<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ngeri! Gubernur BI Sebut Ekonomi Global Bisa Lesu Imbas Perang Rusia-Ukraina</title><description>Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 4,4% menjadi 4,2%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/17/320/2563383/ngeri-gubernur-bi-sebut-ekonomi-global-bisa-lesu-imbas-perang-rusia-ukraina</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/17/320/2563383/ngeri-gubernur-bi-sebut-ekonomi-global-bisa-lesu-imbas-perang-rusia-ukraina"/><item><title>Ngeri! Gubernur BI Sebut Ekonomi Global Bisa Lesu Imbas Perang Rusia-Ukraina</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/17/320/2563383/ngeri-gubernur-bi-sebut-ekonomi-global-bisa-lesu-imbas-perang-rusia-ukraina</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/17/320/2563383/ngeri-gubernur-bi-sebut-ekonomi-global-bisa-lesu-imbas-perang-rusia-ukraina</guid><pubDate>Kamis 17 Maret 2022 17:07 WIB</pubDate><dc:creator>Antara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/17/320/2563383/ngeri-gubernur-bi-sebut-ekonomi-global-bisa-lesu-imbas-perang-rusia-ukraina-fC1zEt9PRD.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia waspadai penurunan ekonomi global (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/17/320/2563383/ngeri-gubernur-bi-sebut-ekonomi-global-bisa-lesu-imbas-perang-rusia-ukraina-fC1zEt9PRD.jpeg</image><title>Bank Indonesia waspadai penurunan ekonomi global (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 4,4% menjadi 4,2%. Penurunan ekonomi global terjadi akibat konflik yang masih terus terjadi antara Rusia dan Ukraina.
&quot;Bahkan kalau berlanjut terus bisa juga turun ke level 3,8%. Lagi-lagi ini tergantung pada seberapa lama eskalasi ini berlanjut,&quot; ucap Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (17/3/2022).
BACA JUGA:IMF Waspadai Perang Rusia-Ukraina Turunkan Pertumbuhan Ekonomi Global

Eskalasi ketegangan geopolitik yang diikuti dengan pengenaan sanksi berbagai negara terhadap Rusia mempengaruhi transaksi perdagangan, pergerakan harga komoditas, dan pasar keuangan global, di tengah penyebaran COVID-19 yang mulai mereda.
Perry menyampaikan pertumbuhan berbagai negara, seperti Eropa, Amerika Serikat (AS), Jepang, Tiongkok, dan India pun berpotensi lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.
Menurutnya, volume perdagangan dunia juga berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sejalan dengan risiko tertahannya perbaikan perekonomian global dan gangguan rantai pasokan yang masih berlangsung.
BACA JUGA:Ekonomi Global Bakal Turun 0,2% Gara-Gara Invasi Rusia

&quot;Harga komoditas global meningkat, termasuk komoditas energi, pangan, dan logam, sehingga memberikan tekanan pada inflasi global,&quot; ucap dia.
Di sisi lain, Perry mengungkapkan eskalasi ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina tersebut menambah ketidakpastian pasar keuangan global, di samping karena kenaikan suku bunga Bank Sentral AS dan percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju lainnya, sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya aliran modal, seiring dengan  risiko pembalikan arus modal ke aset yang dianggap aman atau safe haven  asset dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski begitu, Perry mengatakan pertumbuhan ekonomi domestik masih  kuat seiring dengan meredanya penyebaran COVID-19 varian Omicron di  tengah meningkatnya risiko geopolitik Rusia- dan Ukraina, sehingga  diprediksikan masih dalam rentang 4,7% sampai 5,5% pada tahun ini.
Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh perbaikan  konsumsi rumah tangga dan investasi non bangunan serta tetap positifnya  pertumbuhan konsumsi pemerintah.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 4,4% menjadi 4,2%. Penurunan ekonomi global terjadi akibat konflik yang masih terus terjadi antara Rusia dan Ukraina.
&quot;Bahkan kalau berlanjut terus bisa juga turun ke level 3,8%. Lagi-lagi ini tergantung pada seberapa lama eskalasi ini berlanjut,&quot; ucap Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (17/3/2022).
BACA JUGA:IMF Waspadai Perang Rusia-Ukraina Turunkan Pertumbuhan Ekonomi Global

Eskalasi ketegangan geopolitik yang diikuti dengan pengenaan sanksi berbagai negara terhadap Rusia mempengaruhi transaksi perdagangan, pergerakan harga komoditas, dan pasar keuangan global, di tengah penyebaran COVID-19 yang mulai mereda.
Perry menyampaikan pertumbuhan berbagai negara, seperti Eropa, Amerika Serikat (AS), Jepang, Tiongkok, dan India pun berpotensi lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.
Menurutnya, volume perdagangan dunia juga berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sejalan dengan risiko tertahannya perbaikan perekonomian global dan gangguan rantai pasokan yang masih berlangsung.
BACA JUGA:Ekonomi Global Bakal Turun 0,2% Gara-Gara Invasi Rusia

&quot;Harga komoditas global meningkat, termasuk komoditas energi, pangan, dan logam, sehingga memberikan tekanan pada inflasi global,&quot; ucap dia.
Di sisi lain, Perry mengungkapkan eskalasi ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina tersebut menambah ketidakpastian pasar keuangan global, di samping karena kenaikan suku bunga Bank Sentral AS dan percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju lainnya, sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya aliran modal, seiring dengan  risiko pembalikan arus modal ke aset yang dianggap aman atau safe haven  asset dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski begitu, Perry mengatakan pertumbuhan ekonomi domestik masih  kuat seiring dengan meredanya penyebaran COVID-19 varian Omicron di  tengah meningkatnya risiko geopolitik Rusia- dan Ukraina, sehingga  diprediksikan masih dalam rentang 4,7% sampai 5,5% pada tahun ini.
Perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh perbaikan  konsumsi rumah tangga dan investasi non bangunan serta tetap positifnya  pertumbuhan konsumsi pemerintah.</content:encoded></item></channel></rss>
