<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Periskop 2022: Cermat Kelola Keuangan agar Tak Boncos</title><description>Indonesia masih menghadapi ketidakpastian akibat situasi pandemi tak berkesudahan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/01/05/622/2527161/periskop-2022-cermat-kelola-keuangan-agar-tak-boncos</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/01/05/622/2527161/periskop-2022-cermat-kelola-keuangan-agar-tak-boncos"/><item><title>Periskop 2022: Cermat Kelola Keuangan agar Tak Boncos</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/01/05/622/2527161/periskop-2022-cermat-kelola-keuangan-agar-tak-boncos</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/01/05/622/2527161/periskop-2022-cermat-kelola-keuangan-agar-tak-boncos</guid><pubDate>Rabu 05 Januari 2022 07:16 WIB</pubDate><dc:creator>Zikra Mulia Irawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/04/622/2527161/periskop-2022-cermat-kelola-keuangan-agar-tak-boncos-cWpSVqLAfZ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tips mengelola keuangan di tahun baru (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/04/622/2527161/periskop-2022-cermat-kelola-keuangan-agar-tak-boncos-cWpSVqLAfZ.jpg</image><title>Tips mengelola keuangan di tahun baru (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia masih menghadapi ketidakpastian akibat situasi pandemi covid-19 tak berkesudahan. Meski jutaan dosis vaksin telah disuntikkan kepada masyarakat, kemunculan berbagai varian baru mau tak mau membuat Indonesia harus waspada akan adanya lonjakan kasus Covid-19.
Sebagaimana yang telah diketahui bersama, Juli 2021 lalu Indonesia mengalami mimpi buruk akibat penyebaran Covid-19 varian Delta. Masa itu belum banyak masyarakat yang mendapatkan dosis vaksinnya. Akibatnya, ratusan ribu nyawa harus gugur.
Hilangnya anggota keluarga berarti tatanan hidup ikut berubah pula. Sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan edukasi keuangan dengan baik. Akibatnya, banyak masyarakat yang belum siap secara finansial menjalani kehidupan barunya.
Baca Juga: Periskop 2022: Deretan Bisnis yang Menjanjikan Tahun Ini
 
Oleh karena itu, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho memberikan sejumlah tips mengelola keuangan untuk menghadapi situasi ini. Menurutnya, rencana keuangan itu ibaratkan strategi dalam permainan sepak bola.
&amp;ldquo;Ibaratnya main bola, ada yang pakai strategi beda-beda,&amp;rdquo; ucapnya kepada Okezone, Jakarta.
Dengan rencana keuangan, masyarakat akan lebih tahu untuk pos apa saja uang mereka dihabiskan. Dia sendiri menyarankan untuk menggunakan strategi 55:10:10:10:10:5. Lalu, terbagi ke dalam pos apa sajakah strategi itu? Simak rinciannya di bawah ini.
- 55% untuk kebutuhan sehari-hari
 
Pos dengan anggaran terbesar menurut versi Andy adalah kebutuhan sehari-hari. Pada pos ini, pembayaran cicilan juga termasuk. Zaman sekarang, masyarakat memiliki cicilan rumah atau kendaraan yang sifatnya bulanan.
Baca Juga: Periskop 2022: Indonesia Siap Produksi 2 Vaksin Covid-19
- 10% untuk dana darurat
 
