<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menko Airlangga: Investor dan Pasar Modal Jadi Bagian Penting dalam Pemulihan Ekonomi</title><description>Pemulihan ekonomi Indonesia berlanjut seiring dengan terkendalinya situasi pandemi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/12/15/320/2517365/menko-airlangga-investor-dan-pasar-modal-jadi-bagian-penting-dalam-pemulihan-ekonomi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/12/15/320/2517365/menko-airlangga-investor-dan-pasar-modal-jadi-bagian-penting-dalam-pemulihan-ekonomi"/><item><title>Menko Airlangga: Investor dan Pasar Modal Jadi Bagian Penting dalam Pemulihan Ekonomi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/12/15/320/2517365/menko-airlangga-investor-dan-pasar-modal-jadi-bagian-penting-dalam-pemulihan-ekonomi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/12/15/320/2517365/menko-airlangga-investor-dan-pasar-modal-jadi-bagian-penting-dalam-pemulihan-ekonomi</guid><pubDate>Rabu 15 Desember 2021 13:36 WIB</pubDate><dc:creator>Zikra Mulia Irawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/15/320/2517365/menko-airlangga-investor-dan-pasar-modal-jadi-bagian-penting-dalam-pemulihan-ekonomi-rPWuJmMYIE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebut peran penting investor dan pasar modal dalam pemulihan ekonomi Indonesia (Foto: Dok. Kemenko Perekonomian)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/15/320/2517365/menko-airlangga-investor-dan-pasar-modal-jadi-bagian-penting-dalam-pemulihan-ekonomi-rPWuJmMYIE.jpg</image><title>Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebut peran penting investor dan pasar modal dalam pemulihan ekonomi Indonesia (Foto: Dok. Kemenko Perekonomian)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pemulihan ekonomi Indonesia berlanjut seiring dengan terkendalinya situasi pandemi. Ekonomi tetap tumbuh positif sebesar 3,51% (yoy) pada Triwulan III-2021. Optimisme dan market confidence diharapkan dapat mendorong kembali peningkatan kinerja ekonomi di Triwulan IV-2021.
Kondisi tersebut diperkuat oleh konsumsi masyarakat yang terus pulih, terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level optimis serta penjualan ritel yang tumbuh positif. Demikian pula sisi investasi yang terus ekspansif, tercermin dari indikator PMI manufaktur, utilisasi industri pengolahan, impor barang modal dan bahan baku yang sedang dalam tren naik.
Baca Juga: Menparekraf Sandiaga Uno Kembangkan Produk Unggulan dan Ekosistem Ekonomi Kreatif Desa
 
Sektor eksternal juga menunjukkan ketahanan yang baik, di mana Neraca Pembayaran Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD10,7 Miliar pada Triwulan III-2021.
&amp;ldquo;Transaksi berjalan dan transaksi modal finansial berkontribusi terhadap pencapaian tersebut,&amp;rdquo; ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan keynote speech pada acara Economic Outlook Festival 2022 dengan tema &amp;ldquo;Roadmap Penanganan Covid-19, Ubah Pandemi Jadi Endemi, Ekonomi Tumbuh&amp;rdquo; yang diselenggarakan oleh IDX Channel, Rabu (15/12/2021).
Baca Juga: Menko Airlangga Yakin Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5% pada Kuartal IV
 
Transaksi berjalan ditopang oleh neraca perdagangan yang melanjutkan tren surplus selama 18 bulan berturut-turut, seiring kenaikan nilai ekspor dan harga komoditas. Sedangkan transaksi modal finansial diperkuat oleh investasi langsung dan portofolio, dengan sumber inflow salah satunya berasal dari instrumen saham di pasar modal.
&amp;ldquo;Saya mengapresiasi pasar modal yang berhasil tumbuh dan bertahan di tengah pandemi Covid-19,&amp;rdquo; ucap Menko Airlangga. Diketahui jumlah investor pasar modal terus meningkat dengan total 7,15 juta investor per November atau tumbuh 84,27% (ytd), ditopang oleh investor domestik. Kondisi ini memperkuat ketahanan pasar modal Indonesia dari goncangan eksternal.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8wNi8xLzE0MjUzOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selain itu, sepanjang 2021 tercatat ada 52 emiten baru di pasar saham  yang melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public  Offering (IPO) dengan total penghimpunan dana Rp62,2 Triliun.
Penghimpunan dana melalui IPO pada tahun ini tercatat masih bertumbuh  positif bahkan lebih baik dari realisasi pada tahun 2020 lalu yang  mencapai sebanyak 51 perusahaan IPO dengan total penghimpunan dana  senilai Rp5,58 triliun. &amp;ldquo;Terima kasih kepada para investor dan otoritas  bursa yang telah menjadi bagian penting dari proses pemulihan ekonomi,&amp;rdquo;  tutur Menko Airlangga.
Pemerintah tetap berkomitmen untuk melanjutkan berbagai program  pemulihan ekonomi dan reformasi struktural di tahun depan. Percepatan  investasi tentunya juga membutuhkan dukungan pembiayaan. Melalui  Sovereign Wealth Fund  yakni Lembaga Pengelola Investasi/ Indonesia  Invesment Authority (INA), Pemerintah akan terus berupaya memenuhi  berbagai kebutuhan pembiayaan untuk mengakselerasi pembangunan dan  pemulihan ekonomi nasional.
Terkini, Pemerintah juga telah berhasil mendapatkan 5 komitmen maupun  peluang investasi dengan investor-investor dari Persatuan Emirat Arab  (PEA/UAE) dengan estimasi nilai investasi US$ 9,05 miliar di berbagai  sektor strategis seperti infrastruktur digital, pelabuhan, energi, dan  jalan tol.
Sejalan dengan itu semua, Pemerintah terus memonitor sejumlah  tantangan dan risiko seperti inflasi, disrupsi supply chain, krisis  Evergrande di Tiongkok, serta risiko yang mempengaruhi capital flow  Indonesia seperti tapering off The FED dan potensi kenaikan suku bunga  acuan AS. Kondisi tersebut perlu diwaspadai agar tidak mengganggu  momentum pemulihan ekonomi ke depan.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pemulihan ekonomi Indonesia berlanjut seiring dengan terkendalinya situasi pandemi. Ekonomi tetap tumbuh positif sebesar 3,51% (yoy) pada Triwulan III-2021. Optimisme dan market confidence diharapkan dapat mendorong kembali peningkatan kinerja ekonomi di Triwulan IV-2021.
Kondisi tersebut diperkuat oleh konsumsi masyarakat yang terus pulih, terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level optimis serta penjualan ritel yang tumbuh positif. Demikian pula sisi investasi yang terus ekspansif, tercermin dari indikator PMI manufaktur, utilisasi industri pengolahan, impor barang modal dan bahan baku yang sedang dalam tren naik.
Baca Juga: Menparekraf Sandiaga Uno Kembangkan Produk Unggulan dan Ekosistem Ekonomi Kreatif Desa
 
