<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Industri Penerbangan Akhirnya Bangkit dari Krisis Terburuk</title><description>IATA memprediksi industri  penerbangan global akan merugi sebesar USD12 miliar atau Rp170,9 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/05/320/2481536/industri-penerbangan-akhirnya-bangkit-dari-krisis-terburuk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/10/05/320/2481536/industri-penerbangan-akhirnya-bangkit-dari-krisis-terburuk"/><item><title>Industri Penerbangan Akhirnya Bangkit dari Krisis Terburuk</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/05/320/2481536/industri-penerbangan-akhirnya-bangkit-dari-krisis-terburuk</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/10/05/320/2481536/industri-penerbangan-akhirnya-bangkit-dari-krisis-terburuk</guid><pubDate>Selasa 05 Oktober 2021 13:32 WIB</pubDate><dc:creator>Zikra Mulia Irawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/05/320/2481536/industri-penerbangan-akhirnya-bangkit-dari-krisis-terburuk-X3hYuPWbpa.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Industri penerbangan mulai bangkit (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/05/320/2481536/industri-penerbangan-akhirnya-bangkit-dari-krisis-terburuk-X3hYuPWbpa.jpeg</image><title>Industri penerbangan mulai bangkit (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - International Air Transport Association (IATA) memprediksi industri penerbangan global akan merugi sebesar USD12 miliar atau Rp170,9 triliun (kurs Rp14.200). Namun, kerugian itu disebut telah berkurang sebanyak 78% dari kerugian tahun ini karena pandemi Covid-19 yang berangsur pulih.
&amp;ldquo;Kita telah melalui titik terburuk krisis,&amp;rdquo; kata Direktur Utama IATA Willie Walsh pada pertemuan tahunan yang diadakan di Boston, Amerika Serikat dikutip dari cnbc.com, Selasa (5/10/2021).
Baca Juga: PPKM Diperpanjang, Apa Dampaknya ke Industri Penerbangan?
 
IATA mewakili setidaknya 300 maskapai yang melayani 80% penerbangan di dunia. Pada April 2021, IATA memperkirakan kerugian akan berkisar USD47,7 miliar atau Rp679,5 triliun. Namun, kenyataannya kerugian justru mencapai USD51,8 miliar atau Rp737,9 triliun.
Baca Juga: 1.000 Pesawat Dikembalikan ke Lessor Tahun Ini, Termasuk Garuda dan Lion Air
 
Yang terjadi pada tahun 2020 bahkan lebih parah. IATA memprediksi kerugian USD126,4 atau Rp1.800,7 triliun. Angka prediksi itu juga meleset dan kerugiannya mencapai USD137,7 miliar atau Rp1.961,7 triliun. Jika ditotalkan, kerugian industri penerbangan kala itu bahkan lebih dari USD200 miliar atau Rp2.849,3 triliun.
&amp;ldquo;Sementara masalah serius tersisa, jalan untuk kembali pulih mulai tampak,&amp;rdquo; sambung Walsh pada pertemuan yang baru diadakan kembali setelah Juni 2019 itu.IATA memperkirakan industri penerbangan akan kembali meraup untung  2023 mendatang. Total penumpang akan mengalami peningkatan hingga 3,4  miliar tahun depan. Perkiraan tersebut adalah peningkatan dari total  penumpang tahun ini yang berkisar 2,3 miliar.
Peningkatan tersebut tak terlepas dari dicabutnya pembatasan  perjalanan internasional. Namun, Walsh mengkritik ketidakkompakan  negara-negara terkait protokol kesehatan seperti pengetesan Covid-19,  pengecualian usia, hingga validasi vaksinasi.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat bulan lalu mengatakan bahwa  pembatasan perjalanan internasional akan dicabut pada November  mendatang. Namun, belum pernyataan lebih lanjut mengenai hal ini.</description><content:encoded>JAKARTA - International Air Transport Association (IATA) memprediksi industri penerbangan global akan merugi sebesar USD12 miliar atau Rp170,9 triliun (kurs Rp14.200). Namun, kerugian itu disebut telah berkurang sebanyak 78% dari kerugian tahun ini karena pandemi Covid-19 yang berangsur pulih.
&amp;ldquo;Kita telah melalui titik terburuk krisis,&amp;rdquo; kata Direktur Utama IATA Willie Walsh pada pertemuan tahunan yang diadakan di Boston, Amerika Serikat dikutip dari cnbc.com, Selasa (5/10/2021).
Baca Juga: PPKM Diperpanjang, Apa Dampaknya ke Industri Penerbangan?
 
IATA mewakili setidaknya 300 maskapai yang melayani 80% penerbangan di dunia. Pada April 2021, IATA memperkirakan kerugian akan berkisar USD47,7 miliar atau Rp679,5 triliun. Namun, kenyataannya kerugian justru mencapai USD51,8 miliar atau Rp737,9 triliun.
Baca Juga: 1.000 Pesawat Dikembalikan ke Lessor Tahun Ini, Termasuk Garuda dan Lion Air
 
Yang terjadi pada tahun 2020 bahkan lebih parah. IATA memprediksi kerugian USD126,4 atau Rp1.800,7 triliun. Angka prediksi itu juga meleset dan kerugiannya mencapai USD137,7 miliar atau Rp1.961,7 triliun. Jika ditotalkan, kerugian industri penerbangan kala itu bahkan lebih dari USD200 miliar atau Rp2.849,3 triliun.
&amp;ldquo;Sementara masalah serius tersisa, jalan untuk kembali pulih mulai tampak,&amp;rdquo; sambung Walsh pada pertemuan yang baru diadakan kembali setelah Juni 2019 itu.IATA memperkirakan industri penerbangan akan kembali meraup untung  2023 mendatang. Total penumpang akan mengalami peningkatan hingga 3,4  miliar tahun depan. Perkiraan tersebut adalah peningkatan dari total  penumpang tahun ini yang berkisar 2,3 miliar.
Peningkatan tersebut tak terlepas dari dicabutnya pembatasan  perjalanan internasional. Namun, Walsh mengkritik ketidakkompakan  negara-negara terkait protokol kesehatan seperti pengetesan Covid-19,  pengecualian usia, hingga validasi vaksinasi.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat bulan lalu mengatakan bahwa  pembatasan perjalanan internasional akan dicabut pada November  mendatang. Namun, belum pernyataan lebih lanjut mengenai hal ini.</content:encoded></item></channel></rss>
