<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Modal Rp3 Juta, Pemuda Ini Sukses Bikin Startup Bernilai Rp89 Triliun</title><description>Startup perangkat lunak Personio milik CEO Hanno Renner kini menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Eropa.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/23/455/2505992/modal-rp3-juta-pemuda-ini-sukses-bikin-startup-bernilai-rp89-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/23/455/2505992/modal-rp3-juta-pemuda-ini-sukses-bikin-startup-bernilai-rp89-triliun"/><item><title>Modal Rp3 Juta, Pemuda Ini Sukses Bikin Startup Bernilai Rp89 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/23/455/2505992/modal-rp3-juta-pemuda-ini-sukses-bikin-startup-bernilai-rp89-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/23/455/2505992/modal-rp3-juta-pemuda-ini-sukses-bikin-startup-bernilai-rp89-triliun</guid><pubDate>Selasa 23 November 2021 10:44 WIB</pubDate><dc:creator>Sevilla Nouval Evanda</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/23/455/2505992/modal-rp3-juta-pemuda-ini-sukses-bikin-startup-bernilai-rp89-triliun-KxraZdHinT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kisah pemuda membangun startup dengan modal Rp3 juta (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/23/455/2505992/modal-rp3-juta-pemuda-ini-sukses-bikin-startup-bernilai-rp89-triliun-KxraZdHinT.jpg</image><title>Kisah pemuda membangun startup dengan modal Rp3 juta (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Startup perangkat lunak Personio milik CEO Hanno Renner kini menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Eropa. Startup ini bernilai USD6,3 miliar atau setara Rp89,4 triliun (kurs Rp14.200/ USD).
Dulunya, startup ini mengalami situasi keuangan yang ketat sampai para founder-nya diharuskan mengelola uang dengan sangat baik. Sebab, mereka hanya memiliki uang sekitar USD226 saat itu (Rp3,2 juta).
Baca Juga: BUMN Dukung Startup, Erick Thohir Siapkan Merah Putih Fund
 
Melansir CNBC, Selasa (23/11/2021), Renner bercerita kisah mepetnya keuangan Personio pada saat didirikan 2015 lalu di Jerman. Dia mengaku, Personio di dirikan bersama Roman Schumacher, Arseniy Vershinin, dan Ignaz Forstmeier, rekan kuliahnya di Center for Digital Technology and Management, lembaga gabungan dari dua perguruan tinggi utama di Munich.
Saat itu, Renner mendengar ada seorang teman yang kerepotan mengelola sumber daya manusia (SDM) di perusahaan tempatnya bekerja sebagai chief technology officer. Pasalnya, mereka tidak memiliki perangkat lunak.
Baca Juga: Ekonomi RI Lewati Titik Terendah, Menko Airlangga Sebut E-commerce dan  Startup Jadi Kekuatan Baru
Keempatnya pun mulai menciptakan solusi dengan membangun produk perangkat lunak pertama Personio di  ruang-ruang kosong di kampus. Sebagai mahasiswa, mereka tidak memiliki kantor dan harus mengumpulkan semua tabungan untuk membantu biayanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wNC8xNS8xLzEzMTk3OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Saat perangkat itu mulai dibeli dan digunakan, mereka menggunakan pendapatannya untuk membeli lisensi perangkat lunak mereka, menyewa ruang kantor kecil, dan mempekerjakan beberapa karyawan.
Pada Juli 2016, Personio telah mengumpulkan EUR2,1 juta (Rp33,5 miliar) dalam putaran pendanaan awal. Investornya, termasuk Global Founders Capital yang telah mendukung LinkedIn dan Facebook yang kini berubah menjadi Meta.
Sebelum menerima dana itu, Renner mengaku para pendiri harus  benar-benar memastikan bahwa semua tagihan kesepakatan penggalangan dana  telah dibayar.
Bahkan, dia masih memiliki screenshot dari rekening bank itu, saat  mereka hanya punya sekitar EUR100 atau Rp1,5 juta tersisa di rekening  bank perusahaan sebelum kemudian menerima pendanaan pertama.
&quot;Tetapi benar-benar menarik betapa ketatnya kami mengelola sampai saat itu,&amp;rdquo; katanya pada CNBC.
Kini, situasi keuangan Personio telah berbalik secara dramatis. Pada  putaran pendanaan seri E terbarunya yang telah diumumkan pada Oktober  lalu, Personio telah meraup USD270 juta (Rp3,8 triliun) dan sekarang  bernilai USD6,3 miliar.
Ini adalah lompatan besar perusahaan mengingat pada seri D di Januari  lalu telah mengumpulkan USD1,7 miliar atau Rp24,1 triliun. Secara  total, Personio telah meraup tembus USD500 juta (Rp7,1 triliun) dari  investor.
