<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ukuran Keripik Tempe Mengecil Gegara Harga Minyak Goreng Mahal</title><description>Kenaikan harga minyak goreng membuat pedagang hingga pemilik usaha di Kota Malang menjerit.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/10/320/2499779/ukuran-keripik-tempe-mengecil-gegara-harga-minyak-goreng-mahal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/10/320/2499779/ukuran-keripik-tempe-mengecil-gegara-harga-minyak-goreng-mahal"/><item><title>Ukuran Keripik Tempe Mengecil Gegara Harga Minyak Goreng Mahal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/10/320/2499779/ukuran-keripik-tempe-mengecil-gegara-harga-minyak-goreng-mahal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/10/320/2499779/ukuran-keripik-tempe-mengecil-gegara-harga-minyak-goreng-mahal</guid><pubDate>Rabu 10 November 2021 17:52 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/10/320/2499779/ukuran-keripik-tempe-mengecil-gegara-harga-minyak-goreng-mahal-h3xcfdAfcr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keripik Tempe (Foto: Avirista Midaada)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/10/320/2499779/ukuran-keripik-tempe-mengecil-gegara-harga-minyak-goreng-mahal-h3xcfdAfcr.jpg</image><title>Keripik Tempe (Foto: Avirista Midaada)</title></images><description>MALANG - Kenaikan harga minyak goreng membuat pedagang hingga pemilik usaha di Kota Malang menjerit. Hal ini dikarenakan dengan kenaikan harga minyak goreng menjadikan mereka harus mengikatkan ikat pinggang.
Pemilik usaha keripik tempe di Malang bernama Rohani Trio Andi Cahyono menuturkan, pihaknya terpaksa mengurangi ukuran keripik tempe produksinya karena kenaikan harga minyak goreng. Ia memilih tidak menaikkan harga kripik tempe lantaran takut kehilangan konsumen setianya.
&quot;Pada saat ini posisi minyak goreng naik, kami memberikan istilah tidak naik lagi tapi ganti harga. Maka, kami selaku pengusaha, mengurangi size (ukuran) dari keripik tempe tersebut. Harganya tetap. Akan size kami turunkan sedikit, untuk istilahnya bisa menutupi di ongkos produksi lain,&quot; ucap Rohani Trio Andi, ditemui MNC Portal di tempat usahanya di Kota Malang pada Rabu (10/11/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Harga Minyak Goreng Naik, Penjual Gorengan: Untungnya Tipis
Menurutnya, kenaikan harga minyak goreng kali ini dirasa cukup memukul usahanya setelah mulai perlahan bangkit, imbas penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Malang beberapa bulan lalu.
&quot;Ya pastinya berat, karena minyak salah satu dari bahan pokok di keripik tempe. Mungkin tidak hanya di kami di usaha keripik. Mungkin di teman-teman produsen lain berbahan minyak, pasti akan berdampak,&quot; ungkap dia.
Dirinya menambahkan, omzet penjualan keripik tempenya mulai perlahan - lahan normal, layaknya sebelum penerapan PPKM darurat dan PPKM level 4 diberlakukan.
Baca Juga:&amp;nbsp;Brent Dijual USD84,7/Barel, Harga Minyak Sudah Naik hingga 60%
&quot;Alhamdulillah penjualan sebulan terakhir, omzet meningkat, dengan adanya penurunan level PPKM ini. Alhamdulillah omzet semakin normal daripada awal awal PPKM dulu. Akan tetapi karena harga minyak seperti ini,&quot; jelasnya.Sementara itu pedagang minyak goreng di Pasar Besar Kota Malang Avi Riskia mengungkapkan, bahwa omzet penjualannya juga diakui menurun beberapa bulan terakhir semenjak kenaikan harga minyak goreng tersebut. Bahkan jika biasanya ia bisa menjual tiga jirigen berukuran 15 kilogram, saat ini ia hanya bisa menjual satu jirigen saja.
&quot;Sekarang mengurangi pasokan saja biar tidak rugi, sehari biasanya menjual tiga jirigen berisi 15 kilogram, sekarang satu saja sulit. Yang beli nggak ada, biasanya yang mborong penjual kerupuk - kerupuk, sekarang satu jirigen saja sehari sulit terjual,&quot; bebernya.
Perempuan berusia 42 tahun ini menerangkan, bila pembelinya kini beralih ke minyak goreng kemasan dengan harga yang lebih mahal, tetapi lebih praktis dan higienis.
&quot;Banyak yang kejual yang kemasan, lebih praktis dan higienis yang kemasan, tapi kalau hitungannya lebih mahal yang curah hitungannya. Harapannya bisa segera diturunkan supaya penjualan minyak goreng normal lagi,&quot; paparnya.
