<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Atasi Perubahan Iklim, Presiden Jokowi: Seberapa Besar Kontribusi Negara Maju?</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti perubahan iklim yang kini mengancam dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/02/320/2495266/atasi-perubahan-iklim-presiden-jokowi-seberapa-besar-kontribusi-negara-maju</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/02/320/2495266/atasi-perubahan-iklim-presiden-jokowi-seberapa-besar-kontribusi-negara-maju"/><item><title>Atasi Perubahan Iklim, Presiden Jokowi: Seberapa Besar Kontribusi Negara Maju?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/02/320/2495266/atasi-perubahan-iklim-presiden-jokowi-seberapa-besar-kontribusi-negara-maju</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/02/320/2495266/atasi-perubahan-iklim-presiden-jokowi-seberapa-besar-kontribusi-negara-maju</guid><pubDate>Selasa 02 November 2021 08:23 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/02/320/2495266/atasi-perubahan-iklim-presiden-jokowi-seberapa-besar-kontribusi-negara-maju-ywQR6R8yaU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi pidato di KTT Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim (Foto: Biro Setpres )</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/02/320/2495266/atasi-perubahan-iklim-presiden-jokowi-seberapa-besar-kontribusi-negara-maju-ywQR6R8yaU.jpg</image><title>Presiden Jokowi pidato di KTT Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim (Foto: Biro Setpres )</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti perubahan iklim yang kini mengancam dunia. Menurutnya, perubahan iklim adalah ancaman besar bagi kemakmuran dan pembangunan global.
Jokowi menilai, solidaritas, kemitraan, kerja sama, kolaborasi global merupakan kunci. Dia memastikan bahwa dengan potensi alam yang begitu besar, Indonesia terus berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim.
Baca Juga: KTT Perubahan Iklim COP26, Ini Komitmen Indonesia
 
&quot;Laju deforestasi turun signifikan, terendah dalam 20 tahun terakhir. Kebakaran hutan turun 82% pada 2020,&quot; ujar Jokowi pada gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim atau COP26 di Scottish Event Campus, Glasgow, Skotlandia.
Tak hanya itu, Indonesia juga telah memulai rehabilitasi hutan mangrove seluas 600.000 hektare sampai 2024, terluas di dunia. Indonesia juga telah merehabilitasi 3 juta lahan kritis antara 2010-2019.
&quot;Sektor yang semula menyumbang 60% emisi Indonesia, akan mencapai carbon net sink selambatnya tahun 2030,&quot; imbuhnya.
Baca Juga: Hasilkan Komitmen Minim Terhadap Perubahan Iklim, KTT G20 Berakhir Mengecewakan
 
Di sektor energi, Indonesia juga terus melangkah maju dengan pengembangan ekosistem mobil listrik dan pembangunan pembangkit tenaga surya terbesar di Asia Tenggara.
Selain itu, Indonesia juga memanfaatkan energi baru terbarukan, termasuk biofuel, serta pengembangan industri berbasis energi bersih, termasuk pembangunan kawasan industri hijau terbesar di dunia di Kalimantan Utara.
&quot;Tetapi, hal itu tidak cukup. Kami, terutama negara yang mempunyai lahan luas yang hijau dan potensi dihijaukan serta negara yang memiliki laut luas yang potensial menyumbang karbon membutuhkan dukungan dan kontribusi dari negara-negara maju,&quot; jelas Presiden.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8wMS80LzE0MTEzMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Presiden memastikan bahwa Indonesia akan terus memobilisasi  pembiayaan iklim dan pembiayaan inovatif seperti pembiyaan campuran,  obligasi hijau, dan sukuk hijau. Menurut Presiden Jokowi, penyediaan  pendanaan iklim dengan mitra negara maju, merupakan game changer dalam  aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di negara-negara berkembang.
&quot;Indonesia akan dapat berkontribusi lebih cepat bagi net-zero  emission dunia. Pertanyaannya, seberapa besar kontribusi negara maju  untuk kami? Transfer teknologi apa yang bisa diberikan? Program apa yang  didukung untuk pencapaian target SDGs yang terhambat akibat pandemi?&quot;  tegasnya.
Selain itu, Presiden melanjutkan, carbon market dan carbon price  harus menjadi bagian dari upaya penanganan isu perubahan iklim.  Ekosistem ekonomi karbon yang transparan dan berintegritas, inklusif dan  adil harus diciptakan.
Sebagai penutup, di KTT ini atas nama Forum Negara Kepulauan dan  Pulau Kecil (AIS), Presiden Jokowi menyebut bahwa Indonesia merasa  terhormat dapat menyirkulasikan pernyataan bersama para Pemimpin AIS  Forum.
&quot;Sudah menjadi komitmen AIS Forum untuk terus majukan kerjasama kelautan dan aksi iklim di UNFCCC,&quot; tandasnya.
Turut mendampingi Presiden dalam acara tersebut yaitu Menteri Luar  Negeri Retno Marsudi dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti  Nurbaya Bakar.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti perubahan iklim yang kini mengancam dunia. Menurutnya, perubahan iklim adalah ancaman besar bagi kemakmuran dan pembangunan global.
Jokowi menilai, solidaritas, kemitraan, kerja sama, kolaborasi global merupakan kunci. Dia memastikan bahwa dengan potensi alam yang begitu besar, Indonesia terus berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim.
Baca Juga: KTT Perubahan Iklim COP26, Ini Komitmen Indonesia
 
