<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kaleidoskop 2021: Perjalanan Ekonomi Indonesia Berhasil Keluar dari Resesi</title><description>Ekonomi Indonesia berhasil keluar dari zona resesi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2021/12/28/320/2523209/kaleidoskop-2021-perjalanan-ekonomi-indonesia-berhasil-keluar-dari-resesi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2021/12/28/320/2523209/kaleidoskop-2021-perjalanan-ekonomi-indonesia-berhasil-keluar-dari-resesi"/><item><title>Kaleidoskop 2021: Perjalanan Ekonomi Indonesia Berhasil Keluar dari Resesi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2021/12/28/320/2523209/kaleidoskop-2021-perjalanan-ekonomi-indonesia-berhasil-keluar-dari-resesi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2021/12/28/320/2523209/kaleidoskop-2021-perjalanan-ekonomi-indonesia-berhasil-keluar-dari-resesi</guid><pubDate>Selasa 28 Desember 2021 07:35 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2021/12/27/320/2523209/kaleidoskop-2021-perjalanan-ekonomi-indonesia-berhasil-keluar-dari-resesi-5PSyOUQpE2.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi Indonesia keluar dari resesi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2021/12/27/320/2523209/kaleidoskop-2021-perjalanan-ekonomi-indonesia-berhasil-keluar-dari-resesi-5PSyOUQpE2.jpeg</image><title>Ekonomi Indonesia keluar dari resesi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi Indonesia berhasil keluar dari zona resesi. Adapun sejak kuartal II-2020 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus berada di zona negatif.
Hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia dan dunia sejak awal 2020. Pandemi covid-19 membuat berbagai sektor penggerak ekonomi menjadi terhambat.
Akan tetapi, pemerintah terus berupaya semaksimal mungkin mencari jalan keluar optimal untuk menangani pandemi Covid-19 yakni dengan strategi mempertahankan keseimbangan antara penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Seiring dengan berjalannya waktu, strategi ini terbukti memperoleh hasil relatif baik.
Baca Juga: BI Yakinkan Investor China soal Ekonomi RI Tumbuh 5% di 2022 
&amp;ldquo;Persentase kasus aktif Indonesia sampai dengan 1 September 2021 tercatat turun -57,73% sejak penerapan PPKM leveling 9 Agustus 2021 lalu. Sementara itu, kondisi kesembuhan juga menunjukkan angka yang baik, yaitu 92,12% dibandingkan global 89,41%, meskipun kita masih perlu memperbaiki untuk tingkat kematian nasional yang masih lebih tinggi dari rata-rata global, yaitu 3,26 % dibanding global 2,07%,&amp;rdquo; ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Indonesia pun turun kelas menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah. Penyebabnya, karena pandemi Covid-19 dan resesi yang belum teratasi.
Baca Juga: Ramalan IMF hingga World Bank soal Ekonomi Indonesia 2022, seperti Apa?
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih terkontraksi, yaitu berada di angka -0,74% secara year on year (yoy). Kondisi ini tentunya belum bisa membawa Indonesia keluar dari zona resesi.
Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 diproyeksi mencapai 6,4%. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memprediksikan estimasi ekonomi RI di kisaran 6,2% sampai 6,7%.
&amp;ldquo;Kami memperkirakan Indonesia akan keluar dari resesi pada kuartal II-2021,&amp;rdquo; kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8yNy80LzE0MzIyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Teuku menyatakan, aktivitas ekonomi pada kuartal II-2021 relatif  cukup kuat akibat beberapa faktor seperti pelonggaran peraturan  pembatasan sosial, stimulus pemerintah, serta periode Ramadhan dan Idul  Fitri.
Dia menjelaskan, memasuki kuartal II sebagai indikasi pemulihan  ekonomi yang signifikan, kinerja kredit meningkat tajam sepanjang April  dan Mei 2021 terutama didorong oleh peningkatan kredit modal kerja dan  kredit investasi.
