<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI Bisa Menyusut akibat Perang Rusia-Ukraina</title><description>Ekonomi Indonesia diprediksi turun 0,014% akibat konflik Rusia dan Ukraina yang saat ini tengah berlangsung.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/02/320/2555540/ekonomi-ri-bisa-menyusut-akibat-perang-rusia-ukraina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/02/320/2555540/ekonomi-ri-bisa-menyusut-akibat-perang-rusia-ukraina"/><item><title>Ekonomi RI Bisa Menyusut akibat Perang Rusia-Ukraina</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/02/320/2555540/ekonomi-ri-bisa-menyusut-akibat-perang-rusia-ukraina</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/02/320/2555540/ekonomi-ri-bisa-menyusut-akibat-perang-rusia-ukraina</guid><pubDate>Rabu 02 Maret 2022 21:06 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/02/320/2555540/ekonomi-ri-bisa-menyusut-akibat-perang-rusia-ukraina-GCqs3HCrgs.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Konflik Rusia-Ukraina hambat pemulihan ekonomi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/02/320/2555540/ekonomi-ri-bisa-menyusut-akibat-perang-rusia-ukraina-GCqs3HCrgs.jpeg</image><title>Konflik Rusia-Ukraina hambat pemulihan ekonomi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;nbsp;JAKARTA - Ekonomi Indonesia diprediksi turun 0,014% akibat konflik Rusia dan Ukraina yang saat ini tengah berlangsung. Lembaga kajian ekonomi dan keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai perang ini mengakibatkan transmisi kenaikan harga minyak yang pada akhirnya akan mendorong terjadinya inflasi.
BACA JUGA:Ekonomi Global Bakal Turun 0,2% Gara-Gara Invasi Rusia

&quot;Terutama inflasi harga bergejolak karena beberapa komoditas,&quot; kata Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef Rizal Taufikurahman, Rabu (2/3/2022).
Inflasi harga bergejolak tersebut pun sudah mulai bergerak, terutama untuk komoditas minyak, gas, dan daging. Dia menjelaskan hal itu akan ditambah pula dengan kemungkinan kenaikan harga komoditas pokok seiring dengan datangnya bulan Ramadhan.
BACA JUGA:Konflik Rusia-Ukraina Bikin Industri Otomotif Dunia Lesu

&quot;Apalagi ini masih di tengah pandemi, sehingga akan ada penurunan ekonomi kita dalam jangka pendek,&quot; ujarnya.
Rizal memperkirakan harga minyak akan naik hingga 1,14% akibat ketidakpastian konflik Rusia dan Ukraina, dengan kemungkinan harga komoditas lainnya akan mengikuti seiring dengan vitalnya peran minyak di seluruh sektor perekonomian.Adapun kenaikan harga komoditas lainnya yang akan mengikuti seperti  daging yang diprediksikan naik hingga 0,07%, ekstraksi (gas dan listrik)  0,19%, pangan 0,05%, makanan olahan 0,08%, serta transportasi dan  komunikasi 0,1%.
Maka dari itu, ia berharap pemerintah bisa segera mengantisipasi  kemungkinan kenaikan harga berbagai komoditas dalam jangka pendek  tersebut.
&quot;Apalagi kita belum mengetahui perang ini akan terjadi sampai kapan dan berapa lama,&quot; tutur Rizal.
Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan akan turun akibat  konflik Rusia dan Ukraina, ia mengatakan penurunan tersebut tak terlalu  dalam jika dibandingkan dengan negara lain seperti Tiongkok yang akan  turun sekitar 0,022% dan Amerika Serikat 0,023%.</description><content:encoded>&amp;nbsp;JAKARTA - Ekonomi Indonesia diprediksi turun 0,014% akibat konflik Rusia dan Ukraina yang saat ini tengah berlangsung. Lembaga kajian ekonomi dan keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai perang ini mengakibatkan transmisi kenaikan harga minyak yang pada akhirnya akan mendorong terjadinya inflasi.
BACA JUGA:Ekonomi Global Bakal Turun 0,2% Gara-Gara Invasi Rusia

&quot;Terutama inflasi harga bergejolak karena beberapa komoditas,&quot; kata Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef Rizal Taufikurahman, Rabu (2/3/2022).
Inflasi harga bergejolak tersebut pun sudah mulai bergerak, terutama untuk komoditas minyak, gas, dan daging. Dia menjelaskan hal itu akan ditambah pula dengan kemungkinan kenaikan harga komoditas pokok seiring dengan datangnya bulan Ramadhan.
BACA JUGA:Konflik Rusia-Ukraina Bikin Industri Otomotif Dunia Lesu

&quot;Apalagi ini masih di tengah pandemi, sehingga akan ada penurunan ekonomi kita dalam jangka pendek,&quot; ujarnya.
Rizal memperkirakan harga minyak akan naik hingga 1,14% akibat ketidakpastian konflik Rusia dan Ukraina, dengan kemungkinan harga komoditas lainnya akan mengikuti seiring dengan vitalnya peran minyak di seluruh sektor perekonomian.Adapun kenaikan harga komoditas lainnya yang akan mengikuti seperti  daging yang diprediksikan naik hingga 0,07%, ekstraksi (gas dan listrik)  0,19%, pangan 0,05%, makanan olahan 0,08%, serta transportasi dan  komunikasi 0,1%.
Maka dari itu, ia berharap pemerintah bisa segera mengantisipasi  kemungkinan kenaikan harga berbagai komoditas dalam jangka pendek  tersebut.
&quot;Apalagi kita belum mengetahui perang ini akan terjadi sampai kapan dan berapa lama,&quot; tutur Rizal.
Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan akan turun akibat  konflik Rusia dan Ukraina, ia mengatakan penurunan tersebut tak terlalu  dalam jika dibandingkan dengan negara lain seperti Tiongkok yang akan  turun sekitar 0,022% dan Amerika Serikat 0,023%.</content:encoded></item></channel></rss>
