<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hadapi Disrupsi Digital, Bank Harus Lakukan Ini agar Tak Punah</title><description>Perbankan harus siap menghadapi perkembangan teknologi yang meledak sejak pandemi Covid-19.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/14/320/2546869/hadapi-disrupsi-digital-bank-harus-lakukan-ini-agar-tak-punah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/14/320/2546869/hadapi-disrupsi-digital-bank-harus-lakukan-ini-agar-tak-punah"/><item><title>Hadapi Disrupsi Digital, Bank Harus Lakukan Ini agar Tak Punah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/14/320/2546869/hadapi-disrupsi-digital-bank-harus-lakukan-ini-agar-tak-punah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/14/320/2546869/hadapi-disrupsi-digital-bank-harus-lakukan-ini-agar-tak-punah</guid><pubDate>Senin 14 Februari 2022 11:43 WIB</pubDate><dc:creator>Athika Rahma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/14/320/2546869/hadapi-disrupsi-digital-bank-harus-lakukan-ini-agar-tak-punah-0DLw8cFeCH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perbankan harus siap hadapi disrupsi digital (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/14/320/2546869/hadapi-disrupsi-digital-bank-harus-lakukan-ini-agar-tak-punah-0DLw8cFeCH.jpg</image><title>Perbankan harus siap hadapi disrupsi digital (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Perbankan harus siap menghadapi perkembangan teknologi yang meledak sejak pandemi Covid-19. Pasalnya, fenomena disrupsi digital membuat bank-bank mencari cara &quot;bertahan hidup&quot; agar tetap eksis dan diminati nasabah di antara banyaknya layanan pembayaran saat ini.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Kartiko Wirjoatmodjo mengatakan, untuk bisa menghadapi disrupsi digital, perbankan harus mengubah pendekatan layanannya kepada nasabah dengan melakukan migrasi ke sektor digital.
BACA JUGA:Dapat Kredit Perbankan, UMKM Bisa Gadai Emas

&quot;Di gelombang pertama disrupsi digital ini, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bekerja sama dengan pemain lain di industri sistem pembayaran. Sistem kita harus terekspos, namun harus tetap terjaga dengan baik,&quot; ujar Tiko dalam Casual Talks On Digital Payment Innovation Of Banking, Senin (14/2/2022).
BACA JUGA:Sri Mulyani Minta Perbankan Bantu Pemulihan Ekonomi

Menurutnya, perbankan akan tetap menjadi key player dalam industri ini selama mereka menerapkan model hybrid dan open banking ecosystem. Jadi, perbankan harus menggabungkan kapabilitas digital yang masif, tapi juga memanfaatkan fisiknya secara maksimal.Misalnya dengan meluncurkan aplikasi mobile banking atau bahkan superapps yang terintegrasi dengan layanan lain.
&quot;Itulah alasannya kenapa perbankan menggelontorkan banyak investasi  untuk meningkatkan core banking system termasuk pengembangan teknologi  ini,&quot; papar Tiko.
Konsekuensinya, tentu layanan perbankan yang 'jadul' akan  ditinggalkan lambat laun. Tiko menyoroti nasib model-model pembayaran  tersebut di masa yang akan datang.
&quot;Tentunya ke depan kita lihat, bagaimana nasib ATM apakah masih akan  digunakan, apakah tidak akan ada ATM, lalu mesin EDC apakah masih  relevan,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Perbankan harus siap menghadapi perkembangan teknologi yang meledak sejak pandemi Covid-19. Pasalnya, fenomena disrupsi digital membuat bank-bank mencari cara &quot;bertahan hidup&quot; agar tetap eksis dan diminati nasabah di antara banyaknya layanan pembayaran saat ini.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Kartiko Wirjoatmodjo mengatakan, untuk bisa menghadapi disrupsi digital, perbankan harus mengubah pendekatan layanannya kepada nasabah dengan melakukan migrasi ke sektor digital.
BACA JUGA:Dapat Kredit Perbankan, UMKM Bisa Gadai Emas

&quot;Di gelombang pertama disrupsi digital ini, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bekerja sama dengan pemain lain di industri sistem pembayaran. Sistem kita harus terekspos, namun harus tetap terjaga dengan baik,&quot; ujar Tiko dalam Casual Talks On Digital Payment Innovation Of Banking, Senin (14/2/2022).
BACA JUGA:Sri Mulyani Minta Perbankan Bantu Pemulihan Ekonomi

Menurutnya, perbankan akan tetap menjadi key player dalam industri ini selama mereka menerapkan model hybrid dan open banking ecosystem. Jadi, perbankan harus menggabungkan kapabilitas digital yang masif, tapi juga memanfaatkan fisiknya secara maksimal.Misalnya dengan meluncurkan aplikasi mobile banking atau bahkan superapps yang terintegrasi dengan layanan lain.
&quot;Itulah alasannya kenapa perbankan menggelontorkan banyak investasi  untuk meningkatkan core banking system termasuk pengembangan teknologi  ini,&quot; papar Tiko.
Konsekuensinya, tentu layanan perbankan yang 'jadul' akan  ditinggalkan lambat laun. Tiko menyoroti nasib model-model pembayaran  tersebut di masa yang akan datang.
&quot;Tentunya ke depan kita lihat, bagaimana nasib ATM apakah masih akan  digunakan, apakah tidak akan ada ATM, lalu mesin EDC apakah masih  relevan,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
