<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menko Airlangga: Semua Negara Alami Kenaikan Inflasi</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2021 sebesar 0,12% (mtm); 1,66% (yoy); 0,93% (ytd).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/02/320/2495498/menko-airlangga-semua-negara-alami-kenaikan-inflasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/02/320/2495498/menko-airlangga-semua-negara-alami-kenaikan-inflasi"/><item><title>Menko Airlangga: Semua Negara Alami Kenaikan Inflasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/02/320/2495498/menko-airlangga-semua-negara-alami-kenaikan-inflasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/02/320/2495498/menko-airlangga-semua-negara-alami-kenaikan-inflasi</guid><pubDate>Selasa 02 November 2021 14:45 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/02/320/2495498/menko-airlangga-semua-negara-alami-kenaikan-inflasi-0o9jkcsuYv.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab Inflasi Oktober 0,12% (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/02/320/2495498/menko-airlangga-semua-negara-alami-kenaikan-inflasi-0o9jkcsuYv.jpeg</image><title>Penyebab Inflasi Oktober 0,12% (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2021 sebesar 0,12% (mtm); 1,66% (yoy); 0,93% (ytd) atau sedikit di bawah rentang target yang ditetapkan.
Sementara itu, kenaikan inflasi di beberapa negara lain dipicu adanya disrupsi rantai pasok global dan harga energi yang meningkat akibat keterbatasan suplai. Tercatat, inflasi Amerika Serikat dan Euro Area meningkat masing-masing sebesar 5,4% (yoy) dan 4,1% (yoy) pada September 2021.
Baca Juga: Biang Kerok Inflasi Oktober 2021, Harga Rokok hingga Minyak Goreng
 
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato mengatakan angka inflasi juga disokong oleh membaiknya kondisi di sektor kesehatan, sehingga aktivitas masyarakat kembali bergerak dan konsumsi kembali meninggi. Dalam sebulan terakhir, Pemerintah telah menurunkan level PPKM hampir di seluruh daerah seiring melandainya jumlah kasus Covid-19.
Pelonggaran status level PPKM ini mengakibatkan peningkatan penggunaan moda transportasi, khususnya angkutan udara, untuk menunjang aktivitas dan mobilitas masyarakat yang semakin gencar seperti sediakala. Kondisi ini mendorong komponen Harga Diatur Pemerintah (Administered Prices/AP) mengalami inflasi sebesar 0,33% (mtm), dan menjadi penyumbang terbesar inflasi Oktober yakni sebesar 0,06%.
Baca Juga: BPS: Inflasi Oktober 2021 Tembus 0,12%
&amp;ldquo;Aktivitas dan mobilitas masyarakat berangsur-angsur terus meningkat, tercermin dari inflasi Kelompok Transportasi sebesar 0,33% (mtm) dan memberikan andil sebesar 0,04%, yang utamanya disumbang oleh kenaikan harga pada tarif angkutan udara dengan andil 0,03%. Penurunan level PPKM hampir di seluruh daerah telah mendorong mobilitas msyarakat terus meningkat meskipun masih dibatasi dengan syarat perjalanan yang cukup ketat,&amp;rdquo; ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (2/11/2021).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wMy82Ny8xMjQwNTQvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Sementara itu, Komponen Harga Bergejolak (Volatile Food/VF) kembali mengalami inflasi sebesar 0,07% (mtm), dan 3,16% (yoy), setelah selama dua bulan sebelumnya mengalami deflasi yang disebabkan penurunan harga beberapa komoditas hortikultura. Pada Oktober 2021, cabai merah justru menyumbang andil mencapai 0,05% atau mengalami inflasi sebesar 20,86% (mtm).
&amp;ldquo;Kenaikan komoditas hortikultura, semisal aneka cabai, seperti yang terjadi di Oktober ini perlu kita waspadai bersama-sama, mengingat saat ini telah masuk musim penghujan yang biasanya memang mengurangi produktivitas tanaman hortikultura,&amp;rdquo; ujar Menko Airlangga.Komoditas pangan lainnya yang mengalami kenaikan harga dan memberikan  andil inflasi yakni minyak goreng (0,05%) dan daging ayam ras (0,02%).  Sementara beberapa komoditas VF yang mengalami penurunan harga dan  menyumbang deflasi yakni telur ayam ras (-0,03%), tomat (-0,02%), bawang  merah, sawi hijau, bayam, kangkung (andil masing-masing sebesar  -0,01%).
