<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BTN (BBTN) Kantongi Laba Rp2,3 Triliun di 2021, Naik 48%</title><description>PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengantongi laba bersih Rp2,37 triliun sepanjang 2021.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/08/278/2543967/btn-bbtn-kantongi-laba-rp2-3-triliun-di-2021-naik-48</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/08/278/2543967/btn-bbtn-kantongi-laba-rp2-3-triliun-di-2021-naik-48"/><item><title>BTN (BBTN) Kantongi Laba Rp2,3 Triliun di 2021, Naik 48%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/08/278/2543967/btn-bbtn-kantongi-laba-rp2-3-triliun-di-2021-naik-48</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/08/278/2543967/btn-bbtn-kantongi-laba-rp2-3-triliun-di-2021-naik-48</guid><pubDate>Selasa 08 Februari 2022 12:24 WIB</pubDate><dc:creator>Agregasi Harian Neraca</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/08/278/2543967/btn-bbtn-kantongi-laba-rp2-3-triliun-di-2021-naik-48-00gqPdixgN.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Laba BTN naik 48% pada 2021 (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/08/278/2543967/btn-bbtn-kantongi-laba-rp2-3-triliun-di-2021-naik-48-00gqPdixgN.jpeg</image><title>Laba BTN naik 48% pada 2021 (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengantongi laba bersih Rp2,37 triliun sepanjang 2021. Laba BTN tumbuh 48,3% dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp1,6 triliun.
Kenaikan laba bersih ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh 5,66%, dari Rp260,11 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp274,83 triliun pada tahun 2021 (year on year/yoy). Pertumbuhan kredit tersebut  disertai dengan penurunan Non Performing Loan (NPL) Gross Bank BTN yang tercatat sebesar 3,70% pada tahun 2021, berkurang jauh dari tahun 2020 di kisaran 4,37%.
&quot;Adapun NPL Nett juga membaik dari 2,06% tahun 2020 menjadi 1,20% tahun 2021,&amp;rdquo; kata Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo, Selasa (8/2/2022).
BACA JUGA:BTN Kucurkan Rp325 Triliun untuk KPR, 76% Rumah Subsidi

Disampaikannya, pertumbuhan kredit Bank BTN mengonfirmasi bahwa sektor perumahan terbukti cukup tangguh dalam melewati masa krisis ekonomi akibat pandemi. Pembiayaan pemilikan rumah tetap mengalir sekalipun daya beli konsumen relatif turun. Ini terbukti dari penyaluran kredit perseroan tahun 2021 yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 dan berada di atas rata-rata kredit industri perbankan pada kisaran 5,24%.
Berbagai insentif yang diberikan pemerintah, lanjutnya berhasil menjaga daya beli konsumen sehingga permintaan kredit rumah tetap meningkat. &amp;ldquo;Kami optimistis, pada saat ekonomi semakin pulih, dan pandemi berlalu sepenuhnya, permintaan KPR  dapat meningkat lebih tinggi lagi,&amp;rdquo; kata Haru.
BACA JUGA:Tambah Modal, BTN Bakal Rights Issue Tahun Depan

Untuk diketahui, pada periode 2019-2020, saat perekonomian nasional terhimpit krisis dan penyaluran kredit industri perbankan mengalami kontraksi 2,5%, BTN merupakan satu dari sedikit bank yang berhasil membukukan pertumbuhan kredit. Kini, ketika ekonomi berangsur pulih, dan sektor properti menjadi lokomotif pertumbuhan, BTN bisa berperan lebih besar lagi.
Haru mengungkapkan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi masih menjadi penopang utama pertumbuhan kredit Bank BTN dengan kenaikan sebesar 8,25% yoy menjadi Rp130,68 triliun pada tahun 2021 dibandingkan  tahun 2020 sebesar Rp120,72 triliun.
Adapun KPR Non-Subsidi juga turut menunjukkan kenaikan di level 4,14% yoy menjadi Rp83,25 triliun pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp79,93 triliun. Kenaikan penyaluran KPR Subsidi tersebut membuat Bank BTN masih mendominasi pangsa KPR Subsidi sekitar 90%. Sementara KPR secara nasional Bank BTN menguasai pangsa pasar sekitar 40%.Pertumbuhan penyaluran kredit, lanjut Haru, juga berdampak pada  pendapatan bunga (Net Interest Income/NII) yang tumbuh sebesar 44,7%  dari Rp9,10 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp13,20 triliun di tahun  2021. Kenaikan NII ini menghasilkan Net Interest Margin (NIM) ke level  3,99% pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020 yang baru sekitar 3,06%.
&amp;ldquo;NIM kami terus membaik dari waktu ke waktu. Hal ini menunjukkan  biaya dana atau cost of fund semakin baik, sejalan dengan meningkatnya  porsi dana murah (CASA),&amp;rdquo; tegasnya.
Haru memaparkan, total dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun  Bank BTN sepanjang tahun 2021 mencapai Rp295,98 triliun naik 6,03%  dibandingkan perolehan di tahun 2020 yang sebesar Rp279,14 triliun. Dari  jumlah DPK tersebut komposisi dana murah mengalami kenaikan 319 bps  dari 41,11% menjadi 44,3%.  Kenaikan komposisi dana murah ini membuat  cost of fund Bank BTN hingga tahun 2021 mengalami penurunan signifikan  sebanyak 166 bps menjadi 3,13% dibandingkan tahun 2020 yang masih 4,79%.
&amp;ldquo;Hal ini menunjukkan keberhasilan Bank BTN dalam meningkatkan porsi dana murah,&amp;rdquo; tegas Haru.
Dari sisi kecukupan likuiditas, menurutnya, Bank BTN dalam posisi  yang sangat sehat. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada level  92,86%, membaik dari posisi tahun lalu di 93,19%. Angka ini lebih baik  dari LDR perseroan tahun 2018 dan 2019 yang masing-masing sebesar  103,49% dan 113,5%. &amp;ldquo;LDR tahun 2021 ini merupakan LDR terendah sepanjang  lima tahun terakhir,&amp;rdquo; paparnya.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengantongi laba bersih Rp2,37 triliun sepanjang 2021. Laba BTN tumbuh 48,3% dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp1,6 triliun.
Kenaikan laba bersih ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh 5,66%, dari Rp260,11 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp274,83 triliun pada tahun 2021 (year on year/yoy). Pertumbuhan kredit tersebut  disertai dengan penurunan Non Performing Loan (NPL) Gross Bank BTN yang tercatat sebesar 3,70% pada tahun 2021, berkurang jauh dari tahun 2020 di kisaran 4,37%.
&quot;Adapun NPL Nett juga membaik dari 2,06% tahun 2020 menjadi 1,20% tahun 2021,&amp;rdquo; kata Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo, Selasa (8/2/2022).
BACA JUGA:BTN Kucurkan Rp325 Triliun untuk KPR, 76% Rumah Subsidi

