<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cenderung Boros, Inilah 3 Habit yang Buat Gen Z Tanpa Sadar Terlilit Utang</title><description>Ada 3 kebiasaan atau habit yang tanpa sadar dapat menyeret Gen Z ke masalah utang. Apa saja? Berikut adalah ulasannya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/11/2546030/cenderung-boros-inilah-3-habit-yang-buat-gen-z-tanpa-sadar-terlilit-utang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/11/2546030/cenderung-boros-inilah-3-habit-yang-buat-gen-z-tanpa-sadar-terlilit-utang"/><item><title>Cenderung Boros, Inilah 3 Habit yang Buat Gen Z Tanpa Sadar Terlilit Utang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/11/2546030/cenderung-boros-inilah-3-habit-yang-buat-gen-z-tanpa-sadar-terlilit-utang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/11/2546030/cenderung-boros-inilah-3-habit-yang-buat-gen-z-tanpa-sadar-terlilit-utang</guid><pubDate>Jum'at 11 Februari 2022 20:54 WIB</pubDate><dc:creator>Karina Asta Widara </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/11/11/2546030/cenderung-boros-inilah-3-habit-yang-buat-gen-z-tanpa-sadar-terlilit-utang-mEzaaPhlIs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Dok Pexels</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/11/11/2546030/cenderung-boros-inilah-3-habit-yang-buat-gen-z-tanpa-sadar-terlilit-utang-mEzaaPhlIs.jpg</image><title>Foto: Dok Pexels</title></images><description>Bagi Anda yang lahir di kisaran tahun 1995 hingga 2010, Anda termasuk ke dalam kategori Gen Z atau Generasi Z. Generasi tersebut digadang-gadang sebagai generasi dengan jumlah populasi terbesar secara global dan cukup berpengaruh terhadap pergerakan ekonomi atau kondisi finansial secara umum.
Sebagai generasi yang mempunyai kekuatan keuangan cukup signifikan, Gen Z diharap mampu bersikap bijak dalam menggunakan uangnya. Jika tidak cermat saat mengatur keuangan, bukan tidak mungkin kebiasaan tersebut malah bisa berakibat fatal di kemudian hari.
Imbasnya, orang-orang dari generasi tersebut berisiko mengalami masalah keuangan serius di masa depan. Salah satu masalah yang mungkin terjadi akibat sikap boros dan konsumtif pada Gen Z adalah terlilit utang.
Berdasarkan analisis pakar keuangan, ada tiga kebiasaan atau habit yang tanpa sadar dapat menyeret Gen Z ke masalah utang. Apa saja? Berikut adalah ulasannya.
1.	Sulit Mengontrol Gaya Hidup
Gaya hidup yang cenderung konsumtif, boros, dan terkesan menghambur-hamburkan uang merupakan akar dari masalah keuangan serius di masa mendatang. Nyatanya, hal ini sering kali dilakukan oleh generasi ini.
Walaupun memiliki kondisi finansial yang dibilang kuat sekalipun, lambat laun keuangan akan tetap porak-poranda jika Anda tidak bisa mengontrol gaya hidup. Jika penghasilan selalu habis tak bersisa untuk memenuhi gaya hidup yang boros, Gen Z tidak akan memiliki sisa dana untuk dijadikan tabungan ataupun dana darurat. Alhasil, saat kebutuhan atau masalah keuangan mendesak muncul, Gen Z tidak mampu mengatasinya sehingga terpaksa untuk mengajukan pinjaman uang.
Beberapa kebiasaan yang sering kali menguras keuangan Gen Z adalah nongkrong di tempat yang terlampau fancy, atau memenuhi kebutuhan dengan belanja online karena alasan gengsi semata.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Sempurnakan Perlindungan dengan Asuransi Kesehatan Tambahan, Ini 3 Hal yang Perlu Dipertimbangkan
2.	Ketergantungan Akan Layanan Kartu Kredit
Selain sulit mengontrol gaya hidup, kebiasaan menggunakan kartu kredit pada setiap transaksi juga bisa memicu masalah keuangan pada Gen Z. Perlu dipahami jika pemakaian kartu kredit saat berbelanja mampu membengkakkan tagihan melalui bunga serta biaya layanan.
