<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gas Masih Jadi Tulang Punggung Energi Nasional hingga 2050</title><description>Gas bumi diprediksi masih menjadi tulang punggung energi nasional hingga tahun 2050.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/05/320/2497043/gas-masih-jadi-tulang-punggung-energi-nasional-hingga-2050</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/05/320/2497043/gas-masih-jadi-tulang-punggung-energi-nasional-hingga-2050"/><item><title>Gas Masih Jadi Tulang Punggung Energi Nasional hingga 2050</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/05/320/2497043/gas-masih-jadi-tulang-punggung-energi-nasional-hingga-2050</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/05/320/2497043/gas-masih-jadi-tulang-punggung-energi-nasional-hingga-2050</guid><pubDate>Jum'at 05 November 2021 09:00 WIB</pubDate><dc:creator>Oktiani Endarwati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/05/320/2497043/gas-masih-jadi-tulang-punggung-energi-nasional-hingga-2050-CIWX4i0C9x.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gas masih jadi tulang punggung energi nasional (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/05/320/2497043/gas-masih-jadi-tulang-punggung-energi-nasional-hingga-2050-CIWX4i0C9x.jpg</image><title>Gas masih jadi tulang punggung energi nasional (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Gas bumi diprediksi masih menjadi tulang punggung energi nasional hingga tahun 2050. Meski persentase energi terbarukan terus meningkat, namun gas masih memiliki peran penting dalam penyediaan energi nasional.
Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji, persentase gas bumi tahun 2050 dalam Bauran Energi Nasional diperkirakan mencapai 24%, sementara minyak bumi 20% dan energi terbarukan 31%.
Baca Juga: 12 Proyek Migas Senilai Rp21,7 Triliun Telah Beroperasi
 
&quot;Meski persentase EBT semakin besar, gas masih akan menjadi tulang punggung energi nasional. Indonesia masih sulit lepas dari gas mengingat sumber daya yang ada cukup besar, selain itu juga berfungsi sebagai pendorong ekonomi,&quot; ujar Tutuka dikutip dari laman resmi Ditjen Migas, Jumat (5/11/2021).
Hingga saat ini, gas bumi lebih banyak dimanfaatkan untuk dalam negeri. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, hingga Juni 2021, total pemanfaatan gas mencapai 5.661,38 BBTUD. Dari jumlah tersebut, gas paling banyak digunakan untuk industri yaitu mencapai 28,22% atau sekitar 1.597,44 BBTUD. Pemanfaatan gas untuk pabrik pupuk, tercatat mencapai 705,03 BBTUD atau 12,45% dan sektor kelistrikan sebesar 681,50 BBTUD atau 12,04%, serta domestik LNG sebesar 504,51 BBTUD atau 8,91%.
Baca Juga: Multiplier Effect Industri Migas terhadap Pendapatan Daerah dan UMKM 
 
&quot;Optimasi pemanfaatan gas untuk dalam negeri supaya industri domestik tumbuh, kelistrikan terpenuhi, baru kemudian diekspor,&quot; tambah Tutuka.
Untuk mendukung kegiatan industri dan kelistrikan tersebut, Pemerintah telah menetapkan Kepmen ESDM Nomor 134 Tahun 2021 mengenai pengguna dan harga gas bumi tertentu di bidang industri dan Kepmen Nomor 118 dan 135 Tahun 2021 mengenai harga gas bumi di pembangkit tenaga listrik (plant gate). Dalam aturan tersebut, harga gas untuk industri dan kelistrikan ditetapkan sebesar USD6 per MMBTU.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMC8yMi8xLzE0MDcyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sementara itu, Pemerintah juga mengembangkan infrastruktur gas bumi  dengan target penyambungan jaringan pipa transmisi gas di Jawa dan  Sumatera, serta penyediaan gas di wilayah-wilayah sesuai rencana RUPTL.  Upaya yang dilakukan berupa pembangunan pipa gas Cirebon- Semarang  sepanjang 260 km, pipa gas Dumai-Sei Mangke sepanjang 360 km dan  membangun mini regas dan FSRU/FSU dan FRU.
Menurut rencana, pipa gas Cirebon-Semarang akan mulai dibangun tahun  2022. &quot;Mulainya dari Semarang ke Batang. Nanti lanjut ke Cirebon. Kalau  itu nyambung dengan pipa dari Sumatera, maka akan tersambung pipa dari  Sumatera hingga Jawa Timur dan itu bisa mengurangi kekurangan gas.  Misalnya, kalau gas Sumatera kurang, kita bisa kirim dari Jatim.  Demikian pula sebaliknya,&quot; ungkap Tutuka.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan gas di Indonesia Timur, dilakukan  dengan mini regas LNG. Di wilayah ini, gas akan digunakan sebagai  pengganti diesel untuk kelistrikan.
Gas bumi juga dimanfaatkan untuk masyarakat dalam bentuk jaringan gas  untuk rumah tangga (jargas). Dengan dana APBN, hingga tahun 2020,  sebanyak 535.555 sambungan rumah (SR) telah terbangun di 17 provinsi, 54  kabupaten/kota.
Untuk meningkatkan jumlah SR yang terbangun, Pemerintah berencana  menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) mulai 2  tahun mendatang. Dengan skema ini, diharapkan sebanyak 1 juta SR dapat  terbangun tiap tahunnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Gas bumi diprediksi masih menjadi tulang punggung energi nasional hingga tahun 2050. Meski persentase energi terbarukan terus meningkat, namun gas masih memiliki peran penting dalam penyediaan energi nasional.
Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji, persentase gas bumi tahun 2050 dalam Bauran Energi Nasional diperkirakan mencapai 24%, sementara minyak bumi 20% dan energi terbarukan 31%.
Baca Juga: 12 Proyek Migas Senilai Rp21,7 Triliun Telah Beroperasi
 