Terlebih, Personio mengatakan bahwa kini telah memiliki &quot;cadangan  yang signifikan&quot; dari putaran investasinya pada Januari. Tidak seperti  saat baru memulai dahulu.
Batch pendanaan terbaru Personio saat ini digunakan untuk  mengembangkan kategori software terbarunya, People Workflow Automation.  Software ini berfungsi menghilangkan hambatan perangkat lunak antara  pihak SDM dan departemen lain di perusahaan.
Perangkat lunak ini akan berguna saat ada berbagai tugas yang perlu  diselesaikan di berbagai bagian bisnis. Saat ini, saingan Personio  adalah sesama startup software seperti Hibob dan pemain lama dan besar  seperti SAP dan Salesforce.</description><content:encoded>JAKARTA - Startup perangkat lunak Personio milik CEO Hanno Renner kini menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Eropa. Startup ini bernilai USD6,3 miliar atau setara Rp89,4 triliun (kurs Rp14.200/ USD).
Dulunya, startup ini mengalami situasi keuangan yang ketat sampai para founder-nya diharuskan mengelola uang dengan sangat baik. Sebab, mereka hanya memiliki uang sekitar USD226 saat itu (Rp3,2 juta).
Baca Juga: BUMN Dukung Startup, Erick Thohir Siapkan Merah Putih Fund
 
Melansir CNBC, Selasa (23/11/2021), Renner bercerita kisah mepetnya keuangan Personio pada saat didirikan 2015 lalu di Jerman. Dia mengaku, Personio di dirikan bersama Roman Schumacher, Arseniy Vershinin, dan Ignaz Forstmeier, rekan kuliahnya di Center for Digital Technology and Management, lembaga gabungan dari dua perguruan tinggi utama di Munich.
Saat itu, Renner mendengar ada seorang teman yang kerepotan mengelola sumber daya manusia (SDM) di perusahaan tempatnya bekerja sebagai chief technology officer. Pasalnya, mereka tidak memiliki perangkat lunak.
Baca Juga: Ekonomi RI Lewati Titik Terendah, Menko Airlangga Sebut E-commerce dan  Startup Jadi Kekuatan Baru
Keempatnya pun mulai menciptakan solusi dengan membangun produk perangkat lunak pertama Personio di  ruang-ruang kosong di kampus. Sebagai mahasiswa, mereka tidak memiliki kantor dan harus mengumpulkan semua tabungan untuk membantu biayanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8wNC8xNS8xLzEzMTk3OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Saat perangkat itu mulai dibeli dan digunakan, mereka menggunakan pendapatannya untuk membeli lisensi perangkat lunak mereka, menyewa ruang kantor kecil, dan mempekerjakan beberapa karyawan.
Pada Juli 2016, Personio telah mengumpulkan EUR2,1 juta (Rp33,5 miliar) dalam putaran pendanaan awal. Investornya, termasuk Global Founders Capital yang telah mendukung LinkedIn dan Facebook yang kini berubah menjadi Meta.
Sebelum menerima dana itu, Renner mengaku para pendiri harus  benar-benar memastikan bahwa semua tagihan kesepakatan penggalangan dana  telah dibayar.
Bahkan, dia masih memiliki screenshot dari rekening bank itu, saat  mereka hanya punya sekitar EUR100 atau Rp1,5 juta tersisa di rekening  bank perusahaan sebelum kemudian menerima pendanaan pertama.
&quot;Tetapi benar-benar menarik betapa ketatnya kami mengelola sampai saat itu,&amp;rdquo; katanya pada CNBC.
Kini, situasi keuangan Personio telah berbalik secara dramatis. Pada  putaran pendanaan seri E terbarunya yang telah diumumkan pada Oktober  lalu, Personio telah meraup USD270 juta (Rp3,8 triliun) dan sekarang  bernilai USD6,3 miliar.
Ini adalah lompatan besar perusahaan mengingat pada seri D di Januari  lalu telah mengumpulkan USD1,7 miliar atau Rp24,1 triliun. Secara  total, Personio telah meraup tembus USD500 juta (Rp7,1 triliun) dari  investor.
Terlebih, Personio mengatakan bahwa kini telah memiliki &quot;cadangan  yang signifikan&quot; dari putaran investasinya pada Januari. Tidak seperti  saat baru memulai dahulu.
Batch pendanaan terbaru Personio saat ini digunakan untuk  mengembangkan kategori software terbarunya, People Workflow Automation.  Software ini berfungsi menghilangkan hambatan perangkat lunak antara  pihak SDM dan departemen lain di perusahaan.
Perangkat lunak ini akan berguna saat ada berbagai tugas yang perlu  diselesaikan di berbagai bagian bisnis. Saat ini, saingan Personio  adalah sesama startup software seperti Hibob dan pemain lama dan besar  seperti SAP dan Salesforce.</content:encoded></item></channel></rss>
