<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Krisis Ekonomi Venezuela, Rakyat Kesulitan Mencari Nafkah</title><description>Krisis ekonomi melanda Venezuela sejak perekonomian Venezuela anjlok hingga 80% pada 2013 hingga 2021.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/01/09/320/2529458/krisis-ekonomi-venezuela-rakyat-kesulitan-mencari-nafkah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/01/09/320/2529458/krisis-ekonomi-venezuela-rakyat-kesulitan-mencari-nafkah"/><item><title>Krisis Ekonomi Venezuela, Rakyat Kesulitan Mencari Nafkah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/01/09/320/2529458/krisis-ekonomi-venezuela-rakyat-kesulitan-mencari-nafkah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/01/09/320/2529458/krisis-ekonomi-venezuela-rakyat-kesulitan-mencari-nafkah</guid><pubDate>Minggu 09 Januari 2022 11:21 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi BBC Indonesia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/01/09/320/2529458/krisis-ekonomi-venezuela-rakyat-kesulitan-mencari-nafkah-spY2wuCWgT.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Venezuela alami krisis ekonomi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/01/09/320/2529458/krisis-ekonomi-venezuela-rakyat-kesulitan-mencari-nafkah-spY2wuCWgT.jpeg</image><title>Venezuela alami krisis ekonomi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Krisis ekonomi melanda Venezuela. Krisis dimulai sejak perekonomian Venezuela anjlok hingga 80% pada 2013 hingga 2021, kehadiran mata uang dolar di jalanan telah mengacaukan sektor formal.
Survei nasional yang dilakukan Universitas Katolik di Venezuela pada 2014-2021, jumlah pekerjaan formal menurun sebesar 4,4 juta. Jumlah itu setara dengan populasi produktif di negara itu. Sepanjang 2021 saja, sebanyak 1,3 juta pekerjaan formal telah tutup.
Baca Juga: PM Baru Lebanon Cari 'Perbaikan Cepat' Keluar dari Krisis Ekonomi
Selain itu, jumlah pekerjaan formal yang tersisa tidak sampai 40% dari total jumlah pekerja. Tetapi apabila studi lain dipertimbangkan, misalnya dengan mengukur jumlah pekerja informal melalui jumlah orang yang terdaftar dalam program jaminan sosial, maka jumlah pekerja formal menurun menjadi 20%. Angka itu merupakan yang terendah di Amerika Latin.
Krisis yang terjadi pada sektor formal tidak hanya berdampak pada orang-orang yang mencari nafkah di jalanan.
BBC Mundo mewawancarai seorang petugas penjaga keamanan yang kini menjadi tukang reparasi microwave, seorang insinyur yang kini memasang pipa ledeng, seorang guru yang berjualan selai dan saus pasta, serta guru lainnya yang bekerja di restoran pizza.
Baca Juga: Krisis Ekonomi Myanmar, Warga Kesulitan Ambil Uang di Bank
Banyak orang Venezuela mengandalkan pekerjaan sampingan. Beberapa di antaranya bekerja hingga tujuh hari dalam satu minggu, bahkan mendedikasikan waktu 12 jam per hari demi penghasilan tambahan.
Oscar, bukan nama sebenarnya, sebelumnya menjalani sekolah sebagai koki dan memulai bisnis perbankan online. Tetapi saat ini, dia menghasilkan uang melalui gim.
&quot;Orang-orang bisa menghasilkan USD50 (Rp717.000) per bulan, lebih banyak dibandingkan upah minimum atau uang pensiun (yang hanya berkisar USD5 (Rp71.730) hingga USD10 (Rp143.460), tetapi itu pun belum cukup,&quot; kata Oscar.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMS8xMi8xLzEwNzc1OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Oscar menghabiskan hari-harinya dengan bermain Axie Infinity, sebuah  gim karakter yang bisa diperjualbelikan menggunakan NFT (non-fungible  token, produk turunan dari kripto).
&quot;Orang-orang di sini bahkan bisa menghasilkan USD50 (Rp717.000) dalam  waktu satu hingga dua jam bekerja, ini adalah penyelamat,&quot; jelas dia.
