<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Gas Elpiji Mahal, Kompor Listrik Jadi Pilihan?</title><description>Harga elpiji naik sebagai dampak dari  kenaikan minyak dunia di tengah ketidakpastian pasokan global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/18/320/2564041/harga-gas-elpiji-mahal-kompor-listrik-jadi-pilihan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2022/03/18/320/2564041/harga-gas-elpiji-mahal-kompor-listrik-jadi-pilihan"/><item><title>Harga Gas Elpiji Mahal, Kompor Listrik Jadi Pilihan?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2022/03/18/320/2564041/harga-gas-elpiji-mahal-kompor-listrik-jadi-pilihan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2022/03/18/320/2564041/harga-gas-elpiji-mahal-kompor-listrik-jadi-pilihan</guid><pubDate>Jum'at 18 Maret 2022 17:36 WIB</pubDate><dc:creator>Athika Rahma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2022/03/18/320/2564041/harga-gas-elpiji-mahal-kompor-listrik-jadi-pilihan-HfJMBuuVJb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga LPG nonsubsidi naik (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2022/03/18/320/2564041/harga-gas-elpiji-mahal-kompor-listrik-jadi-pilihan-HfJMBuuVJb.jpg</image><title>Harga LPG nonsubsidi naik (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Harga elpiji naik sebagai dampak dari  kenaikan minyak dunia di tengah ketidakpastian pasokan global. Di sisi lain, impor LPG dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring dengan konsumsi yang terus naik. Pada tahun 2024, impor LPG diproyeksikan bisa mencapai Rp67,8 triliun.
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Sebagai alternatif, masyarakat dapat beralih menggunakan kompor induksi yang lebih murah.
BACA JUGA:Harganya Rp205.000, LPG 12 Kg Tak Laku?
&amp;ldquo;Melalui penggunaan kompor induksi, dapat membantu pemerintah dalam menghemat anggaran di APBN kita. Selain itu, penggunaan kompor induksi merupakan upaya untuk membangun kemandiri energi,&amp;rdquo; jelas Mamit kepada MNC Portal Indonesia, Jumat (18/3/2022).
Menurut Mamit, dengan beralih ke kompor induksi, ketergantungan terhadap impor LPG bakal berkurang secara bertahap sehingga bakal mendorong kemandirian energi. Tak hanya itu, masalah defisit transaksi berjalan akibat impor LPG secara perlahan juga dapat diselesaikan.
BACA JUGA:Pedagang LPG 12 Kg Ngaku Keberatan Jual dengan Harga Rp205.000
Selain untuk mengurangi angka impor, langkah konversi ini juga bakal menekan subsidi LPG dalam APBN yang terus membengkak. Pada tahun ini saja pemerintah menganggarkan Rp61 triliun untuk subsidi LPG dengan asumsi ICP USD63 per barel.
Per Februari 2022, ICP sudah menyentuh di level USD95,72 per barel. Kenaikan ini akan berdampak terhadap beban subsidi LPG di mana setiap kenaikan USD1 ICP maka beban subsidi LPG akan meningkat sebesar Rp1,47 triliun.&quot;Jadi bisa dibayangkan berapa beban penambahan untuk subsidi LPG 3 kg saat ini,&amp;rdquo; ungkap Mamit.
Sebagai perhitungan, konsumsi listrik menggunakan kompor induksi  adalah sebesar 7,1 kWh dengan harga Rp10.266. Hal ini setara dengan 1 kg  LPG seharga Rp15.500.
Dengan asumsi pemakaian 1 bulan sebanyak 9 kg, maka biaya yang  dikeluarkan rumah tangga mencapai Rp139.500. Sedangkan pemakaian 1 bulan  kompor induksi setara dengan 64,7 kWh atau hanya Rp93.556.
&amp;ldquo;Artinya, penggunaan energi LPG lebih mahal Rp45.944 per bulan jika  dibandingkan dengan penggunaan kompor induksi,&amp;rdquo; pungkas Mamit.
</description><content:encoded>JAKARTA - Harga elpiji naik sebagai dampak dari  kenaikan minyak dunia di tengah ketidakpastian pasokan global. Di sisi lain, impor LPG dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring dengan konsumsi yang terus naik. Pada tahun 2024, impor LPG diproyeksikan bisa mencapai Rp67,8 triliun.
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Sebagai alternatif, masyarakat dapat beralih menggunakan kompor induksi yang lebih murah.
BACA JUGA:Harganya Rp205.000, LPG 12 Kg Tak Laku?
&amp;ldquo;Melalui penggunaan kompor induksi, dapat membantu pemerintah dalam menghemat anggaran di APBN kita. Selain itu, penggunaan kompor induksi merupakan upaya untuk membangun kemandiri energi,&amp;rdquo; jelas Mamit kepada MNC Portal Indonesia, Jumat (18/3/2022).
Menurut Mamit, dengan beralih ke kompor induksi, ketergantungan terhadap impor LPG bakal berkurang secara bertahap sehingga bakal mendorong kemandirian energi. Tak hanya itu, masalah defisit transaksi berjalan akibat impor LPG secara perlahan juga dapat diselesaikan.
BACA JUGA:Pedagang LPG 12 Kg Ngaku Keberatan Jual dengan Harga Rp205.000
Selain untuk mengurangi angka impor, langkah konversi ini juga bakal menekan subsidi LPG dalam APBN yang terus membengkak. Pada tahun ini saja pemerintah menganggarkan Rp61 triliun untuk subsidi LPG dengan asumsi ICP USD63 per barel.
Per Februari 2022, ICP sudah menyentuh di level USD95,72 per barel. Kenaikan ini akan berdampak terhadap beban subsidi LPG di mana setiap kenaikan USD1 ICP maka beban subsidi LPG akan meningkat sebesar Rp1,47 triliun.&quot;Jadi bisa dibayangkan berapa beban penambahan untuk subsidi LPG 3 kg saat ini,&amp;rdquo; ungkap Mamit.
Sebagai perhitungan, konsumsi listrik menggunakan kompor induksi  adalah sebesar 7,1 kWh dengan harga Rp10.266. Hal ini setara dengan 1 kg  LPG seharga Rp15.500.
Dengan asumsi pemakaian 1 bulan sebanyak 9 kg, maka biaya yang  dikeluarkan rumah tangga mencapai Rp139.500. Sedangkan pemakaian 1 bulan  kompor induksi setara dengan 64,7 kWh atau hanya Rp93.556.
&amp;ldquo;Artinya, penggunaan energi LPG lebih mahal Rp45.944 per bulan jika  dibandingkan dengan penggunaan kompor induksi,&amp;rdquo; pungkas Mamit.
</content:encoded></item></channel></rss>
