<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penyebab Kedelai Lokal Tak Diminati Pengrajin Tahu Tempe</title><description>Penyebab kedelai impor lebih diminati pengrajin tahu tempe. Salah satunya adalah kualitas kedelai.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/22/320/2551087/penyebab-kedelai-lokal-tak-diminati-pengrajin-tahu-tempe</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/22/320/2551087/penyebab-kedelai-lokal-tak-diminati-pengrajin-tahu-tempe"/><item><title>Penyebab Kedelai Lokal Tak Diminati Pengrajin Tahu Tempe</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/22/320/2551087/penyebab-kedelai-lokal-tak-diminati-pengrajin-tahu-tempe</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/22/320/2551087/penyebab-kedelai-lokal-tak-diminati-pengrajin-tahu-tempe</guid><pubDate>Selasa 22 Februari 2022 11:23 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/22/320/2551087/penyebab-kedelai-lokal-tak-diminati-pengrajin-tahu-tempe-7Aj4HXywYj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab kedelai impor diminati pengrajin tahu tempe (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/22/320/2551087/penyebab-kedelai-lokal-tak-diminati-pengrajin-tahu-tempe-7Aj4HXywYj.jpg</image><title>Penyebab kedelai impor diminati pengrajin tahu tempe (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Penyebab kedelai impor lebih diminati pengrajin tahu tempe. Salah satunya adalah kualitas kedelai.
Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) mengupayakan perbaikan standarisasi kualitas kedelai lokal agar bisa diterima dan digunakan oleh produsen tahu dan tempe, seiring upaya peningkatan produksi dengan target 1 juta ton yang sedang dilakukan.
BACA JUGA:Kedelai Impor Langka, Kementan Target Produksi Lokal 1 Juta Ton

Direktur Aneka Kacang dan Umbi Kementerian Pertanian Yuris Tiyanto mengakui bahwa kualitas kedelai lokal tidak terstandarisasi dengan baik dan memiliki kualitas yang berbeda-beda.
&quot;Kalau bicara kualitas, memang kita akui petani itu modalnya kurang, dampaknya dia menjual masih hijau, cepat-cepat, hasil panennya kedelai masih hijau sudah dijual sehingga kalau dipanen itu kan campur antara kuning dan hijau, itu tidak disukai oleh produsen tempe,&quot; kata Yuris, Selasa (22/2/2022).
BACA JUGA:Harga Kedelai Mahal, Pengrajin Tahu Tempe Tak Sanggup

Namun dia mengatakan Kementerian Pertanian pada tahun ini mulai memperbaiki standarisasi kualitas kedelai dan juga proses pascapanen, beriringan dengan peningkatan produksi dengan target 1 juta ton untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri.
&quot;Kita sudah coba dengan tahun ini, mencoba pascapanen yang lebih bagus. Dengan kita bantu dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) petani tidak tergantung pada panen yang masih hijau sudah diambil, sehingga hasil panennya bisa optimal. Ditambah proses pasca panen bagus insya Allah nanti pedagang tempe akan puas,&quot; katanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wMi8yMS8xLzE0NTIzNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Yuris juga mengungkapkan alasan produsen tahu dan tempe tidak melirik  kedelai lokal, selain kualitas standarisasi yang lebih rendah  dibandingkan kedelai impor, harga kedelai lokal juga lebih tinggi.
Dia mengatakan bahwa petani tidak bisa menjual kedelai dengan harga  yang lebih rendah karena sudah sesuai dengan harga acuan produsen yaitu  Rp8.500 per kg.
&quot;Kedelai impor itu harganya dulu di bawah Rp8.500, pada posisi  sekarang kedelai impor kan susah nih karena kedelai Brasil dan Amerika  diborong China, dampaknya ke Indonesia berkurang. Di sisi lain di  Indonesia kedelai lokalnya sudah sampai seharga sekarang ini di Rp9.000  sampai Rp10.000, nah mereka tidak kuat, kira-kira begitu,&quot; kata Yuris.
&quot;Tahun 1992 itu kita pernah swasembada kedelai, tapi sekarang menurun  drastis. Karena terus terang petani kita dengan kondisi harga jual yang  rendah ini beralih ke komoditas lain, sekarang ini komoditas kedelai  baru bagus,&quot; kata dia.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi kedelai Indonesia  pada tahun 2021 hanya 200 ribu ton. Sementara permintaan kedelai untuk  memproduksi tahu tempe sekitar 1 juta ton per tahun.
Pada tahun 2022 Kementerian Pertanian menargetkan produksi 1 juta ton  kedelai di atas lahan seluas 650 ribu hektare. Kementerian Pertanian  telah memberikan bantuan lahan seluas 52 ribu hektare kepada petani  untuk ditanami kedelai, sementara 598 ribu hektare sisanya akan dibiayai  melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Penyebab kedelai impor lebih diminati pengrajin tahu tempe. Salah satunya adalah kualitas kedelai.
Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) mengupayakan perbaikan standarisasi kualitas kedelai lokal agar bisa diterima dan digunakan oleh produsen tahu dan tempe, seiring upaya peningkatan produksi dengan target 1 juta ton yang sedang dilakukan.
BACA JUGA:Kedelai Impor Langka, Kementan Target Produksi Lokal 1 Juta Ton

