<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Dunia Naik Imbas Gagalnya Pelepasan Stok AS</title><description>Harga minyak dunia naik ke level tertinggi satu minggu pada akhir perdagangan Selasa.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/24/320/2506485/harga-minyak-dunia-naik-imbas-gagalnya-pelepasan-stok-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/24/320/2506485/harga-minyak-dunia-naik-imbas-gagalnya-pelepasan-stok-as"/><item><title>Harga Minyak Dunia Naik Imbas Gagalnya Pelepasan Stok AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/24/320/2506485/harga-minyak-dunia-naik-imbas-gagalnya-pelepasan-stok-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/24/320/2506485/harga-minyak-dunia-naik-imbas-gagalnya-pelepasan-stok-as</guid><pubDate>Rabu 24 November 2021 06:31 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/24/320/2506485/harga-minyak-dunia-naik-imbas-gagalnya-pelepasan-stok-as-qYmQGl9wwR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga minyak dunia naik (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/24/320/2506485/harga-minyak-dunia-naik-imbas-gagalnya-pelepasan-stok-as-qYmQGl9wwR.jpg</image><title>Harga minyak dunia naik (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak dunia naik ke level tertinggi satu minggu pada akhir perdagangan Selasa. Harga minyak naik setelah langkah Amerika Serikat dan negara-negara konsumen lainnya untuk melepaskan puluhan juta barel minyak dari cadangan mereka guna mencoba mendinginkan pasar, gagal memenuhi beberapa harapan.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari melonjak USD2,61 atau 3,3%, menjadi menetap di USD82,31 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Januari naik USD1,75 atau 2,3%, menjadi ditutup di USD78,50 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Menguat 1% Didukung Rencana OPEC terhadap Produksi
 
Amerika Serikat mengatakan pada Selasa (23/11/2021) akan melepas jutaan barel minyak dari cadangan strategis berkoordinasi dengan China, India, Korea Selatan, Jepang dan Inggris, untuk mencoba mendinginkan harga setelah produsen OPEC+ berulang kali mengabaikan seruan untuk lebih banyak memasok minyak mentah.
Tetapi, para analis mengatakan efek pada harga kemungkinan akan berumur pendek setelah bertahun-tahun penurunan investasi dan pemulihan global yang kuat dari pandemi COVID-19.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 5,8%, Brent Dijual di Bawah USD80/Barel
Pembicaraan tentang pelepasan cadangan terkoordinasi, dolar AS yang kuat dan potensi pukulan terhadap permintaan energi dari gelombang keempat kasus COVID-19 di Eropa telah menyebabkan harga Brent turun lebih dari 10% sejak mencapai level tertinggi tiga tahun di USD86,70 pada 25 Oktober.
Pemerintahan Presiden Joe Biden mengatakan akan melepaskan 50 juta barel dari cadangan minyak strategis (SPR) AS, yang akan mulai memasuki pasar pada pertengahan hingga akhir Desember.
&quot;Pelepasan SPR terkoordinasi lebih kecil dari perkiraan dan tidak diragukan lagi akan dipenuhi oleh lebih sedikit produksi dari OPEC+,&quot; kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA, mencatat &quot;Tidak ada yang akan terkejut jika (OPEC+) mengurangi rencana produksi mereka.&quot;Aliansi OPEC+ antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan  sekutu termasuk Rusia sejauh ini telah menolak permintaan berulang dari  Washington untuk memompa lebih banyak minyak.
Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al-Mazrouei mengatakan pada  Selasa (23/11/2021) bahwa UEA melihat &quot;tidak ada logika&quot; dalam  meningkatkan kontribusinya sendiri ke pasar global saat ini, menambahkan  data teknis yang dikumpulkan menjelang pertemuan OPEC+ mendatang pada  Desember menunjukkan surplus minyak di kuartal pertama 2022.Reli minyak  terjadi menjelang laporan persediaan AS dari American Petroleum  Institute (API), sebuah kelompok industri, pada Selasa dan Badan  Informasi Energi AS pada Rabu waktu setempat.
