<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tekad Menko Airlangga RI Jadi Penentu Harga CPO Dunia</title><description>Pemerintah menyiapkan roadmap hilirisasi produk kelapa sawit agar  Indonesia bisa menjadi price center atau penentu harga CPO global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/13/320/2501166/tekad-menko-airlangga-ri-jadi-penentu-harga-cpo-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/13/320/2501166/tekad-menko-airlangga-ri-jadi-penentu-harga-cpo-dunia"/><item><title>Tekad Menko Airlangga RI Jadi Penentu Harga CPO Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/13/320/2501166/tekad-menko-airlangga-ri-jadi-penentu-harga-cpo-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/13/320/2501166/tekad-menko-airlangga-ri-jadi-penentu-harga-cpo-dunia</guid><pubDate>Sabtu 13 November 2021 11:20 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/13/320/2501166/tekad-menko-airlangga-ri-jadi-penentu-harga-cpo-dunia-HUKNLeImQQ.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertekad Indonesia jadi penentu harga CPO dunia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/13/320/2501166/tekad-menko-airlangga-ri-jadi-penentu-harga-cpo-dunia-HUKNLeImQQ.jpeg</image><title>Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertekad Indonesia jadi penentu harga CPO dunia (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah menyiapkan roadmap hilirisasi produk kelapa sawit agar Indonesia bisa menjadi price center atau penentu harga CPO global. Hal ini ditekankan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
&amp;ldquo;Roadmap hilirisasi telah disiapkan, antara lain peningkatan produktivitas, penunjang kegiatan hilir seperti oleofood, oleokimia dan biofuel, penciptaan ekosistem, tata kelola, capacity building dan pengembangan teknologi untuk pengembangan usaha kelapa sawit,&amp;rdquo; kata Menko Airlangga, Sabtu (13/11/2021).
Baca Juga: Kisah Mantan Loper Koran Kini Jadi Bos Minyak Sawit Berharta Rp28 Triliun
 
Menko Airlangga mengungkapkan bahwa kelapa sawit merupakan salah satu komoditas dari sektor pertanian yang memiliki daya tahan dan yang ikut serta menopang pertumbuhan ekonomi di Q3 tahun 2021.
Industri kelapa sawit juga berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pemerintah memiliki visi agar industri sawit Indonesia dapat menjadi produsen sawit terbesar dan mendorong hilirisasi atau pengembangan produk turunannya.
Baca Juga: Bertemu PM Slovenia, Presiden Jokowi Singgung Diskriminasi Kelapa Sawit
 
Dengan luasan lahan 10 persen dari total global land bank for vegetable oil, Indonesia mampu menjadi negara produsen kelapa sawit terbesar dan menguasai 55 persen pangsa pasar minyak sawit dunia ataupun minyak nabati. Selain itu juga mampu menghasilkan 40 persen dari total minyak nabati dunia yang sangat berperan penting dalam konteks ketahanan pangan di dunia.
&amp;ldquo;Industri kelapa sawit berkontribusi pada ekspor nasional sebesar 15,6 persen dari total ekspor di tahun 2020. Nilai tersebut tentu menjadi salah satu penyumbang devisa yang secara konsisten terus meningkat meskipun di masa pandemi,&amp;rdquo; ujar Airlangga.


