<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Pangan hingga Energi Naik Imbas Perang Rusia-Ukraina</title><description>Konflik Rusia-Ukraina berpotensi meningkatkan harga pangan di dalam negeri.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/04/320/2556562/harga-pangan-hingga-energi-naik-imbas-perang-rusia-ukraina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/04/320/2556562/harga-pangan-hingga-energi-naik-imbas-perang-rusia-ukraina"/><item><title>Harga Pangan hingga Energi Naik Imbas Perang Rusia-Ukraina</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/04/320/2556562/harga-pangan-hingga-energi-naik-imbas-perang-rusia-ukraina</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/04/320/2556562/harga-pangan-hingga-energi-naik-imbas-perang-rusia-ukraina</guid><pubDate>Jum'at 04 Maret 2022 20:18 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/04/320/2556562/harga-pangan-hingga-energi-naik-imbas-perang-rusia-ukraina-5VP3E7YFwh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perang Rusia Ukraina berdampak pada harga pangan (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/04/320/2556562/harga-pangan-hingga-energi-naik-imbas-perang-rusia-ukraina-5VP3E7YFwh.jpg</image><title>Perang Rusia Ukraina berdampak pada harga pangan (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Konflik Rusia-Ukraina berpotensi meningkatkan harga pangan di dalam negeri. Pasalnya Ukraina menjadi salah satu negara utama yang mengekspor gandum ke Indonesia dimana gandum dan turunannya menyumbang 8,5% dari total makanan Indonesia.
&quot;Harga komoditas yang terus naik setelah konflik ini akan mengurangi potensi produksi pangan global sehingga harga pangan mungkin naik lebih lanjut,&quot; kata Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Edi Siregar, Jumat (4/3/2022).
BACA JUGA:RI Diminta Antisipasi Dampak Ekonomi akibat Perang Rusia-Ukraina
Selain komoditas pangan, harga energi juga berpotensi naik sehingga pemerintah sedang memperdalam potensi dampak serta kebijakan dalam negeri yang akan diambil.
Dia mengatakan pemerintah akan berupaya tidak menaikkan administered price atau harga-harga yang diatur pemerintah, meskipun pada 2023 defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diharapkan kembali kurang dari 3% Produk Domestik Bruto (PDB).
BACA JUGA:Warning! Harga Batu Bara Merosot Tajam Imbas Perang Rusia-Ukraina
&quot;Kalau inflasi sudah terjadi karena harga pangan naik diharapkan pemerintah tidak menaikkan harga administered price, tapi ini menjadi dilema,&quot; ucapnya.
Apabila Rusia dan Ukraina bisa lebih cepat menemukan kesepakatan, kemungkinan dampak konflik kedua negara terhadap harga bahan pangan dan energi tidak akan berkepanjangan.Menurut Agus, konflik kedua negara akan meningkatkan volatilitas di  pasar keuangan, yang akan direspons oleh bank sentral global dengan  tidak terlalu agresif meningkatkan suku bunga acuan.
&quot;Kalau volatilitas pasar keuangan meningkat, risiko stagflasi akan  mendorong bank sentral menjadi lebih akomodatif dan tidak terlalu  agresif menaikkan suku bunga. Ini mengurangi shock yang akan terjadi,&quot;  ucapnya.
Sementara sektor perdagangan Indonesia tidak akan terlalu dipengaruhi  konflik kedua negara, tetapi Indonesia berpotensi mendapatkan surplus  neraca dagang dari peningkatan harga komoditas, yang mana berdampak  positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.</description><content:encoded>JAKARTA - Konflik Rusia-Ukraina berpotensi meningkatkan harga pangan di dalam negeri. Pasalnya Ukraina menjadi salah satu negara utama yang mengekspor gandum ke Indonesia dimana gandum dan turunannya menyumbang 8,5% dari total makanan Indonesia.
&quot;Harga komoditas yang terus naik setelah konflik ini akan mengurangi potensi produksi pangan global sehingga harga pangan mungkin naik lebih lanjut,&quot; kata Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Edi Siregar, Jumat (4/3/2022).
BACA JUGA:RI Diminta Antisipasi Dampak Ekonomi akibat Perang Rusia-Ukraina
Selain komoditas pangan, harga energi juga berpotensi naik sehingga pemerintah sedang memperdalam potensi dampak serta kebijakan dalam negeri yang akan diambil.
Dia mengatakan pemerintah akan berupaya tidak menaikkan administered price atau harga-harga yang diatur pemerintah, meskipun pada 2023 defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diharapkan kembali kurang dari 3% Produk Domestik Bruto (PDB).
BACA JUGA:Warning! Harga Batu Bara Merosot Tajam Imbas Perang Rusia-Ukraina
&quot;Kalau inflasi sudah terjadi karena harga pangan naik diharapkan pemerintah tidak menaikkan harga administered price, tapi ini menjadi dilema,&quot; ucapnya.
Apabila Rusia dan Ukraina bisa lebih cepat menemukan kesepakatan, kemungkinan dampak konflik kedua negara terhadap harga bahan pangan dan energi tidak akan berkepanjangan.Menurut Agus, konflik kedua negara akan meningkatkan volatilitas di  pasar keuangan, yang akan direspons oleh bank sentral global dengan  tidak terlalu agresif meningkatkan suku bunga acuan.
&quot;Kalau volatilitas pasar keuangan meningkat, risiko stagflasi akan  mendorong bank sentral menjadi lebih akomodatif dan tidak terlalu  agresif menaikkan suku bunga. Ini mengurangi shock yang akan terjadi,&quot;  ucapnya.
Sementara sektor perdagangan Indonesia tidak akan terlalu dipengaruhi  konflik kedua negara, tetapi Indonesia berpotensi mendapatkan surplus  neraca dagang dari peningkatan harga komoditas, yang mana berdampak  positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.</content:encoded></item></channel></rss>
