<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>5 Fakta Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dari Biaya Bengkak hingga Tunda Stasiun Walini</title><description>Kereta Cepat Jakarta - Bandung (KCJB) bakal menjadi moda transportasi penting masa depan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/23/320/2490106/5-fakta-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung-dari-biaya-bengkak-hingga-tunda-stasiun-walini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/10/23/320/2490106/5-fakta-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung-dari-biaya-bengkak-hingga-tunda-stasiun-walini"/><item><title>5 Fakta Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dari Biaya Bengkak hingga Tunda Stasiun Walini</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/23/320/2490106/5-fakta-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung-dari-biaya-bengkak-hingga-tunda-stasiun-walini</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/10/23/320/2490106/5-fakta-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung-dari-biaya-bengkak-hingga-tunda-stasiun-walini</guid><pubDate>Sabtu 23 Oktober 2021 06:02 WIB</pubDate><dc:creator>Sevilla Nouval Evanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/22/320/2490106/5-fakta-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung-dari-biaya-bengkak-hingga-tunda-stasiun-walini-btFMnmaEg1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/22/320/2490106/5-fakta-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung-dari-biaya-bengkak-hingga-tunda-stasiun-walini-btFMnmaEg1.jpg</image><title>Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kereta Cepat Jakarta - Bandung (KCJB) bakal menjadi moda transportasi penting masa depan. Pasalnya, proyek ini bisa menjadi alternatif rute yang padat di jalan tol dan kereta api biasa.
Proyek KCJB juga bakal meningkatkan daya saing Indonesia di mata dunia dalam jangka panjang. Pasalnya, proyek ini adalah yang pertama di Asia Tenggara dan bakal jadi moda yang terintegrasi.
Berikut lima fakta nasib proyek KCJB ke depannya, seperti dirangkum Okezone pada Sabtu (23/10/2021):
Baca Juga: Jakarta-Bandung 30 Menit, Proyek Kereta Cepat Tingkatkan Daya Saing RI
 
1. Terintegrasi dengan Moda Transportasi Lain
 
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menyebut, KCJB nantinya akan terintegrasi dengan moda transportasi di setiap wilayah. Integrasi ini termasuk dengan Light Rail Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT).
Dengan integrasi tersebut, perjalanan akan lebih mudah dan cepat dilanjutkan antarmoda, sehingga penumpang pun bisa merasakan dampak efisiensi transportasi.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran, Jadi Alasan Pembangunan Stasiun Kereta Cepat Walini Ditunda
2. Bisa Angkut Penumpang Akhir 2022
 
Corporate Secretary Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Mirza Soraya mengatakan, pembangunan KCJB ditargetkan selesai pada 2022. Pada akhir tahun 2022, KCJB pun diharapkan bisa beroperasi secara komersial.
Pembangunan proyek ini sudah rampung sebesar 79% dan KCIC tengah melakukan berbagai upaya untuk bisa mencapai target. Menurut Mirza, saat ini pembangunan di 237 titik konstruksi sedang dipercepat secara komprehensif.3. Bisa Jadi Magnet Investor, Dampak Ekonominya Sampai 30 Tahun
 
KCJB digadang-gadang sebagai ikon kebanggaan Indonesia. Pasalnya,  moda transportasi yang pertama di Asia Tenggara ini secara tak langsung  bisa jadi magnet untuk investor menanamkan modalnya di tanah air.
Kendati begitu, Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia  (MTI), Harya Setyaka Dillon menyebut, dampak positif ekonomi dari  adanya KCJB tidak akan dirasakan dalam waktu dekat. Butuh 10 hingga 30  tahun lagi untuk merasakannya.
&quot;Ini tidak jauh berbeda dengan jalan tol, bandara, dan pelabuhan.  Saat baru diresmikan, pelabuhan mungkin baru dirasakan manfaatnya 15  tahun ke depan,&quot; katanya.
4. Pembangunan Stasiun yang Ditunda
 
Saat ini, dikonfirmasi adanya penundaan pembangunan salah satu  stasiun yang menjadi jalur kereta cepat, yakni Stasiun Walini. Padahal,  rencananya Walini akan menjadi daerah Transit Oriented Development  (TOD).
Mirza mengatakan, KCIC menilai potensi penumpang dari dan menuju  Stasiun Walini diprediksi tak cukup besar, mengingat pengembangan di  area kawasan Walini masih relatif rendah. Dia pun menjelaskan, dana  pengembangan yang seharusnya untuk pembangunan Stasiun Walini akan  dialihkan untuk pengembangan Stasiun Padalarang.
Menurut Mirza, penundaan pembangunan bukan berarti pengerjaan  konstruksi di Walini batal. Namun hanya ditunda sementara waktu. Untuk  fase selanjutnya, Stasiun Walini akan tetap dibangun.
&quot;Fokus kami saat ini adalah melakukan percepatan pembangunan untuk mengejar target operasional di akhir tahun 2022,&quot; katanya.
 