Sedangkan Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang M. Sailendra menjelaskan, bahwa pihaknya tidak bisa melakukan operasi pasar mengantisipasi kenaikan harga minyak goreng, sebab harga dari pabrik produsen minyak gorengnya sudah mahal di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
&quot;Belinya ke pabrik ini sudah harga tinggi, sehingga operasi pasar itu secara timing, waktu dan sasaran, kita harus berhati-hati, bisa jadi yang beli tengkulak - tengkulak, kedua waktunya mau natal tahun baru pasti akan naik, nggak bisa ditahan sesuai lebaran,&quot; jelas Sailendra.</description><content:encoded>MALANG - Kenaikan harga minyak goreng membuat pedagang hingga pemilik usaha di Kota Malang menjerit. Hal ini dikarenakan dengan kenaikan harga minyak goreng menjadikan mereka harus mengikatkan ikat pinggang.
Pemilik usaha keripik tempe di Malang bernama Rohani Trio Andi Cahyono menuturkan, pihaknya terpaksa mengurangi ukuran keripik tempe produksinya karena kenaikan harga minyak goreng. Ia memilih tidak menaikkan harga kripik tempe lantaran takut kehilangan konsumen setianya.
&quot;Pada saat ini posisi minyak goreng naik, kami memberikan istilah tidak naik lagi tapi ganti harga. Maka, kami selaku pengusaha, mengurangi size (ukuran) dari keripik tempe tersebut. Harganya tetap. Akan size kami turunkan sedikit, untuk istilahnya bisa menutupi di ongkos produksi lain,&quot; ucap Rohani Trio Andi, ditemui MNC Portal di tempat usahanya di Kota Malang pada Rabu (10/11/2021).
Baca Juga:&amp;nbsp;Harga Minyak Goreng Naik, Penjual Gorengan: Untungnya Tipis
Menurutnya, kenaikan harga minyak goreng kali ini dirasa cukup memukul usahanya setelah mulai perlahan bangkit, imbas penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Malang beberapa bulan lalu.
&quot;Ya pastinya berat, karena minyak salah satu dari bahan pokok di keripik tempe. Mungkin tidak hanya di kami di usaha keripik. Mungkin di teman-teman produsen lain berbahan minyak, pasti akan berdampak,&quot; ungkap dia.
Dirinya menambahkan, omzet penjualan keripik tempenya mulai perlahan - lahan normal, layaknya sebelum penerapan PPKM darurat dan PPKM level 4 diberlakukan.
Baca Juga:&amp;nbsp;Brent Dijual USD84,7/Barel, Harga Minyak Sudah Naik hingga 60%
&quot;Alhamdulillah penjualan sebulan terakhir, omzet meningkat, dengan adanya penurunan level PPKM ini. Alhamdulillah omzet semakin normal daripada awal awal PPKM dulu. Akan tetapi karena harga minyak seperti ini,&quot; jelasnya.Sementara itu pedagang minyak goreng di Pasar Besar Kota Malang Avi Riskia mengungkapkan, bahwa omzet penjualannya juga diakui menurun beberapa bulan terakhir semenjak kenaikan harga minyak goreng tersebut. Bahkan jika biasanya ia bisa menjual tiga jirigen berukuran 15 kilogram, saat ini ia hanya bisa menjual satu jirigen saja.
&quot;Sekarang mengurangi pasokan saja biar tidak rugi, sehari biasanya menjual tiga jirigen berisi 15 kilogram, sekarang satu saja sulit. Yang beli nggak ada, biasanya yang mborong penjual kerupuk - kerupuk, sekarang satu jirigen saja sehari sulit terjual,&quot; bebernya.
Perempuan berusia 42 tahun ini menerangkan, bila pembelinya kini beralih ke minyak goreng kemasan dengan harga yang lebih mahal, tetapi lebih praktis dan higienis.
&quot;Banyak yang kejual yang kemasan, lebih praktis dan higienis yang kemasan, tapi kalau hitungannya lebih mahal yang curah hitungannya. Harapannya bisa segera diturunkan supaya penjualan minyak goreng normal lagi,&quot; paparnya.
Sedangkan Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang M. Sailendra menjelaskan, bahwa pihaknya tidak bisa melakukan operasi pasar mengantisipasi kenaikan harga minyak goreng, sebab harga dari pabrik produsen minyak gorengnya sudah mahal di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
&quot;Belinya ke pabrik ini sudah harga tinggi, sehingga operasi pasar itu secara timing, waktu dan sasaran, kita harus berhati-hati, bisa jadi yang beli tengkulak - tengkulak, kedua waktunya mau natal tahun baru pasti akan naik, nggak bisa ditahan sesuai lebaran,&quot; jelas Sailendra.</content:encoded></item></channel></rss>