Menurutnya, pertumbuhan positif pada kredit konsumsi dan akselerasi  inflasi inti menunjukkan daya beli mulai pulih meskipun konsumen masih  enggan berbelanja.
Kemudian, Indonesia juga terus mencatatkan surplus perdagangan selama  13 bulan berturut-turut sejak Mei tahun lalu di tengah awal gelombang  kedua pandemi Covid-19 hingga Juni 2021.
Namun, nyatanya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021  melebihi ekspektasi. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional  Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas)  mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7,07 % lebih  tinggi dari sejumlah negara lain di tengah lonjakan kasus harian  Covid-19.
&amp;ldquo;Jadi kalau untuk (pertumbuhan ekonomi) Indonesia dibandingkan negara  lain masih tergolong moderat,&amp;rdquo; kata Deputi Bidang Ekonomi Bappenas  Amalia Adininggar Widyasanti, dalam Webinar Outlook Perekonomian Global  dan Indonesia oleh Bappenas di Jakarta.
Amalia menambahkan, capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal  II-2021 juga berhasil mendorong Indonesia ke luar dari zona resesi.  Menyusul awetnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berada di zona  negatif sejak kuartal II-2020 lalu.
&amp;ldquo;Capaian triwulan (II) tersebut membuat Indonesia terlepas dari  resesi di tengah ketidakpastian dalam pemulihan ekonomi yang dipicu oleh  peningkatan kasus harian Covid-19 belakangan ini,&amp;rdquo; ujarnya.Meski begitu, dia meminta seluruh pemangku kepentingan agar tidak   terlena atas keberhasilan mencapai target pertumbuhan ekonomi pada   kuartal II tahun ini. Di antaranya dengan terus meningkatkan kolaborasi   dalam berbagai skenario untuk menjaga perekonomian Indonesia terus   berada di zona positif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 yang berhasil   tumbuh 7,07% secara year on year (yoy), didukung oleh beberapa sektor.
Lima sektor usaha memberikan kontribusi 64,85% terhadap Produk   Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II-2021. Usaha tersebut di   antaranya, yaitu industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan   pertambangan.
&amp;ldquo;Artinya pergerakan ekonomi pada sektor-sektor ini lah yang   berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,&amp;rdquo; kata   Kepala BPS Margo Yuwono.
Kelima sektor pendorong PDB pada triwulan II-2021 ini mengalami   pertumbuhan positif yaitu sektor industri sebesar 6,58%, pertanian 0,38%   perdagangan 9,44% konstruksi 4,42% dan pertambangan 5,22%.
Untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang tumbuh 0,38%   dipengaruhi oleh meningkatnya produksi perikanan budidaya dan produksi   tangkap sehingga mampu tumbuh 9,69%.
Hal itu juga didukung oleh peternakan yang tumbuh 7,07 % seiring   meningkatnya produksi unggas akibat tingginya permintaan sedangkan   tanaman hortikultura tumbuh 1,84%, karena meningkatnya permintaan   komoditas sayuran dan buah-buahan.Selanjutnya untuk sektor lapangan usaha perdagangan yang tumbuh 9,44%    didorong oleh adanya peningkatan sebesar 37,88% pada perdagangan   mobil,  sepeda motor dan reparasinya seiring program relaksasi PPnBM.
Tak hanya lima sektor penunjang utama PDB triwulan II-2021 tersebut,    seluruh sektor lapangan usaha juga mengalami pertumbuhan positif  selama   triwulan ini dengan yang paling tinggi adalah transportasi dan    pergudangan mencapai 25,1%.
Pertumbuhan sektor lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang    sebesar 25,1% terjadi, karena adanya peningkatan pergerakan penumpang    pada semua moda transportasi umum serta bongkar muat ekspor dan impor.
Kemudian disusul oleh sektor lapangan usaha akomodasi dan makan minum    yang tumbuh sebesar 21,58% meliputi 45,07% untuk penyediaan akomodasi    serta 17,88% untuk penyediaan makanan dan minuman.