Disampaikannya, pertumbuhan kredit Bank BTN mengonfirmasi bahwa sektor perumahan terbukti cukup tangguh dalam melewati masa krisis ekonomi akibat pandemi. Pembiayaan pemilikan rumah tetap mengalir sekalipun daya beli konsumen relatif turun. Ini terbukti dari penyaluran kredit perseroan tahun 2021 yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 dan berada di atas rata-rata kredit industri perbankan pada kisaran 5,24%.
Berbagai insentif yang diberikan pemerintah, lanjutnya berhasil menjaga daya beli konsumen sehingga permintaan kredit rumah tetap meningkat. &amp;ldquo;Kami optimistis, pada saat ekonomi semakin pulih, dan pandemi berlalu sepenuhnya, permintaan KPR  dapat meningkat lebih tinggi lagi,&amp;rdquo; kata Haru.
BACA JUGA:Tambah Modal, BTN Bakal Rights Issue Tahun Depan

Untuk diketahui, pada periode 2019-2020, saat perekonomian nasional terhimpit krisis dan penyaluran kredit industri perbankan mengalami kontraksi 2,5%, BTN merupakan satu dari sedikit bank yang berhasil membukukan pertumbuhan kredit. Kini, ketika ekonomi berangsur pulih, dan sektor properti menjadi lokomotif pertumbuhan, BTN bisa berperan lebih besar lagi.
Haru mengungkapkan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi masih menjadi penopang utama pertumbuhan kredit Bank BTN dengan kenaikan sebesar 8,25% yoy menjadi Rp130,68 triliun pada tahun 2021 dibandingkan  tahun 2020 sebesar Rp120,72 triliun.
Adapun KPR Non-Subsidi juga turut menunjukkan kenaikan di level 4,14% yoy menjadi Rp83,25 triliun pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp79,93 triliun. Kenaikan penyaluran KPR Subsidi tersebut membuat Bank BTN masih mendominasi pangsa KPR Subsidi sekitar 90%. Sementara KPR secara nasional Bank BTN menguasai pangsa pasar sekitar 40%.Pertumbuhan penyaluran kredit, lanjut Haru, juga berdampak pada  pendapatan bunga (Net Interest Income/NII) yang tumbuh sebesar 44,7%  dari Rp9,10 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp13,20 triliun di tahun  2021. Kenaikan NII ini menghasilkan Net Interest Margin (NIM) ke level  3,99% pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2020 yang baru sekitar 3,06%.
&amp;ldquo;NIM kami terus membaik dari waktu ke waktu. Hal ini menunjukkan  biaya dana atau cost of fund semakin baik, sejalan dengan meningkatnya  porsi dana murah (CASA),&amp;rdquo; tegasnya.
Haru memaparkan, total dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun  Bank BTN sepanjang tahun 2021 mencapai Rp295,98 triliun naik 6,03%  dibandingkan perolehan di tahun 2020 yang sebesar Rp279,14 triliun. Dari  jumlah DPK tersebut komposisi dana murah mengalami kenaikan 319 bps  dari 41,11% menjadi 44,3%.  Kenaikan komposisi dana murah ini membuat  cost of fund Bank BTN hingga tahun 2021 mengalami penurunan signifikan  sebanyak 166 bps menjadi 3,13% dibandingkan tahun 2020 yang masih 4,79%.
&amp;ldquo;Hal ini menunjukkan keberhasilan Bank BTN dalam meningkatkan porsi dana murah,&amp;rdquo; tegas Haru.
Dari sisi kecukupan likuiditas, menurutnya, Bank BTN dalam posisi  yang sangat sehat. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada level  92,86%, membaik dari posisi tahun lalu di 93,19%. Angka ini lebih baik  dari LDR perseroan tahun 2018 dan 2019 yang masing-masing sebesar  103,49% dan 113,5%. &amp;ldquo;LDR tahun 2021 ini merupakan LDR terendah sepanjang  lima tahun terakhir,&amp;rdquo; paparnya.</content:encoded></item></channel></rss>