Belum lagi jika kartu kredit ternyata digunakan untuk membeli barang atau kebutuhan yang sifatnya konsumtif dan tidak terlalu mendesak diperlukan. Tidak butuh waktu lama Anda akan menyadari bahwa kebiasaan tersebut memberi pengaruh buruk terhadap kondisi keuangan dengan beban cicilan yang semakin menggunung.
Beberapa contoh penggunaan kartu kredit yang kurang tepat adalah untuk membeli barang-barang bermerek dengan harga terlampau mahal atau penggunaan kartu kredit sampai melebihi limit. Saat kartu kredit digunakan untuk hal-hal tersebut, tanpa sadar tagihannya sudah menumpuk dan menjadi terlalu berat untuk bisa dilunasi.
3.	Terlalu Asyik Memanfaatkan Sistem Pembayaran Paylater
Kebiasaan terakhir yang mampu membuat Gen Z tanpa sadar terlilit utang adalah memanfaatkan sistem pembayaran paylater secara berlebihan. Pada dasarnya, layanan paylater bisa sangat menguntungkan apabila digunakan dengan cara yang tepat.
Perlu dipahami jika paylater bukanlah sarana mendapatkan tambahan dana untuk memenuhi hasrat berbelanja Anda. Setiap tagihan belanja yang dilunasi menggunakan metode pembayaran ini harus dikembalikan sesuai waktu dan nominal yang telah ditentukan dengan tambahan bunga serta biaya layanan.
Idealnya, hanya gunakan paylater untuk memenuhi kebutuhan mendesak atau penting saja seperti membayar tagihan internet, pembelian pulsa, atau token listrik.
Yang terpenting, pastikan cicilannya terjangkau dan jangan pernah terlambat membayar tagihan paylater agar tak membengkak akibat denda keterlambatan. Hal serupa juga perlu Anda lakukan saat menggunakan kartu kredit maupun produk pinjaman lainnya agar terhindar dari risiko terlilit utang.
4. Mulai Pikirkan Masa Depan agar Lebih Bijak Atur Keuangan Masa Kini
Itulah tiga kebiasaan atau habit yang sering kali dilakukan oleh Gen Z dan rentan menyeret mereka ke masalah keuangan. Untuk menyiasatinya, dibutuhkan edukasi finansial dan niat yang kuat agar kebiasaan tersebut secara berkala bisa dihilangkan.
Agar hal tersebut bisa diwujudkan masa sekarang, mulai bangun kebiasaan hidup lebih hemat dan pikirkan rencana maupun target keuangan yang ingin diraih di masa depan.


(CM)
</description><content:encoded>Bagi Anda yang lahir di kisaran tahun 1995 hingga 2010, Anda termasuk ke dalam kategori Gen Z atau Generasi Z. Generasi tersebut digadang-gadang sebagai generasi dengan jumlah populasi terbesar secara global dan cukup berpengaruh terhadap pergerakan ekonomi atau kondisi finansial secara umum.
Sebagai generasi yang mempunyai kekuatan keuangan cukup signifikan, Gen Z diharap mampu bersikap bijak dalam menggunakan uangnya. Jika tidak cermat saat mengatur keuangan, bukan tidak mungkin kebiasaan tersebut malah bisa berakibat fatal di kemudian hari.
Imbasnya, orang-orang dari generasi tersebut berisiko mengalami masalah keuangan serius di masa depan. Salah satu masalah yang mungkin terjadi akibat sikap boros dan konsumtif pada Gen Z adalah terlilit utang.
Berdasarkan analisis pakar keuangan, ada tiga kebiasaan atau habit yang tanpa sadar dapat menyeret Gen Z ke masalah utang. Apa saja? Berikut adalah ulasannya.
1.	Sulit Mengontrol Gaya Hidup
Gaya hidup yang cenderung konsumtif, boros, dan terkesan menghambur-hamburkan uang merupakan akar dari masalah keuangan serius di masa mendatang. Nyatanya, hal ini sering kali dilakukan oleh generasi ini.
