<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dari Rugi, Indosat (ISAT) Kantongi Laba Bersih Rp6,7 Triliun di 2021</title><description>PT Indosat Tbk (ISAT) mengantongi laba bersih Rp6,75 triliun sepanjang 2021.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/22/320/2551107/dari-rugi-indosat-isat-kantongi-laba-bersih-rp6-7-triliun-di-2021</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/22/320/2551107/dari-rugi-indosat-isat-kantongi-laba-bersih-rp6-7-triliun-di-2021"/><item><title>Dari Rugi, Indosat (ISAT) Kantongi Laba Bersih Rp6,7 Triliun di 2021</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/22/320/2551107/dari-rugi-indosat-isat-kantongi-laba-bersih-rp6-7-triliun-di-2021</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/22/320/2551107/dari-rugi-indosat-isat-kantongi-laba-bersih-rp6-7-triliun-di-2021</guid><pubDate>Selasa 22 Februari 2022 11:54 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/22/320/2551107/dari-rugi-indosat-isat-kantongi-laba-bersih-rp6-7-triliun-di-2021-VFIlA8Aefs.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Indosat kantongi laba Rp6,7 triliun (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/22/320/2551107/dari-rugi-indosat-isat-kantongi-laba-bersih-rp6-7-triliun-di-2021-VFIlA8Aefs.jpeg</image><title>Indosat kantongi laba Rp6,7 triliun (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - PT Indosat Tbk (ISAT) mengantongi laba bersih Rp6,75 triliun sepanjang 2021. ISAT membalikkan kerugian pada tahun 2020 sebanyak Rp716,71 miliar.
Melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (22/2/2022), ISAT membukukan pendapatan sebesar Rp31,38 triliun, atau meningkat 12,4% dibandingkan tahun 2020 sejumlah Rp27,92 triliun. Bisnis selular masih menjadi pemasukan utama perseroan sebanyak Rp25,3 triliun, meningkat 10% dibandingkan tahun 2020.
BACA JUGA:Indosat (ISAT) Lunasi Obligasi dan Sukuk Rp380 Miliar

Sejumlah kontribusi pendapatan di pos selular terdiri dari pemasukan data sebanyak Rp22,9 triliun, telepon Rp1,45 triliun, jasa nilai tambah Rp1,22 trilun, jasa interkoneksi Rp1,02 trilun, sewa menara Rp195 miliar, short message service (SMS) Rp172,87 miliar, dan lain-lain Rp540,81 miliar.
Adapun pendapatan MIDI juga meningkat 26,4%, terdiri dari layanan konektivitas tetap Rp3,3 triliun, fixed internet Rp1,31 trilun, dan jasa TI Rp729,73 miliar.
BACA JUGA:Merger Indosat-Tri, Ooredoo Hutchison Borong Saham ISAT Rp11,37 Triliun 

Sementara pendapatan telekomunikasi tetap tumbuh 2,6% terdiri dari layanan telepon internasional sebesar Rp436,67 miliar, dan telepon jaringan tetap Rp138,16 miliar. Beban perseroan sepanjang 2021 mengalami penyusutan menjadi Rp21,03 triliun, dibandingkan beban tahun 2020 sebanyak Rp25,52 triliun.
Secara rinci, beban penyelenggaraan jasa naik 11,6% menjadi Rp1,4 triliun, yang disebabkan oleh peningkatan beban frekwensi, beban pemeliharaan, beban instalasi, beban utilitas, USO dan beban sewa, sejalan dengan penambahan site dan peningkatan dalam pendapatan tahun ini.
Beban penyusutan dan amortisasi sedikit meningkat sebesar Rp192,6 miliar atau 1,9% lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, disebabkan imbas penyusutan dari penambahan aset tetap akibat penggelaran jaringan.Beban karyawan turun sebesar Rp384,8 miliar atau 14,9% lebih rendah  dibandingkan tahun 2020, terutama disebabkan oleh dampak bersih  penyesuaian organisasi sebesar Rp329 miliar di tahun 2020. Beban  pemasaran turun sebesar Rp47,4 miliar atau 4.4% lebih rendah  dibandingkan tahun 2020, utamanya dikarenakan efisiensi marketing  melalui perubahan menjadi digital.