&amp;ldquo;Namun, permintaan domestik kembali melanjutkan momentum perbaikan.  Hal ini terlihat dari inflasi inti yang tetap menyumbang inflasi Oktober  2021 dengan andil mencapai 0,05%, walaupun secara bulanan inflasi inti  sebesar 0,07% (mtm), masih lebih rendah dari inflasi inti September 2021  sebesar 0,13% (mtm),&amp;rdquo; jelas Menko Airlangga.
Selain itu, perbaikan permintaan domestik tersebut juga tercermin  dari Purchasing Managers&amp;rsquo; Index (PMI) yang dilaporkan IHS Markit pada  Oktober 2021 berada pada posisi ekspansif di level 57,2. Nilai tersebut  juga naik dari posisi bulan sebelumnya yang berada pada posisi 52,2.  Level PMI Indonesia menggambarkan kondisi aktivitas usaha yang kembali  menggeliat di seluruh sektor manufaktur Indonesia selama dua bulan  berturut-turut. Kalau diperhatikan, nilai PMI negara-negara di ASEAN  lainnya sebenarnya telah berada di level ekspansif, namun angkanya masih  berada di bawah level Indonesia, seperti Malaysia (52,2), Vietnam  (52,1), dan Thailand (50,9).
Membaiknya level PMI Oktober 2021 sejalan dengan berlanjutnya  penurunan kasus Covid-19 yang stabil. Peningkatan efektivitas  pengendalian pandemi dan berlanjutnya berbagai Program Pemulihan Ekonomi  Nasional (PEN) diperkirakan mampu menjaga momentum peningkatan  aggregate demand masyarakat, sehingga menjadi insentif dalam  mengakselerasi output di sektor manufaktur.
&amp;ldquo;Ke depan, Pemerintah meyakini bahwa target inflasi sampai akhir 2021  akan tetap bisa dijaga dalam rentang sasaran. Pemerintah juga akan  terus mengantisipasi transmisi kenaikan harga komoditas global dengan  menjaga pasokan dalam negeri, serta memastikan kelancaran distribusi,  utamanya menjelang dan selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal  2021,&amp;rdquo; pungkas Menko Airlangga.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2021 sebesar 0,12% (mtm); 1,66% (yoy); 0,93% (ytd) atau sedikit di bawah rentang target yang ditetapkan.
Sementara itu, kenaikan inflasi di beberapa negara lain dipicu adanya disrupsi rantai pasok global dan harga energi yang meningkat akibat keterbatasan suplai. Tercatat, inflasi Amerika Serikat dan Euro Area meningkat masing-masing sebesar 5,4% (yoy) dan 4,1% (yoy) pada September 2021.
Baca Juga: Biang Kerok Inflasi Oktober 2021, Harga Rokok hingga Minyak Goreng
 
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato mengatakan angka inflasi juga disokong oleh membaiknya kondisi di sektor kesehatan, sehingga aktivitas masyarakat kembali bergerak dan konsumsi kembali meninggi. Dalam sebulan terakhir, Pemerintah telah menurunkan level PPKM hampir di seluruh daerah seiring melandainya jumlah kasus Covid-19.
Pelonggaran status level PPKM ini mengakibatkan peningkatan penggunaan moda transportasi, khususnya angkutan udara, untuk menunjang aktivitas dan mobilitas masyarakat yang semakin gencar seperti sediakala. Kondisi ini mendorong komponen Harga Diatur Pemerintah (Administered Prices/AP) mengalami inflasi sebesar 0,33% (mtm), dan menjadi penyumbang terbesar inflasi Oktober yakni sebesar 0,06%.
