<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kacau! Garmen Impor Harga Murah Bikin Industri Lokal Menjerit</title><description>Pengusaha menilai garmen impor bermerek bukan pesaing bagi garmen lokal.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/19/320/2504412/kacau-garmen-impor-harga-murah-bikin-industri-lokal-menjerit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/19/320/2504412/kacau-garmen-impor-harga-murah-bikin-industri-lokal-menjerit"/><item><title>Kacau! Garmen Impor Harga Murah Bikin Industri Lokal Menjerit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/19/320/2504412/kacau-garmen-impor-harga-murah-bikin-industri-lokal-menjerit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/19/320/2504412/kacau-garmen-impor-harga-murah-bikin-industri-lokal-menjerit</guid><pubDate>Jum'at 19 November 2021 15:24 WIB</pubDate><dc:creator>Oktiani Endarwati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/19/320/2504412/kacau-garmen-impor-harga-murah-bikin-industri-lokal-menjerit-oSfTvYx9F9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Garmen impor massal matikan industri lokal (foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/19/320/2504412/kacau-garmen-impor-harga-murah-bikin-industri-lokal-menjerit-oSfTvYx9F9.jpg</image><title>Garmen impor massal matikan industri lokal (foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Pengusaha menilai garmen impor bermerek bukan pesaing bagi garmen lokal. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Merek Global Indonesia (Apregindo) Handaka Santosa mengatakan garmen impor hanya sebagai pelengkap.
Baca Juga: Siap-Siap! Harga Baju Impor Akan Lebih Mahal
 
Hanya saja, kata dia, ada garmen impor massal dengan harga yang sangat murah itu yang mematikan garmen lokal.
&quot;Itu kadang diselundupkan, tidak bayar bea masuk. Berbeda dengan garmen impor bermerek yang memiliki izin dari luar negeri,&quot; ujarnya dalam Market Review IDX Channel, Jumat (19/11/2021).
Baca Juga: 3 Fakta Bahan Baku Impor Diperjualbelikan, Pengusaha Tekstil Marah
Dirinya berharap pemerintah bisa mengkaji ulang kebijakan pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) atas produk dan aksesoris pakaian. Pasalnya, kebijakan tersebut akan menambah beban biaya pelaku industri ritel. Apalagi sudah banyak pungutan biaya yang dibebankan kepada pengusaha ritel.
&quot;Total sudah 45% biaya yang kami keluarkan. Ditambah pada waktu masuk  ke mal ada PPN lagi untuk service dan rental 10%,&quot; ungkapnya.
Menurut Handaka, yang harus diawasi dan dibuat aturan adalah barang  impor garmen massal yang bisa mematikan pengusaha kecil dan menengah  karena menjual harga dengan sangat murah.
&quot;Garmen impor massal ini yang menjadi masalah karena dijual di  mana-mana, kemudian mereka masuk secara ilegal sehingga memukul industri  garmen lokal,&quot; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pengusaha menilai garmen impor bermerek bukan pesaing bagi garmen lokal. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Merek Global Indonesia (Apregindo) Handaka Santosa mengatakan garmen impor hanya sebagai pelengkap.
Baca Juga: Siap-Siap! Harga Baju Impor Akan Lebih Mahal
 
Hanya saja, kata dia, ada garmen impor massal dengan harga yang sangat murah itu yang mematikan garmen lokal.
&quot;Itu kadang diselundupkan, tidak bayar bea masuk. Berbeda dengan garmen impor bermerek yang memiliki izin dari luar negeri,&quot; ujarnya dalam Market Review IDX Channel, Jumat (19/11/2021).
Baca Juga: 3 Fakta Bahan Baku Impor Diperjualbelikan, Pengusaha Tekstil Marah
Dirinya berharap pemerintah bisa mengkaji ulang kebijakan pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) atas produk dan aksesoris pakaian. Pasalnya, kebijakan tersebut akan menambah beban biaya pelaku industri ritel. Apalagi sudah banyak pungutan biaya yang dibebankan kepada pengusaha ritel.
&quot;Total sudah 45% biaya yang kami keluarkan. Ditambah pada waktu masuk  ke mal ada PPN lagi untuk service dan rental 10%,&quot; ungkapnya.
Menurut Handaka, yang harus diawasi dan dibuat aturan adalah barang  impor garmen massal yang bisa mematikan pengusaha kecil dan menengah  karena menjual harga dengan sangat murah.
&quot;Garmen impor massal ini yang menjadi masalah karena dijual di  mana-mana, kemudian mereka masuk secara ilegal sehingga memukul industri  garmen lokal,&quot; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
