<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pasar Modal Terjaga, Jumlah IPO di Indonesia Tertinggi se-Asean</title><description>Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kondisi industri pasar modal Indonesia hingga saat ini masih terjaga.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/30/278/2494047/pasar-modal-terjaga-jumlah-ipo-di-indonesia-tertinggi-se-asean</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/10/30/278/2494047/pasar-modal-terjaga-jumlah-ipo-di-indonesia-tertinggi-se-asean"/><item><title>Pasar Modal Terjaga, Jumlah IPO di Indonesia Tertinggi se-Asean</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/10/30/278/2494047/pasar-modal-terjaga-jumlah-ipo-di-indonesia-tertinggi-se-asean</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/10/30/278/2494047/pasar-modal-terjaga-jumlah-ipo-di-indonesia-tertinggi-se-asean</guid><pubDate>Sabtu 30 Oktober 2021 07:02 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/10/30/278/2494047/pasar-modal-terjaga-jumlah-ipo-di-indonesia-tertinggi-se-asean-CFQtzzJDIe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pasar modal Indonesia dalam kondisi terjaga (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/10/30/278/2494047/pasar-modal-terjaga-jumlah-ipo-di-indonesia-tertinggi-se-asean-CFQtzzJDIe.jpg</image><title>Pasar modal Indonesia dalam kondisi terjaga (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kondisi industri pasar modal Indonesia hingga saat ini masih terjaga dengan profil risiko yang terpantau managable. Bahkan pasar modal domestik secara umum telah pulih dari dampak pandemi.
Hal ini tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 28 Oktober 2021 yang ditutup pada level 6.524,08 atau tumbuh sebesar 9,12% (ytd) dan telah melampaui level pra-pandemi pada Desember 2019 di posisi 6.299,54.
Baca Juga: Emiten Perbankan Ramai-Ramai Gelar Aksi Korporasi, Investor Harus Apa?
Direktur Pemeriksaan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Edi Broto Suwarno menjelaskan penguatan ini terutama ditopang oleh bertambahnya jumlah investor domestik di pasar modal yang mampu menahan capital outflow investor non-residence.
Hingga akhir September 2021 jumlah investor di pasar modal mencapai 6,43 juta atau naik 65,73% (ytd). Kemudian berdasarkan kinerja laporan keuangan emiten kuartal II-2021, sebagian besar emiten tercatat masih membukukan laba di tengah upaya pemulihan dari dampak pandemi.
Di sisi lain pasar surat utang Indonesia terkontraksi akibat peningkatan yield US Treasury dengan rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) melemah pada 16,8 basis poin (bps) dan investor non-residence mencatatkan net sell sebesar Rp23,71 triliun (ytd).
Baca Juga: Naik 489%, Investor Pasar Modal Tembus 6,5 Juta
Sebaliknya kinerja obligasi korporasi meningkat dengan Indonesian Composite Bond Index berada pada level 330,15 atau naik sekitar 5,06% (ytd). Penghimpunan dana oleh korporasi di pasar modal juga menunjukkan peningkatan yang signifikan yaitu hingga kuartal III-2021 telah mencapai Rp266,82 triliun dan masih akan terus bertambah hingga akhir tahun.
&amp;ldquo;Pertumbuhan nilai emisi ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Selain itu Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan jumlah emiten yang melakukan IPO terbesar di ASEAN tahun ini,&amp;rdquo; jelasnya dalam InfobankTalkNews Media Discussion dengan tema &amp;lsquo;Outlook Pasar Modal 2022: Momentum Pemulihan Ekonomi dan Imbas Tapering The Fed&amp;rsquo;.
Kinerja industri reksadana juga masih relatif terjaga yakni per 30 September 2021 tercatat nilai NAB reksadana naik sebesar 1,70% month-to-date (mtd) menjadi Rp551,76 triliun. Pasar modal syariah di Indonesia turut mengalami perkembangan yaitu sampai 22 Oktober 2021, nilai outstanding sukuk korporasi mengalami kenaikan sebesar 16,47% (ytd).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOS82Ny8xMjM1MTUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Untuk indeks saham syariah Indonesia per 28 Oktober 2021 tercatat  naik 3,83% (ytd) dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp3.654 triliun.
&amp;ldquo;Ke depan kami masih melihat ada beberapa hal yang menjadi tantangan pada 2022,&amp;rdquo; ujarnya.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah perusahaan  yang melakukan skema penawaran umum perdana saham atau initial public  offering (IPO) sejak awal Januari hingga September 2021 merupakan yang  tertinggi di ASEAN.
Kepala Divisi Riset dan Pengembangan BEI Verdi Ikhwan menyampaikan  saat ini sudah tercatat 38 perusahaan yang melakukan IPO dan masih ada  sebanyak 21 perusahaan dalam pipeline yang siap melantai di bursa.
&quot;Kami berharap sampai dengan akhir tahun ini mudah-mudahan bisa  tembus di atas 50, mendekati pencapaian di tahun 2020,&quot; kata Verdi dalam  diskusi yang sama.
Dia mengungkapkan jumlah perusahaan yang melakukan IPO di BEI setiap  tahunnya memang terus meningkat, dan rata-rata di atas 50 sejak tahun  2017.
Dengan demikian, jika dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN,  pencapaian Indonesia yang belum penuh satu tahun ini sudah sangat  tinggi, mengingat jumlah perusahaan yang melakukan IPO sepanjang  Januari-September 2021 di Thailand hanya berjumlah 24, Malaysia 23,  Filipina empat, dan Singapura satu.
