<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Petani Cabai Gagal Raup Cuan Usai Gagal Panen Imbas Erupsi Gunung Semeru</title><description>Para petani cabai hanya bisa pasrah gagal panen akibat erupsi Gunung Semeru.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/12/11/320/2515390/petani-cabai-gagal-raup-cuan-usai-gagal-panen-imbas-erupsi-gunung-semeru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/12/11/320/2515390/petani-cabai-gagal-raup-cuan-usai-gagal-panen-imbas-erupsi-gunung-semeru"/><item><title>Petani Cabai Gagal Raup Cuan Usai Gagal Panen Imbas Erupsi Gunung Semeru</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/12/11/320/2515390/petani-cabai-gagal-raup-cuan-usai-gagal-panen-imbas-erupsi-gunung-semeru</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/12/11/320/2515390/petani-cabai-gagal-raup-cuan-usai-gagal-panen-imbas-erupsi-gunung-semeru</guid><pubDate>Sabtu 11 Desember 2021 12:15 WIB</pubDate><dc:creator>Avirista Midaada</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/11/320/2515390/petani-cabai-gagal-raup-cuan-usai-gagal-panen-imbas-erupsi-gunung-semeru-RNdcHYAwq9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Lahan cabai petani tertimbun material erupsi Gunung Semeru (Foto: Avirista)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/11/320/2515390/petani-cabai-gagal-raup-cuan-usai-gagal-panen-imbas-erupsi-gunung-semeru-RNdcHYAwq9.jpg</image><title>Lahan cabai petani tertimbun material erupsi Gunung Semeru (Foto: Avirista)</title></images><description>LUMAJANG - Para petani cabai hanya bisa pasrah gagal panen akibat erupsi Gunung Semeru. Petani di kawasan Desa Supiturang Pronojiwo gagal panen karena lahan cabai rusak dan tertimbun material erupsi Gunung Semeru.
Poniman, warga Dusun Umbulan, Desa Supiturang mengungkapkan, ladang cabainya seluas dua hektar hancur terpendam material erupsi Gunung Semeru. Padahal cabai - cabainya sebenarnya tengah bersiap panen dalam beberapa hari ke depan.
&quot;Semuanya terpendam hancur, padahal sudah mau panen, tinggal beberapa hari ke depan, tapi malah kena (erupsi gunung) Semeru,&quot; kata Poniman, saat ditemui di Dusun Umbulan RT 10 RW 4 Desa Supiturang, pada Sabtu pagi (11/12/2021).
Baca Juga: Makin Pedas, Harga Cabai Tembus Rp66.060/kg 
 
Poniman menambahkan begitu sedih melihat kebun cabainya gagal panen karena harga cabai tengah laku tinggi. Apalagi selain kehilangan ladang cabainya, ia juga harus kehilangan dua ekor sapi miliknya yang terkubur material erupsi.
&quot;Harganya pas masih laku tinggi, mau dipanen habis, ya mau gimana lagi. Sekarang semuanya habis, cabai habis, sapi dua ekor mati, empat rumah yang ditempati keluarga besar juga terkubur,&quot; tuturnya.
Apa yang dialami Poniman, juga dialami oleh Musripah menyatakan, kesedihannya setelah hampir tiga hektar kebun cabainya tertimbun material erupsi. Ia menunjukkan kebun cabai rawitnya tak jauh dari rumah yang terkubur.
Baca Juga: Harga Cabai Meroket hingga Rp50.000/Kg, Ibu-Ibu Sabar Ya
Perempuan berusia 53 tahun ini bercerita, bahwa bagian bawah yang dipasang garis polisi dulunya adalah perkebunan dan persawahan milik warga. Tetapi kini area perkebunan warga itu semuanya berubah tertimbun material dengan kedalaman mencapai 30 - 50 meter.
&quot;Ini dulunya nggak segini (kedalamannya) dalam terus ini area perkebunan sekarang jadi terkubur. Semuanya hancur termasuk cabai saya,&quot; ungkap dia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8xMS8xLzE0MjY5Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Dirinya menuturkan, pada Sabtu paginya ia sempat melihat kebunnya dan memprediksi akan panen dalam waktu dua tiga hari ke depan. Beberapa cabai bahkan telah ranum dan siap dipetik sehingga ia memutuskan memetiknya terlebih dahulu.