5. Pembengkakan Biaya
Proyek KCJB sebelumnya sempat menjadi sorotan publik setelah  direncanakan mendapatkan kucuran kas keuangan negara. Keputusan  pemerintah untuk turun tangan tak lepas dari ancaman pembengkakan biaya  pengerjaan proyek.
Saat ini, Harya menilai pembengkakan biaya proyek mencapai USD8  miliar atau Rp114,4 triliun dari semula USD6,07 miliar. Bagi dia,  kondisi pandemi Covid-19 memang menempatkan pemerintah dan konsorsium  kereta cepat dalam posisi sulit.
&amp;ldquo;Sebagus-bagusnya perencanaan, Covid-19 itu ada di luar rencana yang  paling baik sekalipun. Pertanyannya sekarang, proyek ini mau  dimangkrakan atau dilanjutkan,&amp;rdquo; kata Harya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kereta Cepat Jakarta - Bandung (KCJB) bakal menjadi moda transportasi penting masa depan. Pasalnya, proyek ini bisa menjadi alternatif rute yang padat di jalan tol dan kereta api biasa.
Proyek KCJB juga bakal meningkatkan daya saing Indonesia di mata dunia dalam jangka panjang. Pasalnya, proyek ini adalah yang pertama di Asia Tenggara dan bakal jadi moda yang terintegrasi.
Berikut lima fakta nasib proyek KCJB ke depannya, seperti dirangkum Okezone pada Sabtu (23/10/2021):
Baca Juga: Jakarta-Bandung 30 Menit, Proyek Kereta Cepat Tingkatkan Daya Saing RI
 
1. Terintegrasi dengan Moda Transportasi Lain
 
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menyebut, KCJB nantinya akan terintegrasi dengan moda transportasi di setiap wilayah. Integrasi ini termasuk dengan Light Rail Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT).
Dengan integrasi tersebut, perjalanan akan lebih mudah dan cepat dilanjutkan antarmoda, sehingga penumpang pun bisa merasakan dampak efisiensi transportasi.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran, Jadi Alasan Pembangunan Stasiun Kereta Cepat Walini Ditunda
2. Bisa Angkut Penumpang Akhir 2022
 
Corporate Secretary Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Mirza Soraya mengatakan, pembangunan KCJB ditargetkan selesai pada 2022. Pada akhir tahun 2022, KCJB pun diharapkan bisa beroperasi secara komersial.
Pembangunan proyek ini sudah rampung sebesar 79% dan KCIC tengah melakukan berbagai upaya untuk bisa mencapai target. Menurut Mirza, saat ini pembangunan di 237 titik konstruksi sedang dipercepat secara komprehensif.3. Bisa Jadi Magnet Investor, Dampak Ekonominya Sampai 30 Tahun
 
KCJB digadang-gadang sebagai ikon kebanggaan Indonesia. Pasalnya,  moda transportasi yang pertama di Asia Tenggara ini secara tak langsung  bisa jadi magnet untuk investor menanamkan modalnya di tanah air.
Kendati begitu, Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia  (MTI), Harya Setyaka Dillon menyebut, dampak positif ekonomi dari  adanya KCJB tidak akan dirasakan dalam waktu dekat. Butuh 10 hingga 30  tahun lagi untuk merasakannya.
&quot;Ini tidak jauh berbeda dengan jalan tol, bandara, dan pelabuhan.  Saat baru diresmikan, pelabuhan mungkin baru dirasakan manfaatnya 15  tahun ke depan,&quot; katanya.
4. Pembangunan Stasiun yang Ditunda
 
Saat ini, dikonfirmasi adanya penundaan pembangunan salah satu  stasiun yang menjadi jalur kereta cepat, yakni Stasiun Walini. Padahal,  rencananya Walini akan menjadi daerah Transit Oriented Development  (TOD).
Mirza mengatakan, KCIC menilai potensi penumpang dari dan menuju  Stasiun Walini diprediksi tak cukup besar, mengingat pengembangan di  area kawasan Walini masih relatif rendah. Dia pun menjelaskan, dana  pengembangan yang seharusnya untuk pembangunan Stasiun Walini akan  dialihkan untuk pengembangan Stasiun Padalarang.
Menurut Mirza, penundaan pembangunan bukan berarti pengerjaan  konstruksi di Walini batal. Namun hanya ditunda sementara waktu. Untuk  fase selanjutnya, Stasiun Walini akan tetap dibangun.
&quot;Fokus kami saat ini adalah melakukan percepatan pembangunan untuk mengejar target operasional di akhir tahun 2022,&quot; katanya.
 
5. Pembengkakan Biaya
Proyek KCJB sebelumnya sempat menjadi sorotan publik setelah  direncanakan mendapatkan kucuran kas keuangan negara. Keputusan  pemerintah untuk turun tangan tak lepas dari ancaman pembengkakan biaya  pengerjaan proyek.
Saat ini, Harya menilai pembengkakan biaya proyek mencapai USD8  miliar atau Rp114,4 triliun dari semula USD6,07 miliar. Bagi dia,  kondisi pandemi Covid-19 memang menempatkan pemerintah dan konsorsium  kereta cepat dalam posisi sulit.
&amp;ldquo;Sebagus-bagusnya perencanaan, Covid-19 itu ada di luar rencana yang  paling baik sekalipun. Pertanyannya sekarang, proyek ini mau  dimangkrakan atau dilanjutkan,&amp;rdquo; kata Harya.</content:encoded></item></channel></rss>
