<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>3 Tantangan RI Transformasi Digital dalam Presidensi G20</title><description>Indonesia memiliki sejumlah tantangan dalam menempuh upaya transformasi digital.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/08/320/2558010/3-tantangan-ri-transformasi-digital-dalam-presidensi-g20</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/08/320/2558010/3-tantangan-ri-transformasi-digital-dalam-presidensi-g20"/><item><title>3 Tantangan RI Transformasi Digital dalam Presidensi G20</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/08/320/2558010/3-tantangan-ri-transformasi-digital-dalam-presidensi-g20</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/08/320/2558010/3-tantangan-ri-transformasi-digital-dalam-presidensi-g20</guid><pubDate>Selasa 08 Maret 2022 10:26 WIB</pubDate><dc:creator>Shelma Rachmahyanti</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/08/320/2558010/3-tantangan-ri-transformasi-digital-dalam-presidensi-g20-6fl8ngNUt2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">3 tantangan transformasi digital (Foto: Bigstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/08/320/2558010/3-tantangan-ri-transformasi-digital-dalam-presidensi-g20-6fl8ngNUt2.jpg</image><title>3 tantangan transformasi digital (Foto: Bigstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia memiliki sejumlah tantangan dalam menempuh upaya transformasi digital. Trasnformasi digital dicanangkan Indonesia sebagai salah satu isu prioritas Presidensi G20 2022.
Transformasi digital memerlukan sinergi dan kolaborasi pemangku kepentingan multistakeholder (pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, akademisi dan komunitas teknis) guna memastikan semaksimal mungkin memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
BACA JUGA:Sukses Jalankan Transformasi Digital, 96,7% Nasabah BRI Gunakan Digital Channel 

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara khusus telah membentuk Digital Economy Working Group (DEWG) dengan tiga (3) pilar digital: infrastruktur atau konektivitas digital, kecakapan atau literasi digital, serta arus data lintas batas negara.
Ketiga hal tersebut memiliki sejumlah tantangan tersendiri, mengingat sejumlah kondisi demografis hingga regulasi yang belum memadai di sejumlah sektor terkait. Contohnya masih adanya kesenjangan digital berbasis gender, keterbatasan akses ke pengetahuan, maraknya hoaks serta tak kunjung disahkannya RUU Pelindungan Data Pribadi, adalah pekerjaan rumah yang mesti serius dikerjakan dan dituntaskan oleh Indonesia jika ingin mengusung isu transformasi (ekonomi) digital sebagai kepentingan nasional pun G20.
BACA JUGA:Daftar Pemenang Ajang ASSA 2021, Inspirator Transformasi Digital

Catatan khusus berupa rekomendasi dan pembelajaran yang baik telah disusun dan disampaikan oleh tiga (3) organisasi masyarakat sipil yang melakukan kegiatan advokasi dan pembangunan kapasitas masyarakat terkait Internet, yaitu (urut abjad) Common Room bersama Universitas Padjajaran (UNPAD), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dan ICT Watch.Adapun sistematika penulisan catatan bertajuk &amp;ldquo;Kertas Posisi  Masyarakat Sipil: Tiga Tantangan Utama Transformasi Digital Indonesia&amp;rdquo;  tersebut memang disesuaikan dengan tiga (3) pilar DEWG yang bertujuan  untuk lebih menekankan aspek &amp;ldquo;link-and-match&amp;rdquo; antara komitmen nasional,  tantangan terkini, rekomendasi dan usulan kebijakan, serta studi kasus  dan pembelajaran.
Sejumlah rekomendasi kunci dari organisasi masyarakat sipil yang  tergabung dalam Indonesia Civil Society Organisation of Digital  Transformation Task Force (ID-CSO DTTF) tersebut, diantaranya adalah:
1.  	Perlunya terus menggiatkan pembangunan infrastruktur Internet  dan platform digital bermakna dengan agenda pemberdayaan serta  pendampingan warga yang berorientasi pada pendekatan berbasis manusia  (human-centered approach).
2.  	Perlunya sinergi kebijakan nasional literasi digital yang mampu  mengkoordinasikan lintas kementerian, lembaga dan daerah, dengan  pelibatan multistakeholder secara bermakna, inklusif dan mengedepankan  kemampuan SDM berpikir kritis.
3.  	Perlunya menetapkan kerangka tata kelola perlindungan data  pribadi yang baik dan komprehensif melalui pengesahan RUU Perlindungan  Data Pribadi, sebagai acuan penting dalam pengaturan transfer data  lintas batas negara.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia memiliki sejumlah tantangan dalam menempuh upaya transformasi digital. Trasnformasi digital dicanangkan Indonesia sebagai salah satu isu prioritas Presidensi G20 2022.
Transformasi digital memerlukan sinergi dan kolaborasi pemangku kepentingan multistakeholder (pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, akademisi dan komunitas teknis) guna memastikan semaksimal mungkin memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
BACA JUGA:Sukses Jalankan Transformasi Digital, 96,7% Nasabah BRI Gunakan Digital Channel 