Dengan memonetisasi Axie Infinity, mereka biasanya menghasilkan  rata-rata USD800 (Rp11,4 juta) per bulan. Venezuela pun kini menjadi  negara kedua dengan pengguna Axie Infinity terbanyak di dunia setelah  Filipina, menurut data lalu lintas internet yang diterbitkan SimilarWeb.
&quot;Ada beberapa cara untuk menghasilkan uang lewat gim ini, dengan investasi yang tidak begitu besar,&quot; papar Oscar.
&quot;Cara kerjanya membuat kami membutuhkan kerja sama tim untuk bisa  mengalahkan pemain lain. Rekan bermain saya di antaranya adalah seorang  dokter gigi yang meluangkan waktu untuk bermain ini saat menunggu  pasien, hingga pekerja di supermarket yang bermain di waktu luangnya.&quot;
'Memburu harimau'
Ada ungkapan 'memburu harimau' di Venezuela bagi orang-orang yang  harus bertahan dengan bekerja di luar ranah spesialisasinya. Istilah itu  mulanya popular di dunia hiburan sejak era 1930-an, ketika banyak  musisi tidak memiliki latar belakang profesional.
Sejak saat itu, terutama di tengah krisis ekonomi terburuk dalam  sejarah Amerika seperti saat ini, orang-orang Venezuela pun terpaksa  'berburu harimau'.
&quot;Pekerjaan informal justru menghasilkan lebih banyak uang. Banyak  orang, terutama yang bekerja di sektor publik mengundurkan diri atau  meninggalkan pekerjaan mereka begitu saja, kemudian mendedikasikan waktu  mereka untuk hal lain,&quot; kata Pengamat ekonomi dan bisnis Demetrio  Marotta.&quot;Negara bisa dibilang telah kolaps, sehingga jaminan sosial tidak   lagi bisa memberi perlindungan bagi mereka untuk kehidupan yang stabil,&quot;   lanjut dia.
Ekonom lainnya, Asdr&amp;uacute;bal Oliveros mengatakan, &quot;Hiperinflasi tidak   hanya menghancurkan mata uang Venezuela, tetapi juga mengancam   stabilitas pekerjaan. Situasi yang genting membuat orang memprioritaskan   penghasilan yang bisa menutupi kebutuhan sehari-hari mereka   dibandingkan pekerjaan yang secara teori memberi stabilitas.&quot;
&quot;Dolarisasi terjadi lebih cepat pada sektor informal dibandingkan   sektor formal, sebab banyak perusahaan masih menggunakan mata uang   bolivar,&quot; kata Oliveros.
Krisis ekonomi Venezuela telah berdampak besar bagi pelayanan publik,   termasuk transportasi publik yang tidak lagi efisien karena kekurangan   bahan bakar dan suku cadang.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Krisis ekonomi melanda Venezuela. Krisis dimulai sejak perekonomian Venezuela anjlok hingga 80% pada 2013 hingga 2021, kehadiran mata uang dolar di jalanan telah mengacaukan sektor formal.
Survei nasional yang dilakukan Universitas Katolik di Venezuela pada 2014-2021, jumlah pekerjaan formal menurun sebesar 4,4 juta. Jumlah itu setara dengan populasi produktif di negara itu. Sepanjang 2021 saja, sebanyak 1,3 juta pekerjaan formal telah tutup.
Baca Juga: PM Baru Lebanon Cari 'Perbaikan Cepat' Keluar dari Krisis Ekonomi
Selain itu, jumlah pekerjaan formal yang tersisa tidak sampai 40% dari total jumlah pekerja. Tetapi apabila studi lain dipertimbangkan, misalnya dengan mengukur jumlah pekerja informal melalui jumlah orang yang terdaftar dalam program jaminan sosial, maka jumlah pekerja formal menurun menjadi 20%. Angka itu merupakan yang terendah di Amerika Latin.
Krisis yang terjadi pada sektor formal tidak hanya berdampak pada orang-orang yang mencari nafkah di jalanan.
BBC Mundo mewawancarai seorang petugas penjaga keamanan yang kini menjadi tukang reparasi microwave, seorang insinyur yang kini memasang pipa ledeng, seorang guru yang berjualan selai dan saus pasta, serta guru lainnya yang bekerja di restoran pizza.
