<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Kedelai dan Minyak Goreng Mahal, Hippi Minta Pengusaha Lokal Lebih Nasionalis</title><description>Harga sejumlah pangan seperti kedelai hingga minyak goreng mengalami kenaikan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/23/320/2551543/harga-kedelai-dan-minyak-goreng-mahal-hippi-minta-pengusaha-lokal-lebih-nasionalis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/23/320/2551543/harga-kedelai-dan-minyak-goreng-mahal-hippi-minta-pengusaha-lokal-lebih-nasionalis"/><item><title>Harga Kedelai dan Minyak Goreng Mahal, Hippi Minta Pengusaha Lokal Lebih Nasionalis</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/23/320/2551543/harga-kedelai-dan-minyak-goreng-mahal-hippi-minta-pengusaha-lokal-lebih-nasionalis</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/23/320/2551543/harga-kedelai-dan-minyak-goreng-mahal-hippi-minta-pengusaha-lokal-lebih-nasionalis</guid><pubDate>Rabu 23 Februari 2022 06:10 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/23/320/2551543/harga-kedelai-dan-minyak-goreng-mahal-hippi-minta-pengusaha-lokal-lebih-nasionalis-o9ZTRndbGo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sikap Hippi soal harga minyak goreng dan kedelai yang tinggi (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/23/320/2551543/harga-kedelai-dan-minyak-goreng-mahal-hippi-minta-pengusaha-lokal-lebih-nasionalis-o9ZTRndbGo.jpg</image><title>Sikap Hippi soal harga minyak goreng dan kedelai yang tinggi (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Harga sejumlah pangan seperti kedelai hingga minyak goreng mengalami kenaikan. Mengadapai kondisi ini, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) mendesak kalangan pengusaha lokal yang bergerak di bidang bahan pangan utama, untuk meningkatkan rasa nasionalisme.
Apalagi dalam beberapa waktu ke depan, masyarakat Indonesia juga akan menghadapi perayaan hari Raya Idul Fitri tahun 2021.
&amp;ldquo;Kami mendesak setiap pengusaha lokal yang bergerak di bidang pangan utama untuk menampilkan sikap dan rasa nasionalisme, khususnya di saat negara menghadapi kesulitan memenuhi pasokan bahan pangan utama itu,&amp;rdquo; ujar Ketua Umum HIPPI Suryani Motik, Rabu (23/02/2022).
BACA JUGA:Temuan Ombudsman: Minyak Goreng Langka Sampai Papua

Suryani mengatakan, saat ini terjadi kelangkaan bahan pangan utama seperti minyak goreng, pasca pemerintah memberlakukan minyak goreng murah satu harga di level Rp 14.000/liter. Pasalnya, meski harga sudah turun namun pasokan minyak goreng justru hilang dari pasaran.
Kelangkaan minyak goreng di pasar, sebut Yani, dikarenakan sebagian produksinya dialihkan untuk pengembangan B20 yaitu bahan baku biodiesel di Indonesia berasal dari minyak kelapa sawit atau CPO (crude palm oil). Niat pemerintah untuk meningkatkan B20 dinilai cukup baik, namun sayangnya tidak diimbangi dengan produksi minyak goreng bagi kebutuhan konsumsi masyarakat.
BACA JUGA:Harga Minyak Goreng di Pasar Tradisional Masih Mahal, Kok Bisa? 

&amp;ldquo;HIPPI mendorong pemerintah untuk meningkatkan minyak goreng dari kelapa. Bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sehingga bisa menciptakan lapangan kerja di masyarakat. Sebagaimana pemerintah mendorong pengembangan B20, maka upaya pengembangan pasokan minyak goreng bagi kebutuhan masyarakat, juga harus dikembangkan secara optimal sehingga bisa menghindari masalah kelangkaan seperti saat ini,&amp;rdquo; ungkap Yani.
Selain itu, tambah dia, HIPPI juga menggugah rasa nasionalisme produsen minyak goreng besar di Indonesia untuk terus membanjiri pasar atau melakukan operasi pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan pasokan masyarakat Indonesia.
&amp;ldquo;Apalagi sebelumnya, para pengusaha minyak goreng itu juga telah mendapatkan keuntungan berlipat sebagai akibat kenaikan harga yang terjadi. Jadi kami sangat menggugah rasa kepeduliaan para produsen minyak goreng untuk bersama membangun Indonesia melalui produksi minyak gorengnya,&amp;rdquo; papar dia.Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Perdagangan telah menetapkan  harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng terbaru yang berlaku sejak 1  Februari 2022. Rinciannya adalah, harga minyak goreng kemasan sederhana  Rp13.500/liter, minyak goreng kemasan premium Rp14.000/liter, dan minyak  goreng curah Rp11.500/liter.
