<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Minyak Goreng Langka, Pedagang Kirim Surat ke Presiden Jokowi</title><description>Permasalahan minyak goreng belum juga usai. Minyak goreng di sejumlah wilayah masih langka, jika ada pun harganya mahal.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/10/320/2559271/minyak-goreng-langka-pedagang-kirim-surat-ke-presiden-jokowi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/10/320/2559271/minyak-goreng-langka-pedagang-kirim-surat-ke-presiden-jokowi"/><item><title>Minyak Goreng Langka, Pedagang Kirim Surat ke Presiden Jokowi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/10/320/2559271/minyak-goreng-langka-pedagang-kirim-surat-ke-presiden-jokowi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/10/320/2559271/minyak-goreng-langka-pedagang-kirim-surat-ke-presiden-jokowi</guid><pubDate>Kamis 10 Maret 2022 10:01 WIB</pubDate><dc:creator>Advenia Elisabeth</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/10/320/2559271/minyak-goreng-langka-pedagang-kirim-surat-ke-presiden-jokowi-wrNLIJ3vsk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Minyak goreng murah langka (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/10/320/2559271/minyak-goreng-langka-pedagang-kirim-surat-ke-presiden-jokowi-wrNLIJ3vsk.jpg</image><title>Minyak goreng murah langka (Foto: Freepik)</title></images><description>&amp;nbsp;JAKARTA - Permasalahan minyak goreng belum juga usai. Minyak goreng di sejumlah wilayah masih langka, jika ada pun harganya mahal atau di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp14.000/liter.
Menghadapi persoalan ini, Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mengirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ketua Umum APPSI Sudaryono mengatakan, pedagang pasar merasa tidak mendapat keadilan dari distribusi minyak goreng program pemerintah. Mulai dari pendistribusian melalui ritel modern saja, hal itu sebagai bukti bahwa pemerintah cenderung berpihak ke ritel modern dibandingkan pedagang pasar tradisional.
BACA JUGA:Ada HET Minyak Goreng Jadi Langka, Ini Penjelasan Mendag
&quot;Kebijakan pemerintah yang mendahulukan dan memprioritaskan ritel modern dalam menjual minyak goreng dan kebutuhan pokok penting lainnya, pedagang pasar beranggapan pemerintah cenderung lebih berpihak kepada ritel modern dibanding dengan pedagang pasar rakyat,&quot; kata Sudaryono dikutip dari surat terbuka, Kamis (10/3/2022).
Dengan tidak dilibatkannya pedagang pasar dalam menyalurkan dan/atau menjual komoditi bersubsidi, dia bilang, hal itu menunjukkan bahwa pemerintah kalah dengan swasta.
BACA JUGA:Mendag Klaim Stok Minyak Goreng Melimpah, Bukan Basah Lagi tapi Becek!
&quot;Pasar rakyat/tradisional ini berjumlah lebih kurang 16.000 pasar dan menghidupi sekitar 16 juta pedagang yang berjualan di pasar. Fungsi pembinaan pasar dan pedagang pasar seharusnya menjadi tanggung jawab penuh pemerintah di semua lapisan mulai dari pemerintah pusat sampai pemerintah di level paling bawah/pemerintah desa,&quot; terang Sudaryono.
Sudaryono menyadari bahwa belum lama ini pihaknya diajak dan dilibatkan oleh ID FOOD, Holding Pangan untuk mendistribusikan minyak goreng ke pasar-pasar di seluruh Indonesia, namun masih banyak sekali pasar yang belum mendapatkan akses barang dengan kuantitas yang diperlukan.
&quot;Sehingga sampai saat ini kami pedagang pasar masih kesulitan mendapatkan minyak goreng dengan harga yang ditentukan oleh pemerintah,&quot; ungkapnya.


&quot;Jika dalam penjualan komoditi, pemerintah tidak melibatkan pedagang  pasar, kami khawatir akan menimbulkan keresahan-keresahan di masyarakat  akibat ketidakadilan yang dirasakan oleh jutaan pedagang pasar di  seluruh Indonesia,&quot; sambung Sudaryono.
Lanjut dia mengungkapkan, kebijakan pemerintah saat ini yang  menetapkan HET minyak goreng patut diapresiasi. Karena, cara ini wujud  nyata kepedulian Bapak Presiden terhadap kondisi rakyat kecil yang  dihimpit kesulitan ekonomi akibat dari pandemi Covid-19 dan melambungnya  beberapa harga kebutuhan pokok.
