<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menko Airlangga: 41,9% Total Transaksi Ekonomi Digital di Asean Berasal dari Indonesia</title><description>Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi didorong oleh permintaan yang meningkat pada sektor informasi dan komunikasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/26/320/2492147/menko-airlangga-41-9-total-transaksi-ekonomi-digital-di-asean-berasal-dari-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/10/26/320/2492147/menko-airlangga-41-9-total-transaksi-ekonomi-digital-di-asean-berasal-dari-indonesia"/><item><title>Menko Airlangga: 41,9% Total Transaksi Ekonomi Digital di Asean Berasal dari Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/26/320/2492147/menko-airlangga-41-9-total-transaksi-ekonomi-digital-di-asean-berasal-dari-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/10/26/320/2492147/menko-airlangga-41-9-total-transaksi-ekonomi-digital-di-asean-berasal-dari-indonesia</guid><pubDate>Selasa 26 Oktober 2021 19:32 WIB</pubDate><dc:creator>Zikra Mulia Irawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/26/320/2492147/menko-airlangga-41-9-total-transaksi-ekonomi-digital-di-asean-berasal-dari-indonesia-YxfN3E5Z7p.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebut ekonomi digital RI tumbuh pesat (Foto: Kemenko Perekonomian)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/26/320/2492147/menko-airlangga-41-9-total-transaksi-ekonomi-digital-di-asean-berasal-dari-indonesia-YxfN3E5Z7p.jpg</image><title>Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebut ekonomi digital RI tumbuh pesat (Foto: Kemenko Perekonomian)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi didorong oleh permintaan yang meningkat pada sektor informasi dan komunikasi. Dia menyebut terjadi pergeseran perilaku masyarakat ke arah ekonomi digital, terutama di masa pandemi yang mengharuskan masyarakat membatasi kegiatannya di luar rumah. Situasi ini menjadi peluang untuk akselerasi transformasi digital di berbagai sektor ekonomi yang akan mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
&amp;ldquo;Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas ekonomi digital di Indonesia yang terus meningkat, bahkan 41,9% total transaksi ekonomi digital ASEAN selama 2020 berasal dari Indonesia yang mencapai USD44 miliar, dan di 2025 diproyeksikan mencapai USD124 miliar,&amp;rdquo; ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara The 1st International Conference on Humanities and Social Sciences (ICHSS) 2021.
Baca Juga: Sri Mulyani Ramal Ekonomi RI Tumbuh 4,5% pada Kuartal III-2021
 
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh President University secara virtual pada Selasa (26/10) dengan mengambil tema &amp;ldquo;The Opportunities of Crisis: International Experiences and Best Practices in the Time of Covid-19 and Beyond in Society 5.0&amp;rdquo;.
Teknologi digital digunakan dalam berbagai sektor ekonomi dan bisnis, seperti fintech, e-commerce, layanan kesehatan/pendidikan/transportasi online, maupun Internet of Things (IoT). Khusus untuk layanan kesehatan dan pendidikan diprediksi akan menjadi sangat besar kontribusinya dalam ekonomi digital ke depannya.
Baca Juga: Indonesia Mampu Tahan Kontraksi Ekonomi karena Pengendalian Covid-19
&amp;ldquo;Namun, untuk sekarang, e-commerce adalah sektor utama yang mendukung ekonomi digital di Indonesia. Sebanyak 72,73% dari total transaksi ekonomi digital di Indonesia berasal dari e-commerce. Pada 2020, nilai e-commerce mencapai US$32 miliar, dan diproyeksikan akan mencapai USD83 miliar di 2025,&amp;rdquo; jelas Menko Airlangga.
Menurut Airlangga, Indonesia memiliki bonus demografi yang mendukung pembentukan ekosistem digital yang berkelanjutan. Mayoritas penduduk Indonesia adalah Generasi Z dan Milenial berusia 8 sampai 39 tahun yang memiliki tingkat adopsi digital tinggi. Sementara, terdapat 37% konsumen baru ekonomi digital yang muncul selama pandemi Covid-19 dan 93% di antaranya akan tetap memanfaatkan produk ekonomi digital pasca pandemi Covid-19 (Google, Bain, Temasek; 2020).Peran dari para anak muda yang termasuk Generasi Z dan Milenial dalam  era digital ini antara lain sebagai talenta digital, wirausahawan  digital, ataupun konsumen potensial dari produk-produk domestik. Namun,  dunia wirausaha di Indonesia yang didominasi oleh pengusaha milenial  (25-34 tahun) tersebut juga mencatat Rasio Wirausaha yang masih rendah  yakni 3,30% di 2019 dan 3,47% di 2020 (Kemenkop UKM, 2020).
Pemerintah juga telah berupaya mengakselerasi pembentukan talenta  digital dan pengembangan ekonomi digital dengan melakukan pembangunan  infrastruktur seperti akses internet 5G dan data center, melakukan  pelatihan melalui Program Kartu Prakerja dan Digital Leadership Academy,  mengeluarkan regulasi UU Cipta Kerja dan aturan pelaksanaannya,  mengembangkan ekosistem UMKM digital, serta menyediakan fasilitas  pembiayaan untuk membantu perusahaan rintisan (start-up) di bidang  teknologi digital.
Indonesia pun harus siap menghadapi perubahan menjadi Society 5.0, di  mana sejumlah besar informasi dari sensor wilayah fisik diakumulasikan  ke dalam wilayah maya (cyberspace). Dalam cyberspace, big data  dianalisis oleh Artificial Intelligence (AI), dan hasilnya akan  dikembalikan ke wilayah fisik untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.  &amp;ldquo;Kuncinya adalah tetap kita harus membangun talenta digital dan  meningkatkan literasi digital kepada masyarakat umum,&amp;rdquo; imbuh Menko  Airlangga.
