<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Dunia Beragam, Investor Khawatirkan Stok dan Permintaan</title><description>Harga minyak dunia ditutup beragam pada pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/16/320/2502341/harga-minyak-dunia-beragam-investor-khawatirkan-stok-dan-permintaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/16/320/2502341/harga-minyak-dunia-beragam-investor-khawatirkan-stok-dan-permintaan"/><item><title>Harga Minyak Dunia Beragam, Investor Khawatirkan Stok dan Permintaan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/16/320/2502341/harga-minyak-dunia-beragam-investor-khawatirkan-stok-dan-permintaan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/16/320/2502341/harga-minyak-dunia-beragam-investor-khawatirkan-stok-dan-permintaan</guid><pubDate>Selasa 16 November 2021 06:43 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/16/320/2502341/harga-minyak-dunia-beragam-investor-khawatirkan-stok-dan-permintaan-2EGV65abb9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga minyak dunia bergerak dua arah (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/16/320/2502341/harga-minyak-dunia-beragam-investor-khawatirkan-stok-dan-permintaan-2EGV65abb9.jpg</image><title>Harga minyak dunia bergerak dua arah (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak dunia ditutup beragam pada pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Harga minyak mixed karena investor bertanya-tanya apakah pasokan minyak mentah akan meningkat dan apakah permintaan akan tertekan oleh lonjakan biaya energi baru-baru ini, dolar yang kuat dan meningkatnya kasus Covid-19.
Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun 12 sen atau 0,15%, menjadi menetap di USD82,05 per barel. Sementara itu harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember bertambah 9 sen atau 0,1%, menjadi USD80,88 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Imbas Spekulasi The Fed
 
Pada awal perdagangan pasar minyak memperhitungkan spekulasi bahwa Pemerintahan Presiden Joe Biden dapat melawan harga tinggi dengan melepaskan minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS, tetapi skeptisisme tentang pendekatan itu menyebabkan minyak mentah AS naik lebih tinggi, menurut John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.
&quot;Pasar tampaknya telah memperkirakan harga terlalu agresif sehingga rilis SPR akan terjadi,&quot; kata Kilduff.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus USD81,80/Barel di Oktober
 
Membebani harga minyak, dolar AS mencapai level tertinggi 16 bulan terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya karena investor khawatir tentang ekonomi global.
Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Pekan lalu perusahaan-perusahaan energi AS menambahkan rig minyak dan gas alam untuk minggu ketiga berturut-turut, didorong oleh kenaikan 65% harga minyak mentah AS sepanjang tahun ini.Produksi serpih AS pada Desember diperkirakan akan mencapai tingkat  prapandemi sebesar 8,68 juta barel per hari, menurut Rystad Energy.  Sementara itu ada indikasi permintaan mungkin melambat karena  meningkatnya kasus Virus Corona dan inflasi.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pekan lalu  memangkas perkiraan permintaan minyak dunia untuk kuartal keempat  sebesar 330.000 barel per hari dari perkiraan bulan lalu, karena harga  energi yang tinggi menghambat pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19.
&quot;Pasar sekarang tampaknya tidak terlalu khawatir tentang ketatnya  pasokan saat ini, memperkirakan itu berumur pendek,&quot; kata Analis Pasar  Senior Rystad Louise Dickson. &quot;Pedagang malah memfokuskan kembali pada  kembalinya dua faktor bearish - kemungkinan lebih banyak sumber pasokan  minyak dan lebih banyak kasus COVID-19.&quot;
Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail al-Mazrouei menyatakan semua  indikasi level minyak memberikan surplus dalam kuartal pertama 2022.
&quot;Ada sedikit kemungkinan OPEC+ meningkatkan produksi lebih cepat,  terutama jika ... kelompok tersebut mengharapkan pasar untuk kembali  surplus dalam kuartal pertama 2022,&quot; kata Analis Pasar Senior OANDA,  Craig Erlam.
Eropa sekali lagi berkembang menjadi episentrum pandemi COVID-19,  mendorong beberapa pemerintah untuk berpikir tentang memberlakukan  kembali penguncian, sedangkan China sedang berjuang melawan penyebaran  wabah terbesarnya yang disebabkan oleh varian Delta.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak dunia ditutup beragam pada pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Harga minyak mixed karena investor bertanya-tanya apakah pasokan minyak mentah akan meningkat dan apakah permintaan akan tertekan oleh lonjakan biaya energi baru-baru ini, dolar yang kuat dan meningkatnya kasus Covid-19.
Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun 12 sen atau 0,15%, menjadi menetap di USD82,05 per barel. Sementara itu harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember bertambah 9 sen atau 0,1%, menjadi USD80,88 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Imbas Spekulasi The Fed
 
Pada awal perdagangan pasar minyak memperhitungkan spekulasi bahwa Pemerintahan Presiden Joe Biden dapat melawan harga tinggi dengan melepaskan minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS, tetapi skeptisisme tentang pendekatan itu menyebabkan minyak mentah AS naik lebih tinggi, menurut John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.
&quot;Pasar tampaknya telah memperkirakan harga terlalu agresif sehingga rilis SPR akan terjadi,&quot; kata Kilduff.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus USD81,80/Barel di Oktober
 
Membebani harga minyak, dolar AS mencapai level tertinggi 16 bulan terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya karena investor khawatir tentang ekonomi global.
Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Pekan lalu perusahaan-perusahaan energi AS menambahkan rig minyak dan gas alam untuk minggu ketiga berturut-turut, didorong oleh kenaikan 65% harga minyak mentah AS sepanjang tahun ini.Produksi serpih AS pada Desember diperkirakan akan mencapai tingkat  prapandemi sebesar 8,68 juta barel per hari, menurut Rystad Energy.  Sementara itu ada indikasi permintaan mungkin melambat karena  meningkatnya kasus Virus Corona dan inflasi.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pekan lalu  memangkas perkiraan permintaan minyak dunia untuk kuartal keempat  sebesar 330.000 barel per hari dari perkiraan bulan lalu, karena harga  energi yang tinggi menghambat pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19.
&quot;Pasar sekarang tampaknya tidak terlalu khawatir tentang ketatnya  pasokan saat ini, memperkirakan itu berumur pendek,&quot; kata Analis Pasar  Senior Rystad Louise Dickson. &quot;Pedagang malah memfokuskan kembali pada  kembalinya dua faktor bearish - kemungkinan lebih banyak sumber pasokan  minyak dan lebih banyak kasus COVID-19.&quot;
Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail al-Mazrouei menyatakan semua  indikasi level minyak memberikan surplus dalam kuartal pertama 2022.
&quot;Ada sedikit kemungkinan OPEC+ meningkatkan produksi lebih cepat,  terutama jika ... kelompok tersebut mengharapkan pasar untuk kembali  surplus dalam kuartal pertama 2022,&quot; kata Analis Pasar Senior OANDA,  Craig Erlam.
Eropa sekali lagi berkembang menjadi episentrum pandemi COVID-19,  mendorong beberapa pemerintah untuk berpikir tentang memberlakukan  kembali penguncian, sedangkan China sedang berjuang melawan penyebaran  wabah terbesarnya yang disebabkan oleh varian Delta.</content:encoded></item></channel></rss>
