<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PLN Dapat Suntikan Dana Rp8 Triliun untuk Transisi Energi</title><description>PT PLN mendapat suntikan dana sebesar 500 juta euro atau Rp8 triliun (kurs Rp16.000 per euro).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/26/320/2507810/pln-dapat-suntikan-dana-rp8-triliun-untuk-transisi-energi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/11/26/320/2507810/pln-dapat-suntikan-dana-rp8-triliun-untuk-transisi-energi"/><item><title>PLN Dapat Suntikan Dana Rp8 Triliun untuk Transisi Energi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/11/26/320/2507810/pln-dapat-suntikan-dana-rp8-triliun-untuk-transisi-energi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/11/26/320/2507810/pln-dapat-suntikan-dana-rp8-triliun-untuk-transisi-energi</guid><pubDate>Jum'at 26 November 2021 12:40 WIB</pubDate><dc:creator>Athika Rahma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/11/26/320/2507810/pln-dapat-suntikan-dana-rp8-triliun-untuk-transisi-energi-rvcjivEW76.jpg" expression="full" type="image/jpeg">PLN dapat suntikan dana dari Prancis (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/11/26/320/2507810/pln-dapat-suntikan-dana-rp8-triliun-untuk-transisi-energi-rvcjivEW76.jpg</image><title>PLN dapat suntikan dana dari Prancis (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - PT PLN mendapat suntikan dana sebesar 500 juta euro atau Rp8 triliun (kurs Rp16.000 per euro) dari Badan Pembangunan Prancis (Agence Fran&amp;ccedil;aise de D&amp;eacute;veloppement/AFD). Bantuan diberikan dalam 5 tahun ke depan untuk mendukung transisi energi.
Komitmen ini tertuang melalui penandatanganan Surat Niatan penguatan kerja sama Prancis dan Indonesia di bidang energi pada. Surat Niatan ditandatangani oleh Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Basilio Dias Araujo, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini, Duta Besar Prancis di Indonesia Olivier Chambard, dan Direktur Badan Pembangunan Prancis (AFD) Indonesia Resident Mission Emmanuel Baudran, di hadapan Menteri Luar Negeri dan Eropa Jean Yves Le Drian dan Bapak Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Baca Juga: Presiden Jokowi Tegur PLN dan Pertamina soal Investasi, Ternyata Ini Masalahnya
 
Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menyampaikan, PLN berkomitmen untuk mendukung percepatan transisi energi demi masa depan yang lebih baik. Di tengah upaya menekan emisi karbon, perusahaan memiliki beberapa pendekatan untuk memastikan bisnis ketenagalistrikan yang berkelanjutan.
&quot;Di antaranya memastikan operasional perusahaan ramping dan efisien, memberikan energi hijau untuk masa mendatang, dan menjadi perusahaan yang berfokus pada pelanggan dengan memberikan layanan yang andal serta terjangkau,&quot; ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (26/11/2021).
Dalam mengakselerasi Carbon Neutral 2060, Zulkifli mengungkapkan 4 hal yang harus menjadi perhatian agar transisi energi dapat berjalan dengan mulus.
Baca Juga: Harga Mobil Listrik Mau Murah? Ini Saran dari Bos PLN
Pertama, penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan. Kedua, investasi skala besar. Ketiga, penerapan teknologi dalam skala besar. Keempat, investasi pelanggan untuk beralih menggunakan peralatan rendah karbon.
&quot;Dengan begitu, pengembangan bisnis dan kampanye electrifying lifestyle perlu lebih digaungkan. Sebut saja, seperti penggunaan kompor listrik, kendaraan listrik, dan perdagangan emisi,&quot; ujar Zulkifli.
Dalam skenario business as usual (BaU), emisi sektor listrik mencapai 0,92 miliar ton CO2 pada 2060. Maka dari itu, PLN meluncurkan strategi demi menjadi perusahaan listrik yang bersih dan hijau. Salah satunya dengan menghentikan pembangunan serta memensiunkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) eksisting secara bertahap.&quot;Berdasarkan peta jalan, PLN akan memensiunkan PLTU sub-critical  sebesar 10 Giga Watt (GW) pada tahun 2035. Kemudian PLTU super critical  sebesar 10 GW juga akan dipensiunkan pada tahun 2045. Tahap terakhir  pada tahun 2055, PLTU ultra super critical 55 GW dipensiunkan,&quot; katanya.
