<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Akui Dampak Perubahan Iklim Lebih Besar dari Pandemi</title><description>Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkap, perubahan iklim dapat  menimbulkan dampak yang lebih besar ancaman daripada pandemi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/17/320/2548755/sri-mulyani-akui-dampak-perubahan-iklim-lebih-besar-dari-pandemi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/17/320/2548755/sri-mulyani-akui-dampak-perubahan-iklim-lebih-besar-dari-pandemi"/><item><title>Sri Mulyani Akui Dampak Perubahan Iklim Lebih Besar dari Pandemi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/17/320/2548755/sri-mulyani-akui-dampak-perubahan-iklim-lebih-besar-dari-pandemi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/17/320/2548755/sri-mulyani-akui-dampak-perubahan-iklim-lebih-besar-dari-pandemi</guid><pubDate>Kamis 17 Februari 2022 13:43 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/17/320/2548755/sri-mulyani-akui-dampak-perubahan-iklim-lebih-besar-dari-pandemi-YsWqyM06U6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani ungkap dampak perubahan iklim lebih besar dari pandemi (Foto: Instagram)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/17/320/2548755/sri-mulyani-akui-dampak-perubahan-iklim-lebih-besar-dari-pandemi-YsWqyM06U6.jpg</image><title>Sri Mulyani ungkap dampak perubahan iklim lebih besar dari pandemi (Foto: Instagram)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkap, perubahan iklim dapat menimbulkan dampak yang lebih besar ancaman daripada pandemi. Untuk itu, para anggota G20 harus berperan dan mengantisipasi isu tersebut.
&quot;Tak hanya untuk mengurangi emisi karbon, tetapi menemukan cara untuk meningkatkan dan mengarahkan lebih banyak pembiayaan untuk investasi dan teknologi berkelanjutan yang memfasilitasi aksi iklim,&quot; tutur Sri Mulyani dalam Opening of the 1st Finance Minister and Central Bank Governor Meeting di Jakarta, Kamis (17/2/2022).
BACA JUGA:Khawatir Perubahan Iklim, Luhut Ungkap Jurus Tekan Kenaikan Suhu Bumi

Dengan demikian, ia menilai seluruh anggota G20 perlu berkomitmen untuk menuju transisi yang adil dan terjangkau. Meski terdapat berbagai ancaman yang mengintai tersebut, hanya terdapat satu jalan maju ke depan untuk dapat pulih lebih kuat secara bersama-sama.
Dalam menghadapi situasi yang sulit ini, Sri Mulyani tetap optimistis dengan kemampuan G20 untuk bangkit, karena negara-negara G20 memiliki warisan yang kuat sebagai forum untuk mengatasi krisis ekonomi global.
BACA JUGA:Indonesia Bisa Rugi Rp544 Triliun Gegara Perubahan Iklim

&quot;Dibentuk pada tahun 1999 sebagai tanggapan terhadap krisis keuangan Asia, hampir 10 tahun kemudian G20 berevolusi untuk berhasil menanggapi krisis keuangan global dengan memberikan tindakan tepat waktu dan efektif untuk melestarikan stabilitas keuangan internasional,&quot; ungkapnya.Saat ini, ia menuturkan seluruh negara menghadapi berbagai jenis  krisis dan telah membuat langkah besar dalam menghadapi fase awal  pandemi. Oleh karena itu, negara-negara kini harus fokus untuk  mengakhiri pandemi secara keseluruhan dan menangani akibatnya secara  efektif.
Untuk dapat pulih bersama dan pulih lebih kuat, kata dia,  negara-negara G20 perlu mempromosikan produktivitas, meningkatkan  ketahanan dan stabilitas, serta memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan  inklusif.
&quot;Saya percaya forum G20 di Indonesia dapat mencapainya,&quot; ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkap, perubahan iklim dapat menimbulkan dampak yang lebih besar ancaman daripada pandemi. Untuk itu, para anggota G20 harus berperan dan mengantisipasi isu tersebut.
&quot;Tak hanya untuk mengurangi emisi karbon, tetapi menemukan cara untuk meningkatkan dan mengarahkan lebih banyak pembiayaan untuk investasi dan teknologi berkelanjutan yang memfasilitasi aksi iklim,&quot; tutur Sri Mulyani dalam Opening of the 1st Finance Minister and Central Bank Governor Meeting di Jakarta, Kamis (17/2/2022).
BACA JUGA:Khawatir Perubahan Iklim, Luhut Ungkap Jurus Tekan Kenaikan Suhu Bumi

Dengan demikian, ia menilai seluruh anggota G20 perlu berkomitmen untuk menuju transisi yang adil dan terjangkau. Meski terdapat berbagai ancaman yang mengintai tersebut, hanya terdapat satu jalan maju ke depan untuk dapat pulih lebih kuat secara bersama-sama.
Dalam menghadapi situasi yang sulit ini, Sri Mulyani tetap optimistis dengan kemampuan G20 untuk bangkit, karena negara-negara G20 memiliki warisan yang kuat sebagai forum untuk mengatasi krisis ekonomi global.
BACA JUGA:Indonesia Bisa Rugi Rp544 Triliun Gegara Perubahan Iklim

&quot;Dibentuk pada tahun 1999 sebagai tanggapan terhadap krisis keuangan Asia, hampir 10 tahun kemudian G20 berevolusi untuk berhasil menanggapi krisis keuangan global dengan memberikan tindakan tepat waktu dan efektif untuk melestarikan stabilitas keuangan internasional,&quot; ungkapnya.Saat ini, ia menuturkan seluruh negara menghadapi berbagai jenis  krisis dan telah membuat langkah besar dalam menghadapi fase awal  pandemi. Oleh karena itu, negara-negara kini harus fokus untuk  mengakhiri pandemi secara keseluruhan dan menangani akibatnya secara  efektif.
Untuk dapat pulih bersama dan pulih lebih kuat, kata dia,  negara-negara G20 perlu mempromosikan produktivitas, meningkatkan  ketahanan dan stabilitas, serta memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan  inklusif.
&quot;Saya percaya forum G20 di Indonesia dapat mencapainya,&quot; ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