Direktur Aneka Kacang dan Umbi Kementerian Pertanian Yuris Tiyanto mengakui bahwa kualitas kedelai lokal tidak terstandarisasi dengan baik dan memiliki kualitas yang berbeda-beda.
&quot;Kalau bicara kualitas, memang kita akui petani itu modalnya kurang, dampaknya dia menjual masih hijau, cepat-cepat, hasil panennya kedelai masih hijau sudah dijual sehingga kalau dipanen itu kan campur antara kuning dan hijau, itu tidak disukai oleh produsen tempe,&quot; kata Yuris, Selasa (22/2/2022).
BACA JUGA:Harga Kedelai Mahal, Pengrajin Tahu Tempe Tak Sanggup

Namun dia mengatakan Kementerian Pertanian pada tahun ini mulai memperbaiki standarisasi kualitas kedelai dan juga proses pascapanen, beriringan dengan peningkatan produksi dengan target 1 juta ton untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri.
&quot;Kita sudah coba dengan tahun ini, mencoba pascapanen yang lebih bagus. Dengan kita bantu dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) petani tidak tergantung pada panen yang masih hijau sudah diambil, sehingga hasil panennya bisa optimal. Ditambah proses pasca panen bagus insya Allah nanti pedagang tempe akan puas,&quot; katanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8wMi8yMS8xLzE0NTIzNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Yuris juga mengungkapkan alasan produsen tahu dan tempe tidak melirik  kedelai lokal, selain kualitas standarisasi yang lebih rendah  dibandingkan kedelai impor, harga kedelai lokal juga lebih tinggi.
Dia mengatakan bahwa petani tidak bisa menjual kedelai dengan harga  yang lebih rendah karena sudah sesuai dengan harga acuan produsen yaitu  Rp8.500 per kg.
&quot;Kedelai impor itu harganya dulu di bawah Rp8.500, pada posisi  sekarang kedelai impor kan susah nih karena kedelai Brasil dan Amerika  diborong China, dampaknya ke Indonesia berkurang. Di sisi lain di  Indonesia kedelai lokalnya sudah sampai seharga sekarang ini di Rp9.000  sampai Rp10.000, nah mereka tidak kuat, kira-kira begitu,&quot; kata Yuris.
&quot;Tahun 1992 itu kita pernah swasembada kedelai, tapi sekarang menurun  drastis. Karena terus terang petani kita dengan kondisi harga jual yang  rendah ini beralih ke komoditas lain, sekarang ini komoditas kedelai  baru bagus,&quot; kata dia.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi kedelai Indonesia  pada tahun 2021 hanya 200 ribu ton. Sementara permintaan kedelai untuk  memproduksi tahu tempe sekitar 1 juta ton per tahun.
Pada tahun 2022 Kementerian Pertanian menargetkan produksi 1 juta ton  kedelai di atas lahan seluas 650 ribu hektare. Kementerian Pertanian  telah memberikan bantuan lahan seluas 52 ribu hektare kepada petani  untuk ditanami kedelai, sementara 598 ribu hektare sisanya akan dibiayai  melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).</content:encoded></item></channel></rss>