Pada saat bersamaan, PLN akan berinvestasi untuk mempercepat  peningkatan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) hingga  20,9 GW, serta pengembangan teknologi penyimpanan listrik dalam bentuk  baterai berukuran besar hingga teknologi penangkapan karbon dan  hidrogen. Program lain yang disiapkan PLN untuk mendukung transisi  energi yaitu ekspansi gas, program co-firing, konversi PLTD ke EBT,  hingga peningkatan efisiensi energi dan pengurangan susut jaringan.
&quot;Setidaknya PLN membutuhkan investasi lebih dari USD 500 miliar untuk  mendukung pencapaian Carbon Neutral pada 2060. Oleh karena itu, PLN  membutuhkan dukungan dari banyak pihak untuk menjalankan transisi energi  ini,&quot; imbuh Zulkifli.
Di sisi lain, selama 10 tahun terakhir, AFD telah memobilisasi 520  juta euro untuk mendukung Indonesia dalam reformasi sektor energi,  pembiayaan investasi publik, dan mobilisasi tenaga ahli dari Prancis.  Dalam jangka waktu tersebut, Indonesia telah mengalami pertumbuhan  ekonomi signifikan yang menyebabkan konsumsi energi menjadi 2 kali  lipat.
Untuk turut berkontribusi mengendalikan perubahan iklim, Indonesia  berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dalam kerangka  Perjanjian Paris sebesar 29% dari skenario BaU dengan upaya sendiri dan  41% dengan dukungan masyarakat internasional.
Dengan penguatan kerja sama ini, maka AFD akan membantu Indonesia  dalam bentuk hibah untuk bantuan teknis dalam persiapan dan pelaksanaan  proyek, pinjaman lunak kepada pemerintah Indonesia dan PLN, atau bahkan  pinjaman kepada sektor swasta untuk investasi energi terbarukan dan  efisiensi energi.
Melalui komitmen ini, diharapkan mampu menghasilkan pengumuman  rencana netralitas karbon di sektor energi pada tahun 2021, yang akan  dicapai pada tahun 2050.
Pemerintah pun telah mengeluarkan pengumuman moratorium pembangunan  pembangkit listrik baru di batu bara, serta publikasi rencana investasi  PLN (RUPTL &amp;ndash; Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) 2021-2030.
Pada RUPTL terhijau yang pernah ada ini, porsi energi baru terbarukan  (EBT) lebih besar yakni 51,6% atau 20.923 MW, sementara porsi energi  fosil lebih rendah yakni 48% atau 19.652 MW.</description><content:encoded>JAKARTA - PT PLN mendapat suntikan dana sebesar 500 juta euro atau Rp8 triliun (kurs Rp16.000 per euro) dari Badan Pembangunan Prancis (Agence Fran&amp;ccedil;aise de D&amp;eacute;veloppement/AFD). Bantuan diberikan dalam 5 tahun ke depan untuk mendukung transisi energi.
Komitmen ini tertuang melalui penandatanganan Surat Niatan penguatan kerja sama Prancis dan Indonesia di bidang energi pada. Surat Niatan ditandatangani oleh Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Basilio Dias Araujo, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini, Duta Besar Prancis di Indonesia Olivier Chambard, dan Direktur Badan Pembangunan Prancis (AFD) Indonesia Resident Mission Emmanuel Baudran, di hadapan Menteri Luar Negeri dan Eropa Jean Yves Le Drian dan Bapak Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Baca Juga: Presiden Jokowi Tegur PLN dan Pertamina soal Investasi, Ternyata Ini Masalahnya
 
Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menyampaikan, PLN berkomitmen untuk mendukung percepatan transisi energi demi masa depan yang lebih baik. Di tengah upaya menekan emisi karbon, perusahaan memiliki beberapa pendekatan untuk memastikan bisnis ketenagalistrikan yang berkelanjutan.
&quot;Di antaranya memastikan operasional perusahaan ramping dan efisien, memberikan energi hijau untuk masa mendatang, dan menjadi perusahaan yang berfokus pada pelanggan dengan memberikan layanan yang andal serta terjangkau,&quot; ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (26/11/2021).
