<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jurus Sri Mulyani Tekan Ancaman Inflasi di Tengah Kenaikan Harga Pangan</title><description>Tingkat inflasi Indonesia masih tergolong sangat rendah jika dibandingkan beberapa negara maju dan berkembang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/16/320/2562834/jurus-sri-mulyani-tekan-ancaman-inflasi-di-tengah-kenaikan-harga-pangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/16/320/2562834/jurus-sri-mulyani-tekan-ancaman-inflasi-di-tengah-kenaikan-harga-pangan"/><item><title>Jurus Sri Mulyani Tekan Ancaman Inflasi di Tengah Kenaikan Harga Pangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/16/320/2562834/jurus-sri-mulyani-tekan-ancaman-inflasi-di-tengah-kenaikan-harga-pangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/16/320/2562834/jurus-sri-mulyani-tekan-ancaman-inflasi-di-tengah-kenaikan-harga-pangan</guid><pubDate>Rabu 16 Maret 2022 20:23 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/16/320/2562834/jurus-sri-mulyani-tekan-ancaman-inflasi-di-tengah-kenaikan-harga-pangan-RZ2FVrc351.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani waspadai inflasi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/16/320/2562834/jurus-sri-mulyani-tekan-ancaman-inflasi-di-tengah-kenaikan-harga-pangan-RZ2FVrc351.jpg</image><title>Sri Mulyani waspadai inflasi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Tingkat inflasi Indonesia masih tergolong sangat rendah jika dibandingkan beberapa negara maju dan berkembang. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, inflasi 2021 relatif sangat ringan di 1,6%.
&quot;Januari dan Februari kami memiliki sedikit peningkatan di atas 2%. Jika dibandingkan dengan banyak negara maju atau bahkan negara berkembang lainnya, tingkat inflasi ini masih tergolong sangat rendah,&amp;rdquo; kata Sri, pada Rabu (16/3/2022).
BACA JUGA:Menko Airlangga Wanti-Wanti Kenaikan Inflasi AS 

Namun demikian, Indonesia tetap akan sangat berhati-hati dengan harga komoditas global dan gangguan pasokan, bahkan sebelum invasi Rusia ke Ukraina yang telah menciptakan tekanan pada harga.
&amp;ldquo;Itu bisa dilihat dari banyaknya tingkat inflasi negara maju dan beberapa negara berkembang yang sudah meningkat cukup signifikan dan itu pasti akan berdampak,&amp;rdquo; ujar Sri.
BACA JUGA:Inflasi di Minggu ke-2 Maret 0,48%, Harga Cabai dan Emas Tinggi

Sri menjelaskan respons terhadap kebijakan moneter di banyak negara maju dalam hal pengetatan dan peningkatan inflasi akan mempengaruhi daya beli, sehingga akan mempengaruhi pemulihan yang didorong oleh konsumsi.
Kedua efek tersebut perlu direspon dan diantisipasi. Untuk Indonesia, sebagian kenaikan harga komoditas ini belum ditransmisikan ke harga konsumen karena kebijakan harga yang diatur oleh pemerintah.
&amp;ldquo;Harga pangan kita yang relatif stabil, seperti beras yang dalam dua tahun terakhir sangat diuntungkan dengan hujan yang terus menerus dan itu juga menjadi penyangga bagi kita,&amp;rdquo; kata Sri.Di sisi lain, pemerintah juga sangat mewaspadai harga pangan lainnya,  termasuk minyak goreng, kedelai, dan gandum karena konflik  Rusia-Ukraina akan berdampak signifikan bagi beberapa komoditas di  Indonesia.
&amp;ldquo;Kami sudah membuat kalkulasi yang tentunya memberikan tekanan pada  harga ini terhadap inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Apalagi untuk  Indonesia, karena kita mengantisipasi Ramadan dan Idul Fitri yang akan  terjadi dalam dua bulan ke depan. Jadi, harga komoditas yang bersifat  musiman pasti akan berimplikasi pada proses pemulihan ekonomi di  Indonesia,&amp;rdquo; ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah akan terus memonitor dinamika  ekonomi dan volatilitas harga komoditas, serta menyusun analisis risiko  ekonomi dan fiskal atas berbagai skenario untuk merumuskan langkah  antisipasi.
Di samping itu, kebijakan akan diarahkan untuk menjaga stabilitas  ekonomi dan sistem keuangan nasional, melindungi daya beli masyarakat  miskin dan rentan, serta menjaga keberlanjutan pemulihan sektor usaha  dan keberlanjutan fiskal.
&amp;ldquo;Pemerintah akan menggunakan berbagai tools, baik fiskal moneter  maupun bahkan intervensi di pasar, agar kami dapat terlebih dahulu  memastikan bahwa proses pemulihan akan terus berlanjut,&amp;rdquo; lanjut Sri.
Pemerintah juga akan melakukan mitigasi dari dampak dari peningkatan  harga komoditas ekstrim juga akan terus dilakukan, serta memastikan  ketersediaan barang dan jasa saat permintaan membaik seiring dengan  proses pemulihan setelah pandemi.
&amp;ldquo;Jadi, kami akan menggunakan semua alat agar kami dapat menavigasi  situasi yang sangat menantang ini dari pandemi yang belum berakhir,  serta risiko geopolitik baru,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Tingkat inflasi Indonesia masih tergolong sangat rendah jika dibandingkan beberapa negara maju dan berkembang. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, inflasi 2021 relatif sangat ringan di 1,6%.
&quot;Januari dan Februari kami memiliki sedikit peningkatan di atas 2%. Jika dibandingkan dengan banyak negara maju atau bahkan negara berkembang lainnya, tingkat inflasi ini masih tergolong sangat rendah,&amp;rdquo; kata Sri, pada Rabu (16/3/2022).
BACA JUGA:Menko Airlangga Wanti-Wanti Kenaikan Inflasi AS 

