<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Sri Mulyani Jadi Pemimpin Perempuan: Tak Sesederhana Laki-Laki</title><description>Sri Mulyani mengungkapkan bahwa dirinya sempat bingung menentukan cita-cita karirnya pada masa SMA.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/07/320/2557719/cerita-sri-mulyani-jadi-pemimpin-perempuan-tak-sesederhana-laki-laki</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/07/320/2557719/cerita-sri-mulyani-jadi-pemimpin-perempuan-tak-sesederhana-laki-laki"/><item><title>Cerita Sri Mulyani Jadi Pemimpin Perempuan: Tak Sesederhana Laki-Laki</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/07/320/2557719/cerita-sri-mulyani-jadi-pemimpin-perempuan-tak-sesederhana-laki-laki</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/07/320/2557719/cerita-sri-mulyani-jadi-pemimpin-perempuan-tak-sesederhana-laki-laki</guid><pubDate>Senin 07 Maret 2022 17:23 WIB</pubDate><dc:creator>Athika Rahma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/07/320/2557719/cerita-sri-mulyani-jadi-pemimpin-perempuan-tak-sesederhana-laki-laki-GYKwys4KB1.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/07/320/2557719/cerita-sri-mulyani-jadi-pemimpin-perempuan-tak-sesederhana-laki-laki-GYKwys4KB1.jpeg</image><title>Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkapkan bahwa dirinya sempat bingung menentukan cita-cita karirnya pada masa SMA. Di mana bagi perempuan menghadapi kondisi yang lebih kompleks dalam membangun karir kepemimpinannya dibandingkan laki-laki.
&quot;Kalau dulu Bu Retno (Menlu) sudah punya cita-cita fix jadi diplomat, saya belum punya cita-cita, saya cari-cari kepengen jadi guru, ambil eksakta, tapi akhirnya saya ambil ekonomi,&quot; ujarnya dalam diskusi virtual, Senin (7/3/2022).
BACA JUGA:Sri Mulyani Umumkan 3 Calon Ketua Dewan Komisioner OJK, Siap Dilaporkan ke Jokowi

Dia bercerita pernah menjadi minoritas saat studi dulu karena hampir seluruh koleganya berjenis kelamin laki-laki. Hal ini menjadi tantangan tersendiri baginya.
&quot;Karena ternyata orang mikir ekonomi, akuntansi, manajemen banyak perempuan itu enggak juga, apalagi saya ambil studi pembangunan itu mayoritas laki-laki,&quot; katanya.
BACA JUGA:Sri Mulyani Terbitkan SUN Private Placement Tampung Dana Tax Amnesty

Kemudian lanjut dia setelah menjalani studi doktoral, dirinya kembali ke Indonesia. Kala itu, Indonesia sedang mengalami krisis moneter pada tahun 1997-1998.&quot;Di situ jadi tempat pertempuran bagaimana mengendalikan suatu krisis dan sebagai ekonom muda saya mendapat kesempatan untuk menangani krisis, dan itulah cara saya berbakti ke Indonesia,&quot; ungkapnya.
Hingga dirinya menjadi menteri seperti saat ini, menurutnya, kondisi perempuan dalam memimpin tidak sesederhana laki-laki. Perempuan dihadapkan pertanyaan dan dimintai keputusan yang lebih sulit ketimbang laki-laki.
&quot;Perempuan kalau dibilang lebih abot (berat) karena di dalam titik hidupnya menghadapi pertanyaan yang tidak mudah sehingga dalam leadership dia harus overcome, bagaimana menyeimbangkan familiy life kalau dia punya putra putri tapi harus continue karir. Oleh karena itu, ini harus dikompensasi dengan afirmasi,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkapkan bahwa dirinya sempat bingung menentukan cita-cita karirnya pada masa SMA. Di mana bagi perempuan menghadapi kondisi yang lebih kompleks dalam membangun karir kepemimpinannya dibandingkan laki-laki.
&quot;Kalau dulu Bu Retno (Menlu) sudah punya cita-cita fix jadi diplomat, saya belum punya cita-cita, saya cari-cari kepengen jadi guru, ambil eksakta, tapi akhirnya saya ambil ekonomi,&quot; ujarnya dalam diskusi virtual, Senin (7/3/2022).
BACA JUGA:Sri Mulyani Umumkan 3 Calon Ketua Dewan Komisioner OJK, Siap Dilaporkan ke Jokowi

Dia bercerita pernah menjadi minoritas saat studi dulu karena hampir seluruh koleganya berjenis kelamin laki-laki. Hal ini menjadi tantangan tersendiri baginya.
&quot;Karena ternyata orang mikir ekonomi, akuntansi, manajemen banyak perempuan itu enggak juga, apalagi saya ambil studi pembangunan itu mayoritas laki-laki,&quot; katanya.
BACA JUGA:Sri Mulyani Terbitkan SUN Private Placement Tampung Dana Tax Amnesty

Kemudian lanjut dia setelah menjalani studi doktoral, dirinya kembali ke Indonesia. Kala itu, Indonesia sedang mengalami krisis moneter pada tahun 1997-1998.&quot;Di situ jadi tempat pertempuran bagaimana mengendalikan suatu krisis dan sebagai ekonom muda saya mendapat kesempatan untuk menangani krisis, dan itulah cara saya berbakti ke Indonesia,&quot; ungkapnya.
Hingga dirinya menjadi menteri seperti saat ini, menurutnya, kondisi perempuan dalam memimpin tidak sesederhana laki-laki. Perempuan dihadapkan pertanyaan dan dimintai keputusan yang lebih sulit ketimbang laki-laki.
&quot;Perempuan kalau dibilang lebih abot (berat) karena di dalam titik hidupnya menghadapi pertanyaan yang tidak mudah sehingga dalam leadership dia harus overcome, bagaimana menyeimbangkan familiy life kalau dia punya putra putri tapi harus continue karir. Oleh karena itu, ini harus dikompensasi dengan afirmasi,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
