<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Indonesia Masih dalam Tahap Pemulihan, BI Dinilai Tepat Tahan Suku Bunga</title><description>BI kembali menahan suku bunga acuan di level 3,5%.  Keputusan ini dinilai tepat sebab ekonomi Indonesia masih dalam tahap  pemulihan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/18/320/2563774/ekonomi-indonesia-masih-dalam-tahap-pemulihan-bi-dinilai-tepat-tahan-suku-bunga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/18/320/2563774/ekonomi-indonesia-masih-dalam-tahap-pemulihan-bi-dinilai-tepat-tahan-suku-bunga"/><item><title>Ekonomi Indonesia Masih dalam Tahap Pemulihan, BI Dinilai Tepat Tahan Suku Bunga</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/18/320/2563774/ekonomi-indonesia-masih-dalam-tahap-pemulihan-bi-dinilai-tepat-tahan-suku-bunga</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/18/320/2563774/ekonomi-indonesia-masih-dalam-tahap-pemulihan-bi-dinilai-tepat-tahan-suku-bunga</guid><pubDate>Jum'at 18 Maret 2022 11:51 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/18/320/2563774/ekonomi-indonesia-masih-dalam-tahap-pemulihan-bi-dinilai-tepat-tahan-suku-bunga-zAIBkMftoG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keputusan BI tahan suku bunga dinilai tepat (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/18/320/2563774/ekonomi-indonesia-masih-dalam-tahap-pemulihan-bi-dinilai-tepat-tahan-suku-bunga-zAIBkMftoG.jpg</image><title>Keputusan BI tahan suku bunga dinilai tepat (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 3,5%. Keputusan ini dinilai tepat sebab ekonomi Indonesia masih dalam tahap pemulihan.
BACA JUGA:BI Ramal The Fed Naikkan Suku Bunga hingga 7 Kali Tahun Ini

Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, keputusan BI sudah terukur karena kita tidak perlu pada saat yang sama seperti bank sentral lain menaikkan suku bunga dalam hal ini The Fed.
&amp;ldquo;Kita harus melihat tentunya fundamental ekonomi kita sendiri, kalau kita lihat fundamental kita relatif kuat ya dari sisi inflasi masih dalam target Bank Indonesia, posisi terakhir inflasi kita masih 2%,&amp;rdquo; kata David dalam Market Review IDX, Jumat (18/3/2022).
BACA JUGA:Rupiah Ditutup Menguat ke Rp14.302/USD Usai BI Tahan Suku Bunga

Selain itu, menurut David rupiah juga relatif stabil di posisi Rp14.300an. Di sisi lain eksternal balance kita juga sangat solid, jadi current account kita itu tahun lalu juga sangat baik posisinya dan tahun ini perkiraannya juga masih akan cukup baik.
&amp;ldquo;Dan ini berbeda dengan siklus kenaikan suku bunga The Fed tahun 2015, ketika itu memang fundamental tidak sekuat sekarang, kalau sekarang memang posisinya dalam tahap pemulihan dan Bank Indonesia sudah melihat faktor tersebut dan sementara ini menahan suku bunganya,&amp;rdquo; jelas David.David menilai, Indonesia masuk masa pemulihan yang dilihat dari sisi  neraca dagang diuntungkan dalam kondisi terakhir yang mendorong kenaikan  harga komoditas seperti batu bara dan CPO yang harganya relatif tinggi  untuk ekspor.
&amp;ldquo;Jadi posisi eksternal balance kita sangat solid ya dan disisi lain  investor portfolio masih masuk ya net inflow terutama pasar saham dan  ini juga menopang likuiditas valas dalam negeri,&amp;rdquo; katanya.
Sejauh ini memang ada beberapa produk atau barang yang harga  komoditasnya meningkat, contohnya minyak goreng. Namun, secara umum  lanjut David, inflasi masih rendah yang membuat harga stabil, kecuali  memang beberapa produk terpengaruh dengan harga internasional yang  cenderung naik.
&amp;ldquo;Sejauh ini saya masih memproyeksikan (inflasi) masih dalam range  Bank Indonesia, itu pun kita lihat mungkin ke arah batas atas, tapi  sejauh ini masih di dalam range perkiraan otoritas moneter untuk tahun  ini,&amp;rdquo; ujar David.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 3,5%. Keputusan ini dinilai tepat sebab ekonomi Indonesia masih dalam tahap pemulihan.
BACA JUGA:BI Ramal The Fed Naikkan Suku Bunga hingga 7 Kali Tahun Ini

Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, keputusan BI sudah terukur karena kita tidak perlu pada saat yang sama seperti bank sentral lain menaikkan suku bunga dalam hal ini The Fed.
&amp;ldquo;Kita harus melihat tentunya fundamental ekonomi kita sendiri, kalau kita lihat fundamental kita relatif kuat ya dari sisi inflasi masih dalam target Bank Indonesia, posisi terakhir inflasi kita masih 2%,&amp;rdquo; kata David dalam Market Review IDX, Jumat (18/3/2022).
BACA JUGA:Rupiah Ditutup Menguat ke Rp14.302/USD Usai BI Tahan Suku Bunga

Selain itu, menurut David rupiah juga relatif stabil di posisi Rp14.300an. Di sisi lain eksternal balance kita juga sangat solid, jadi current account kita itu tahun lalu juga sangat baik posisinya dan tahun ini perkiraannya juga masih akan cukup baik.
&amp;ldquo;Dan ini berbeda dengan siklus kenaikan suku bunga The Fed tahun 2015, ketika itu memang fundamental tidak sekuat sekarang, kalau sekarang memang posisinya dalam tahap pemulihan dan Bank Indonesia sudah melihat faktor tersebut dan sementara ini menahan suku bunganya,&amp;rdquo; jelas David.David menilai, Indonesia masuk masa pemulihan yang dilihat dari sisi  neraca dagang diuntungkan dalam kondisi terakhir yang mendorong kenaikan  harga komoditas seperti batu bara dan CPO yang harganya relatif tinggi  untuk ekspor.
&amp;ldquo;Jadi posisi eksternal balance kita sangat solid ya dan disisi lain  investor portfolio masih masuk ya net inflow terutama pasar saham dan  ini juga menopang likuiditas valas dalam negeri,&amp;rdquo; katanya.
Sejauh ini memang ada beberapa produk atau barang yang harga  komoditasnya meningkat, contohnya minyak goreng. Namun, secara umum  lanjut David, inflasi masih rendah yang membuat harga stabil, kecuali  memang beberapa produk terpengaruh dengan harga internasional yang  cenderung naik.
&amp;ldquo;Sejauh ini saya masih memproyeksikan (inflasi) masih dalam range  Bank Indonesia, itu pun kita lihat mungkin ke arah batas atas, tapi  sejauh ini masih di dalam range perkiraan otoritas moneter untuk tahun  ini,&amp;rdquo; ujar David.</content:encoded></item></channel></rss>
