<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menko Airlangga dan World Bank Bahas Kemiskinan Ekstrem hingga Transisi Energi</title><description>Airlangga Hartarto menerima audiensi Vice President of the World Bank for East Asia and Pacific Manuela Manuela V. Ferro.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/320/2545755/menko-airlangga-dan-world-bank-bahas-kemiskinan-ekstrem-hingga-transisi-energi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/320/2545755/menko-airlangga-dan-world-bank-bahas-kemiskinan-ekstrem-hingga-transisi-energi"/><item><title>Menko Airlangga dan World Bank Bahas Kemiskinan Ekstrem hingga Transisi Energi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/320/2545755/menko-airlangga-dan-world-bank-bahas-kemiskinan-ekstrem-hingga-transisi-energi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/11/320/2545755/menko-airlangga-dan-world-bank-bahas-kemiskinan-ekstrem-hingga-transisi-energi</guid><pubDate>Jum'at 11 Februari 2022 14:05 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/11/320/2545755/menko-airlangga-dan-world-bank-bahas-kemiskinan-ekstrem-hingga-transisi-energi-VEartTYWTX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan audiensi dengan World Bank (Foto: Kemenko Perekonomian)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/11/320/2545755/menko-airlangga-dan-world-bank-bahas-kemiskinan-ekstrem-hingga-transisi-energi-VEartTYWTX.jpg</image><title>Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan audiensi dengan World Bank (Foto: Kemenko Perekonomian)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima audiensi Vice President of the World Bank for East Asia and Pacific Manuela Manuela V. Ferro.
Audiensi dari World Bank tersebut adalah untuk berdiskusi tentang prioritas program Kemenko Perekonomian pada masa pandemi Covid-19. Dalam audiensi, World Bank menyampaikan bahwa koordinasi antara pembuat kebijakan kesehatan dan keuangan, lembaga keuangan keuangan multilateral, dan lembaga kesehatan global perlu ditingkatkan.
BACA JUGA:Lewat L20, Menko Airlangga Harap Indonesia Dapat Memimpin Organisasi Serikat Pekerja Negara G20

Pendekatan multilateral untuk pembiayaan imunisasi ekstensif sebagai global public goods berdasarkan kolaborasi multi sektor domestik dan internasional juga perlu diperkuat. Oleh karena itu diperlukan pembiayaan Pandemic PPR (prevention, preparedness, and response) yang lebih memadai, berkelanjutan, dan terkoordinasi.
Pada kesempatan tersebut, Airlangga menyampaikan berbagai perkembangan terkini mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia dan perkembangan program Pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional seperti PPN dan PPnBM DTP untuk beberapa tipe kendaraan bermotor roda empat, program KUR, dan Program Bantuan Tunai PKL, Warung, dan Nelayan.
Selanjutnya juga dilakukan pembahasan mengenai arahan Presiden RI Joko Widodo tentang pencapaian target kemiskinan ekstrem 0% di tahun 2024 dan percepatan penanganan kemiskinan melalui peningkatan efektifitas program dan pembangunan data yang terintegrasi.
BACA JUGA:Menko Airlangga Harap Vaksin Booster Dimulai 12 Januari 2022

&quot;Untuk mencapai target kemiskinan ekstrem 0%, diperlukan kebijakan afirmatif yang tidak hanya menyasar kelompok masyarakat miskin ekstrem, tetapi juga kelompok miskin dan rentan. World Bank yang mempunyai unit khusus untuk penanganan kemiskinan ekstrem dunia, menyampaikan akan membantu Pemerintah Indonesia dalam merealisasikan arahan Presiden RI ini,&quot; terang Airlangga, Jumat (11/2/2022).
Airlangga juga menyampaikan kondisi logistik nasional saat ini yang  merupakan salah satu unsur yang sangat menentukan perekonomian di Indonesia, khususnya di sektor ekspor danimpor. Pemerintah terus berupaya menghilangkan hambatan dan mengurangi biaya arus barang dalam perdagangan internasional dan domestik. Salah satunya melalui National Logistics Ecosystem (NLE) yaitu sebuah platform yang menghubungkan penawaran dan permintaan logistik untuk meningkatkan kolaborasi dan sinergi antar Kementerian/Lembaga (K/L).&quot;Diharapkan dengan NLE ini dapat dilakukan upaya perbaikan,  penyederhanaan proses bisnis, penataan infrastruktur logistik, dan  harmonisasi kebijakan logistik nasional. World Bank akan berkolaborasi  dengan Kemenko Perekonomian dan K/L terkait untuk menyusun kajian dan  policy untuk mempercepat proses logistik di Indonesia dan untuk  mempercepat proses logistik tersebut diperlukan partisipasi aktif  seluruh entitas logistik,&quot; jelasnya.
Selain itu, Airlangga juga mendiskusikan perihal transisi energi  melalui perdagangan karbon dan Energy Transition Mechanism (ETM) yang  adil dan terjangkau tanpa memberi beban yang terlalu berat bagi  masyarakat, industri, dan keuangan negara. Untuk hal tersebut,  Pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan Asian Development Bank  (ADB) dengan meluncurkan ETM dari batu bara ke energi terbarukan.
Dalam skema ETM ini, ADB dan Pemerintah bersama-sama mengadakan studi  kelayakan secara menyeluruh yang berfokus pada model bisnis yang  optimal dengan memanfaatkan modal komersial, pemerintah donor, dan  filantropis untuk peralihan menuju dekarbonisasi. Menko Airlangga  berharap ada model transisi energi yang dapat dijadikan percontohan yang  ke depannya dapat direplika untuk menarik investor agar dapat turut  berpartisipasi dalam skema transisi energi ini.
Terkait dengan G20 Joint Finance Health Task Force, Task Force yang  dipimpin bersama oleh Indonesia dan Italia, dibantu oleh Sekretariat di  WHO dan didukung oleh World Bank.
&quot;Oleh karena itu, World Bank diharapkan dapat menyusun policy tentang  bagaimana mengembangkan mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan untuk  kesehatan global,&quot; pungkas Airlangga.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima audiensi Vice President of the World Bank for East Asia and Pacific Manuela Manuela V. Ferro.
Audiensi dari World Bank tersebut adalah untuk berdiskusi tentang prioritas program Kemenko Perekonomian pada masa pandemi Covid-19. Dalam audiensi, World Bank menyampaikan bahwa koordinasi antara pembuat kebijakan kesehatan dan keuangan, lembaga keuangan keuangan multilateral, dan lembaga kesehatan global perlu ditingkatkan.
BACA JUGA:Lewat L20, Menko Airlangga Harap Indonesia Dapat Memimpin Organisasi Serikat Pekerja Negara G20

