<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gapki Pastikan Tak Ada PHK di Industri Kelapa Sawit</title><description>Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memastikan tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) pada industri sawit.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/29/320/2493583/gapki-pastikan-tak-ada-phk-di-industri-kelapa-sawit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/10/29/320/2493583/gapki-pastikan-tak-ada-phk-di-industri-kelapa-sawit"/><item><title>Gapki Pastikan Tak Ada PHK di Industri Kelapa Sawit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/29/320/2493583/gapki-pastikan-tak-ada-phk-di-industri-kelapa-sawit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/10/29/320/2493583/gapki-pastikan-tak-ada-phk-di-industri-kelapa-sawit</guid><pubDate>Jum'at 29 Oktober 2021 10:55 WIB</pubDate><dc:creator>Oktiani Endarwati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/29/320/2493583/gapki-pastikan-tak-ada-phk-di-industri-kelapa-sawit-pR3SFcVE1g.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Gapki pastikan tidak ada PHK di industri kelapa sawit (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/29/320/2493583/gapki-pastikan-tak-ada-phk-di-industri-kelapa-sawit-pR3SFcVE1g.jpeg</image><title>Gapki pastikan tidak ada PHK di industri kelapa sawit (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memastikan tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) pada industri sawit selama pandemi Covid-19. Bahkan operasional industri sawit berjalan normal meski Covid-19 melanda, baik dari sisi perkebunan, petani, maupun pabrik.
&quot;Ada sekitar 16 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung yang ada di sektor kelapa sawit termasuk petani. Sepanjang pandemi Covid-19 tidak ada PHK dan industri sawit bisa tetap menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan penyumbang devisa ekspor terbesar,&quot; ujar Ketua Bidang Komunikasi Gapki Tofan Mahdi dalam Kongres ke VI IJTI, Jumat (29/10/2021).
Baca Juga: 3 Fakta Pengangguran RI Paling Banyak Lulusan SMA hingga Perguruan Tinggi
 
Tofan melanjutkan, permintaan terhadap komoditas minyak sawit juga sangat tinggi selama pandemi sehingga harga minyak sawit terus naik dan bertahan dalam level yang sangat tinggi dalam waktu yang cukup lama.
&quot;Gapki memperkirakan kontribusi dari devisa ekspor minyak sawit bisa mencapai USD30 miliar. Memang ini karena harganya sangat tinggi, produksinya juga berjalan normal,&quot; ungkapnya.
Baca Juga: Jangan Kaget! Lulusan SMA dan Perguruan Tinggi Penyumbang Pengangguran Tertinggi di RI
 
Terkait pernyataan Presiden Joko Widodo yang menginginkan Indonesia menghentikan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) agar diolah menjadi produk turunan, Gapki mencatat bahwa sekitar 61% dari total ekspor sawit sudah dalam bentuk olahan.
Di tahun 2020, dari total ekspor sawit Indonesia sebesar 34 juta ton, hanya sekitar 7,71 juta ton yang diekspor dalam bentuk CPO.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMC8wNi8xLzE0MDAzOC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Saat ini pun sudah mengekspor produk sawit dalam bentuk olahan.  Tetapi memang masih setengah jadi, belum jadi produk akhir yang itu ada  mereknya. Ini adalah tantangan buat kita bersama,&quot; kata Tofan.
Menurut dia, jika ingin mengekspor produk sawit dalam bentuk hilir  seperti sabun, sampo, maka perlu persiapan yang lebih matang mengingat  produk-produk tersebut harus bersaing dengan pemain global yang sudah  bertahan puluhan tahun.
&quot;Jika Indonesia ingin mengembangkan minyak sawit ini menjadi satu  produk jadi seperti produk sabun, sampo yang ada mereknya, tentu ini  kita perlu waktu yang lebih panjang karena kita akan bermain dalam  lapangan yang berbeda. Kita harus bersaing dengan manufaktur global yang  sudah sangat menguasai customer product,&quot; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memastikan tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) pada industri sawit selama pandemi Covid-19. Bahkan operasional industri sawit berjalan normal meski Covid-19 melanda, baik dari sisi perkebunan, petani, maupun pabrik.
&quot;Ada sekitar 16 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung yang ada di sektor kelapa sawit termasuk petani. Sepanjang pandemi Covid-19 tidak ada PHK dan industri sawit bisa tetap menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan penyumbang devisa ekspor terbesar,&quot; ujar Ketua Bidang Komunikasi Gapki Tofan Mahdi dalam Kongres ke VI IJTI, Jumat (29/10/2021).
Baca Juga: 3 Fakta Pengangguran RI Paling Banyak Lulusan SMA hingga Perguruan Tinggi
 
Tofan melanjutkan, permintaan terhadap komoditas minyak sawit juga sangat tinggi selama pandemi sehingga harga minyak sawit terus naik dan bertahan dalam level yang sangat tinggi dalam waktu yang cukup lama.
&quot;Gapki memperkirakan kontribusi dari devisa ekspor minyak sawit bisa mencapai USD30 miliar. Memang ini karena harganya sangat tinggi, produksinya juga berjalan normal,&quot; ungkapnya.
Baca Juga: Jangan Kaget! Lulusan SMA dan Perguruan Tinggi Penyumbang Pengangguran Tertinggi di RI
 
Terkait pernyataan Presiden Joko Widodo yang menginginkan Indonesia menghentikan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) agar diolah menjadi produk turunan, Gapki mencatat bahwa sekitar 61% dari total ekspor sawit sudah dalam bentuk olahan.
Di tahun 2020, dari total ekspor sawit Indonesia sebesar 34 juta ton, hanya sekitar 7,71 juta ton yang diekspor dalam bentuk CPO.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMC8wNi8xLzE0MDAzOC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Saat ini pun sudah mengekspor produk sawit dalam bentuk olahan.  Tetapi memang masih setengah jadi, belum jadi produk akhir yang itu ada  mereknya. Ini adalah tantangan buat kita bersama,&quot; kata Tofan.
Menurut dia, jika ingin mengekspor produk sawit dalam bentuk hilir  seperti sabun, sampo, maka perlu persiapan yang lebih matang mengingat  produk-produk tersebut harus bersaing dengan pemain global yang sudah  bertahan puluhan tahun.
&quot;Jika Indonesia ingin mengembangkan minyak sawit ini menjadi satu  produk jadi seperti produk sabun, sampo yang ada mereknya, tentu ini  kita perlu waktu yang lebih panjang karena kita akan bermain dalam  lapangan yang berbeda. Kita harus bersaing dengan manufaktur global yang  sudah sangat menguasai customer product,&quot; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