&quot;Laju deforestasi turun signifikan, terendah dalam 20 tahun terakhir. Kebakaran hutan turun 82% pada 2020,&quot; ujar Jokowi pada gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim atau COP26 di Scottish Event Campus, Glasgow, Skotlandia.
Tak hanya itu, Indonesia juga telah memulai rehabilitasi hutan mangrove seluas 600.000 hektare sampai 2024, terluas di dunia. Indonesia juga telah merehabilitasi 3 juta lahan kritis antara 2010-2019.
&quot;Sektor yang semula menyumbang 60% emisi Indonesia, akan mencapai carbon net sink selambatnya tahun 2030,&quot; imbuhnya.
Baca Juga: Hasilkan Komitmen Minim Terhadap Perubahan Iklim, KTT G20 Berakhir Mengecewakan
 
Di sektor energi, Indonesia juga terus melangkah maju dengan pengembangan ekosistem mobil listrik dan pembangunan pembangkit tenaga surya terbesar di Asia Tenggara.
Selain itu, Indonesia juga memanfaatkan energi baru terbarukan, termasuk biofuel, serta pengembangan industri berbasis energi bersih, termasuk pembangunan kawasan industri hijau terbesar di dunia di Kalimantan Utara.
&quot;Tetapi, hal itu tidak cukup. Kami, terutama negara yang mempunyai lahan luas yang hijau dan potensi dihijaukan serta negara yang memiliki laut luas yang potensial menyumbang karbon membutuhkan dukungan dan kontribusi dari negara-negara maju,&quot; jelas Presiden.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMS8wMS80LzE0MTEzMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Presiden memastikan bahwa Indonesia akan terus memobilisasi  pembiayaan iklim dan pembiayaan inovatif seperti pembiyaan campuran,  obligasi hijau, dan sukuk hijau. Menurut Presiden Jokowi, penyediaan  pendanaan iklim dengan mitra negara maju, merupakan game changer dalam  aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di negara-negara berkembang.
&quot;Indonesia akan dapat berkontribusi lebih cepat bagi net-zero  emission dunia. Pertanyaannya, seberapa besar kontribusi negara maju  untuk kami? Transfer teknologi apa yang bisa diberikan? Program apa yang  didukung untuk pencapaian target SDGs yang terhambat akibat pandemi?&quot;  tegasnya.
Selain itu, Presiden melanjutkan, carbon market dan carbon price  harus menjadi bagian dari upaya penanganan isu perubahan iklim.  Ekosistem ekonomi karbon yang transparan dan berintegritas, inklusif dan  adil harus diciptakan.
Sebagai penutup, di KTT ini atas nama Forum Negara Kepulauan dan  Pulau Kecil (AIS), Presiden Jokowi menyebut bahwa Indonesia merasa  terhormat dapat menyirkulasikan pernyataan bersama para Pemimpin AIS  Forum.
&quot;Sudah menjadi komitmen AIS Forum untuk terus majukan kerjasama kelautan dan aksi iklim di UNFCCC,&quot; tandasnya.
Turut mendampingi Presiden dalam acara tersebut yaitu Menteri Luar  Negeri Retno Marsudi dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti  Nurbaya Bakar.</content:encoded></item></channel></rss>
