<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sederet Tantangan Pengembangan Energi Bersih di RI, Apa Saja?</title><description>Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia masih mengalami hambatan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/20/320/2550121/sederet-tantangan-pengembangan-energi-bersih-di-ri-apa-saja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/20/320/2550121/sederet-tantangan-pengembangan-energi-bersih-di-ri-apa-saja"/><item><title>Sederet Tantangan Pengembangan Energi Bersih di RI, Apa Saja?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/20/320/2550121/sederet-tantangan-pengembangan-energi-bersih-di-ri-apa-saja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/20/320/2550121/sederet-tantangan-pengembangan-energi-bersih-di-ri-apa-saja</guid><pubDate>Minggu 20 Februari 2022 12:05 WIB</pubDate><dc:creator>Athika Rahma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/20/320/2550121/sederet-tantangan-pengembangan-energi-bersih-di-ri-apa-saja-ZNtGcTZ1VD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Hambatan pengembangan EBT (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/20/320/2550121/sederet-tantangan-pengembangan-energi-bersih-di-ri-apa-saja-ZNtGcTZ1VD.jpg</image><title>Hambatan pengembangan EBT (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia masih mengalami hambatan. Untuk itu, Kementerian ESDM terus mendorong sinergi dan kolaborasi transisi energi guna mencapai realisasi bauran energi sebesar 23% di tahun 2025.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial mengungkapkan partisipasi aktif seluruh pihak akan memudahkan pemerintah dalam mengatasi berbagai tantangan dan dinamikan dalam pengembangan EBT.
BACA JUGA:Manfaatkan EBT, 20 Bandara AP II Pasang PLTS
&quot;Untuk mengatasi berbagai tantangan dan dinamika dalam pengembangan EBT diperlukan sinergi dan kolaborasi semua pihak sesuai peran masing-masing,&quot; katanya, dikutip Minggu (20/2/2022).
Pemerintah dan legislatif, imbuh Ego, tengah bersinergi dalam penguatan regulasi. Sementara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta harus mempersiapkan kondisi pasar dan industri pengembangan regulasi. Selain itu, litbang dan akademisi harus mendukung tersedianya alternatif opsi teknologi baru yang dapat diimplementasikan.
BACA JUGA:Jokowi Akui Terlanjur Pakai Minyak Cs, Saatnya Transisi ke Energi Terbarukan
&quot;Kami harap masyarakat turut juga berpatisipasi aktif dalam memberikan masukan pada penyusunan kebijakan dan dukungan pelekasanaan pengembangan EBT di lapangan,&quot; tambahnya.
Dalam paparanya, Ego merinci beberapa tantangan dalam pengembangan EBT. Pertama, keekonomian dan teknologi dapat mendukung keandalan sistem tenaga listrik dan terciptanya harga yang kompetitif.Kedua, kesiapan industri dalam negeri melalui pemanfaatan Tingkat  Komponen Dalam Negeri (TKDN). Ketiga, keseimbangan supply dan  pertumbuhan demand dengan harga terjangkau. Terakhir, kemudahan  perizinan dan penyiapan lahan serta debottlenecking dalam pelaksanaan  proyek EBT.
Di samping itu, terdapat pula berbagai pengembangan EBT, diantaranya  dana EBT, sharing jaringan melalui sistem power wheeling, harga dan  insentif EBT hingga harmonisasi perizinan.
Ego mengungkapkan arah kebijakan energi nasional saat ini adalah  melaksanakan transisi energi, yaitu dari energi fosil menuju energi yang  lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan, terutama melalui  pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). &quot;Masih diperlukan usaha yang  lebih intensif untuk mencapai target 23% pada tahun 2025,&quot; ungkapnya.
Guna mencapai tujuan tersebut, Ego menegaskan pentingnya peran ilmu  pengetahuan dan teknologi serta kegiatan riset sebagai dukungan utama  pengembangan EBT.
&quot;Dalam siklus proyek energi terbarukan, pelaksanaan litbang yang baik  akan secara terus menerus menghasilkan teknologi baru yang lebih  efisien dan kompetitif, sehingga dapat menurunkan biaya Levelized Cost  of Electricity (LCOE) pembangkit, dan meningkatkan value added pada  produk industri EBT,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia masih mengalami hambatan. Untuk itu, Kementerian ESDM terus mendorong sinergi dan kolaborasi transisi energi guna mencapai realisasi bauran energi sebesar 23% di tahun 2025.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial mengungkapkan partisipasi aktif seluruh pihak akan memudahkan pemerintah dalam mengatasi berbagai tantangan dan dinamikan dalam pengembangan EBT.
BACA JUGA:Manfaatkan EBT, 20 Bandara AP II Pasang PLTS
&quot;Untuk mengatasi berbagai tantangan dan dinamika dalam pengembangan EBT diperlukan sinergi dan kolaborasi semua pihak sesuai peran masing-masing,&quot; katanya, dikutip Minggu (20/2/2022).
Pemerintah dan legislatif, imbuh Ego, tengah bersinergi dalam penguatan regulasi. Sementara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta harus mempersiapkan kondisi pasar dan industri pengembangan regulasi. Selain itu, litbang dan akademisi harus mendukung tersedianya alternatif opsi teknologi baru yang dapat diimplementasikan.
BACA JUGA:Jokowi Akui Terlanjur Pakai Minyak Cs, Saatnya Transisi ke Energi Terbarukan
&quot;Kami harap masyarakat turut juga berpatisipasi aktif dalam memberikan masukan pada penyusunan kebijakan dan dukungan pelekasanaan pengembangan EBT di lapangan,&quot; tambahnya.
Dalam paparanya, Ego merinci beberapa tantangan dalam pengembangan EBT. Pertama, keekonomian dan teknologi dapat mendukung keandalan sistem tenaga listrik dan terciptanya harga yang kompetitif.Kedua, kesiapan industri dalam negeri melalui pemanfaatan Tingkat  Komponen Dalam Negeri (TKDN). Ketiga, keseimbangan supply dan  pertumbuhan demand dengan harga terjangkau. Terakhir, kemudahan  perizinan dan penyiapan lahan serta debottlenecking dalam pelaksanaan  proyek EBT.
Di samping itu, terdapat pula berbagai pengembangan EBT, diantaranya  dana EBT, sharing jaringan melalui sistem power wheeling, harga dan  insentif EBT hingga harmonisasi perizinan.
Ego mengungkapkan arah kebijakan energi nasional saat ini adalah  melaksanakan transisi energi, yaitu dari energi fosil menuju energi yang  lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan, terutama melalui  pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). &quot;Masih diperlukan usaha yang  lebih intensif untuk mencapai target 23% pada tahun 2025,&quot; ungkapnya.
Guna mencapai tujuan tersebut, Ego menegaskan pentingnya peran ilmu  pengetahuan dan teknologi serta kegiatan riset sebagai dukungan utama  pengembangan EBT.
&quot;Dalam siklus proyek energi terbarukan, pelaksanaan litbang yang baik  akan secara terus menerus menghasilkan teknologi baru yang lebih  efisien dan kompetitif, sehingga dapat menurunkan biaya Levelized Cost  of Electricity (LCOE) pembangkit, dan meningkatkan value added pada  produk industri EBT,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