Walaupun memiliki kondisi finansial yang dibilang kuat sekalipun, lambat laun keuangan akan tetap porak-poranda jika Anda tidak bisa mengontrol gaya hidup. Jika penghasilan selalu habis tak bersisa untuk memenuhi gaya hidup yang boros, Gen Z tidak akan memiliki sisa dana untuk dijadikan tabungan ataupun dana darurat. Alhasil, saat kebutuhan atau masalah keuangan mendesak muncul, Gen Z tidak mampu mengatasinya sehingga terpaksa untuk mengajukan pinjaman uang.
Beberapa kebiasaan yang sering kali menguras keuangan Gen Z adalah nongkrong di tempat yang terlampau fancy, atau memenuhi kebutuhan dengan belanja online karena alasan gengsi semata.
BACA JUGA:&amp;nbsp;Sempurnakan Perlindungan dengan Asuransi Kesehatan Tambahan, Ini 3 Hal yang Perlu Dipertimbangkan
2.	Ketergantungan Akan Layanan Kartu Kredit
Selain sulit mengontrol gaya hidup, kebiasaan menggunakan kartu kredit pada setiap transaksi juga bisa memicu masalah keuangan pada Gen Z. Perlu dipahami jika pemakaian kartu kredit saat berbelanja mampu membengkakkan tagihan melalui bunga serta biaya layanan.
Belum lagi jika kartu kredit ternyata digunakan untuk membeli barang atau kebutuhan yang sifatnya konsumtif dan tidak terlalu mendesak diperlukan. Tidak butuh waktu lama Anda akan menyadari bahwa kebiasaan tersebut memberi pengaruh buruk terhadap kondisi keuangan dengan beban cicilan yang semakin menggunung.
Beberapa contoh penggunaan kartu kredit yang kurang tepat adalah untuk membeli barang-barang bermerek dengan harga terlampau mahal atau penggunaan kartu kredit sampai melebihi limit. Saat kartu kredit digunakan untuk hal-hal tersebut, tanpa sadar tagihannya sudah menumpuk dan menjadi terlalu berat untuk bisa dilunasi.
3.	Terlalu Asyik Memanfaatkan Sistem Pembayaran Paylater
Kebiasaan terakhir yang mampu membuat Gen Z tanpa sadar terlilit utang adalah memanfaatkan sistem pembayaran paylater secara berlebihan. Pada dasarnya, layanan paylater bisa sangat menguntungkan apabila digunakan dengan cara yang tepat.
Perlu dipahami jika paylater bukanlah sarana mendapatkan tambahan dana untuk memenuhi hasrat berbelanja Anda. Setiap tagihan belanja yang dilunasi menggunakan metode pembayaran ini harus dikembalikan sesuai waktu dan nominal yang telah ditentukan dengan tambahan bunga serta biaya layanan.
Idealnya, hanya gunakan paylater untuk memenuhi kebutuhan mendesak atau penting saja seperti membayar tagihan internet, pembelian pulsa, atau token listrik.
Yang terpenting, pastikan cicilannya terjangkau dan jangan pernah terlambat membayar tagihan paylater agar tak membengkak akibat denda keterlambatan. Hal serupa juga perlu Anda lakukan saat menggunakan kartu kredit maupun produk pinjaman lainnya agar terhindar dari risiko terlilit utang.
4. Mulai Pikirkan Masa Depan agar Lebih Bijak Atur Keuangan Masa Kini
Itulah tiga kebiasaan atau habit yang sering kali dilakukan oleh Gen Z dan rentan menyeret mereka ke masalah keuangan. Untuk menyiasatinya, dibutuhkan edukasi finansial dan niat yang kuat agar kebiasaan tersebut secara berkala bisa dihilangkan.
Agar hal tersebut bisa diwujudkan masa sekarang, mulai bangun kebiasaan hidup lebih hemat dan pikirkan rencana maupun target keuangan yang ingin diraih di masa depan.


(CM)
</content:encoded></item></channel></rss>