Meski demikian, masih ada produsen-produsen besar yang menimbun  minyak goreng sehingga mengakibatkan kelangkaan produksi di masyarakat.
&amp;ldquo;Jika para produsen merasa HET itu belum mewakili permintaan mereka,  sebaiknya bisa didiskusikan dengan pemerintah. Artinya, pemerintah juga  harus berani memberikan subsidi kepada produsen minyak goreng, sama  seperti subsidi yang pemerintah berikan bagi pengembangan B20. Sehingga  semua pihak dapat saling bekerjasama dengan optimal. Dengan demikian,  tidak ada lagi upaya menimbun minyak goreng yang terjadi,&amp;rdquo; terang Yani.
Senada dengan kelangkaan minyak goreng, saat ini masyarakat Indonesia  juga diperhadapkan pada potensi lonjakan harga kacang kedelai. Padahal,  kacang kedelai merupakan bahan baku pembuatan tempe dan tahu sebagai  dua makanan populer di Indonesia yang mengandung protein. Apalagi,  mayoritas masyarakat Indonesia mengkonsumsi tahu dan tempe sebagai  sumber protein dengan harga terjangkau. Karena itu, kelangkaan kedelai  menjadi problem utama masyarakat Indonesia, khususnya sektor kuliner.
&amp;ldquo;Kami mendorong Kementerian Pertanian untuk mengembangkan penanaman  kedelai di tingkat petani secara masif. Apalagi sebentar lagi masyarakat  Indonesia menghadapi Bulan Puasa yang membutuhkan kedelai dalam jumlah  cukup tinggi. Jika kedelai kurang, kemungkinan masyarakat Indonesia bisa  terkena stunting akibat kekurangan protein,&amp;rdquo; jelas Yani.Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara rata-rata   masyarakat Indonesia mengkonsumsi sekitar 0,152 kg tahu dan 0,139 kg   tempe dalam sepekan. Sepanjang tahun 2019 lalu, konsumsi kedelai per   kapita masyarakat Indonesia mencapai 2,09 kg. Meski turun 5,85%   dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar 2,22 kg, namun konsumsi   diperkirakan meningkat mulai 2020 hingga 2029.
Terkait tingginya kebutuhan dalam negeri terhadap kedelai, Yani   mengingatkan agar disikapi bijak secara terencana. HIPPI mengusulkan   beberapa langkah.
Pertama, peningkatan produksi kedelai secara nasional sehingga   minimal dapat memenuhi kebutuhan nasional. Kedua, pentingnya peningkatan   kualitas kedelai lokal dengan dukungan dari Kementerian Pertanian dan   berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ketiga, pentingnya keberpihakan   pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, dalam menyerap  seluruh  produksi kedelai petani sehingga meningkatkan nilai jual  kedelai lokal.
Ketiga usulan ini, kata dia, sudah menjadi pemikiran bersama para   tokoh dan pemimpin bangsa Indonesia. Tujuannya, agar tercipta ketahanan   pangan nasional khususnya melalui ketersediaan minyak goreng dan  kedelai  bagi masyarakat.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Harga sejumlah pangan seperti kedelai hingga minyak goreng mengalami kenaikan. Mengadapai kondisi ini, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) mendesak kalangan pengusaha lokal yang bergerak di bidang bahan pangan utama, untuk meningkatkan rasa nasionalisme.
Apalagi dalam beberapa waktu ke depan, masyarakat Indonesia juga akan menghadapi perayaan hari Raya Idul Fitri tahun 2021.
&amp;ldquo;Kami mendesak setiap pengusaha lokal yang bergerak di bidang pangan utama untuk menampilkan sikap dan rasa nasionalisme, khususnya di saat negara menghadapi kesulitan memenuhi pasokan bahan pangan utama itu,&amp;rdquo; ujar Ketua Umum HIPPI Suryani Motik, Rabu (23/02/2022).
BACA JUGA:Temuan Ombudsman: Minyak Goreng Langka Sampai Papua

Suryani mengatakan, saat ini terjadi kelangkaan bahan pangan utama seperti minyak goreng, pasca pemerintah memberlakukan minyak goreng murah satu harga di level Rp 14.000/liter. Pasalnya, meski harga sudah turun namun pasokan minyak goreng justru hilang dari pasaran.
Kelangkaan minyak goreng di pasar, sebut Yani, dikarenakan sebagian produksinya dialihkan untuk pengembangan B20 yaitu bahan baku biodiesel di Indonesia berasal dari minyak kelapa sawit atau CPO (crude palm oil). Niat pemerintah untuk meningkatkan B20 dinilai cukup baik, namun sayangnya tidak diimbangi dengan produksi minyak goreng bagi kebutuhan konsumsi masyarakat.
