<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertumbuhan Ekonomi RI 2023 Diprediksi Lebih Rendah dari Tahun Ini, Kok Bisa?</title><description>Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 diprediksi lebih rendah dari tahun ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/16/320/2548371/pertumbuhan-ekonomi-ri-2023-diprediksi-lebih-rendah-dari-tahun-ini-kok-bisa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/16/320/2548371/pertumbuhan-ekonomi-ri-2023-diprediksi-lebih-rendah-dari-tahun-ini-kok-bisa"/><item><title>Pertumbuhan Ekonomi RI 2023 Diprediksi Lebih Rendah dari Tahun Ini, Kok Bisa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/16/320/2548371/pertumbuhan-ekonomi-ri-2023-diprediksi-lebih-rendah-dari-tahun-ini-kok-bisa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/16/320/2548371/pertumbuhan-ekonomi-ri-2023-diprediksi-lebih-rendah-dari-tahun-ini-kok-bisa</guid><pubDate>Rabu 16 Februari 2022 18:22 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/16/320/2548371/pertumbuhan-ekonomi-ri-2023-diprediksi-lebih-rendah-dari-tahun-ini-kok-bisa-ra3w6rq4jS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pertumbuhan ekonomi 2023 lebih rendah (Foto: Kemeko Perekonomian)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/16/320/2548371/pertumbuhan-ekonomi-ri-2023-diprediksi-lebih-rendah-dari-tahun-ini-kok-bisa-ra3w6rq4jS.jpg</image><title>Pertumbuhan ekonomi 2023 lebih rendah (Foto: Kemeko Perekonomian)</title></images><description>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 diprediksi lebih rendah dari tahun ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ada beberapa tantangan yaitu ketidakpastian dari pandemi COVID-19 dan varian turunannya, kasus inflasi global di sejumlah negara, maupun normalisasi kebijakan moneter yang dibaca sebagai kenaikan tingkat suku bunga.
&quot;Di tahun 2023, diperkirakan pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dibandingkan 2022, oleh karena itu dibutuhkan sumber-sumber pembiayaan baru untuk pertumbuhan ekonomi,&quot; ucap Airlangga, Rabu (16/2/2022).
BACA JUGA:Sri Mulyani Ingin Pertumbuhan Ekonomi RI Berkualitas, Bisa Turunkan Kemiskinan

Menko Airlangga mengatakan, defisit disepakati di bawah 3% sesuai dengan UU 2 tahun 2022. Berbagai reformasi struktural juga diperlukan, antara lain karena sektor investasi didorong ataupun engine di luar APBN, maka peningkatan kredit perbankan penting dan salah satunya dari segi regulasi POJK terkait relaksasi kredit yang diharapkan tidak perlu ada pembatasan waktu.
BACA JUGA:Mendag Akui Peran Swasta Penting dalam Pertumbuhan Ekonomi

&quot;Perlu ada penurunan pencadangan di sisi perbankan, karena kita lihat potensi dari kredit di sektor perbankan masih tinggi. Realisasi saat ini yang berada sedikit di atas 5% dibandingkan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang 12% ini masih punya room yang cukup tinggi,&quot; tambahnya.Peningkatan investasi baik PMA dan PMDN di tahun 2023 didorong di  level 1.800-1.900, sehingga peningkatan daya saing dan OSS menjadi  penting. Kemudian inflasi menjadi tantangan ke depan dan ini harus terus  diperhatikan agar inflasi terus terjaga.
&quot;Di tahun 2023, skema peran Bank Indonesia (BI) dikembalikan untuk  menangani secondary market, terutama untuk surat berharga negara (SBN),  di mana perbankan yang akan memberikan kredit tentu harus switch asset,  artinya harus melepas SBN,&quot; ucapnya.
Selain itu, juga dilakukan peningkatan tax ratio dan percepatan tax  reform, juga diperlukan percepatan pencadangan terlebih mengantisipasi  varian-varian baru Covid-19 sehingga tetap memiliki kesiapan bantalan  anggaran.</description><content:encoded>JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 diprediksi lebih rendah dari tahun ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ada beberapa tantangan yaitu ketidakpastian dari pandemi COVID-19 dan varian turunannya, kasus inflasi global di sejumlah negara, maupun normalisasi kebijakan moneter yang dibaca sebagai kenaikan tingkat suku bunga.
&quot;Di tahun 2023, diperkirakan pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dibandingkan 2022, oleh karena itu dibutuhkan sumber-sumber pembiayaan baru untuk pertumbuhan ekonomi,&quot; ucap Airlangga, Rabu (16/2/2022).
BACA JUGA:Sri Mulyani Ingin Pertumbuhan Ekonomi RI Berkualitas, Bisa Turunkan Kemiskinan

Menko Airlangga mengatakan, defisit disepakati di bawah 3% sesuai dengan UU 2 tahun 2022. Berbagai reformasi struktural juga diperlukan, antara lain karena sektor investasi didorong ataupun engine di luar APBN, maka peningkatan kredit perbankan penting dan salah satunya dari segi regulasi POJK terkait relaksasi kredit yang diharapkan tidak perlu ada pembatasan waktu.
BACA JUGA:Mendag Akui Peran Swasta Penting dalam Pertumbuhan Ekonomi

&quot;Perlu ada penurunan pencadangan di sisi perbankan, karena kita lihat potensi dari kredit di sektor perbankan masih tinggi. Realisasi saat ini yang berada sedikit di atas 5% dibandingkan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang 12% ini masih punya room yang cukup tinggi,&quot; tambahnya.Peningkatan investasi baik PMA dan PMDN di tahun 2023 didorong di  level 1.800-1.900, sehingga peningkatan daya saing dan OSS menjadi  penting. Kemudian inflasi menjadi tantangan ke depan dan ini harus terus  diperhatikan agar inflasi terus terjaga.
&quot;Di tahun 2023, skema peran Bank Indonesia (BI) dikembalikan untuk  menangani secondary market, terutama untuk surat berharga negara (SBN),  di mana perbankan yang akan memberikan kredit tentu harus switch asset,  artinya harus melepas SBN,&quot; ucapnya.
Selain itu, juga dilakukan peningkatan tax ratio dan percepatan tax  reform, juga diperlukan percepatan pencadangan terlebih mengantisipasi  varian-varian baru Covid-19 sehingga tetap memiliki kesiapan bantalan  anggaran.</content:encoded></item></channel></rss>