Pertumbuhan tersebut terjadi seiring adanya relaksasi kebijakan    pembatasan aktivitas masyarakat, peningkatan kunjungan wisatawan lokal,    serta peningkatan tingkat hunian kamar hotel yang mencapai 38,55%.
Sementara, untuk sektor lapangan usaha lainnya meliputi jasa    kesehatan tumbuh 11,62%, jasa perusahaan 9,94%, administrasi    pemerintahan 9,49% dan pengadaan listrik dan gas 9,09%%.
Selanjutnya sektor lapangan usaha jasa keuangan tumbuh sebesar 8,35%,    infokom 6,87%, pengadaan air 5,78%, jasa pendidikan 5,72% dan real    estat 2,82%.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi Indonesia berhasil keluar dari zona resesi. Adapun sejak kuartal II-2020 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus berada di zona negatif.
Hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia dan dunia sejak awal 2020. Pandemi covid-19 membuat berbagai sektor penggerak ekonomi menjadi terhambat.
Akan tetapi, pemerintah terus berupaya semaksimal mungkin mencari jalan keluar optimal untuk menangani pandemi Covid-19 yakni dengan strategi mempertahankan keseimbangan antara penanggulangan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Seiring dengan berjalannya waktu, strategi ini terbukti memperoleh hasil relatif baik.
Baca Juga: BI Yakinkan Investor China soal Ekonomi RI Tumbuh 5% di 2022 
&amp;ldquo;Persentase kasus aktif Indonesia sampai dengan 1 September 2021 tercatat turun -57,73% sejak penerapan PPKM leveling 9 Agustus 2021 lalu. Sementara itu, kondisi kesembuhan juga menunjukkan angka yang baik, yaitu 92,12% dibandingkan global 89,41%, meskipun kita masih perlu memperbaiki untuk tingkat kematian nasional yang masih lebih tinggi dari rata-rata global, yaitu 3,26 % dibanding global 2,07%,&amp;rdquo; ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Indonesia pun turun kelas menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah. Penyebabnya, karena pandemi Covid-19 dan resesi yang belum teratasi.
Baca Juga: Ramalan IMF hingga World Bank soal Ekonomi Indonesia 2022, seperti Apa?
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih terkontraksi, yaitu berada di angka -0,74% secara year on year (yoy). Kondisi ini tentunya belum bisa membawa Indonesia keluar dari zona resesi.
Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 diproyeksi mencapai 6,4%. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memprediksikan estimasi ekonomi RI di kisaran 6,2% sampai 6,7%.
&amp;ldquo;Kami memperkirakan Indonesia akan keluar dari resesi pada kuartal II-2021,&amp;rdquo; kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8yNy80LzE0MzIyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Teuku menyatakan, aktivitas ekonomi pada kuartal II-2021 relatif  cukup kuat akibat beberapa faktor seperti pelonggaran peraturan  pembatasan sosial, stimulus pemerintah, serta periode Ramadhan dan Idul  Fitri.
Dia menjelaskan, memasuki kuartal II sebagai indikasi pemulihan  ekonomi yang signifikan, kinerja kredit meningkat tajam sepanjang April  dan Mei 2021 terutama didorong oleh peningkatan kredit modal kerja dan  kredit investasi.
Menurutnya, pertumbuhan positif pada kredit konsumsi dan akselerasi  inflasi inti menunjukkan daya beli mulai pulih meskipun konsumen masih  enggan berbelanja.
Kemudian, Indonesia juga terus mencatatkan surplus perdagangan selama  13 bulan berturut-turut sejak Mei tahun lalu di tengah awal gelombang  kedua pandemi Covid-19 hingga Juni 2021.
Namun, nyatanya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021  melebihi ekspektasi. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional  Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas)  mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7,07 % lebih  tinggi dari sejumlah negara lain di tengah lonjakan kasus harian  Covid-19.
&amp;ldquo;Jadi kalau untuk (pertumbuhan ekonomi) Indonesia dibandingkan negara  lain masih tergolong moderat,&amp;rdquo; kata Deputi Bidang Ekonomi Bappenas  Amalia Adininggar Widyasanti, dalam Webinar Outlook Perekonomian Global  dan Indonesia oleh Bappenas di Jakarta.
