrikan,&quot; paparnya.
Arifin menjelaskan, dalam rangka mencapai target penambahan  pembangkit sebesar 40,6 GW selama 10 tahun ke depan dan mempertimbangkan  keterbatasan kemampuan investasi PLN, pemerintah memutuskan bahwa RUPTL  ini membuka peran IPP lebih besar termasuk dalam pengembangan  pembangkit berbasis EBT.
&quot;Dalam RUPTL ini tidak ada lagi rencana PLTU baru kecuali yang sudah  committed dan konstruksi, hal ini juga membuka ruang yang cukup besar  untuk pengembangan EBT menggantikan rencana PLTU dalam RUPTL  sebelumnya,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
