<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Moody's Pertahankan Peringkat Utang RI di Atas Investment Grade tapi Ingatkan soal Beban Berat Ini</title><description>Lembaga pemeringkat Moody's mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada peringkat Baa2</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/320/2545525/moody-s-pertahankan-peringkat-utang-ri-di-atas-investment-grade-tapi-ingatkan-soal-beban-berat-ini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/320/2545525/moody-s-pertahankan-peringkat-utang-ri-di-atas-investment-grade-tapi-ingatkan-soal-beban-berat-ini"/><item><title>Moody's Pertahankan Peringkat Utang RI di Atas Investment Grade tapi Ingatkan soal Beban Berat Ini</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/320/2545525/moody-s-pertahankan-peringkat-utang-ri-di-atas-investment-grade-tapi-ingatkan-soal-beban-berat-ini</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/320/2545525/moody-s-pertahankan-peringkat-utang-ri-di-atas-investment-grade-tapi-ingatkan-soal-beban-berat-ini</guid><pubDate>Jum'at 11 Februari 2022 06:35 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/11/320/2545525/moody-s-pertahankan-peringkat-utang-ri-di-atas-investment-grade-tapi-ingatkan-soal-beban-berat-ini-OzkDhKuglw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Moodys pertahankan peringkat Indonesia invesment grade (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/11/320/2545525/moody-s-pertahankan-peringkat-utang-ri-di-atas-investment-grade-tapi-ingatkan-soal-beban-berat-ini-OzkDhKuglw.jpg</image><title>Moodys pertahankan peringkat Indonesia invesment grade (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Lembaga pemeringkat Moody's mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada peringkat Baa2 atau satu tingkat di atas investment grade, dengan outlook stabil pada 10 Februari 2022. Moody's memandang keputusan ini sejalan dengan hasil asesmen bahwa ketahanan ekonomi Indonesia serta efektivitas kebijakan moneter dan makroekonomi tetap terjaga.
Kebijakan reformasi struktural yang ditempuh oleh Pemerintah juga diyakini akan mendukung peningkatan investasi dan menopang perbaikan daya saing ekspor. Di sisi lain, reformasi perpajakan melalui penerbitan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) dan rencana normalisasi kebijakan fiskal diperkirakan dapat mendukung terjaganya beban utang Pemerintah.
BACA JUGA:Bank Indonesia-Central Bank of the United Arab Emirates Teken Perjanjian Kerjasama

Menanggapi keputusan Moody's tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, afirmasi rating Indonesia pada peringkat Baa2 dengan outlook stabil merupakan bentuk pengakuan positif dari Moody's sebagai salah satu lembaga pemeringkat utama dunia.
&quot;Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia tetap terjaga, sementara prospek ekonomi jangka menengah tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global yang meningkat,&quot; kata dia, Jumat (11/2/2022).
Menurut Perry, hal ini didukung oleh kredibilitas kebijakan yang tinggi dan bauran kebijakan antara Bank Indonesia, Pemerintah, dan otoritas lainnya yang efektif. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik.
BACA JUGA:Pengumuman! Bank Indonesia Buka Lowongan Kerja, Buruan Daftar Cuma Sampai 22 November

