<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Emiten Perbankan Ramai-Ramai Gelar Aksi Korporasi, Investor Harus Apa?</title><description>Emiten perbankan meramaikan pasar modal Indonesia dengan berbagai aksi korporasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/18/278/2487868/emiten-perbankan-ramai-ramai-gelar-aksi-korporasi-investor-harus-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/10/18/278/2487868/emiten-perbankan-ramai-ramai-gelar-aksi-korporasi-investor-harus-apa"/><item><title>Emiten Perbankan Ramai-Ramai Gelar Aksi Korporasi, Investor Harus Apa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/18/278/2487868/emiten-perbankan-ramai-ramai-gelar-aksi-korporasi-investor-harus-apa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/10/18/278/2487868/emiten-perbankan-ramai-ramai-gelar-aksi-korporasi-investor-harus-apa</guid><pubDate>Senin 18 Oktober 2021 10:02 WIB</pubDate><dc:creator>Aditya Pratama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/18/278/2487868/emiten-perbankan-ramai-ramai-gelar-aksi-korporasi-investor-harus-apa-aagxlWCEEK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Emiten perbankan lakukan aksi korporasi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/18/278/2487868/emiten-perbankan-ramai-ramai-gelar-aksi-korporasi-investor-harus-apa-aagxlWCEEK.jpg</image><title>Emiten perbankan lakukan aksi korporasi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Emiten perbankan meramaikan pasar modal Indonesia dengan berbagai aksi korporasi. Adapun aksi korporasi emiten perbankan mulai dari penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue hingga stock split saham.
Beberapa emiten perbankan yang melakukan aksi korporasi tersebut diantaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang telah menyelesaikan rights issue dengan penerbitan 28,2 miliar saham baru senilai Rp95,9 triliun.
Baca Juga: Meleset dari Target, Pratama Widya Pangkas Kontrak Jadi Rp252 Miliar
 
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melakukan aksi korporasi stock split ini sebelumnya telah disetujui dengan rasio 1 : 5 (1 saham dipecah menjadi 5 saham baru). Nilai nominal per saham BBCA sebelum stock split adalah Rp62,5, sedangkan nilai nominal per saham BBCA setelah stock split menjadi sebesar Rp12,5.
Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada mengatakan, terkait prospek emiten perbankan ke depannya tergantung dari masing-masing pengembangan bank, kemampuan menyalurkan kredit, efisiensi, dan pengembangan lainnya.
Baca Juga: 38 Perusahaan Masuk Pasar Modal RI, Menko Luhut: Tertinggi di Asean
&quot;Kalau BBRI dan BBCA kan memang bank lama yang sudah berpengalaman. Tinggal update sistem layanan aja untuk mempertahankan pangsa pasarnya,&quot; ujar Reza kepada MNC Portal Indonesia, Senin (18/10/2021).
Dengan banyaknya emiten perbankan yang melakukan aksi korporasi yang umumnya melakukan rights issue untuk meningkatkan ke layanan digital, dia menyebut hal yang harus diperhatikan investor adalah layanan digital seperti apa yang ditawarkan bank-bank tersebut kepada nasabahnya.&quot;Ke depan yang namanya digitalisasi akan menjadi sesuatu yang biasa  atau umum dilakukan. Maka dari itu harus dilihat seperti apa inovasinya  sehingga user friendly dan dapat memberikan added value tidak hanya buat  nasabah tapi juga buat banknya,&quot; kata dia.
Reza juga berpendapat, saham perbankan tanpa harganya dipengaruhi  aksi &quot;pom-pom&quot; saham sudah menarik di kalangan investor. Sebab,  menurutnya saat ini hampir semua transaksi melalui bank.
&quot;Ada e-wallet macam si Dana, OVO, Gopay, dan lain-lain, itu emang  mereka simpen dananya dimana? Di bank juga kan. Jadi, kalau ada yang  bilang ke depan ga butuh layanan bank, salah besar. Justru kehadiran  mereka bisa nambah DPK dan itu bisa jadi bagian dari ekosistem  perbankan,&quot; ucapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Emiten perbankan meramaikan pasar modal Indonesia dengan berbagai aksi korporasi. Adapun aksi korporasi emiten perbankan mulai dari penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue hingga stock split saham.
Beberapa emiten perbankan yang melakukan aksi korporasi tersebut diantaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang telah menyelesaikan rights issue dengan penerbitan 28,2 miliar saham baru senilai Rp95,9 triliun.
Baca Juga: Meleset dari Target, Pratama Widya Pangkas Kontrak Jadi Rp252 Miliar
 
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melakukan aksi korporasi stock split ini sebelumnya telah disetujui dengan rasio 1 : 5 (1 saham dipecah menjadi 5 saham baru). Nilai nominal per saham BBCA sebelum stock split adalah Rp62,5, sedangkan nilai nominal per saham BBCA setelah stock split menjadi sebesar Rp12,5.
Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Reza Priyambada mengatakan, terkait prospek emiten perbankan ke depannya tergantung dari masing-masing pengembangan bank, kemampuan menyalurkan kredit, efisiensi, dan pengembangan lainnya.
Baca Juga: 38 Perusahaan Masuk Pasar Modal RI, Menko Luhut: Tertinggi di Asean
&quot;Kalau BBRI dan BBCA kan memang bank lama yang sudah berpengalaman. Tinggal update sistem layanan aja untuk mempertahankan pangsa pasarnya,&quot; ujar Reza kepada MNC Portal Indonesia, Senin (18/10/2021).
Dengan banyaknya emiten perbankan yang melakukan aksi korporasi yang umumnya melakukan rights issue untuk meningkatkan ke layanan digital, dia menyebut hal yang harus diperhatikan investor adalah layanan digital seperti apa yang ditawarkan bank-bank tersebut kepada nasabahnya.&quot;Ke depan yang namanya digitalisasi akan menjadi sesuatu yang biasa  atau umum dilakukan. Maka dari itu harus dilihat seperti apa inovasinya  sehingga user friendly dan dapat memberikan added value tidak hanya buat  nasabah tapi juga buat banknya,&quot; kata dia.
Reza juga berpendapat, saham perbankan tanpa harganya dipengaruhi  aksi &quot;pom-pom&quot; saham sudah menarik di kalangan investor. Sebab,  menurutnya saat ini hampir semua transaksi melalui bank.
&quot;Ada e-wallet macam si Dana, OVO, Gopay, dan lain-lain, itu emang  mereka simpen dananya dimana? Di bank juga kan. Jadi, kalau ada yang  bilang ke depan ga butuh layanan bank, salah besar. Justru kehadiran  mereka bisa nambah DPK dan itu bisa jadi bagian dari ekosistem  perbankan,&quot; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