Menko Airlangga menambahkan, semua pemangku kepentingan mempunyai  peran penting dalam pengembangan kewirausahaan dan ekosistem digital,  termasuk dari Lembaga Pendidikan Tinggi atau Universitas.
&amp;ldquo;Kita menggunakan konsep pentahelix yang di dalamnya terdapat unsur  Pemerintah, komunitas, akademisi, pengusaha, dan media. Di sini,  Pemerintah menjadi fasilitator juga regulator, sementara akademisi  menjadi pencetus kurikulum kewirausahaan yang bagus, dan pendorong  penciptaan lebih banyak lagi perusahaan start-up yang dimulai dari  inovasi mahasiswa,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi didorong oleh permintaan yang meningkat pada sektor informasi dan komunikasi. Dia menyebut terjadi pergeseran perilaku masyarakat ke arah ekonomi digital, terutama di masa pandemi yang mengharuskan masyarakat membatasi kegiatannya di luar rumah. Situasi ini menjadi peluang untuk akselerasi transformasi digital di berbagai sektor ekonomi yang akan mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
&amp;ldquo;Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas ekonomi digital di Indonesia yang terus meningkat, bahkan 41,9% total transaksi ekonomi digital ASEAN selama 2020 berasal dari Indonesia yang mencapai USD44 miliar, dan di 2025 diproyeksikan mencapai USD124 miliar,&amp;rdquo; ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara The 1st International Conference on Humanities and Social Sciences (ICHSS) 2021.
Baca Juga: Sri Mulyani Ramal Ekonomi RI Tumbuh 4,5% pada Kuartal III-2021
 
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh President University secara virtual pada Selasa (26/10) dengan mengambil tema &amp;ldquo;The Opportunities of Crisis: International Experiences and Best Practices in the Time of Covid-19 and Beyond in Society 5.0&amp;rdquo;.
Teknologi digital digunakan dalam berbagai sektor ekonomi dan bisnis, seperti fintech, e-commerce, layanan kesehatan/pendidikan/transportasi online, maupun Internet of Things (IoT). Khusus untuk layanan kesehatan dan pendidikan diprediksi akan menjadi sangat besar kontribusinya dalam ekonomi digital ke depannya.
Baca Juga: Indonesia Mampu Tahan Kontraksi Ekonomi karena Pengendalian Covid-19
&amp;ldquo;Namun, untuk sekarang, e-commerce adalah sektor utama yang mendukung ekonomi digital di Indonesia. Sebanyak 72,73% dari total transaksi ekonomi digital di Indonesia berasal dari e-commerce. Pada 2020, nilai e-commerce mencapai US$32 miliar, dan diproyeksikan akan mencapai USD83 miliar di 2025,&amp;rdquo; jelas Menko Airlangga.
Menurut Airlangga, Indonesia memiliki bonus demografi yang mendukung pembentukan ekosistem digital yang berkelanjutan. Mayoritas penduduk Indonesia adalah Generasi Z dan Milenial berusia 8 sampai 39 tahun yang memiliki tingkat adopsi digital tinggi. Sementara, terdapat 37% konsumen baru ekonomi digital yang muncul selama pandemi Covid-19 dan 93% di antaranya akan tetap memanfaatkan produk ekonomi digital pasca pandemi Covid-19 (Google, Bain, Temasek; 2020).Peran dari para anak muda yang termasuk Generasi Z dan Milenial dalam  era digital ini antara lain sebagai talenta digital, wirausahawan  digital, ataupun konsumen potensial dari produk-produk domestik. Namun,  dunia wirausaha di Indonesia yang didominasi oleh pengusaha milenial  (25-34 tahun) tersebut juga mencatat Rasio Wirausaha yang masih rendah  yakni 3,30% di 2019 dan 3,47% di 2020 (Kemenkop UKM, 2020).
Pemerintah juga telah berupaya mengakselerasi pembentukan talenta  digital dan pengembangan ekonomi digital dengan melakukan pembangunan  infrastruktur seperti akses internet 5G dan data center, melakukan  pelatihan melalui Program Kartu Prakerja dan Digital Leadership Academy,  mengeluarkan regulasi UU Cipta Kerja dan aturan pelaksanaannya,  mengembangkan ekosistem UMKM digital, serta menyediakan fasilitas  pembiayaan untuk membantu perusahaan rintisan (start-up) di bidang  teknologi digital.
Indonesia pun harus siap menghadapi perubahan menjadi Society 5.0, di  mana sejumlah besar informasi dari sensor wilayah fisik diakumulasikan  ke dalam wilayah maya (cyberspace). Dalam cyberspace, big data  dianalisis oleh Artificial Intelligence (AI), dan hasilnya akan  dikembalikan ke wilayah fisik untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.  &amp;ldquo;Kuncinya adalah tetap kita harus membangun talenta digital dan  meningkatkan literasi digital kepada masyarakat umum,&amp;rdquo; imbuh Menko  Airlangga.
Menko Airlangga menambahkan, semua pemangku kepentingan mempunyai  peran penting dalam pengembangan kewirausahaan dan ekosistem digital,  termasuk dari Lembaga Pendidikan Tinggi atau Universitas.
&amp;ldquo;Kita menggunakan konsep pentahelix yang di dalamnya terdapat unsur  Pemerintah, komunitas, akademisi, pengusaha, dan media. Di sini,  Pemerintah menjadi fasilitator juga regulator, sementara akademisi  menjadi pencetus kurikulum kewirausahaan yang bagus, dan pendorong  penciptaan lebih banyak lagi perusahaan start-up yang dimulai dari  inovasi mahasiswa,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