&quot;Meski persentase EBT semakin besar, gas masih akan menjadi tulang punggung energi nasional. Indonesia masih sulit lepas dari gas mengingat sumber daya yang ada cukup besar, selain itu juga berfungsi sebagai pendorong ekonomi,&quot; ujar Tutuka dikutip dari laman resmi Ditjen Migas, Jumat (5/11/2021).
Hingga saat ini, gas bumi lebih banyak dimanfaatkan untuk dalam negeri. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, hingga Juni 2021, total pemanfaatan gas mencapai 5.661,38 BBTUD. Dari jumlah tersebut, gas paling banyak digunakan untuk industri yaitu mencapai 28,22% atau sekitar 1.597,44 BBTUD. Pemanfaatan gas untuk pabrik pupuk, tercatat mencapai 705,03 BBTUD atau 12,45% dan sektor kelistrikan sebesar 681,50 BBTUD atau 12,04%, serta domestik LNG sebesar 504,51 BBTUD atau 8,91%.
Baca Juga: Multiplier Effect Industri Migas terhadap Pendapatan Daerah dan UMKM 
 
&quot;Optimasi pemanfaatan gas untuk dalam negeri supaya industri domestik tumbuh, kelistrikan terpenuhi, baru kemudian diekspor,&quot; tambah Tutuka.
Untuk mendukung kegiatan industri dan kelistrikan tersebut, Pemerintah telah menetapkan Kepmen ESDM Nomor 134 Tahun 2021 mengenai pengguna dan harga gas bumi tertentu di bidang industri dan Kepmen Nomor 118 dan 135 Tahun 2021 mengenai harga gas bumi di pembangkit tenaga listrik (plant gate). Dalam aturan tersebut, harga gas untuk industri dan kelistrikan ditetapkan sebesar USD6 per MMBTU.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMC8yMi8xLzE0MDcyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sementara itu, Pemerintah juga mengembangkan infrastruktur gas bumi  dengan target penyambungan jaringan pipa transmisi gas di Jawa dan  Sumatera, serta penyediaan gas di wilayah-wilayah sesuai rencana RUPTL.  Upaya yang dilakukan berupa pembangunan pipa gas Cirebon- Semarang  sepanjang 260 km, pipa gas Dumai-Sei Mangke sepanjang 360 km dan  membangun mini regas dan FSRU/FSU dan FRU.
Menurut rencana, pipa gas Cirebon-Semarang akan mulai dibangun tahun  2022. &quot;Mulainya dari Semarang ke Batang. Nanti lanjut ke Cirebon. Kalau  itu nyambung dengan pipa dari Sumatera, maka akan tersambung pipa dari  Sumatera hingga Jawa Timur dan itu bisa mengurangi kekurangan gas.  Misalnya, kalau gas Sumatera kurang, kita bisa kirim dari Jatim.  Demikian pula sebaliknya,&quot; ungkap Tutuka.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan gas di Indonesia Timur, dilakukan  dengan mini regas LNG. Di wilayah ini, gas akan digunakan sebagai  pengganti diesel untuk kelistrikan.
Gas bumi juga dimanfaatkan untuk masyarakat dalam bentuk jaringan gas  untuk rumah tangga (jargas). Dengan dana APBN, hingga tahun 2020,  sebanyak 535.555 sambungan rumah (SR) telah terbangun di 17 provinsi, 54  kabupaten/kota.
Untuk meningkatkan jumlah SR yang terbangun, Pemerintah berencana  menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) mulai 2  tahun mendatang. Dengan skema ini, diharapkan sebanyak 1 juta SR dapat  terbangun tiap tahunnya.</content:encoded></item></channel></rss>