Pos selanjutnya yaitu dana darurat dengan persentase 10%. Jika bisa, jumlah dana darurat yang disimpan masyarakat jumlahnya tiga kali lipat lebih besar dari gaji.
&amp;ldquo;Dana darurat idealnya tiga kali gaji. Sementara kita menyisihkan 10% dari gaji misal gaji kita 5 juta. Berarti nabung 500 ribu. Artinya dana darurat 15 juta. Jangankan 15 juta, menyisihkan 500 ribu jadi 15 juta aja lama, 30 bulan masih lama,&amp;rdquo; papar dia.
Maka dari itu, Andy sangat menyarankan masyarakat menyisihkan dana darurat untuk membayar premi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan ataupun asuransi kesehatan lainnya. Saat memiliki jaminan kesehatan, biaya perawatan pihak tertanggung akan secara otomatis dibayarkan oleh pihak asuransi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8yNy80LzE0MzIyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;ldquo;Dana darurat ini bisa diwujudkan dalam asuransi kesehatan atau premi  BPJS. Karena dengan kondisi sekarang yang kita rentan sakit dan  kalaupun sakit pasti butuh banyak biaya daripada penghasilan kita.  Daripada penghasilan kita lebih habis lagi untuk berobat, mending untuk  bayar premi BPJS, lah, minimal atau premi asuransi kesehatan,&amp;rdquo; imbuh  Andy.
Jika masyarakat ingin menyimpan dana darurat berupa uang tunai pun  sah-sah saja menurutnya. Kembali ke situasi jika seseorang jatuh sakit  dan harus dirawat inap, berbagai kebutuhan seperti transportasi dan  kebutuhan orang yang merawat tetap membutuhkan dana tunai.
&amp;ldquo;Tapi kalau kita dirawat ke rumah sakit kan kita tetap butuh uang  transport lah, atau orang yang nungguin kita sakit: makannya dia,  penginapannya dia. Dari mana dapet uangnya? Ya dari dana darurat itu  tadi. Jadi mungkin dana daruratnya bisa dibagi dua, pertama untuk bayar  premi asuransi kesehatannya atau BPJS dan kedua untuk pegangan cash-nya  kita,&amp;rdquo; paparnya.
- 10% untuk ditabung/diinvestasikan
 
Persentase 10% selanjutnya dialokasikan untuk pos yang tak kalah  pentingnya, yaitu tabungan atau investasi. Masyarakat Indonesia yang  cenderung mencari aman masih mengandalkan tabungan untuk menyimpan  asetnya.
&amp;ldquo;Kalau melihat dari kondisi saat ini, orang masih banyak yang  cenderung wait and see. Dana deposan di bank kan makin banyak aja. Cuma  kalau saya melihatnya adalah dengan tergantung bagaimana pada pemerintah  bisa  mengendalikan Covid ini. Kalau saya, sih, melihatnya Indonesia  sekarang bagus banget dengan Q3 yang udah positif,&amp;rdquo; kata Andy.
Kabar baiknya, masyarakat Indonesia kini telah lebih melek investasi.  Hanya saja, hal yang masih disayangkan Andy adalah keinginan masyarakat  agar mendapatkan imbal hasil besar dengan cepat. Pola ini sering kali  membuat masyarakat kurang memperhatikan risiko yang menanti di kemudian  hari.
&amp;ldquo;Kalau yang saya perhatikan selama pandemi ini adalah temen-temen  milenial ini mulai demam investasi terutama kripto. Saya bilang sih  enggak salah. Ya, asalkan jangan asal, tapi harus dianalisa dulu  terutama risikonya. Jangan hanya dilihat imbal hasil,&amp;rdquo; pesan Andy.
Jika masih tetap ingin berinvestasi, dia menyarankan agar masyarakat  mencoba investasi saham, Obligasi Ritel Indonesia (ORI), sukuk ritel,  atau reksadana saham. Menurutnya, investasi-investasi tersebut dapat  memberikan imbal hasil yang besar dengan profil risiko yang lebih rendah  dibandingkan kripto.- 10% untuk me time
 
