<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inflasi Oktober 2021 Diprediksi 0,10%</title><description>Inflasi Oktober 2021 diperkirakan tercatat sebesar 0,10% (month to month/mom) atau 1,64% (year on year/yoy).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/01/320/2494680/inflasi-oktober-2021-diprediksi-0-10</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/01/320/2494680/inflasi-oktober-2021-diprediksi-0-10"/><item><title>Inflasi Oktober 2021 Diprediksi 0,10%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/01/320/2494680/inflasi-oktober-2021-diprediksi-0-10</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/01/320/2494680/inflasi-oktober-2021-diprediksi-0-10</guid><pubDate>Senin 01 November 2021 08:16 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/01/320/2494680/inflasi-oktober-2021-diprediksi-0-10-eYMzo5cgZq.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Inflasi Oktober diprediksi 0,10% (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/01/320/2494680/inflasi-oktober-2021-diprediksi-0-10-eYMzo5cgZq.jpg</image><title>Inflasi Oktober diprediksi 0,10% (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Inflasi Oktober 2021 diperkirakan tercatat sebesar 0,10% (month to month/mom) atau 1,64% (year on year/yoy). Inflasi Oktober didorong oleh inflasi inti yang mulai meningkat, diikuti oleh kenaikan beberapa harga bahan pangan.
Baca Juga: Krisis Energi di Eropa hingga China Bakal Picu Inflasi
Ekonom Josua Pardede memperkirakan dengan bulan September, di mana sebagian besar bahan pangan tercatat mengalami penurunan, bahan pangan pada bulan Oktober cenderung mengalami kenaikan.
&quot;Seperti cabai merah (18,5% mom), cabai rawit (5,6% mom), serta daging ayam (2,6% mom). Di sisi lain, sejalan dengan peningkatan konsumsi masyarakat, kami proyeksikan inflasi inti mengalami peningkatan menjadi 1,40% yoy, dan berkontribusi utama dalam mendorong inflasi umum pada bulan Oktober,&quot; katanya.
Baca Juga: BPS: September Deflasi 0,04%
Sebelumnya, Berdasarkan Survei Pemantauan Harga oleh Bank Indonesia pada minggu IV Oktober 2021, perkembangan harga pada Oktober 2021 masih terkendali dan diperkirakan inflasi sebesar 0,10% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Oktober  2021 secara tahun kalender sebesar 0,91% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,64% (yoy).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wMy82Ny8xMjQwNTQvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Direktur Eksekutif Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan penyumbang  utama inflasi Oktober 2021 sampai dengan minggu IV yaitu komoditas   cabai merah sebesar 0,07% (mtm), minyak goreng sebesar 0,04% (mtm),  rokok kretek filter sebesar 0,02% (mtm) cabai rawit, daging ayam ras,  dan angkutan udara masing-masing sebesar 0,01% (mtm).
&quot;Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi, antara lain  telur ayam ras dan tomat masing-masing sebesar -0,03% (mtm),  bawang  merah, bayam, kangkung, sawi hijau, dan emas perhiasan masing-masing  sebesar -0,01% (mtm),&quot; katanya.
Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan  otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran  Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke  waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu  ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,  serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya  tahan.</description><content:encoded>JAKARTA - Inflasi Oktober 2021 diperkirakan tercatat sebesar 0,10% (month to month/mom) atau 1,64% (year on year/yoy). Inflasi Oktober didorong oleh inflasi inti yang mulai meningkat, diikuti oleh kenaikan beberapa harga bahan pangan.
Baca Juga: Krisis Energi di Eropa hingga China Bakal Picu Inflasi
Ekonom Josua Pardede memperkirakan dengan bulan September, di mana sebagian besar bahan pangan tercatat mengalami penurunan, bahan pangan pada bulan Oktober cenderung mengalami kenaikan.
&quot;Seperti cabai merah (18,5% mom), cabai rawit (5,6% mom), serta daging ayam (2,6% mom). Di sisi lain, sejalan dengan peningkatan konsumsi masyarakat, kami proyeksikan inflasi inti mengalami peningkatan menjadi 1,40% yoy, dan berkontribusi utama dalam mendorong inflasi umum pada bulan Oktober,&quot; katanya.
Baca Juga: BPS: September Deflasi 0,04%
Sebelumnya, Berdasarkan Survei Pemantauan Harga oleh Bank Indonesia pada minggu IV Oktober 2021, perkembangan harga pada Oktober 2021 masih terkendali dan diperkirakan inflasi sebesar 0,10% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Oktober  2021 secara tahun kalender sebesar 0,91% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,64% (yoy).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wMy82Ny8xMjQwNTQvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Direktur Eksekutif Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan penyumbang  utama inflasi Oktober 2021 sampai dengan minggu IV yaitu komoditas   cabai merah sebesar 0,07% (mtm), minyak goreng sebesar 0,04% (mtm),  rokok kretek filter sebesar 0,02% (mtm) cabai rawit, daging ayam ras,  dan angkutan udara masing-masing sebesar 0,01% (mtm).
&quot;Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi, antara lain  telur ayam ras dan tomat masing-masing sebesar -0,03% (mtm),  bawang  merah, bayam, kangkung, sawi hijau, dan emas perhiasan masing-masing  sebesar -0,01% (mtm),&quot; katanya.
Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan  otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran  Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke  waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu  ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,  serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya  tahan.</content:encoded></item></channel></rss>