Baca Juga: BPS: Inflasi Oktober 2021 Tembus 0,12%
&amp;ldquo;Aktivitas dan mobilitas masyarakat berangsur-angsur terus meningkat, tercermin dari inflasi Kelompok Transportasi sebesar 0,33% (mtm) dan memberikan andil sebesar 0,04%, yang utamanya disumbang oleh kenaikan harga pada tarif angkutan udara dengan andil 0,03%. Penurunan level PPKM hampir di seluruh daerah telah mendorong mobilitas msyarakat terus meningkat meskipun masih dibatasi dengan syarat perjalanan yang cukup ketat,&amp;rdquo; ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (2/11/2021).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wMy82Ny8xMjQwNTQvMC8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Sementara itu, Komponen Harga Bergejolak (Volatile Food/VF) kembali mengalami inflasi sebesar 0,07% (mtm), dan 3,16% (yoy), setelah selama dua bulan sebelumnya mengalami deflasi yang disebabkan penurunan harga beberapa komoditas hortikultura. Pada Oktober 2021, cabai merah justru menyumbang andil mencapai 0,05% atau mengalami inflasi sebesar 20,86% (mtm).
&amp;ldquo;Kenaikan komoditas hortikultura, semisal aneka cabai, seperti yang terjadi di Oktober ini perlu kita waspadai bersama-sama, mengingat saat ini telah masuk musim penghujan yang biasanya memang mengurangi produktivitas tanaman hortikultura,&amp;rdquo; ujar Menko Airlangga.Komoditas pangan lainnya yang mengalami kenaikan harga dan memberikan  andil inflasi yakni minyak goreng (0,05%) dan daging ayam ras (0,02%).  Sementara beberapa komoditas VF yang mengalami penurunan harga dan  menyumbang deflasi yakni telur ayam ras (-0,03%), tomat (-0,02%), bawang  merah, sawi hijau, bayam, kangkung (andil masing-masing sebesar  -0,01%).
&amp;ldquo;Namun, permintaan domestik kembali melanjutkan momentum perbaikan.  Hal ini terlihat dari inflasi inti yang tetap menyumbang inflasi Oktober  2021 dengan andil mencapai 0,05%, walaupun secara bulanan inflasi inti  sebesar 0,07% (mtm), masih lebih rendah dari inflasi inti September 2021  sebesar 0,13% (mtm),&amp;rdquo; jelas Menko Airlangga.
Selain itu, perbaikan permintaan domestik tersebut juga tercermin  dari Purchasing Managers&amp;rsquo; Index (PMI) yang dilaporkan IHS Markit pada  Oktober 2021 berada pada posisi ekspansif di level 57,2. Nilai tersebut  juga naik dari posisi bulan sebelumnya yang berada pada posisi 52,2.  Level PMI Indonesia menggambarkan kondisi aktivitas usaha yang kembali  menggeliat di seluruh sektor manufaktur Indonesia selama dua bulan  berturut-turut. Kalau diperhatikan, nilai PMI negara-negara di ASEAN  lainnya sebenarnya telah berada di level ekspansif, namun angkanya masih  berada di bawah level Indonesia, seperti Malaysia (52,2), Vietnam  (52,1), dan Thailand (50,9).
Membaiknya level PMI Oktober 2021 sejalan dengan berlanjutnya  penurunan kasus Covid-19 yang stabil. Peningkatan efektivitas  pengendalian pandemi dan berlanjutnya berbagai Program Pemulihan Ekonomi  Nasional (PEN) diperkirakan mampu menjaga momentum peningkatan  aggregate demand masyarakat, sehingga menjadi insentif dalam  mengakselerasi output di sektor manufaktur.
&amp;ldquo;Ke depan, Pemerintah meyakini bahwa target inflasi sampai akhir 2021  akan tetap bisa dijaga dalam rentang sasaran. Pemerintah juga akan  terus mengantisipasi transmisi kenaikan harga komoditas global dengan  menjaga pasokan dalam negeri, serta memastikan kelancaran distribusi,  utamanya menjelang dan selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal  2021,&amp;rdquo; pungkas Menko Airlangga.</content:encoded></item></channel></rss>