Kebutuhan me time atau yang kini lebih populer dengan istilah healing   masih dianggap sepele oleh beberapa orang. Namun, Andy menyarankan   masyarakat untuk menyisihkan 10% gajinya untuk hal ini. Menurutnya,   melakukan me time adalah wujud apresiasi kepada diri yang telah bekerja   keras selama ini.
&amp;ldquo;Untuk healing, boleh atau ga boleh? Boleh banget. Saya menyarankan   karena kita udah bekerja keras setelah sekian lama,&amp;rdquo; ujar Andy.
Sebagai catatan, Andy mewanti-wanti masyarakat untuk tetap mengatur   diri agar pengeluaran tak jadi membengkak. Hal ini juga akan mencegah   diri untuk memakai uang dari pos tabungan atau investasi.
&amp;ldquo;Healing boleh ga? Harus banget. Cuma, gitu ya, healing-nya diatur   dong, kontrol dong. Jangan seminggu sekali healing. Kemudian sekalinya   healing ke Bali, Raja Ampat, Paris. Duitnya dari mana? Yang kemarin   ditabung? Wah itu jadi masalah,&amp;rdquo; kata dia.
- 10% untuk upgrade skill
 
Rencana keuangan versi Andy bahkan menganjurkan agar masyarakat dapat   menyisihkan 10% penghasilannya untuk meningkatkan kemampuan. Tujuannya   tak lain agar ada tambahan penghasilan dari kemampuan tersebut yang   dapat dilakukan di luar waktu kerja.
- 5% untuk beramal
 
Alokasi keuangan terakhir yaitu dana untuk beramal sebesar 5%. Dana   tersebut dapat disalurkan melalui platform donasi yang sudah banyak   tersedia di internet. Di situasi seperti ini, ada banyak saudara sesama   makhluk hidup yang membutuhkan pertolongan.
- Alternatif strategi keuangan
 
Strategi keuangan lain yang dapat digunakan masyarakat adalah   strategi yang sudah umum disarankan, yaitu 50:30:20. Strategi ini   membagi keuangan ke dalam tiga pos, yaitu kebutuhan, keinginan, dan   tabungan/investasi. Menurut Andy, strategi keuangan ini juga masih bisa   relevan karena kondisi keuangan setiap orang yang berbeda-beda.
&amp;ldquo;Untuk strategi 50:30:20 kalau dibilang masih relevan, ya masih   relevan. Kenapa alasannya? Alasannya adalah memang itu kita jadikan   patokan atau sebagai guidance untuk membelanjakan uang yang kita miliki.   Nah, nantinya kita punya gambaran sudah mengeluarkan uang untuk  pos-pos  apa saja sih?&amp;rdquo; paparnya.- Kebiasaan finansial yang harus dibangun di 2022
 
Agar kondisi keuangan 2022 lebih sehat, Andy menyarankan masyarakat    untuk belajar menahan diri dari pengeluaran yang bisa dihindari,    misalnya bersenang-senang. Dia memahami betul bahwa rasa bosan sudah    dialami oleh banyak orang. Namun, keadaan mengharuskan kita lebih    berhati-hati dalam membelanjakan uang.
&amp;ldquo;Jangan sampai dengan alasan kita udah bosen, terus kita menghabiskan    banyak uang untuk jalan-jalan. Pertama pasti akan menghabiskan banyak    pendapatan kita, terus kemungkinan terpapar virus akan menjadi lebih    besar,&amp;rdquo; jelasnya.
Selain itu, tes antigen yang menjadi syarat jika seseorang hendak    bepergian juga akan memengaruhi keuangan. Jika dilakukan terlalu sering,    hal ini tentu bisa membuat kantong jadi boncos.
&amp;ldquo;Dengan masih adanya Covid, akan adanya pengeluaran-pengeluaran yang    mungkin akan menjadi bumerang dalam tanda kutip bisa kita hindari,   misal  kita harus tes antigen. Ya jangan sampai kita habis banyak hanya   untuk  antigen yang sudah jadi kewajiban,&amp;rdquo; imbuh dia.
Oleh karena itu, Andy mengimbau masyarakat untuk lebih mengatur lagi    gaya hidupnya. Akan lebih baik jika masyarakat menyesuaikannya dengan    budget yang tersedia. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengalami    kondisi keuangan yang merugikan di kemudian hari, misalnya menggunakan    paylater.
&amp;ldquo;Atau bela-belain sampai harus pakai paylater. Nah itu yang kurang    baik. Kenapa? Karena itu tadi, kita masih dalam kondisi seperti ini,    kita tetap harus waspada. Kita jangan sampai sakit, lho. Kalau kita    sakit, jadi bangkrut. Enggak punya duit lagi, enggak bisa berobat    gara-gara duit kita habis untuk healing ini tadi. Jadi healing itu boleh    atau enggak, perlu atau enggak, perlu banget. Cuma diatur aja sesuai    budget kita,&amp;rdquo; pungkas Andy.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia masih menghadapi ketidakpastian akibat situasi pandemi covid-19 tak berkesudahan. Meski jutaan dosis vaksin telah disuntikkan kepada masyarakat, kemunculan berbagai varian baru mau tak mau membuat Indonesia harus waspada akan adanya lonjakan kasus Covid-19.
Sebagaimana yang telah diketahui bersama, Juli 2021 lalu Indonesia mengalami mimpi buruk akibat penyebaran Covid-19 varian Delta. Masa itu belum banyak masyarakat yang mendapatkan dosis vaksinnya. Akibatnya, ratusan ribu nyawa harus gugur.
Hilangnya anggota keluarga berarti tatanan hidup ikut berubah pula. Sayangnya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan edukasi keuangan dengan baik. Akibatnya, banyak masyarakat yang belum siap secara finansial menjalani kehidupan barunya.
Baca Juga: Periskop 2022: Deretan Bisnis yang Menjanjikan Tahun Ini
 