&quot;Ada yang sudah dipanen tapi nggak banyak, karena masih ada yang di pohonnya. Jadi sudah hijau - hijau siap panen, tapi nggak tahunya kena Semeru,&quot; ucap Musripah, sambil sesekali mengelap air matanya dengan jilbab yang ia kenakan.
Penderitaannya kian bertambah lantaran hewan ternak miliknya juga  terkubur, total ada empat ekor sapi miliknya mati dan masih terkubur  material erupsi. &quot;Sudah nggak punya apa - apa sekarang,  menyelamatkan  diri cuma bawa baju yang dipakai itu. Selamat sudah Alhamdulillah, saya  masih takut kalau ingat kejadiannya ngeri, kayak mau kiamat saat itu,&quot;  kisahnya.
Musripah dan Poniman, menjadi dua dari sekian ratus warga Dusun  Umbulan yang terdampak erupsi Gunung Semeru. Hampir setiap hari pasca  erupsi mereka pulang dari pengungsian di SDN Supiturang 4 melihat  kondisi rumahnya. Padahal rumahnya sudah tak lagi berbentuk lantaran  tersisa bagian atapnya saja.
&quot;Kepengen lihat saja, pengen gitu rasanya punya rumah lagi, tapi  kalau di sini nggak mungkin, sudah nggak berani. Kalau punya tempat  tinggal sendiri kan enak, ingin cepat dapat rumah untuk memulihkan  perekonomian,&quot; tandas Poniman kembali.
Sebelumnya diberitakan, Gunung Semeru meletus pada 4 Desember 2021  dan mengeluarkan awan panas guguran (APG) mengarah ke Besuk Kobokan,  Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kurang lebih pukul  15.20 WIB.
Kawasan Umbulan di Dusun Sumbersari terdampak letusan Gunung Semeru  cukup parah. Tercatat ada 20 hektare lahan pertanian yang rusak dan  puluhan rumah mengalami rusak berat. Selain itu, ratusan warga juga  harus mengungsi akibat bencana tersebut.
Akibat letusan Gunung Semeru ini tercatat hingga Sabtu pagi ada Badan  Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 45 warga meninggal  dunia. Selain itu sebanyak 104 orang terluka, rinciannya 32 warga luka  berat dan 82 warga luka sedang serta ringan, dimana mayoritas mengalami  luka bakar.
Para warga ini dirawat di empat fasilitas kesehatan di Kabupaten  Lumajang seperti RSUD dr. Haryoto, RS Bhayangkara Lumajang, RS Pasirian,  Puskesmas Penanggal, Puskesmas Candipuro, dan beberapa puskesmas  lainnya.
Sementara sebanyak 6.573 warga dilaporkan mengungsi di 124 titik  pengungsian, yang terbagi 24 pengungsian terpusat dan sisanya 102 titik  merupakan pengungsian mandiri atau lokasi kerabat warga terdampak.</description><content:encoded>LUMAJANG - Para petani cabai hanya bisa pasrah gagal panen akibat erupsi Gunung Semeru. Petani di kawasan Desa Supiturang Pronojiwo gagal panen karena lahan cabai rusak dan tertimbun material erupsi Gunung Semeru.
Poniman, warga Dusun Umbulan, Desa Supiturang mengungkapkan, ladang cabainya seluas dua hektar hancur terpendam material erupsi Gunung Semeru. Padahal cabai - cabainya sebenarnya tengah bersiap panen dalam beberapa hari ke depan.
&quot;Semuanya terpendam hancur, padahal sudah mau panen, tinggal beberapa hari ke depan, tapi malah kena (erupsi gunung) Semeru,&quot; kata Poniman, saat ditemui di Dusun Umbulan RT 10 RW 4 Desa Supiturang, pada Sabtu pagi (11/12/2021).
Baca Juga: Makin Pedas, Harga Cabai Tembus Rp66.060/kg 
 
Poniman menambahkan begitu sedih melihat kebun cabainya gagal panen karena harga cabai tengah laku tinggi. Apalagi selain kehilangan ladang cabainya, ia juga harus kehilangan dua ekor sapi miliknya yang terkubur material erupsi.
