<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Inflasi Januari 2,18%, Kemenkeu: Konsumsi Menguat</title><description>BPS mencatat inflasi pada Januari 2022 sebesar 2,18% (yoy) atau meningkat dari angka Desember 2021 sebesar 1,87% (yoy).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/02/320/2541526/inflasi-januari-2-18-kemenkeu-konsumsi-menguat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/02/320/2541526/inflasi-januari-2-18-kemenkeu-konsumsi-menguat"/><item><title>Inflasi Januari 2,18%, Kemenkeu: Konsumsi Menguat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/02/320/2541526/inflasi-januari-2-18-kemenkeu-konsumsi-menguat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/02/320/2541526/inflasi-januari-2-18-kemenkeu-konsumsi-menguat</guid><pubDate>Rabu 02 Februari 2022 19:26 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/02/320/2541526/inflasi-januari-2-18-kemenkeu-konsumsi-menguat-um2sbntXVm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Inflasi meningkat karena konsumsi membaik (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/02/320/2541526/inflasi-januari-2-18-kemenkeu-konsumsi-menguat-um2sbntXVm.jpg</image><title>Inflasi meningkat karena konsumsi membaik (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - BPS mencatat inflasi pada Januari 2022 sebesar 2,18% (yoy) atau meningkat dari angka Desember 2021 sebesar 1,87% (yoy). Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyatakan peningkatan laju inflasi pada Januari 2022 terjadi seiring menguatnya aktivitas konsumsi masyarakat.
&amp;ldquo;Kenaikan harga komoditas dan beberapa harga pangan karena faktor cuaca basah juga berkontribusi pada inflasi tersebut,&amp;rdquo; katanya di Jakarta, Rabu (2/2/2022).
Baca Juga: Pendorong Inflasi Januari 2022, Daging Ayam hingga Listrik
 
Febrio memastikan pemerintah senantiasa menjaga harga-harga energi domestik seperti BBM pada harga yang tetap meski terjadi kenaikan harga komoditas.
&amp;ldquo;Hal ini ditujukan agar daya beli masyarakat terhadap kebutuhan energi pokok tetap terjaga,&amp;rdquo; ujarnya.
Untuk inflasi inti juga terus melanjutkan tren peningkatan yakni mencapai kisaran 1,84% (yoy) atau naik dari angka Desember 2021 yang sebesar 1,56% (yoy).
Baca Juga: Inflasi Januari 2022 Sebesar 0,56%, Tertinggi di Sibolga
Menurut Febrio, membaiknya sisi permintaan seiring naiknya mobilitas masyarakat telah mendorong peningkatan inflasi inti di tengah risiko tekanan inflasi impor sebagai dampak masih tingginya harga komoditas.
Selanjutnya, inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food meningkat mencapai 3,35% (yoy) atau naik dari angka Desember 2021 sebesar 3,2% (yoy).
Dia menjelaskan meningkatnya permintaan seiring dengan membaiknya kondisi pandemi baik oleh konsumen rumah tangga maupun sektor akomodasi dan restoran yang telah mendorong kenaikan harga.&amp;ldquo;Kenaikan harga minyak goreng mulai terkendali dengan intervensi pemerintah dan harga patokan yang ditetapkan,&amp;rdquo; tambahnya.
Kebijakan domestic market obligation (DMO) dan domestic price  obligation (DPO) oleh Kementerian Perdagangan diharapkan efektif dalam  mengendalikan harga di minyak goreng di pasar.
Dia menegaskan pemerintah akan terus berkomitmen untuk menjaga  momentum pemulihan konsumsi masyarakat dengan masih memberlakukan  kebijakan akomodatif pada harga energi domestik ke depan.
Selain itu, untuk menjaga stabilitas harga di tingkat nasional maka  pemerintah pusat dan daerah juga akan selalu berkoordinasi dengan Bank  Indonesia serta otoritas terkait demi menciptakan bauran kebijakan yang  tepat.
Pemerintah pun tetap memberikan bantuan untuk menjaga daya beli  kelompok masyarakat miskin dan rentan dengan mengalokasikan anggaran  perlindungan sosial sebesar Rp431,5 triliun.</description><content:encoded>JAKARTA - BPS mencatat inflasi pada Januari 2022 sebesar 2,18% (yoy) atau meningkat dari angka Desember 2021 sebesar 1,87% (yoy). Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyatakan peningkatan laju inflasi pada Januari 2022 terjadi seiring menguatnya aktivitas konsumsi masyarakat.
&amp;ldquo;Kenaikan harga komoditas dan beberapa harga pangan karena faktor cuaca basah juga berkontribusi pada inflasi tersebut,&amp;rdquo; katanya di Jakarta, Rabu (2/2/2022).
Baca Juga: Pendorong Inflasi Januari 2022, Daging Ayam hingga Listrik
 
Febrio memastikan pemerintah senantiasa menjaga harga-harga energi domestik seperti BBM pada harga yang tetap meski terjadi kenaikan harga komoditas.
&amp;ldquo;Hal ini ditujukan agar daya beli masyarakat terhadap kebutuhan energi pokok tetap terjaga,&amp;rdquo; ujarnya.
Untuk inflasi inti juga terus melanjutkan tren peningkatan yakni mencapai kisaran 1,84% (yoy) atau naik dari angka Desember 2021 yang sebesar 1,56% (yoy).
Baca Juga: Inflasi Januari 2022 Sebesar 0,56%, Tertinggi di Sibolga
Menurut Febrio, membaiknya sisi permintaan seiring naiknya mobilitas masyarakat telah mendorong peningkatan inflasi inti di tengah risiko tekanan inflasi impor sebagai dampak masih tingginya harga komoditas.
Selanjutnya, inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food meningkat mencapai 3,35% (yoy) atau naik dari angka Desember 2021 sebesar 3,2% (yoy).
Dia menjelaskan meningkatnya permintaan seiring dengan membaiknya kondisi pandemi baik oleh konsumen rumah tangga maupun sektor akomodasi dan restoran yang telah mendorong kenaikan harga.&amp;ldquo;Kenaikan harga minyak goreng mulai terkendali dengan intervensi pemerintah dan harga patokan yang ditetapkan,&amp;rdquo; tambahnya.
Kebijakan domestic market obligation (DMO) dan domestic price  obligation (DPO) oleh Kementerian Perdagangan diharapkan efektif dalam  mengendalikan harga di minyak goreng di pasar.
Dia menegaskan pemerintah akan terus berkomitmen untuk menjaga  momentum pemulihan konsumsi masyarakat dengan masih memberlakukan  kebijakan akomodatif pada harga energi domestik ke depan.
Selain itu, untuk menjaga stabilitas harga di tingkat nasional maka  pemerintah pusat dan daerah juga akan selalu berkoordinasi dengan Bank  Indonesia serta otoritas terkait demi menciptakan bauran kebijakan yang  tepat.
Pemerintah pun tetap memberikan bantuan untuk menjaga daya beli  kelompok masyarakat miskin dan rentan dengan mengalokasikan anggaran  perlindungan sosial sebesar Rp431,5 triliun.</content:encoded></item></channel></rss>