Oleh karena itu, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho memberikan sejumlah tips mengelola keuangan untuk menghadapi situasi ini. Menurutnya, rencana keuangan itu ibaratkan strategi dalam permainan sepak bola.
&amp;ldquo;Ibaratnya main bola, ada yang pakai strategi beda-beda,&amp;rdquo; ucapnya kepada Okezone, Jakarta.
Dengan rencana keuangan, masyarakat akan lebih tahu untuk pos apa saja uang mereka dihabiskan. Dia sendiri menyarankan untuk menggunakan strategi 55:10:10:10:10:5. Lalu, terbagi ke dalam pos apa sajakah strategi itu? Simak rinciannya di bawah ini.
- 55% untuk kebutuhan sehari-hari
 
Pos dengan anggaran terbesar menurut versi Andy adalah kebutuhan sehari-hari. Pada pos ini, pembayaran cicilan juga termasuk. Zaman sekarang, masyarakat memiliki cicilan rumah atau kendaraan yang sifatnya bulanan.
Baca Juga: Periskop 2022: Indonesia Siap Produksi 2 Vaksin Covid-19
- 10% untuk dana darurat
 
Pos selanjutnya yaitu dana darurat dengan persentase 10%. Jika bisa, jumlah dana darurat yang disimpan masyarakat jumlahnya tiga kali lipat lebih besar dari gaji.
&amp;ldquo;Dana darurat idealnya tiga kali gaji. Sementara kita menyisihkan 10% dari gaji misal gaji kita 5 juta. Berarti nabung 500 ribu. Artinya dana darurat 15 juta. Jangankan 15 juta, menyisihkan 500 ribu jadi 15 juta aja lama, 30 bulan masih lama,&amp;rdquo; papar dia.
Maka dari itu, Andy sangat menyarankan masyarakat menyisihkan dana darurat untuk membayar premi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan ataupun asuransi kesehatan lainnya. Saat memiliki jaminan kesehatan, biaya perawatan pihak tertanggung akan secara otomatis dibayarkan oleh pihak asuransi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMS8xMi8yNy80LzE0MzIyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;ldquo;Dana darurat ini bisa diwujudkan dalam asuransi kesehatan atau premi  BPJS. Karena dengan kondisi sekarang yang kita rentan sakit dan  kalaupun sakit pasti butuh banyak biaya daripada penghasilan kita.  Daripada penghasilan kita lebih habis lagi untuk berobat, mending untuk  bayar premi BPJS, lah, minimal atau premi asuransi kesehatan,&amp;rdquo; imbuh  Andy.
Jika masyarakat ingin menyimpan dana darurat berupa uang tunai pun  sah-sah saja menurutnya. Kembali ke situasi jika seseorang jatuh sakit  dan harus dirawat inap, berbagai kebutuhan seperti transportasi dan  kebutuhan orang yang merawat tetap membutuhkan dana tunai.
&amp;ldquo;Tapi kalau kita dirawat ke rumah sakit kan kita tetap butuh uang  transport lah, atau orang yang nungguin kita sakit: makannya dia,  penginapannya dia. Dari mana dapet uangnya? Ya dari dana darurat itu  tadi. Jadi mungkin dana daruratnya bisa dibagi dua, pertama untuk bayar  premi asuransi kesehatannya atau BPJS dan kedua untuk pegangan cash-nya  kita,&amp;rdquo; paparnya.
- 10% untuk ditabung/diinvestasikan
 