Menurut ia, kondisi tersebut mirip dengan tahun 2020 di mana  Indonesia memiliki jumlah perusahaan IPO yang terbanyak, yakni 51,  disusul Thailand 28, Malaysia 18, Singapura 11, dan Filipina tiga.
Selain itu, penghimpunan dana di pasar modal atau fund raising juga  meningkat sangat signifikan dari Rp5 triliun pada tahun lalu menjadi  lebih dari Rp30 triliun pada tahun ini.
&quot;Harapannya, 21 perusahaan yang ada di pipeline tersebut nantinya  bisa menghimpun dana yang besar, sehingga bisa menambah fund raising  untuk pasar saham Indonesia,&quot; ucap Verdi.</description><content:encoded>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kondisi industri pasar modal Indonesia hingga saat ini masih terjaga dengan profil risiko yang terpantau managable. Bahkan pasar modal domestik secara umum telah pulih dari dampak pandemi.
Hal ini tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 28 Oktober 2021 yang ditutup pada level 6.524,08 atau tumbuh sebesar 9,12% (ytd) dan telah melampaui level pra-pandemi pada Desember 2019 di posisi 6.299,54.
Baca Juga: Emiten Perbankan Ramai-Ramai Gelar Aksi Korporasi, Investor Harus Apa?
Direktur Pemeriksaan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Edi Broto Suwarno menjelaskan penguatan ini terutama ditopang oleh bertambahnya jumlah investor domestik di pasar modal yang mampu menahan capital outflow investor non-residence.
Hingga akhir September 2021 jumlah investor di pasar modal mencapai 6,43 juta atau naik 65,73% (ytd). Kemudian berdasarkan kinerja laporan keuangan emiten kuartal II-2021, sebagian besar emiten tercatat masih membukukan laba di tengah upaya pemulihan dari dampak pandemi.
Di sisi lain pasar surat utang Indonesia terkontraksi akibat peningkatan yield US Treasury dengan rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) melemah pada 16,8 basis poin (bps) dan investor non-residence mencatatkan net sell sebesar Rp23,71 triliun (ytd).
Baca Juga: Naik 489%, Investor Pasar Modal Tembus 6,5 Juta
Sebaliknya kinerja obligasi korporasi meningkat dengan Indonesian Composite Bond Index berada pada level 330,15 atau naik sekitar 5,06% (ytd). Penghimpunan dana oleh korporasi di pasar modal juga menunjukkan peningkatan yang signifikan yaitu hingga kuartal III-2021 telah mencapai Rp266,82 triliun dan masih akan terus bertambah hingga akhir tahun.
&amp;ldquo;Pertumbuhan nilai emisi ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Selain itu Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan jumlah emiten yang melakukan IPO terbesar di ASEAN tahun ini,&amp;rdquo; jelasnya dalam InfobankTalkNews Media Discussion dengan tema &amp;lsquo;Outlook Pasar Modal 2022: Momentum Pemulihan Ekonomi dan Imbas Tapering The Fed&amp;rsquo;.
Kinerja industri reksadana juga masih relatif terjaga yakni per 30 September 2021 tercatat nilai NAB reksadana naik sebesar 1,70% month-to-date (mtd) menjadi Rp551,76 triliun. Pasar modal syariah di Indonesia turut mengalami perkembangan yaitu sampai 22 Oktober 2021, nilai outstanding sukuk korporasi mengalami kenaikan sebesar 16,47% (ytd).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOS82Ny8xMjM1MTUvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Untuk indeks saham syariah Indonesia per 28 Oktober 2021 tercatat  naik 3,83% (ytd) dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp3.654 triliun.
&amp;ldquo;Ke depan kami masih melihat ada beberapa hal yang menjadi tantangan pada 2022,&amp;rdquo; ujarnya.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah perusahaan  yang melakukan skema penawaran umum perdana saham atau initial public  offering (IPO) sejak awal Januari hingga September 2021 merupakan yang  tertinggi di ASEAN.
Kepala Divisi Riset dan Pengembangan BEI Verdi Ikhwan menyampaikan  saat ini sudah tercatat 38 perusahaan yang melakukan IPO dan masih ada  sebanyak 21 perusahaan dalam pipeline yang siap melantai di bursa.
&quot;Kami berharap sampai dengan akhir tahun ini mudah-mudahan bisa  tembus di atas 50, mendekati pencapaian di tahun 2020,&quot; kata Verdi dalam  diskusi yang sama.
Dia mengungkapkan jumlah perusahaan yang melakukan IPO di BEI setiap  tahunnya memang terus meningkat, dan rata-rata di atas 50 sejak tahun  2017.
Dengan demikian, jika dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN,  pencapaian Indonesia yang belum penuh satu tahun ini sudah sangat  tinggi, mengingat jumlah perusahaan yang melakukan IPO sepanjang  Januari-September 2021 di Thailand hanya berjumlah 24, Malaysia 23,  Filipina empat, dan Singapura satu.
Menurut ia, kondisi tersebut mirip dengan tahun 2020 di mana  Indonesia memiliki jumlah perusahaan IPO yang terbanyak, yakni 51,  disusul Thailand 28, Malaysia 18, Singapura 11, dan Filipina tiga.
Selain itu, penghimpunan dana di pasar modal atau fund raising juga  meningkat sangat signifikan dari Rp5 triliun pada tahun lalu menjadi  lebih dari Rp30 triliun pada tahun ini.
&quot;Harapannya, 21 perusahaan yang ada di pipeline tersebut nantinya  bisa menghimpun dana yang besar, sehingga bisa menambah fund raising  untuk pasar saham Indonesia,&quot; ucap Verdi.</content:encoded></item></channel></rss>