Kendati demikian, pihaknya menyayangkan implementasi atas kebijakan tersebut tidak adil dan merata.
&quot;Kebijakan atas minyak goreng hanya untuk dijual di ritel modern,  sementara di pasar rakyat tidak jelas kebijakannya,&quot; tutur Sudaryono.
Sehingga tak ayal banyak pelanggan pasar rakyat yang pada akhirnya  belanja di ritel modern, di mana hal itu tentu menguntungkan peritel  modern dan merugikan pedagang pasar rakyat.
Seperti contohnya, stok minyak goreng pedagang pasar masih banyak dan  tidak laku dijual karena belanja sebelumnya sudah diharga Rp17.000 s/d  Rp19.000 per liter, dan harga jualnya masih Rp19.000 s/d Rp21.000 per  liter.
Tak hanya itu. Beban yang ditanggung para pedagang pasar pun makin  bertambah saat ritel modern habis stok. Ibu rumah tangga maupun pedagang  kecil datang ke pasar tradisional untuk membeli minyak goreng harga  murah seperti di ritel modern.Namun, karena stok minyak goreng harga lama masih banyak mah tidak   mau pedagang menjual dengan harga lama. Tidak sedikit pembeli mengeluh   dan menyalahkan pedagang yang dianggap menaikkan harga.
&quot;Pedagang pasar rakyat selalu menjadi pihak yang dipersalahkan setiap   kali ada kenaikan harga komoditi, sementara ketika ada program subsidi   dari pemerintah, tidak dilibatkan secara aktif dari sejak awal,&quot; jelas   Sudaryono.
APPSI atau pedagang pasar menyatakan diri siap untuk terlibat dan   dilibatkan serta mensukseskan program-program kerakyatan pemerintah   dalam pelaksanaan distribusi minyak goreng dan juga kebutuhan pokok   penting lainnya.
Pelibatan pedagang pasar tradisional dalam penjualan minyak goreng   dan komoditi penting lainnya, akan membantu percepatan pemulihan ekonomi   nasional sesuai dengan program Presiden.
Dengan adanya komoditi minyak goreng murah yang dijual di pasar-pasar   tradisional akan memberikan dampak terhadap meningkatnya peredaran  uang  di masyarakat tingkat bawah akibat dari peningkatan transaksi   perdagangan di pasar tradisional yang merupakan pusat perdagangan   rakyat.
&quot;Pedagang di pasar tradisional juga ingin berpartisipasi dalam   menjaga stabilitas harga dengan diberikan akses belanja minyak goreng   untuk dijual sesuai dengan ketentuan harga jual pemerintah,&quot; pungkas   Sudaryono.</description><content:encoded>&amp;nbsp;JAKARTA - Permasalahan minyak goreng belum juga usai. Minyak goreng di sejumlah wilayah masih langka, jika ada pun harganya mahal atau di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp14.000/liter.
Menghadapi persoalan ini, Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mengirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ketua Umum APPSI Sudaryono mengatakan, pedagang pasar merasa tidak mendapat keadilan dari distribusi minyak goreng program pemerintah. Mulai dari pendistribusian melalui ritel modern saja, hal itu sebagai bukti bahwa pemerintah cenderung berpihak ke ritel modern dibandingkan pedagang pasar tradisional.
BACA JUGA:Ada HET Minyak Goreng Jadi Langka, Ini Penjelasan Mendag
&quot;Kebijakan pemerintah yang mendahulukan dan memprioritaskan ritel modern dalam menjual minyak goreng dan kebutuhan pokok penting lainnya, pedagang pasar beranggapan pemerintah cenderung lebih berpihak kepada ritel modern dibanding dengan pedagang pasar rakyat,&quot; kata Sudaryono dikutip dari surat terbuka, Kamis (10/3/2022).
Dengan tidak dilibatkannya pedagang pasar dalam menyalurkan dan/atau menjual komoditi bersubsidi, dia bilang, hal itu menunjukkan bahwa pemerintah kalah dengan swasta.
BACA JUGA:Mendag Klaim Stok Minyak Goreng Melimpah, Bukan Basah Lagi tapi Becek!