&quot;Harganya pas masih laku tinggi, mau dipanen habis, ya mau gimana lagi. Sekarang semuanya habis, cabai habis, sapi dua ekor mati, empat rumah yang ditempati keluarga besar juga terkubur,&quot; tuturnya.
Apa yang dialami Poniman, juga dialami oleh Musripah menyatakan, kesedihannya setelah hampir tiga hektar kebun cabainya tertimbun material erupsi. Ia menunjukkan kebun cabai rawitnya tak jauh dari rumah yang terkubur.
Baca Juga: Harga Cabai Meroket hingga Rp50.000/Kg, Ibu-Ibu Sabar Ya
Perempuan berusia 53 tahun ini bercerita, bahwa bagian bawah yang dipasang garis polisi dulunya adalah perkebunan dan persawahan milik warga. Tetapi kini area perkebunan warga itu semuanya berubah tertimbun material dengan kedalaman mencapai 30 - 50 meter.
&quot;Ini dulunya nggak segini (kedalamannya) dalam terus ini area perkebunan sekarang jadi terkubur. Semuanya hancur termasuk cabai saya,&quot; ungkap dia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8xMS8xLzE0MjY5Mi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Dirinya menuturkan, pada Sabtu paginya ia sempat melihat kebunnya dan memprediksi akan panen dalam waktu dua tiga hari ke depan. Beberapa cabai bahkan telah ranum dan siap dipetik sehingga ia memutuskan memetiknya terlebih dahulu.
&quot;Ada yang sudah dipanen tapi nggak banyak, karena masih ada yang di pohonnya. Jadi sudah hijau - hijau siap panen, tapi nggak tahunya kena Semeru,&quot; ucap Musripah, sambil sesekali mengelap air matanya dengan jilbab yang ia kenakan.
Penderitaannya kian bertambah lantaran hewan ternak miliknya juga  terkubur, total ada empat ekor sapi miliknya mati dan masih terkubur  material erupsi. &quot;Sudah nggak punya apa - apa sekarang,  menyelamatkan  diri cuma bawa baju yang dipakai itu. Selamat sudah Alhamdulillah, saya  masih takut kalau ingat kejadiannya ngeri, kayak mau kiamat saat itu,&quot;  kisahnya.
Musripah dan Poniman, menjadi dua dari sekian ratus warga Dusun  Umbulan yang terdampak erupsi Gunung Semeru. Hampir setiap hari pasca  erupsi mereka pulang dari pengungsian di SDN Supiturang 4 melihat  kondisi rumahnya. Padahal rumahnya sudah tak lagi berbentuk lantaran  tersisa bagian atapnya saja.
&quot;Kepengen lihat saja, pengen gitu rasanya punya rumah lagi, tapi  kalau di sini nggak mungkin, sudah nggak berani. Kalau punya tempat  tinggal sendiri kan enak, ingin cepat dapat rumah untuk memulihkan  perekonomian,&quot; tandas Poniman kembali.
Sebelumnya diberitakan, Gunung Semeru meletus pada 4 Desember 2021  dan mengeluarkan awan panas guguran (APG) mengarah ke Besuk Kobokan,  Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kurang lebih pukul  15.20 WIB.
Kawasan Umbulan di Dusun Sumbersari terdampak letusan Gunung Semeru  cukup parah. Tercatat ada 20 hektare lahan pertanian yang rusak dan  puluhan rumah mengalami rusak berat. Selain itu, ratusan warga juga  harus mengungsi akibat bencana tersebut.
Akibat letusan Gunung Semeru ini tercatat hingga Sabtu pagi ada Badan  Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 45 warga meninggal  dunia. Selain itu sebanyak 104 orang terluka, rinciannya 32 warga luka  berat dan 82 warga luka sedang serta ringan, dimana mayoritas mengalami  luka bakar.
Para warga ini dirawat di empat fasilitas kesehatan di Kabupaten  Lumajang seperti RSUD dr. Haryoto, RS Bhayangkara Lumajang, RS Pasirian,  Puskesmas Penanggal, Puskesmas Candipuro, dan beberapa puskesmas  lainnya.
Sementara sebanyak 6.573 warga dilaporkan mengungsi di 124 titik  pengungsian, yang terbagi 24 pengungsian terpusat dan sisanya 102 titik  merupakan pengungsian mandiri atau lokasi kerabat warga terdampak.</content:encoded></item></channel></rss>