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara khusus telah membentuk Digital Economy Working Group (DEWG) dengan tiga (3) pilar digital: infrastruktur atau konektivitas digital, kecakapan atau literasi digital, serta arus data lintas batas negara.
Ketiga hal tersebut memiliki sejumlah tantangan tersendiri, mengingat sejumlah kondisi demografis hingga regulasi yang belum memadai di sejumlah sektor terkait. Contohnya masih adanya kesenjangan digital berbasis gender, keterbatasan akses ke pengetahuan, maraknya hoaks serta tak kunjung disahkannya RUU Pelindungan Data Pribadi, adalah pekerjaan rumah yang mesti serius dikerjakan dan dituntaskan oleh Indonesia jika ingin mengusung isu transformasi (ekonomi) digital sebagai kepentingan nasional pun G20.
BACA JUGA:Daftar Pemenang Ajang ASSA 2021, Inspirator Transformasi Digital

Catatan khusus berupa rekomendasi dan pembelajaran yang baik telah disusun dan disampaikan oleh tiga (3) organisasi masyarakat sipil yang melakukan kegiatan advokasi dan pembangunan kapasitas masyarakat terkait Internet, yaitu (urut abjad) Common Room bersama Universitas Padjajaran (UNPAD), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dan ICT Watch.Adapun sistematika penulisan catatan bertajuk &amp;ldquo;Kertas Posisi  Masyarakat Sipil: Tiga Tantangan Utama Transformasi Digital Indonesia&amp;rdquo;  tersebut memang disesuaikan dengan tiga (3) pilar DEWG yang bertujuan  untuk lebih menekankan aspek &amp;ldquo;link-and-match&amp;rdquo; antara komitmen nasional,  tantangan terkini, rekomendasi dan usulan kebijakan, serta studi kasus  dan pembelajaran.
Sejumlah rekomendasi kunci dari organisasi masyarakat sipil yang  tergabung dalam Indonesia Civil Society Organisation of Digital  Transformation Task Force (ID-CSO DTTF) tersebut, diantaranya adalah:
1.  	Perlunya terus menggiatkan pembangunan infrastruktur Internet  dan platform digital bermakna dengan agenda pemberdayaan serta  pendampingan warga yang berorientasi pada pendekatan berbasis manusia  (human-centered approach).
2.  	Perlunya sinergi kebijakan nasional literasi digital yang mampu  mengkoordinasikan lintas kementerian, lembaga dan daerah, dengan  pelibatan multistakeholder secara bermakna, inklusif dan mengedepankan  kemampuan SDM berpikir kritis.
3.  	Perlunya menetapkan kerangka tata kelola perlindungan data  pribadi yang baik dan komprehensif melalui pengesahan RUU Perlindungan  Data Pribadi, sebagai acuan penting dalam pengaturan transfer data  lintas batas negara.</content:encoded></item></channel></rss>