Pendekatan multilateral untuk pembiayaan imunisasi ekstensif sebagai global public goods berdasarkan kolaborasi multi sektor domestik dan internasional juga perlu diperkuat. Oleh karena itu diperlukan pembiayaan Pandemic PPR (prevention, preparedness, and response) yang lebih memadai, berkelanjutan, dan terkoordinasi.
Pada kesempatan tersebut, Airlangga menyampaikan berbagai perkembangan terkini mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia dan perkembangan program Pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional seperti PPN dan PPnBM DTP untuk beberapa tipe kendaraan bermotor roda empat, program KUR, dan Program Bantuan Tunai PKL, Warung, dan Nelayan.
Selanjutnya juga dilakukan pembahasan mengenai arahan Presiden RI Joko Widodo tentang pencapaian target kemiskinan ekstrem 0% di tahun 2024 dan percepatan penanganan kemiskinan melalui peningkatan efektifitas program dan pembangunan data yang terintegrasi.
BACA JUGA:Menko Airlangga Harap Vaksin Booster Dimulai 12 Januari 2022

&quot;Untuk mencapai target kemiskinan ekstrem 0%, diperlukan kebijakan afirmatif yang tidak hanya menyasar kelompok masyarakat miskin ekstrem, tetapi juga kelompok miskin dan rentan. World Bank yang mempunyai unit khusus untuk penanganan kemiskinan ekstrem dunia, menyampaikan akan membantu Pemerintah Indonesia dalam merealisasikan arahan Presiden RI ini,&quot; terang Airlangga, Jumat (11/2/2022).
Airlangga juga menyampaikan kondisi logistik nasional saat ini yang  merupakan salah satu unsur yang sangat menentukan perekonomian di Indonesia, khususnya di sektor ekspor danimpor. Pemerintah terus berupaya menghilangkan hambatan dan mengurangi biaya arus barang dalam perdagangan internasional dan domestik. Salah satunya melalui National Logistics Ecosystem (NLE) yaitu sebuah platform yang menghubungkan penawaran dan permintaan logistik untuk meningkatkan kolaborasi dan sinergi antar Kementerian/Lembaga (K/L).&quot;Diharapkan dengan NLE ini dapat dilakukan upaya perbaikan,  penyederhanaan proses bisnis, penataan infrastruktur logistik, dan  harmonisasi kebijakan logistik nasional. World Bank akan berkolaborasi  dengan Kemenko Perekonomian dan K/L terkait untuk menyusun kajian dan  policy untuk mempercepat proses logistik di Indonesia dan untuk  mempercepat proses logistik tersebut diperlukan partisipasi aktif  seluruh entitas logistik,&quot; jelasnya.
Selain itu, Airlangga juga mendiskusikan perihal transisi energi  melalui perdagangan karbon dan Energy Transition Mechanism (ETM) yang  adil dan terjangkau tanpa memberi beban yang terlalu berat bagi  masyarakat, industri, dan keuangan negara. Untuk hal tersebut,  Pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan Asian Development Bank  (ADB) dengan meluncurkan ETM dari batu bara ke energi terbarukan.
Dalam skema ETM ini, ADB dan Pemerintah bersama-sama mengadakan studi  kelayakan secara menyeluruh yang berfokus pada model bisnis yang  optimal dengan memanfaatkan modal komersial, pemerintah donor, dan  filantropis untuk peralihan menuju dekarbonisasi. Menko Airlangga  berharap ada model transisi energi yang dapat dijadikan percontohan yang  ke depannya dapat direplika untuk menarik investor agar dapat turut  berpartisipasi dalam skema transisi energi ini.
Terkait dengan G20 Joint Finance Health Task Force, Task Force yang  dipimpin bersama oleh Indonesia dan Italia, dibantu oleh Sekretariat di  WHO dan didukung oleh World Bank.
&quot;Oleh karena itu, World Bank diharapkan dapat menyusun policy tentang  bagaimana mengembangkan mekanisme pembiayaan yang berkelanjutan untuk  kesehatan global,&quot; pungkas Airlangga.</content:encoded></item></channel></rss>