Lebih lanjut Airlangga menuturkan bahwa luas tutupan kelapa sawit  nasional yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang  Perekonomian pada tahun 2019 teridentifikasi sebesar 16,38 juta hektar  dengan rincian, Perkebunan Sawit Rakyat sebesar 41 persen, Perkebunan  Besar Negara sebesar 6 persen dan Perkebunan Besar Swasta Nasional  sebesar 53 persen.
&amp;ldquo;Data-data tersebut menunjukkan bahwa Perkebunan Sawit Rakyat punya  kontribusi signifikan terhadap pengembangan industri perkebunan kelapa  sawit di Indonesia,&amp;rdquo; ungkapnya.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa program Peremajaan Sawit Rakyat  (PSR) menjadi krusial sebagai upaya peningkatan produktivitas dan  penguatan Sumber Daya Manusia, serta meningkatkan kesejahteraan petani.  Program PSR juga berkontribusi di masa pandemi COVID-19 dengan  penyerapan tenaga kerja dan memunculkan juga multiplier effect yang  positif di daerah.
&amp;ldquo;Program PSR merupakan program strategis nasional agar produktivitas  masyarakat bisa meningkat, menjaga luasan lahan, dan lahan yang ada bisa  dioptimalkan,&amp;rdquo; tutur dia.
Pemerintah juga terus berkomitmen melakukan replanting dengan target  seluas 540.000 hektar yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
&amp;ldquo;Bagi lahan yang produktivitasnya kurang dari 4 ton bisa ditingkatkan  dengan program replanting dan bibit unggul yang berbasis pada Good  Agriculture Practices,&amp;rdquo; kata Airlangga.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah menyiapkan roadmap hilirisasi produk kelapa sawit agar Indonesia bisa menjadi price center atau penentu harga CPO global. Hal ini ditekankan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
&amp;ldquo;Roadmap hilirisasi telah disiapkan, antara lain peningkatan produktivitas, penunjang kegiatan hilir seperti oleofood, oleokimia dan biofuel, penciptaan ekosistem, tata kelola, capacity building dan pengembangan teknologi untuk pengembangan usaha kelapa sawit,&amp;rdquo; kata Menko Airlangga, Sabtu (13/11/2021).
Baca Juga: Kisah Mantan Loper Koran Kini Jadi Bos Minyak Sawit Berharta Rp28 Triliun
 
Menko Airlangga mengungkapkan bahwa kelapa sawit merupakan salah satu komoditas dari sektor pertanian yang memiliki daya tahan dan yang ikut serta menopang pertumbuhan ekonomi di Q3 tahun 2021.
Industri kelapa sawit juga berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pemerintah memiliki visi agar industri sawit Indonesia dapat menjadi produsen sawit terbesar dan mendorong hilirisasi atau pengembangan produk turunannya.
Baca Juga: Bertemu PM Slovenia, Presiden Jokowi Singgung Diskriminasi Kelapa Sawit
 
Dengan luasan lahan 10 persen dari total global land bank for vegetable oil, Indonesia mampu menjadi negara produsen kelapa sawit terbesar dan menguasai 55 persen pangsa pasar minyak sawit dunia ataupun minyak nabati. Selain itu juga mampu menghasilkan 40 persen dari total minyak nabati dunia yang sangat berperan penting dalam konteks ketahanan pangan di dunia.
&amp;ldquo;Industri kelapa sawit berkontribusi pada ekspor nasional sebesar 15,6 persen dari total ekspor di tahun 2020. Nilai tersebut tentu menjadi salah satu penyumbang devisa yang secara konsisten terus meningkat meskipun di masa pandemi,&amp;rdquo; ujar Airlangga.


Lebih lanjut Airlangga menuturkan bahwa luas tutupan kelapa sawit  nasional yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang  Perekonomian pada tahun 2019 teridentifikasi sebesar 16,38 juta hektar  dengan rincian, Perkebunan Sawit Rakyat sebesar 41 persen, Perkebunan  Besar Negara sebesar 6 persen dan Perkebunan Besar Swasta Nasional  sebesar 53 persen.
&amp;ldquo;Data-data tersebut menunjukkan bahwa Perkebunan Sawit Rakyat punya  kontribusi signifikan terhadap pengembangan industri perkebunan kelapa  sawit di Indonesia,&amp;rdquo; ungkapnya.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa program Peremajaan Sawit Rakyat  (PSR) menjadi krusial sebagai upaya peningkatan produktivitas dan  penguatan Sumber Daya Manusia, serta meningkatkan kesejahteraan petani.  Program PSR juga berkontribusi di masa pandemi COVID-19 dengan  penyerapan tenaga kerja dan memunculkan juga multiplier effect yang  positif di daerah.
&amp;ldquo;Program PSR merupakan program strategis nasional agar produktivitas  masyarakat bisa meningkat, menjaga luasan lahan, dan lahan yang ada bisa  dioptimalkan,&amp;rdquo; tutur dia.
Pemerintah juga terus berkomitmen melakukan replanting dengan target  seluas 540.000 hektar yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
&amp;ldquo;Bagi lahan yang produktivitasnya kurang dari 4 ton bisa ditingkatkan  dengan program replanting dan bibit unggul yang berbasis pada Good  Agriculture Practices,&amp;rdquo; kata Airlangga.</content:encoded></item></channel></rss>
