<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Dunia Tembus USD105/Barel Imbas Konflik Rusia-Ukraina</title><description>Harga minyak dunia melonjak pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/25/320/2552787/harga-minyak-dunia-tembus-usd105-barel-imbas-konflik-rusia-ukraina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/02/25/320/2552787/harga-minyak-dunia-tembus-usd105-barel-imbas-konflik-rusia-ukraina"/><item><title>Harga Minyak Dunia Tembus USD105/Barel Imbas Konflik Rusia-Ukraina</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/02/25/320/2552787/harga-minyak-dunia-tembus-usd105-barel-imbas-konflik-rusia-ukraina</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/02/25/320/2552787/harga-minyak-dunia-tembus-usd105-barel-imbas-konflik-rusia-ukraina</guid><pubDate>Jum'at 25 Februari 2022 07:52 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/02/25/320/2552787/harga-minyak-dunia-tembus-usd105-barel-imbas-konflik-rusia-ukraina-fy7kkAKT1o.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga minyak dunia naik (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/02/25/320/2552787/harga-minyak-dunia-tembus-usd105-barel-imbas-konflik-rusia-ukraina-fy7kkAKT1o.jpg</image><title>Harga minyak dunia naik (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Harga minyak dunia melonjak pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Minyak Brent sempat bertengger di atas USD105 per barel untuk pertama kalinya sejak 2014 sebelum turun kembali, setelah serangan Rusia terhadap Ukraina memperburuk kekhawatiran tentang gangguan pada pasokan energi global.
Patokan global minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April terangkat USD2,24 atau 2,3%, menjadi menetap di USD99,08 per barel, setelah menyentuh level tertingginya di USD105,79.
BACA JUGA:Konflik Rusia dan Ukraina Kerek Harga Minyak Mentah Indonesia

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret naik 71 sen atau 0,8%, menjadi ditutup di USD92,81 per barel, setelah mencapai tertinggi sesi di USD100,54.
Brent dan WTI masing-masing mencapai level tertinggi sejak Agustus dan Juli 2014.
BACA JUGA:Rekor! Harga Minyak Dunia Tembus USD100/Barel, Tertinggi sejak 2014 Imbas Perang Rusia Vs Ukraina

Rusia melancarkan invasi habis-habisan ke Ukraina melalui darat, udara dan laut dalam serangan terbesar oleh satu negara terhadap negara lain di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.
Rusia adalah produsen minyak terbesar ketiga dan eksportir minyak terbesar kedua, kata analis UBS Giovanni Staunovo. &quot;Mengingat persediaan rendah dan kapasitas cadangan berkurang, pasar minyak tidak mampu menanggung gangguan pasokan yang besar,&quot; tambahnya.
Rusia juga merupakan penyedia gas alam terbesar ke Eropa, menyediakan sekitar 35% dari pasokannya.
Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah komersial naik 4,5 juta  barel pekan lalu menjadi 416 juta barel, jauh lebih banyak dari  ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters untuk peningkatan 400.000  barel.
Namun, minyak mentah dalam cadangan minyak strategis (SPR) AS turun  2,4 juta barel menjadi 582,4 juta barel, terendah sejak 2002, menurut  data pemerintah.
Secara global, pasokan minyak tetap ketat karena permintaan pulih dari posisi terendah pandemi.
Analis memperingatkan tekanan inflasi pada ekonomi global dari minyak  100 dolar AS, terutama untuk Asia, yang mengimpor sebagian besar  kebutuhan energinya.
&quot;Kelemahan Asia tetap merupakan kebutuhan impor energi yang besar,  dengan melonjaknya harga minyak pasti akan mengurangi pendapatan dan  pertumbuhan selama tahun mendatang,&quot; kata ekonom HSBC Frederic Neumann.</description><content:encoded>JAKARTA - Harga minyak dunia melonjak pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Minyak Brent sempat bertengger di atas USD105 per barel untuk pertama kalinya sejak 2014 sebelum turun kembali, setelah serangan Rusia terhadap Ukraina memperburuk kekhawatiran tentang gangguan pada pasokan energi global.
Patokan global minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April terangkat USD2,24 atau 2,3%, menjadi menetap di USD99,08 per barel, setelah menyentuh level tertingginya di USD105,79.
BACA JUGA:Konflik Rusia dan Ukraina Kerek Harga Minyak Mentah Indonesia

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret naik 71 sen atau 0,8%, menjadi ditutup di USD92,81 per barel, setelah mencapai tertinggi sesi di USD100,54.
Brent dan WTI masing-masing mencapai level tertinggi sejak Agustus dan Juli 2014.
BACA JUGA:Rekor! Harga Minyak Dunia Tembus USD100/Barel, Tertinggi sejak 2014 Imbas Perang Rusia Vs Ukraina

Rusia melancarkan invasi habis-habisan ke Ukraina melalui darat, udara dan laut dalam serangan terbesar oleh satu negara terhadap negara lain di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.
Rusia adalah produsen minyak terbesar ketiga dan eksportir minyak terbesar kedua, kata analis UBS Giovanni Staunovo. &quot;Mengingat persediaan rendah dan kapasitas cadangan berkurang, pasar minyak tidak mampu menanggung gangguan pasokan yang besar,&quot; tambahnya.
Rusia juga merupakan penyedia gas alam terbesar ke Eropa, menyediakan sekitar 35% dari pasokannya.
Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah komersial naik 4,5 juta  barel pekan lalu menjadi 416 juta barel, jauh lebih banyak dari  ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters untuk peningkatan 400.000  barel.
Namun, minyak mentah dalam cadangan minyak strategis (SPR) AS turun  2,4 juta barel menjadi 582,4 juta barel, terendah sejak 2002, menurut  data pemerintah.
Secara global, pasokan minyak tetap ketat karena permintaan pulih dari posisi terendah pandemi.
Analis memperingatkan tekanan inflasi pada ekonomi global dari minyak  100 dolar AS, terutama untuk Asia, yang mengimpor sebagian besar  kebutuhan energinya.
&quot;Kelemahan Asia tetap merupakan kebutuhan impor energi yang besar,  dengan melonjaknya harga minyak pasti akan mengurangi pendapatan dan  pertumbuhan selama tahun mendatang,&quot; kata ekonom HSBC Frederic Neumann.</content:encoded></item></channel></rss>