Namun demikian, Indonesia tetap akan sangat berhati-hati dengan harga komoditas global dan gangguan pasokan, bahkan sebelum invasi Rusia ke Ukraina yang telah menciptakan tekanan pada harga.
&amp;ldquo;Itu bisa dilihat dari banyaknya tingkat inflasi negara maju dan beberapa negara berkembang yang sudah meningkat cukup signifikan dan itu pasti akan berdampak,&amp;rdquo; ujar Sri.
BACA JUGA:Inflasi di Minggu ke-2 Maret 0,48%, Harga Cabai dan Emas Tinggi

Sri menjelaskan respons terhadap kebijakan moneter di banyak negara maju dalam hal pengetatan dan peningkatan inflasi akan mempengaruhi daya beli, sehingga akan mempengaruhi pemulihan yang didorong oleh konsumsi.
Kedua efek tersebut perlu direspon dan diantisipasi. Untuk Indonesia, sebagian kenaikan harga komoditas ini belum ditransmisikan ke harga konsumen karena kebijakan harga yang diatur oleh pemerintah.
&amp;ldquo;Harga pangan kita yang relatif stabil, seperti beras yang dalam dua tahun terakhir sangat diuntungkan dengan hujan yang terus menerus dan itu juga menjadi penyangga bagi kita,&amp;rdquo; kata Sri.Di sisi lain, pemerintah juga sangat mewaspadai harga pangan lainnya,  termasuk minyak goreng, kedelai, dan gandum karena konflik  Rusia-Ukraina akan berdampak signifikan bagi beberapa komoditas di  Indonesia.
&amp;ldquo;Kami sudah membuat kalkulasi yang tentunya memberikan tekanan pada  harga ini terhadap inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Apalagi untuk  Indonesia, karena kita mengantisipasi Ramadan dan Idul Fitri yang akan  terjadi dalam dua bulan ke depan. Jadi, harga komoditas yang bersifat  musiman pasti akan berimplikasi pada proses pemulihan ekonomi di  Indonesia,&amp;rdquo; ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah akan terus memonitor dinamika  ekonomi dan volatilitas harga komoditas, serta menyusun analisis risiko  ekonomi dan fiskal atas berbagai skenario untuk merumuskan langkah  antisipasi.
Di samping itu, kebijakan akan diarahkan untuk menjaga stabilitas  ekonomi dan sistem keuangan nasional, melindungi daya beli masyarakat  miskin dan rentan, serta menjaga keberlanjutan pemulihan sektor usaha  dan keberlanjutan fiskal.
&amp;ldquo;Pemerintah akan menggunakan berbagai tools, baik fiskal moneter  maupun bahkan intervensi di pasar, agar kami dapat terlebih dahulu  memastikan bahwa proses pemulihan akan terus berlanjut,&amp;rdquo; lanjut Sri.
Pemerintah juga akan melakukan mitigasi dari dampak dari peningkatan  harga komoditas ekstrim juga akan terus dilakukan, serta memastikan  ketersediaan barang dan jasa saat permintaan membaik seiring dengan  proses pemulihan setelah pandemi.
&amp;ldquo;Jadi, kami akan menggunakan semua alat agar kami dapat menavigasi  situasi yang sangat menantang ini dari pandemi yang belum berakhir,  serta risiko geopolitik baru,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