BACA JUGA:Harga Minyak Goreng di Pasar Tradisional Masih Mahal, Kok Bisa? 

&amp;ldquo;HIPPI mendorong pemerintah untuk meningkatkan minyak goreng dari kelapa. Bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sehingga bisa menciptakan lapangan kerja di masyarakat. Sebagaimana pemerintah mendorong pengembangan B20, maka upaya pengembangan pasokan minyak goreng bagi kebutuhan masyarakat, juga harus dikembangkan secara optimal sehingga bisa menghindari masalah kelangkaan seperti saat ini,&amp;rdquo; ungkap Yani.
Selain itu, tambah dia, HIPPI juga menggugah rasa nasionalisme produsen minyak goreng besar di Indonesia untuk terus membanjiri pasar atau melakukan operasi pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan pasokan masyarakat Indonesia.
&amp;ldquo;Apalagi sebelumnya, para pengusaha minyak goreng itu juga telah mendapatkan keuntungan berlipat sebagai akibat kenaikan harga yang terjadi. Jadi kami sangat menggugah rasa kepeduliaan para produsen minyak goreng untuk bersama membangun Indonesia melalui produksi minyak gorengnya,&amp;rdquo; papar dia.Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Perdagangan telah menetapkan  harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng terbaru yang berlaku sejak 1  Februari 2022. Rinciannya adalah, harga minyak goreng kemasan sederhana  Rp13.500/liter, minyak goreng kemasan premium Rp14.000/liter, dan minyak  goreng curah Rp11.500/liter.
Meski demikian, masih ada produsen-produsen besar yang menimbun  minyak goreng sehingga mengakibatkan kelangkaan produksi di masyarakat.
&amp;ldquo;Jika para produsen merasa HET itu belum mewakili permintaan mereka,  sebaiknya bisa didiskusikan dengan pemerintah. Artinya, pemerintah juga  harus berani memberikan subsidi kepada produsen minyak goreng, sama  seperti subsidi yang pemerintah berikan bagi pengembangan B20. Sehingga  semua pihak dapat saling bekerjasama dengan optimal. Dengan demikian,  tidak ada lagi upaya menimbun minyak goreng yang terjadi,&amp;rdquo; terang Yani.
Senada dengan kelangkaan minyak goreng, saat ini masyarakat Indonesia  juga diperhadapkan pada potensi lonjakan harga kacang kedelai. Padahal,  kacang kedelai merupakan bahan baku pembuatan tempe dan tahu sebagai  dua makanan populer di Indonesia yang mengandung protein. Apalagi,  mayoritas masyarakat Indonesia mengkonsumsi tahu dan tempe sebagai  sumber protein dengan harga terjangkau. Karena itu, kelangkaan kedelai  menjadi problem utama masyarakat Indonesia, khususnya sektor kuliner.
&amp;ldquo;Kami mendorong Kementerian Pertanian untuk mengembangkan penanaman  kedelai di tingkat petani secara masif. Apalagi sebentar lagi masyarakat  Indonesia menghadapi Bulan Puasa yang membutuhkan kedelai dalam jumlah  cukup tinggi. Jika kedelai kurang, kemungkinan masyarakat Indonesia bisa  terkena stunting akibat kekurangan protein,&amp;rdquo; jelas Yani.Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara rata-rata   masyarakat Indonesia mengkonsumsi sekitar 0,152 kg tahu dan 0,139 kg   tempe dalam sepekan. Sepanjang tahun 2019 lalu, konsumsi kedelai per   kapita masyarakat Indonesia mencapai 2,09 kg. Meski turun 5,85%   dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar 2,22 kg, namun konsumsi   diperkirakan meningkat mulai 2020 hingga 2029.
Terkait tingginya kebutuhan dalam negeri terhadap kedelai, Yani   mengingatkan agar disikapi bijak secara terencana. HIPPI mengusulkan   beberapa langkah.
Pertama, peningkatan produksi kedelai secara nasional sehingga   minimal dapat memenuhi kebutuhan nasional. Kedua, pentingnya peningkatan   kualitas kedelai lokal dengan dukungan dari Kementerian Pertanian dan   berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ketiga, pentingnya keberpihakan   pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, dalam menyerap  seluruh  produksi kedelai petani sehingga meningkatkan nilai jual  kedelai lokal.
Ketiga usulan ini, kata dia, sudah menjadi pemikiran bersama para   tokoh dan pemimpin bangsa Indonesia. Tujuannya, agar tercipta ketahanan   pangan nasional khususnya melalui ketersediaan minyak goreng dan  kedelai  bagi masyarakat.</content:encoded></item></channel></rss>