&quot;BI terus mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta terus melakukan sinergi dengan Pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional,&quot; tukasnya.
Untuk dua tahun ke depan, Moody's memproyeksikan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali kepada level sebelum pandemi yaitu mencapai 5%. Rata-rata tersebut lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain yang berada pada peringkat Baa, yaitu 3,7%.Perkiraan peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut juga  didukung oleh berbagai reformasi struktural yang telah ditempuh  Pemerintah, seperti UU Cipta Kerja dan UU HPP, yang diarahkan untuk  perbaikan iklim investasi dan peningkatan penerimaan Pemerintah.
Dari sisi fiskal, Moody's memperkirakan beban utang Pemerintah masih  akan meningkat ke level 42,5% dari PDB pada 2023, namun masih jauh lebih  rendah dibandingkan negara-negara lain yang berada pada peringkat Baa  ,yaitu 64% dari PDB. Selain itu, Moody's melihat kemampuan membayar  utang Pemerintah, serta porsi pinjaman dalam mata uang asing, masih  memberikan risiko terhadap kondisi fiskal.
Menurut Moody's, strategi normalisasi kebijakan moneter dan fiskal  yang ditempuh bank sentral dan Pemerintah merupakan dasar terjaganya  kredibilitas kebijakan. Dukungan Bank Indonesia dalam pembiayaan defisit  fiskal telah membantu terjaganya stabilitas pasar surat berharga  Pemerintah sekaligus memberikan ruang alokasi anggaran untuk belanja  Pemerintah yang lebih produktif. Moody's juga memberikan penekanan bahwa  normalisasi kebijakan yang dilakukan dengan tepat waktu sangat penting  sifatnya untuk menjaga kredibilitas kebijakan.
Moody's sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada Baa2 dengan outlook Stabil pada 10 Februari 2020.</description><content:encoded>JAKARTA - Lembaga pemeringkat Moody's mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada peringkat Baa2 atau satu tingkat di atas investment grade, dengan outlook stabil pada 10 Februari 2022. Moody's memandang keputusan ini sejalan dengan hasil asesmen bahwa ketahanan ekonomi Indonesia serta efektivitas kebijakan moneter dan makroekonomi tetap terjaga.
Kebijakan reformasi struktural yang ditempuh oleh Pemerintah juga diyakini akan mendukung peningkatan investasi dan menopang perbaikan daya saing ekspor. Di sisi lain, reformasi perpajakan melalui penerbitan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) dan rencana normalisasi kebijakan fiskal diperkirakan dapat mendukung terjaganya beban utang Pemerintah.
BACA JUGA:Bank Indonesia-Central Bank of the United Arab Emirates Teken Perjanjian Kerjasama

Menanggapi keputusan Moody's tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, afirmasi rating Indonesia pada peringkat Baa2 dengan outlook stabil merupakan bentuk pengakuan positif dari Moody's sebagai salah satu lembaga pemeringkat utama dunia.
&quot;Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia tetap terjaga, sementara prospek ekonomi jangka menengah tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global yang meningkat,&quot; kata dia, Jumat (11/2/2022).
Menurut Perry, hal ini didukung oleh kredibilitas kebijakan yang tinggi dan bauran kebijakan antara Bank Indonesia, Pemerintah, dan otoritas lainnya yang efektif. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik.
BACA JUGA:Pengumuman! Bank Indonesia Buka Lowongan Kerja, Buruan Daftar Cuma Sampai 22 November

&quot;BI terus mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta terus melakukan sinergi dengan Pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional,&quot; tukasnya.
Untuk dua tahun ke depan, Moody's memproyeksikan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali kepada level sebelum pandemi yaitu mencapai 5%. Rata-rata tersebut lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain yang berada pada peringkat Baa, yaitu 3,7%.Perkiraan peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut juga  didukung oleh berbagai reformasi struktural yang telah ditempuh  Pemerintah, seperti UU Cipta Kerja dan UU HPP, yang diarahkan untuk  perbaikan iklim investasi dan peningkatan penerimaan Pemerintah.
Dari sisi fiskal, Moody's memperkirakan beban utang Pemerintah masih  akan meningkat ke level 42,5% dari PDB pada 2023, namun masih jauh lebih  rendah dibandingkan negara-negara lain yang berada pada peringkat Baa  ,yaitu 64% dari PDB. Selain itu, Moody's melihat kemampuan membayar  utang Pemerintah, serta porsi pinjaman dalam mata uang asing, masih  memberikan risiko terhadap kondisi fiskal.
Menurut Moody's, strategi normalisasi kebijakan moneter dan fiskal  yang ditempuh bank sentral dan Pemerintah merupakan dasar terjaganya  kredibilitas kebijakan. Dukungan Bank Indonesia dalam pembiayaan defisit  fiskal telah membantu terjaganya stabilitas pasar surat berharga  Pemerintah sekaligus memberikan ruang alokasi anggaran untuk belanja  Pemerintah yang lebih produktif. Moody's juga memberikan penekanan bahwa  normalisasi kebijakan yang dilakukan dengan tepat waktu sangat penting  sifatnya untuk menjaga kredibilitas kebijakan.
Moody's sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada Baa2 dengan outlook Stabil pada 10 Februari 2020.</content:encoded></item></channel></rss>