&quot;Pasar rakyat/tradisional ini berjumlah lebih kurang 16.000 pasar dan menghidupi sekitar 16 juta pedagang yang berjualan di pasar. Fungsi pembinaan pasar dan pedagang pasar seharusnya menjadi tanggung jawab penuh pemerintah di semua lapisan mulai dari pemerintah pusat sampai pemerintah di level paling bawah/pemerintah desa,&quot; terang Sudaryono.
Sudaryono menyadari bahwa belum lama ini pihaknya diajak dan dilibatkan oleh ID FOOD, Holding Pangan untuk mendistribusikan minyak goreng ke pasar-pasar di seluruh Indonesia, namun masih banyak sekali pasar yang belum mendapatkan akses barang dengan kuantitas yang diperlukan.
&quot;Sehingga sampai saat ini kami pedagang pasar masih kesulitan mendapatkan minyak goreng dengan harga yang ditentukan oleh pemerintah,&quot; ungkapnya.


&quot;Jika dalam penjualan komoditi, pemerintah tidak melibatkan pedagang  pasar, kami khawatir akan menimbulkan keresahan-keresahan di masyarakat  akibat ketidakadilan yang dirasakan oleh jutaan pedagang pasar di  seluruh Indonesia,&quot; sambung Sudaryono.
Lanjut dia mengungkapkan, kebijakan pemerintah saat ini yang  menetapkan HET minyak goreng patut diapresiasi. Karena, cara ini wujud  nyata kepedulian Bapak Presiden terhadap kondisi rakyat kecil yang  dihimpit kesulitan ekonomi akibat dari pandemi Covid-19 dan melambungnya  beberapa harga kebutuhan pokok.
Kendati demikian, pihaknya menyayangkan implementasi atas kebijakan tersebut tidak adil dan merata.
&quot;Kebijakan atas minyak goreng hanya untuk dijual di ritel modern,  sementara di pasar rakyat tidak jelas kebijakannya,&quot; tutur Sudaryono.
Sehingga tak ayal banyak pelanggan pasar rakyat yang pada akhirnya  belanja di ritel modern, di mana hal itu tentu menguntungkan peritel  modern dan merugikan pedagang pasar rakyat.
Seperti contohnya, stok minyak goreng pedagang pasar masih banyak dan  tidak laku dijual karena belanja sebelumnya sudah diharga Rp17.000 s/d  Rp19.000 per liter, dan harga jualnya masih Rp19.000 s/d Rp21.000 per  liter.
Tak hanya itu. Beban yang ditanggung para pedagang pasar pun makin  bertambah saat ritel modern habis stok. Ibu rumah tangga maupun pedagang  kecil datang ke pasar tradisional untuk membeli minyak goreng harga  murah seperti di ritel modern.Namun, karena stok minyak goreng harga lama masih banyak mah tidak   mau pedagang menjual dengan harga lama. Tidak sedikit pembeli mengeluh   dan menyalahkan pedagang yang dianggap menaikkan harga.
&quot;Pedagang pasar rakyat selalu menjadi pihak yang dipersalahkan setiap   kali ada kenaikan harga komoditi, sementara ketika ada program subsidi   dari pemerintah, tidak dilibatkan secara aktif dari sejak awal,&quot; jelas   Sudaryono.
APPSI atau pedagang pasar menyatakan diri siap untuk terlibat dan   dilibatkan serta mensukseskan program-program kerakyatan pemerintah   dalam pelaksanaan distribusi minyak goreng dan juga kebutuhan pokok   penting lainnya.
Pelibatan pedagang pasar tradisional dalam penjualan minyak goreng   dan komoditi penting lainnya, akan membantu percepatan pemulihan ekonomi   nasional sesuai dengan program Presiden.
Dengan adanya komoditi minyak goreng murah yang dijual di pasar-pasar   tradisional akan memberikan dampak terhadap meningkatnya peredaran  uang  di masyarakat tingkat bawah akibat dari peningkatan transaksi   perdagangan di pasar tradisional yang merupakan pusat perdagangan   rakyat.
&quot;Pedagang di pasar tradisional juga ingin berpartisipasi dalam   menjaga stabilitas harga dengan diberikan akses belanja minyak goreng   untuk dijual sesuai dengan ketentuan harga jual pemerintah,&quot; pungkas   Sudaryono.</content:encoded></item></channel></rss>
