<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tahun 2022 Dibayangi Ketidakpastian, Sri Mulyani: Pandemi Not Yet Over</title><description>Pandemi covid-19 belum usai. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati  masih mencermati pandemi covid-19 dan terus merumuskan kebijakan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/12/07/320/2513339/tahun-2022-dibayangi-ketidakpastian-sri-mulyani-pandemi-not-yet-over</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/12/07/320/2513339/tahun-2022-dibayangi-ketidakpastian-sri-mulyani-pandemi-not-yet-over"/><item><title>Tahun 2022 Dibayangi Ketidakpastian, Sri Mulyani: Pandemi Not Yet Over</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/12/07/320/2513339/tahun-2022-dibayangi-ketidakpastian-sri-mulyani-pandemi-not-yet-over</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/12/07/320/2513339/tahun-2022-dibayangi-ketidakpastian-sri-mulyani-pandemi-not-yet-over</guid><pubDate>Selasa 07 Desember 2021 15:40 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/07/320/2513339/tahun-2022-dibayangi-ketidakpastian-sri-mulyani-pandemi-not-yet-over-3sKLRLFgpM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menkeu Sri Mulyani waspadai pandemi covid-19 yang belum usai (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/07/320/2513339/tahun-2022-dibayangi-ketidakpastian-sri-mulyani-pandemi-not-yet-over-3sKLRLFgpM.jpg</image><title>Menkeu Sri Mulyani waspadai pandemi covid-19 yang belum usai (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pandemi covid-19 belum usai. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati masih mencermati pandemi covid-19 dan terus merumuskan kebijakan.
Keberlangsungan pandemi ini masih melanjutkan tren ketidakpastian di Indonesia maupun secara global.
Baca Juga: Fakta! Ekonomi RI Selalu Tumbuh di Atas Perekonomian Dunia
 
&quot;Indonesia melakukan langkah-langkah koordinasi untuk bisa meng-adress tantangan di bidang kesehatan dan lainnya, but it is not yet over. Pandemi belum over. Di 2022, Indonesia is already addressing this pandemic relatively well,&amp;rdquo; ujar Sri dalam webinar Pertamina Energy Webinar 2021: Energizing Your Future di Jakarta, Selasa(7/12/2021).
Baca Juga: Era Digital, Ridwan Kamil: Tinggal di Desa Rezeki Kota
Pada tahun 2020, pemerintah memutuskan melakukan ekspansi fiskal untuk menangani dampak berat dari pandemi yang menghantam berbagai sektor. Selain itu, pemerintah turut memperluas jejaring stimulus untuk menjaga ketahanan daya beli dan membantu dunia usaha baik UMKM maupun korporasi supaya tidak jatuh.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8wNy80LzE0MjU1Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dalam undang-undang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Kebijakan Negara dan  Stabilitas Sistem Keuangan, pemerintah memperlebar ruang defisit APBN  hingga tembus 6,1% dari produk domestik bruto (PDB).
&quot;Hasilnya, pemerintah bisa menjaga pertumbuhan ekonomi di level  kontraksi -2,07% sepanjang tahun lalu. Ini relatively modest  constraction. Namun kita harus kerja keras mendukung proses pemulihan  ekonomi secara tepat dan teliti karena pandemi mempengaruhi ekonomi  sangat dalam,&amp;rdquo; ungkap Sri.
Pada 2022, sambung dia, pemerintah akan mendorong pemulihan ekonomi  secara lebih kuat dan berkelanjutan. Indonesia, kata dia, menghindari  kebijakan yang dapat menimbulkan scarring effect atau dampak yang  sifatnya bisa melukai perekonomian.
&amp;ldquo;Pemerintah menggunakan tools APBN bersama-sama dengan policy lain,  seperti policy moneter dan keuangan untuk bisa kembali tumbuh. Ini  membutuhkan kebijakan reformasi yang sifatnya struktural,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pandemi covid-19 belum usai. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati masih mencermati pandemi covid-19 dan terus merumuskan kebijakan.
Keberlangsungan pandemi ini masih melanjutkan tren ketidakpastian di Indonesia maupun secara global.
Baca Juga: Fakta! Ekonomi RI Selalu Tumbuh di Atas Perekonomian Dunia
 
&quot;Indonesia melakukan langkah-langkah koordinasi untuk bisa meng-adress tantangan di bidang kesehatan dan lainnya, but it is not yet over. Pandemi belum over. Di 2022, Indonesia is already addressing this pandemic relatively well,&amp;rdquo; ujar Sri dalam webinar Pertamina Energy Webinar 2021: Energizing Your Future di Jakarta, Selasa(7/12/2021).
Baca Juga: Era Digital, Ridwan Kamil: Tinggal di Desa Rezeki Kota
Pada tahun 2020, pemerintah memutuskan melakukan ekspansi fiskal untuk menangani dampak berat dari pandemi yang menghantam berbagai sektor. Selain itu, pemerintah turut memperluas jejaring stimulus untuk menjaga ketahanan daya beli dan membantu dunia usaha baik UMKM maupun korporasi supaya tidak jatuh.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8wNy80LzE0MjU1Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dalam undang-undang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Kebijakan Negara dan  Stabilitas Sistem Keuangan, pemerintah memperlebar ruang defisit APBN  hingga tembus 6,1% dari produk domestik bruto (PDB).
&quot;Hasilnya, pemerintah bisa menjaga pertumbuhan ekonomi di level  kontraksi -2,07% sepanjang tahun lalu. Ini relatively modest  constraction. Namun kita harus kerja keras mendukung proses pemulihan  ekonomi secara tepat dan teliti karena pandemi mempengaruhi ekonomi  sangat dalam,&amp;rdquo; ungkap Sri.
Pada 2022, sambung dia, pemerintah akan mendorong pemulihan ekonomi  secara lebih kuat dan berkelanjutan. Indonesia, kata dia, menghindari  kebijakan yang dapat menimbulkan scarring effect atau dampak yang  sifatnya bisa melukai perekonomian.
&amp;ldquo;Pemerintah menggunakan tools APBN bersama-sama dengan policy lain,  seperti policy moneter dan keuangan untuk bisa kembali tumbuh. Ini  membutuhkan kebijakan reformasi yang sifatnya struktural,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