Sektor eksternal juga menunjukkan ketahanan yang baik, di mana Neraca Pembayaran Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD10,7 Miliar pada Triwulan III-2021.
&amp;ldquo;Transaksi berjalan dan transaksi modal finansial berkontribusi terhadap pencapaian tersebut,&amp;rdquo; ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan keynote speech pada acara Economic Outlook Festival 2022 dengan tema &amp;ldquo;Roadmap Penanganan Covid-19, Ubah Pandemi Jadi Endemi, Ekonomi Tumbuh&amp;rdquo; yang diselenggarakan oleh IDX Channel, Rabu (15/12/2021).
Baca Juga: Menko Airlangga Yakin Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5% pada Kuartal IV
 
Transaksi berjalan ditopang oleh neraca perdagangan yang melanjutkan tren surplus selama 18 bulan berturut-turut, seiring kenaikan nilai ekspor dan harga komoditas. Sedangkan transaksi modal finansial diperkuat oleh investasi langsung dan portofolio, dengan sumber inflow salah satunya berasal dari instrumen saham di pasar modal.
&amp;ldquo;Saya mengapresiasi pasar modal yang berhasil tumbuh dan bertahan di tengah pandemi Covid-19,&amp;rdquo; ucap Menko Airlangga. Diketahui jumlah investor pasar modal terus meningkat dengan total 7,15 juta investor per November atau tumbuh 84,27% (ytd), ditopang oleh investor domestik. Kondisi ini memperkuat ketahanan pasar modal Indonesia dari goncangan eksternal.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8wNi8xLzE0MjUzOS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selain itu, sepanjang 2021 tercatat ada 52 emiten baru di pasar saham  yang melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public  Offering (IPO) dengan total penghimpunan dana Rp62,2 Triliun.
Penghimpunan dana melalui IPO pada tahun ini tercatat masih bertumbuh  positif bahkan lebih baik dari realisasi pada tahun 2020 lalu yang  mencapai sebanyak 51 perusahaan IPO dengan total penghimpunan dana  senilai Rp5,58 triliun. &amp;ldquo;Terima kasih kepada para investor dan otoritas  bursa yang telah menjadi bagian penting dari proses pemulihan ekonomi,&amp;rdquo;  tutur Menko Airlangga.
Pemerintah tetap berkomitmen untuk melanjutkan berbagai program  pemulihan ekonomi dan reformasi struktural di tahun depan. Percepatan  investasi tentunya juga membutuhkan dukungan pembiayaan. Melalui  Sovereign Wealth Fund  yakni Lembaga Pengelola Investasi/ Indonesia  Invesment Authority (INA), Pemerintah akan terus berupaya memenuhi  berbagai kebutuhan pembiayaan untuk mengakselerasi pembangunan dan  pemulihan ekonomi nasional.
Terkini, Pemerintah juga telah berhasil mendapatkan 5 komitmen maupun  peluang investasi dengan investor-investor dari Persatuan Emirat Arab  (PEA/UAE) dengan estimasi nilai investasi US$ 9,05 miliar di berbagai  sektor strategis seperti infrastruktur digital, pelabuhan, energi, dan  jalan tol.
Sejalan dengan itu semua, Pemerintah terus memonitor sejumlah  tantangan dan risiko seperti inflasi, disrupsi supply chain, krisis  Evergrande di Tiongkok, serta risiko yang mempengaruhi capital flow  Indonesia seperti tapering off The FED dan potensi kenaikan suku bunga  acuan AS. Kondisi tersebut perlu diwaspadai agar tidak mengganggu  momentum pemulihan ekonomi ke depan.</content:encoded></item></channel></rss>