Analis memperkirakan data persediaan minyak mingguan AS terbaru menunjukkan penarikan 0,5 juta barel dari stok minyak mentah.
Sementara itu, indeks dolar bertahan di dekat level tertinggi  16-bulan pada Selasa (23/11/2021) setelah Ketua Federal Reserve Jerome  Powell dipilih untuk masa jabatan kedua, memperkuat ekspektasi pasar  bahwa suku bunga AS akan naik pada 2022.
Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata  uang lainnya, yang menurut para pedagang membebani harga minyak mentah.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak dunia naik ke level tertinggi satu minggu pada akhir perdagangan Selasa. Harga minyak naik setelah langkah Amerika Serikat dan negara-negara konsumen lainnya untuk melepaskan puluhan juta barel minyak dari cadangan mereka guna mencoba mendinginkan pasar, gagal memenuhi beberapa harapan.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari melonjak USD2,61 atau 3,3%, menjadi menetap di USD82,31 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Januari naik USD1,75 atau 2,3%, menjadi ditutup di USD78,50 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Menguat 1% Didukung Rencana OPEC terhadap Produksi
 
Amerika Serikat mengatakan pada Selasa (23/11/2021) akan melepas jutaan barel minyak dari cadangan strategis berkoordinasi dengan China, India, Korea Selatan, Jepang dan Inggris, untuk mencoba mendinginkan harga setelah produsen OPEC+ berulang kali mengabaikan seruan untuk lebih banyak memasok minyak mentah.
Tetapi, para analis mengatakan efek pada harga kemungkinan akan berumur pendek setelah bertahun-tahun penurunan investasi dan pemulihan global yang kuat dari pandemi COVID-19.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 5,8%, Brent Dijual di Bawah USD80/Barel
Pembicaraan tentang pelepasan cadangan terkoordinasi, dolar AS yang kuat dan potensi pukulan terhadap permintaan energi dari gelombang keempat kasus COVID-19 di Eropa telah menyebabkan harga Brent turun lebih dari 10% sejak mencapai level tertinggi tiga tahun di USD86,70 pada 25 Oktober.
Pemerintahan Presiden Joe Biden mengatakan akan melepaskan 50 juta barel dari cadangan minyak strategis (SPR) AS, yang akan mulai memasuki pasar pada pertengahan hingga akhir Desember.
&quot;Pelepasan SPR terkoordinasi lebih kecil dari perkiraan dan tidak diragukan lagi akan dipenuhi oleh lebih sedikit produksi dari OPEC+,&quot; kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA, mencatat &quot;Tidak ada yang akan terkejut jika (OPEC+) mengurangi rencana produksi mereka.&quot;Aliansi OPEC+ antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan  sekutu termasuk Rusia sejauh ini telah menolak permintaan berulang dari  Washington untuk memompa lebih banyak minyak.
Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al-Mazrouei mengatakan pada  Selasa (23/11/2021) bahwa UEA melihat &quot;tidak ada logika&quot; dalam  meningkatkan kontribusinya sendiri ke pasar global saat ini, menambahkan  data teknis yang dikumpulkan menjelang pertemuan OPEC+ mendatang pada  Desember menunjukkan surplus minyak di kuartal pertama 2022.Reli minyak  terjadi menjelang laporan persediaan AS dari American Petroleum  Institute (API), sebuah kelompok industri, pada Selasa dan Badan  Informasi Energi AS pada Rabu waktu setempat.
Analis memperkirakan data persediaan minyak mingguan AS terbaru menunjukkan penarikan 0,5 juta barel dari stok minyak mentah.
Sementara itu, indeks dolar bertahan di dekat level tertinggi  16-bulan pada Selasa (23/11/2021) setelah Ketua Federal Reserve Jerome  Powell dipilih untuk masa jabatan kedua, memperkuat ekspektasi pasar  bahwa suku bunga AS akan naik pada 2022.
Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata  uang lainnya, yang menurut para pedagang membebani harga minyak mentah.</content:encoded></item></channel></rss>