Baca Juga: Krisis Ekonomi Myanmar, Warga Kesulitan Ambil Uang di Bank
Banyak orang Venezuela mengandalkan pekerjaan sampingan. Beberapa di antaranya bekerja hingga tujuh hari dalam satu minggu, bahkan mendedikasikan waktu 12 jam per hari demi penghasilan tambahan.
Oscar, bukan nama sebenarnya, sebelumnya menjalani sekolah sebagai koki dan memulai bisnis perbankan online. Tetapi saat ini, dia menghasilkan uang melalui gim.
&quot;Orang-orang bisa menghasilkan USD50 (Rp717.000) per bulan, lebih banyak dibandingkan upah minimum atau uang pensiun (yang hanya berkisar USD5 (Rp71.730) hingga USD10 (Rp143.460), tetapi itu pun belum cukup,&quot; kata Oscar.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8wMS8xMi8xLzEwNzc1OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Oscar menghabiskan hari-harinya dengan bermain Axie Infinity, sebuah  gim karakter yang bisa diperjualbelikan menggunakan NFT (non-fungible  token, produk turunan dari kripto).
&quot;Orang-orang di sini bahkan bisa menghasilkan USD50 (Rp717.000) dalam  waktu satu hingga dua jam bekerja, ini adalah penyelamat,&quot; jelas dia.
Dengan memonetisasi Axie Infinity, mereka biasanya menghasilkan  rata-rata USD800 (Rp11,4 juta) per bulan. Venezuela pun kini menjadi  negara kedua dengan pengguna Axie Infinity terbanyak di dunia setelah  Filipina, menurut data lalu lintas internet yang diterbitkan SimilarWeb.
&quot;Ada beberapa cara untuk menghasilkan uang lewat gim ini, dengan investasi yang tidak begitu besar,&quot; papar Oscar.
&quot;Cara kerjanya membuat kami membutuhkan kerja sama tim untuk bisa  mengalahkan pemain lain. Rekan bermain saya di antaranya adalah seorang  dokter gigi yang meluangkan waktu untuk bermain ini saat menunggu  pasien, hingga pekerja di supermarket yang bermain di waktu luangnya.&quot;
'Memburu harimau'
Ada ungkapan 'memburu harimau' di Venezuela bagi orang-orang yang  harus bertahan dengan bekerja di luar ranah spesialisasinya. Istilah itu  mulanya popular di dunia hiburan sejak era 1930-an, ketika banyak  musisi tidak memiliki latar belakang profesional.
Sejak saat itu, terutama di tengah krisis ekonomi terburuk dalam  sejarah Amerika seperti saat ini, orang-orang Venezuela pun terpaksa  'berburu harimau'.
&quot;Pekerjaan informal justru menghasilkan lebih banyak uang. Banyak  orang, terutama yang bekerja di sektor publik mengundurkan diri atau  meninggalkan pekerjaan mereka begitu saja, kemudian mendedikasikan waktu  mereka untuk hal lain,&quot; kata Pengamat ekonomi dan bisnis Demetrio  Marotta.&quot;Negara bisa dibilang telah kolaps, sehingga jaminan sosial tidak   lagi bisa memberi perlindungan bagi mereka untuk kehidupan yang stabil,&quot;   lanjut dia.
Ekonom lainnya, Asdr&amp;uacute;bal Oliveros mengatakan, &quot;Hiperinflasi tidak   hanya menghancurkan mata uang Venezuela, tetapi juga mengancam   stabilitas pekerjaan. Situasi yang genting membuat orang memprioritaskan   penghasilan yang bisa menutupi kebutuhan sehari-hari mereka   dibandingkan pekerjaan yang secara teori memberi stabilitas.&quot;
&quot;Dolarisasi terjadi lebih cepat pada sektor informal dibandingkan   sektor formal, sebab banyak perusahaan masih menggunakan mata uang   bolivar,&quot; kata Oliveros.
Krisis ekonomi Venezuela telah berdampak besar bagi pelayanan publik,   termasuk transportasi publik yang tidak lagi efisien karena kekurangan   bahan bakar dan suku cadang.</content:encoded></item></channel></rss>