Dalam mengakselerasi Carbon Neutral 2060, Zulkifli mengungkapkan 4 hal yang harus menjadi perhatian agar transisi energi dapat berjalan dengan mulus.
Baca Juga: Harga Mobil Listrik Mau Murah? Ini Saran dari Bos PLN
Pertama, penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan. Kedua, investasi skala besar. Ketiga, penerapan teknologi dalam skala besar. Keempat, investasi pelanggan untuk beralih menggunakan peralatan rendah karbon.
&quot;Dengan begitu, pengembangan bisnis dan kampanye electrifying lifestyle perlu lebih digaungkan. Sebut saja, seperti penggunaan kompor listrik, kendaraan listrik, dan perdagangan emisi,&quot; ujar Zulkifli.
Dalam skenario business as usual (BaU), emisi sektor listrik mencapai 0,92 miliar ton CO2 pada 2060. Maka dari itu, PLN meluncurkan strategi demi menjadi perusahaan listrik yang bersih dan hijau. Salah satunya dengan menghentikan pembangunan serta memensiunkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) eksisting secara bertahap.&quot;Berdasarkan peta jalan, PLN akan memensiunkan PLTU sub-critical  sebesar 10 Giga Watt (GW) pada tahun 2035. Kemudian PLTU super critical  sebesar 10 GW juga akan dipensiunkan pada tahun 2045. Tahap terakhir  pada tahun 2055, PLTU ultra super critical 55 GW dipensiunkan,&quot; katanya.
Pada saat bersamaan, PLN akan berinvestasi untuk mempercepat  peningkatan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) hingga  20,9 GW, serta pengembangan teknologi penyimpanan listrik dalam bentuk  baterai berukuran besar hingga teknologi penangkapan karbon dan  hidrogen. Program lain yang disiapkan PLN untuk mendukung transisi  energi yaitu ekspansi gas, program co-firing, konversi PLTD ke EBT,  hingga peningkatan efisiensi energi dan pengurangan susut jaringan.
&quot;Setidaknya PLN membutuhkan investasi lebih dari USD 500 miliar untuk  mendukung pencapaian Carbon Neutral pada 2060. Oleh karena itu, PLN  membutuhkan dukungan dari banyak pihak untuk menjalankan transisi energi  ini,&quot; imbuh Zulkifli.
Di sisi lain, selama 10 tahun terakhir, AFD telah memobilisasi 520  juta euro untuk mendukung Indonesia dalam reformasi sektor energi,  pembiayaan investasi publik, dan mobilisasi tenaga ahli dari Prancis.  Dalam jangka waktu tersebut, Indonesia telah mengalami pertumbuhan  ekonomi signifikan yang menyebabkan konsumsi energi menjadi 2 kali  lipat.
Untuk turut berkontribusi mengendalikan perubahan iklim, Indonesia  berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dalam kerangka  Perjanjian Paris sebesar 29% dari skenario BaU dengan upaya sendiri dan  41% dengan dukungan masyarakat internasional.
Dengan penguatan kerja sama ini, maka AFD akan membantu Indonesia  dalam bentuk hibah untuk bantuan teknis dalam persiapan dan pelaksanaan  proyek, pinjaman lunak kepada pemerintah Indonesia dan PLN, atau bahkan  pinjaman kepada sektor swasta untuk investasi energi terbarukan dan  efisiensi energi.
Melalui komitmen ini, diharapkan mampu menghasilkan pengumuman  rencana netralitas karbon di sektor energi pada tahun 2021, yang akan  dicapai pada tahun 2050.
Pemerintah pun telah mengeluarkan pengumuman moratorium pembangunan  pembangkit listrik baru di batu bara, serta publikasi rencana investasi  PLN (RUPTL &amp;ndash; Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) 2021-2030.
Pada RUPTL terhijau yang pernah ada ini, porsi energi baru terbarukan  (EBT) lebih besar yakni 51,6% atau 20.923 MW, sementara porsi energi  fosil lebih rendah yakni 48% atau 19.652 MW.</content:encoded></item></channel></rss>