Persentase 10% selanjutnya dialokasikan untuk pos yang tak kalah  pentingnya, yaitu tabungan atau investasi. Masyarakat Indonesia yang  cenderung mencari aman masih mengandalkan tabungan untuk menyimpan  asetnya.
&amp;ldquo;Kalau melihat dari kondisi saat ini, orang masih banyak yang  cenderung wait and see. Dana deposan di bank kan makin banyak aja. Cuma  kalau saya melihatnya adalah dengan tergantung bagaimana pada pemerintah  bisa  mengendalikan Covid ini. Kalau saya, sih, melihatnya Indonesia  sekarang bagus banget dengan Q3 yang udah positif,&amp;rdquo; kata Andy.
Kabar baiknya, masyarakat Indonesia kini telah lebih melek investasi.  Hanya saja, hal yang masih disayangkan Andy adalah keinginan masyarakat  agar mendapatkan imbal hasil besar dengan cepat. Pola ini sering kali  membuat masyarakat kurang memperhatikan risiko yang menanti di kemudian  hari.
&amp;ldquo;Kalau yang saya perhatikan selama pandemi ini adalah temen-temen  milenial ini mulai demam investasi terutama kripto. Saya bilang sih  enggak salah. Ya, asalkan jangan asal, tapi harus dianalisa dulu  terutama risikonya. Jangan hanya dilihat imbal hasil,&amp;rdquo; pesan Andy.
Jika masih tetap ingin berinvestasi, dia menyarankan agar masyarakat  mencoba investasi saham, Obligasi Ritel Indonesia (ORI), sukuk ritel,  atau reksadana saham. Menurutnya, investasi-investasi tersebut dapat  memberikan imbal hasil yang besar dengan profil risiko yang lebih rendah  dibandingkan kripto.- 10% untuk me time
 
Kebutuhan me time atau yang kini lebih populer dengan istilah healing   masih dianggap sepele oleh beberapa orang. Namun, Andy menyarankan   masyarakat untuk menyisihkan 10% gajinya untuk hal ini. Menurutnya,   melakukan me time adalah wujud apresiasi kepada diri yang telah bekerja   keras selama ini.
&amp;ldquo;Untuk healing, boleh atau ga boleh? Boleh banget. Saya menyarankan   karena kita udah bekerja keras setelah sekian lama,&amp;rdquo; ujar Andy.
Sebagai catatan, Andy mewanti-wanti masyarakat untuk tetap mengatur   diri agar pengeluaran tak jadi membengkak. Hal ini juga akan mencegah   diri untuk memakai uang dari pos tabungan atau investasi.
&amp;ldquo;Healing boleh ga? Harus banget. Cuma, gitu ya, healing-nya diatur   dong, kontrol dong. Jangan seminggu sekali healing. Kemudian sekalinya   healing ke Bali, Raja Ampat, Paris. Duitnya dari mana? Yang kemarin   ditabung? Wah itu jadi masalah,&amp;rdquo; kata dia.
- 10% untuk upgrade skill
 