Beban umum dan administrasi meningkat sebesar Rp27,9 miliar atau 4,2%  lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, terutama disebabkan peningkatan  beban provisi penurunan nilai piutang seiring dengan peningkatan  pendapatan, yang diimbangi oleh penurunan beban sewa, penurunan beban  administrasi, penurunan beban jasa profesional serta penurunan beban  transportasi, yang merupakan bagian dari inisiatif optimalisasi biaya  yang berkelanjutan.
Sementara pendapatan operasional lain-lain meningkat sebesar Rp5,6  triliun atau 582,6% lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, utamanya  disebabkan oleh keuntungan bersih dari jual dan sewa balik menara yang  dikurangi kerugian penurunan nilai atas aset tetap.
Dari sisi aset, perseroan mampu membukukan total aset sepanjang tahun  2021 sebanyak Rp63,39 triliun, naik 1% dibandingkan periode 2020  sebesar Rp62,77 triliun.
Aset lancar meningkat sebesar 19,8% menjadi Rp11,4 triliun terutama  karena peningkatan kas dan setara kas dari transaksi penjualan menara  dan dari operasional, yang diimbangi oleh pembayaran kas untuk dividen  dan utang.Sementara aset tidak lancar turun sebesar 2,4% menjadi Rp51,89   triliun terutama diakibatkan karena penjualan aset tetap dan penurunan   aset pajak tangguhan. Adapun liabilitas perseroan juga meningkat 6,5%   menjadi Rp53,09 triliun dari tahun 2020 Rp49,86 triliun. Jumlah ekuitas   menyusut 20,2% menjadi Rp10,30 triliun dari Rp12,91 triliun.
Liabilitas jangka pendek meningkat sebesar 26,5% menjadi Rp28,6   triliun disebabkan adanya peningkatan utang obligasi akibat   reklasifikasi dari utang porsi jangka panjang ke utang jatuh tempo   dikurangi pembayaran selama tahun ini.
Liabilitas jangka panjang menurun sebesar 10,2% menjadi Rp24,4   triliun diakibatkan penurunan dalam utang pengadaan jangka panjang dan   utang obligasi. Ini terjadi karena ada reklasifikasi dari utang porsi   jangka panjang ke dalam utang jatuh tempo, yang diimbangi oleh kenaikan   liabilitas sewa, dampak dari penambahan jumlah menara yang disewa.
Jumlah kas dan setera kas pada akhir tahun sebesar Rp3,78 triliun, lebih tinggi dari periode tahun lalu sebesar Rp1,78 triliun.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Indosat Tbk (ISAT) mengantongi laba bersih Rp6,75 triliun sepanjang 2021. ISAT membalikkan kerugian pada tahun 2020 sebanyak Rp716,71 miliar.
Melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (22/2/2022), ISAT membukukan pendapatan sebesar Rp31,38 triliun, atau meningkat 12,4% dibandingkan tahun 2020 sejumlah Rp27,92 triliun. Bisnis selular masih menjadi pemasukan utama perseroan sebanyak Rp25,3 triliun, meningkat 10% dibandingkan tahun 2020.
BACA JUGA:Indosat (ISAT) Lunasi Obligasi dan Sukuk Rp380 Miliar

Sejumlah kontribusi pendapatan di pos selular terdiri dari pemasukan data sebanyak Rp22,9 triliun, telepon Rp1,45 triliun, jasa nilai tambah Rp1,22 trilun, jasa interkoneksi Rp1,02 trilun, sewa menara Rp195 miliar, short message service (SMS) Rp172,87 miliar, dan lain-lain Rp540,81 miliar.
Adapun pendapatan MIDI juga meningkat 26,4%, terdiri dari layanan konektivitas tetap Rp3,3 triliun, fixed internet Rp1,31 trilun, dan jasa TI Rp729,73 miliar.