Amalia menambahkan, capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal  II-2021 juga berhasil mendorong Indonesia ke luar dari zona resesi.  Menyusul awetnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berada di zona  negatif sejak kuartal II-2020 lalu.
&amp;ldquo;Capaian triwulan (II) tersebut membuat Indonesia terlepas dari  resesi di tengah ketidakpastian dalam pemulihan ekonomi yang dipicu oleh  peningkatan kasus harian Covid-19 belakangan ini,&amp;rdquo; ujarnya.Meski begitu, dia meminta seluruh pemangku kepentingan agar tidak   terlena atas keberhasilan mencapai target pertumbuhan ekonomi pada   kuartal II tahun ini. Di antaranya dengan terus meningkatkan kolaborasi   dalam berbagai skenario untuk menjaga perekonomian Indonesia terus   berada di zona positif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 yang berhasil   tumbuh 7,07% secara year on year (yoy), didukung oleh beberapa sektor.
Lima sektor usaha memberikan kontribusi 64,85% terhadap Produk   Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II-2021. Usaha tersebut di   antaranya, yaitu industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan   pertambangan.
&amp;ldquo;Artinya pergerakan ekonomi pada sektor-sektor ini lah yang   berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,&amp;rdquo; kata   Kepala BPS Margo Yuwono.
Kelima sektor pendorong PDB pada triwulan II-2021 ini mengalami   pertumbuhan positif yaitu sektor industri sebesar 6,58%, pertanian 0,38%   perdagangan 9,44% konstruksi 4,42% dan pertambangan 5,22%.
Untuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang tumbuh 0,38%   dipengaruhi oleh meningkatnya produksi perikanan budidaya dan produksi   tangkap sehingga mampu tumbuh 9,69%.
Hal itu juga didukung oleh peternakan yang tumbuh 7,07 % seiring   meningkatnya produksi unggas akibat tingginya permintaan sedangkan   tanaman hortikultura tumbuh 1,84%, karena meningkatnya permintaan   komoditas sayuran dan buah-buahan.Selanjutnya untuk sektor lapangan usaha perdagangan yang tumbuh 9,44%    didorong oleh adanya peningkatan sebesar 37,88% pada perdagangan   mobil,  sepeda motor dan reparasinya seiring program relaksasi PPnBM.
Tak hanya lima sektor penunjang utama PDB triwulan II-2021 tersebut,    seluruh sektor lapangan usaha juga mengalami pertumbuhan positif  selama   triwulan ini dengan yang paling tinggi adalah transportasi dan    pergudangan mencapai 25,1%.
Pertumbuhan sektor lapangan usaha transportasi dan pergudangan yang    sebesar 25,1% terjadi, karena adanya peningkatan pergerakan penumpang    pada semua moda transportasi umum serta bongkar muat ekspor dan impor.
Kemudian disusul oleh sektor lapangan usaha akomodasi dan makan minum    yang tumbuh sebesar 21,58% meliputi 45,07% untuk penyediaan akomodasi    serta 17,88% untuk penyediaan makanan dan minuman.
Pertumbuhan tersebut terjadi seiring adanya relaksasi kebijakan    pembatasan aktivitas masyarakat, peningkatan kunjungan wisatawan lokal,    serta peningkatan tingkat hunian kamar hotel yang mencapai 38,55%.
Sementara, untuk sektor lapangan usaha lainnya meliputi jasa    kesehatan tumbuh 11,62%, jasa perusahaan 9,94%, administrasi    pemerintahan 9,49% dan pengadaan listrik dan gas 9,09%%.
Selanjutnya sektor lapangan usaha jasa keuangan tumbuh sebesar 8,35%,    infokom 6,87%, pengadaan air 5,78%, jasa pendidikan 5,72% dan real    estat 2,82%.</content:encoded></item></channel></rss>