Rencana keuangan versi Andy bahkan menganjurkan agar masyarakat dapat   menyisihkan 10% penghasilannya untuk meningkatkan kemampuan. Tujuannya   tak lain agar ada tambahan penghasilan dari kemampuan tersebut yang   dapat dilakukan di luar waktu kerja.
- 5% untuk beramal
 
Alokasi keuangan terakhir yaitu dana untuk beramal sebesar 5%. Dana   tersebut dapat disalurkan melalui platform donasi yang sudah banyak   tersedia di internet. Di situasi seperti ini, ada banyak saudara sesama   makhluk hidup yang membutuhkan pertolongan.
- Alternatif strategi keuangan
 
Strategi keuangan lain yang dapat digunakan masyarakat adalah   strategi yang sudah umum disarankan, yaitu 50:30:20. Strategi ini   membagi keuangan ke dalam tiga pos, yaitu kebutuhan, keinginan, dan   tabungan/investasi. Menurut Andy, strategi keuangan ini juga masih bisa   relevan karena kondisi keuangan setiap orang yang berbeda-beda.
&amp;ldquo;Untuk strategi 50:30:20 kalau dibilang masih relevan, ya masih   relevan. Kenapa alasannya? Alasannya adalah memang itu kita jadikan   patokan atau sebagai guidance untuk membelanjakan uang yang kita miliki.   Nah, nantinya kita punya gambaran sudah mengeluarkan uang untuk  pos-pos  apa saja sih?&amp;rdquo; paparnya.- Kebiasaan finansial yang harus dibangun di 2022
 
Agar kondisi keuangan 2022 lebih sehat, Andy menyarankan masyarakat    untuk belajar menahan diri dari pengeluaran yang bisa dihindari,    misalnya bersenang-senang. Dia memahami betul bahwa rasa bosan sudah    dialami oleh banyak orang. Namun, keadaan mengharuskan kita lebih    berhati-hati dalam membelanjakan uang.
&amp;ldquo;Jangan sampai dengan alasan kita udah bosen, terus kita menghabiskan    banyak uang untuk jalan-jalan. Pertama pasti akan menghabiskan banyak    pendapatan kita, terus kemungkinan terpapar virus akan menjadi lebih    besar,&amp;rdquo; jelasnya.
Selain itu, tes antigen yang menjadi syarat jika seseorang hendak    bepergian juga akan memengaruhi keuangan. Jika dilakukan terlalu sering,    hal ini tentu bisa membuat kantong jadi boncos.
&amp;ldquo;Dengan masih adanya Covid, akan adanya pengeluaran-pengeluaran yang    mungkin akan menjadi bumerang dalam tanda kutip bisa kita hindari,   misal  kita harus tes antigen. Ya jangan sampai kita habis banyak hanya   untuk  antigen yang sudah jadi kewajiban,&amp;rdquo; imbuh dia.
Oleh karena itu, Andy mengimbau masyarakat untuk lebih mengatur lagi    gaya hidupnya. Akan lebih baik jika masyarakat menyesuaikannya dengan    budget yang tersedia. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengalami    kondisi keuangan yang merugikan di kemudian hari, misalnya menggunakan    paylater.
&amp;ldquo;Atau bela-belain sampai harus pakai paylater. Nah itu yang kurang    baik. Kenapa? Karena itu tadi, kita masih dalam kondisi seperti ini,    kita tetap harus waspada. Kita jangan sampai sakit, lho. Kalau kita    sakit, jadi bangkrut. Enggak punya duit lagi, enggak bisa berobat    gara-gara duit kita habis untuk healing ini tadi. Jadi healing itu boleh    atau enggak, perlu atau enggak, perlu banget. Cuma diatur aja sesuai    budget kita,&amp;rdquo; pungkas Andy.</content:encoded></item></channel></rss>