BACA JUGA:Merger Indosat-Tri, Ooredoo Hutchison Borong Saham ISAT Rp11,37 Triliun 

Sementara pendapatan telekomunikasi tetap tumbuh 2,6% terdiri dari layanan telepon internasional sebesar Rp436,67 miliar, dan telepon jaringan tetap Rp138,16 miliar. Beban perseroan sepanjang 2021 mengalami penyusutan menjadi Rp21,03 triliun, dibandingkan beban tahun 2020 sebanyak Rp25,52 triliun.
Secara rinci, beban penyelenggaraan jasa naik 11,6% menjadi Rp1,4 triliun, yang disebabkan oleh peningkatan beban frekwensi, beban pemeliharaan, beban instalasi, beban utilitas, USO dan beban sewa, sejalan dengan penambahan site dan peningkatan dalam pendapatan tahun ini.
Beban penyusutan dan amortisasi sedikit meningkat sebesar Rp192,6 miliar atau 1,9% lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, disebabkan imbas penyusutan dari penambahan aset tetap akibat penggelaran jaringan.Beban karyawan turun sebesar Rp384,8 miliar atau 14,9% lebih rendah  dibandingkan tahun 2020, terutama disebabkan oleh dampak bersih  penyesuaian organisasi sebesar Rp329 miliar di tahun 2020. Beban  pemasaran turun sebesar Rp47,4 miliar atau 4.4% lebih rendah  dibandingkan tahun 2020, utamanya dikarenakan efisiensi marketing  melalui perubahan menjadi digital.
Beban umum dan administrasi meningkat sebesar Rp27,9 miliar atau 4,2%  lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, terutama disebabkan peningkatan  beban provisi penurunan nilai piutang seiring dengan peningkatan  pendapatan, yang diimbangi oleh penurunan beban sewa, penurunan beban  administrasi, penurunan beban jasa profesional serta penurunan beban  transportasi, yang merupakan bagian dari inisiatif optimalisasi biaya  yang berkelanjutan.
Sementara pendapatan operasional lain-lain meningkat sebesar Rp5,6  triliun atau 582,6% lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, utamanya  disebabkan oleh keuntungan bersih dari jual dan sewa balik menara yang  dikurangi kerugian penurunan nilai atas aset tetap.
Dari sisi aset, perseroan mampu membukukan total aset sepanjang tahun  2021 sebanyak Rp63,39 triliun, naik 1% dibandingkan periode 2020  sebesar Rp62,77 triliun.
Aset lancar meningkat sebesar 19,8% menjadi Rp11,4 triliun terutama  karena peningkatan kas dan setara kas dari transaksi penjualan menara  dan dari operasional, yang diimbangi oleh pembayaran kas untuk dividen  dan utang.Sementara aset tidak lancar turun sebesar 2,4% menjadi Rp51,89   triliun terutama diakibatkan karena penjualan aset tetap dan penurunan   aset pajak tangguhan. Adapun liabilitas perseroan juga meningkat 6,5%   menjadi Rp53,09 triliun dari tahun 2020 Rp49,86 triliun. Jumlah ekuitas   menyusut 20,2% menjadi Rp10,30 triliun dari Rp12,91 triliun.
Liabilitas jangka pendek meningkat sebesar 26,5% menjadi Rp28,6   triliun disebabkan adanya peningkatan utang obligasi akibat   reklasifikasi dari utang porsi jangka panjang ke utang jatuh tempo   dikurangi pembayaran selama tahun ini.
Liabilitas jangka panjang menurun sebesar 10,2% menjadi Rp24,4   triliun diakibatkan penurunan dalam utang pengadaan jangka panjang dan   utang obligasi. Ini terjadi karena ada reklasifikasi dari utang porsi   jangka panjang ke dalam utang jatuh tempo, yang diimbangi oleh kenaikan   liabilitas sewa, dampak dari penambahan jumlah menara yang disewa.
Jumlah kas dan setera kas pada akhir tahun sebesar Rp3,78 triliun, lebih tinggi dari periode tahun lalu sebesar Rp1,78 triliun.</content:encoded></item></channel></rss>
